My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Pedang Baruku


__ADS_3

Aku membuka mataku dan mendapati diriku sudah berada diatas kasur. Kulihat kamar penginapanku dan tidak ada kak June disana. Aku pun mencoba duduk dan berusaha mengingat apa yang terjadi.


“Ugh! Kepalaku.” Rintihku. Apa yang baru saja terjadi?


Aku menatap jendela dan terlihat matahari mulai muncul. Kelihatannya sudah fajar. Apa aku ketiduran? Ugh! Kepalaku masih sakit.


Aku memegangi kepalaku. Rasanya pusing sekali. Dan tubuhku terasa lemas. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padaku.


Ditengah aku dilanda kebingungan, tiba-tiba pintu terbuka. Dan kulihat kak June memasuki kamar.


Begitu kak June melihatku, matanya seketika berkaca-kaca dan segera memelukku. Aku tidak bisa merespon karena kondisiku yang lemah hanya dapat menerima pelukannya itu.


“HUAA!! ALVIIN!! Syukurlah kamu sudah bangun!” tangis kak June.


Kak June pasti sangat khawatir karena aku tiba-tiba tak sadarkan diri. Tapi aku penasaran apa penyebab yang membuatku begini.


“Maaf ya kak…. Tapi kakak tau apa yang terjadi padaku?” tanyaku.


Kak June melepasku perlahan tapi masih tidak dapat menghentikan isakannya.


“Kamu… hiks…. Kamu kehabisan mana dan energi spiritual secara bersamaan.” Jelas kak June.


Aku menatap heran. “Bagaimana bisa?”


Kak June menatap ke arah kayu hitam yang bersandar tak jauh dari kasur. “Sepertinya benda itu menyerap


seluruh energimu. Dan itu terjadi sangat cepat dan membuat tubuhmu kaget karena kehabisan energi.”


Aku terdiam dan menatap ke arah kayu hitam itu. Padahal aku hanya mencoba mengalirkan energi spiritualku sedikit. Tapi ternyata energi spiritualku bahkan manaku terserap habis dengan cepat.


“Untuk sekarang kamu minumlah elixir ini.” Kak June memberikan sebuah botol berisi cairan biru muda yang berkilauan. “Ini adalah elixir pemulihan buatanku. Dengan ini energi dan manamu dapat pulih kembali. Dan gunakan untuk menambah khasiatnya.”


Aku pun mengangguk dan menerima elixir itu kemudian meminumnya. Setelah itu aku memposisikan diriku untuk menggunakan .


“Ketika sarapan sudah siap aku akan memanggilmu.” Ujar kak June seraya keluar dari kamar.


Tak lama dari itu, aku merasakan energiku meluap-luap dari ulu hatiku. Aku berusaha berkonsentrasi untuk menyerap seluruh energi dan menggerakkannya keseluruh tubuhku. Aku juga merasakan energi sihir atau manaku mulai kembali. Elixir buatan kak June benar-benar manjur.


Aku terus berkonsentrasi dan tak terasa energiku sudah pulih seluruhnya. Dan tak lama kemudian kak June kembali memasuki kamar.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya kak June.


Aku membuka mataku dan langsung melompat dari kasur. “Aku merasa sangat sehat!” seruku.


“Syukurlah kalau begitu.” Kak June tersenyum senang. “Sekarang ayo sarapan. Dan jangan lupa membawa barang-barangmu. Karena setelah makan kita akan berangkat.”


Aku pun mengangguk dan membawa barang-barangku. Ketika aku melihat kayu hitam itu, aku sempat berfikir untuk meninggalkannya. Tapi entah kenapa aku tidak bisa meninggalkan begitu saja. Seperti rasanya aku akan sangat menyesal jika meninggalkannya. Akhirnya aku pun mengambinya dan memasukkannya ke dalam kantong.


Di lantai bawah, paman Armin sudah menunggu. Dia sedang meneguk secangkir teh hangat kemudian meletakkan cangkirnya dan melambai ke arahku ketika aku dan kak June menuruni tangga.


Aku membalas lambaiannya dan mendekati meja tempat paman Armin menunggu.

__ADS_1


“Kamu sudah tidak apa-apa Alvin?” tanya paman Armin.


“Tidak apa-apa paman, sekarang aku bahkan bisa menarik kereta paman.” Jawabku dengan sedikit candaan.


Paman Armin tertawa kecil kemudian mempersilahkan aku dan kak June duduk. Sudah tersedia hidangan untuk sarapan diatas meja makan. Aku dan kak June pun menyantapnya hingga habis.


Sehabis sarapan, aku, kak June, dan paman Armin beranjak keluar dari penginapan Moonlight. Tak lupa


aku berpamitan pada kakak resepsionis. Dia membalasku dengan senyuman manis serta lambaian tangan.


Di luar penginapan, kereta kuda paman Armin sudah siap meluncur. Paman Armin mengeluarkan beberapa keping perunggu dan memberikannya kepada seorang lelaki kekar disana. Sepertinya paman Armin menitipkan kereta kudanya pada lelaki itu.


Aku dan kak June pun naik ke atas kereta. Paman Armin memecut menarik tari kekang kudanya dan kereta kuda pun mulai bergerak menuju gerbang kota.


Paman Armin melambaikan tangannya kepada penjaga gerbang. Penjaga itu membalas lambaian paman Armin dan mempersilahkannya keluar kota.


Di perjalanan aku menatap kayu hitam milikku. Menggenggamnya dan memperhatikannya dari atas kebawah. Aku merasakan hal yang berbeda dari kayu itu. Rasanya kayu hitam itu memendek. Atau hanya perasaanku saja?


“Alvin, apa yang kamu lakukan?” tanya kak June melihat tingkahku.


“Eum… hanya mengecek saja. Aku merasa kayu hitam ini lebih pendek sedikit dari sebelumnya. Dan malah jadi terasa sangat pas dan nyaman untukku.” Jawabku.


“Yah, kayu itu memang aneh. Dan aku merasa kalau sebenarnya itu sebuah pedang.” Ujar kak June.


“Pedang?”


“Iya, hanya perasaan saja. Aku seperti pernah melihat bentuk kayu itu dari temanku yang berasal dari timur.”


“Hmm… kalau ini pedang, harusnya ada pegangannya bukan?” ujarku.


“Ga akan kenapa-napa emang?” tanyaku khawatir.


“Kupikir tidak. Ada beberapa kasus barang yang menyerap energi penggunanya. Dan biasanya diawal memang


memerlukan energi yang cukup banyak meski pada kasusmu penyerapannya begitu besar dan cepat.” Jelas kak June.


Aku menelan ludah. Aku cukup khawatir akan terjatuh pingsan lagi. Tapi jika kak June bilang tidak apa-apa sepertinya aman. Dan juga entah kenapa aku merasakan bahwa aku harus untuk melakukannya.


Aku menarik nafas dan mengeluarkan energi spiritual melalui tanganku. Dan tiba-tiba…


*Klik*


Dari kayu hitam itu, muncul sebuah batas seperti pegangan. Bentuknya tidak berubah tapi sekarang terlihat ada jeda seperti pedang dan sarungnya. Tapi ini tidak memiliki pelindung tangan seperti pedang kebanyakan.


Aku dan kak June terdiam melihat perubahan kecil itu. Kemudian aku menggenggam bagian pegangan itu dan menariknya. Dan ternyata muncul sebuah bilahan pedang berwarna hitam dengan mata pedang satu. Terlihat seperti katana dari duniaku.


Aku menarik pedang itu hingga keluar dari sarungnya. Benar-benar pedang hitam yang indah. Aku bisa merasakan ketajaman yang luar biasa dan energi yang hebat dari pedang itu. Ini benar-benar pedang yang bagus.


Saat aku mengeluarkan pedang, paman Armin ternyata melirik ke belakang dan melihat pedangku. Dan reaksinya cukup mengejutkan.


“Da-darimana kamu menemukan pedang itu?” tanya paman Armin dengan mata berbinar.

__ADS_1


“Eumm… toko barang bekas?”


“ITU! Itu adalah salah satu pedang dari bahan meteroit yang langka! Mataku tak pernah berbohong! Kualitas pedang yang luar biasa!!” seru paman Armin.


Paman Armin pindah dari tempatnya menuju ke tempat aku dan kak June duduk. Kak June menepuk jidatnya melihat kelakuan paman Armin dan segera pindah ke depan untuk menjadi kusir.


“Boleh aku memegangnya?” tanya paman Armin dengan sangat antusias.


Aku mengangguk kemudian memberikannya pada paman Armin. Dia melihat pedangku dengan sangat semangat.


Sebenarnya aku cukup terkejut dengan pernyataan paman Armin jika ini pedang yang ternyata amat berharga. Tingkat keberuntunganku tinggi sekali karnea dapat membeli ini dengan harga kurang dari 2 koin perak.


“Sulit dipercaya…. Ini kali keduanya aku melihat senjata dari bahan meteroit. Biasanya senjata dari bahan meteroit itu terlihat mencolok dan hanya dapat ditemukan di gudang senjata kerajaan.” Jelas paman Armin


“Dan aku lebih terkejut karena paman Armin pernah masuk gudang senjata kerajaan.” Pikirku.


“Aku tidak habis pikir, kenapa bisa ini dijual di tempat barang bekas?”


“Eumm.. sebenarnya sih sebelumnya pedang itu hanya terlihat seperti kayu hitam biasa.” Ujarku.


“Hmm… bisa gitu ya.” Balas paman Armin.


Paman Armin mencoba memasukkan pedang itu ke dalam sarungnya. Kemudian dia mencoba menarik keluar pedang itu, dan ternyata pedang itu tidak dapat dia keluarkan.


“UGH!!! Kenapa jadi tidak bisa lepas sekarang!” seru paman Armin.


Aku kebingungan melihat itu. Aku bahkan berpikir kalau paman Armin seperti sedang bercanda. Meski yah,


dia terluhat lucu ketika kesusahan mengeluarkan pedang itu.


Dengan nafas terengah-engah paman Armin mengembalikan pedangnya padaku. Karena penasaran, aku mencoba membukanya dan dengan mudah pedang itu terbuka.


“KOK BISA?” tanya paman Armin terheran-heran. Paman Armin jadi terlihat kekanak-kanakan saat antusias


dengan sesuatu. Itu membuatku tersenyum geli.


“Sudahlah itu memang tidak mungkin,” kak June menengok ke arah paman Armin. “Pedang itu memilih pemiliknya dan hanya bisa dikeluarkan atas kehendak pemiliknya. Dan pemiliknya adalah Alvin.” Kak June kembali melihat ke jalan.


“Cih! Sial.” Ketus paman Armin.


“Jangan berpikir untuk membelinya dari Alvin tuan Armin yang baik hati.” Sindir kak June.


Aku sedikit kaget mendengarnya. Ternyata paman hendak membeli pedang ini ya.


“Ketahuan ya?” tanya paman Armin dengan senyuman bodoh. Astaga hormatku padanya jadi sedikit berkurang melihat kelakuannya.


“Yah… kesampingkan hal itu.” Kak June memberhentikan kereta kuda. “Sepertinya ada beberapa pengganggu


yang datang.”


Aku dan paman Armin melihat ke arah depan. Disana terdapat 5 pria bersenjata menghadang kereta kuda untuk lewat.

__ADS_1


Paman Armin terlihat khawatir. “Disaat seperti ini masih ada bandit berkeliaran?”


Perjalanan pulang kami ternyata tidak semulus yang diperkirakan.


__ADS_2