
Aku terbangun dalam keadaan yang lesu. Aku tertidur setelah membaca surat dari Mirana. Aku masih sulit untuk menerima kepergiannya. Tapi mau bagaimanapun waktu terus berjalan. Aku tidak boleh meratapi kesedihan terlalu lama. Aku harus semangat dengan semangat baru.
Aku turun dari kasurku dan berseru pada diriku sendiri. “Semangatlah aku!”
Tapi begitu melihat surat yang tergeletak di atas mejaku, hatiku merasakan sakit kembali. Mataku kembali terasa berat. Aku pun keluar dari kamar mencoba mencairkan kesedihanku.
“Kakak akhirnya banguuun!!” seru Whitney begitu aku sampai ke tempat makan. Dia berlari dengan kaki kecilnya dan melompat ke arahku.
Aku tersenyum dan menerima terjangannya dengan pelukan dan menggendongnya.
“Kakak dah dibangunin Whitney dari tadi padahal.” Ujarnya dengan wajah cemberut.
Aku tersenyum mendengarnya. “Maaf yah, makasih udah bangunin.”
Whitney tersenyum mendengar ucapanku. “Kak! Kak! Ayo makan!” serunya seraya menunjuk meja makan.
“Iya iya.” Akupun berjalan menuju meja makan dan menurunkan adikku di kursinya. Disana hanya ada ibuku yang sedang membersihkan alat masak.
“Kak June dan Ayah dimana bu?” tanyaku.
“Oh Alvin, kamu sudah bangun yah. June dan ayahmu tadi pagi pergi ke tempat paman Armin. Sepertinya mau membahas tentang bandit yang menyerangmu saat pergi ke kota.” Jelas ibuku.
“Hooh gitu ya.”
“Kamu jangan gegabah seperti kemarin lusa yah,” ibuku mendekatiku dan memelukku. “Saat mendengar itu ibu jadi khawatir nanti ada yang mengincarmu.”
Aku memegang tangan ibuku yang masih basah. “Tenang saja bu, Alvin bukan anak yang lemah kok. Alvin akan lebih berhati-hati lagi kedepannya.”
“Anak pintar.” Ujar ibuku seraya melepas pelukannya.
“Eumm… bu.” Panggilku.
“Kenapa sayang?”
“Apa ibu tau soal Mirana?”
Dengan ekspresi murung ibuku kembali memelukku lagi. “Ibu pun baru tau kemarin malam sayang. Ayahmu yang memberi tau ibu. Pasti berat untukmu nak, tapi semoga kamu bisa bertemu dengannya nanti.”
Aku mengangguk pelan. Kemudian memakan sarapanku secara perlahan.
***
Hari ini tidak adalah hari minggu. Hari dimana tidak ada latihan berpedang untuk para murid ayahku. Tapi di hari minggu aku tetap terpaksa untuk berlatih oleh ayahku. Jadi hampir tidak ada hari libur untukku. Tapi aku tidak sendirian saat itu. Mirana selalu hadir dan ikut berlatih bersamaku.
Aku memutuskan untuk tidak berlatih pedang dulu hari ini. Aku akan memfokuskan diri pada latihanku untuk mendapat energi spiritual type wood.
__ADS_1
Aku berlatih di dalam kamarku. Di hadapanku terdapat pot Panjang tempat bibit bunga Spirit Enhancer yang kutanam. Aku menarik nafas dalam dan mencoba merasakan aliran energi dari bibit itu. Aku mengarahkan tanganku ke pot dan mulai mengalirkan energi spiritualku ke tangan dan mengeluarkannya secara perlahan. Aku menggunakan skill [True Eyes] untuk melihat aliran energiku.
Aliran energiku bergerak perlahan ketangan dan keluar dari telapak tanganku. Kelima bibit yang aku tanam terlihat mulai menyerap energiku.
Yah, ternyata tidak suli- ugh!!
Tanganku terasa mati rasa. Aku merasa tanganku menjadi kebas dan keras. Aku menghentikan aliran energiku dan menarik tanganku. Rasanya sangat tidak nyaman. Tapi setelah beberapa saat, tanganku kembali normal. Aku menghelakan nafas. Kupikir aku akan kehilangan tanganku.
Ternyata tidak semudah itu ya. Aku harus terbiasa dengan rasa ini. Mungkin dengan bisa bertahan, aku dapat menguasai energi spiritual type wood.
Aku pun mengulangi latihanku. Sama seperti sebelumnya, tanganku terasa mengeras dan mati rasa. Aku mencoba untuk tidak peduli tapi rasanya semakin lama menjadi rasa sakit. Dan rasa sakit itu bukan main. Tapi aku tidak menyerah dan terus mengulaginya meski beberapa kali aku terhenti.
Semakin lama, semakin aku terbiasa dan mudah untuk menyalurkan energiku. Tapi meski aku sudah cukup tersiksa, bibit itu belum mengalami perubahan dalam bentuk fisik. Hanya saja energi spiritual dari bibit itu mulai terlihat padat dan terlihat warna energi dari bibit itu menghijau. Sepertinya aku berhasil.
Di siang hari aku menghentikan latihanku dan menuju ke halaman untuk mencari udara segar. Rasanya benar benar melelahkan meski hanya menyalurkan energi spiritual.
Secara kebetulan, ketika aku keluar rumah aku mendapati kak June dan ayah baru saja kembali dari tempat paman Armin.
Kak June melihatku dan melambaikan tangan. Aku pun hendak membalas lambaiannya tapi entah kenapa tanganku terasa berat.
Aku tersungkur ke tanah. Kak June dengan panik berlari ke arahku dan menatapku dengan wajah khawatir.
“Alvin! Kamu-“ ucapan kak June terhenti begitu melihat tanganku.
“AAARRGG!!” aku mengerang kesakitan. Tanganku terasa seperti di tusuk oleh jarum berkali-kali.
“Alvin! Bertahanlah!” teriak kak June.
Aku menatap wajahnya yang cemas. Dia terlihat mengucapkan sesuatu tapi aku tidak mampu mendengarnya. Pandanganku mulai kabur, kesadaranku pun memudar. Hingga aku tak sadarkan diri.
***
Aku terbangun dengan perasaan yang berkecamuk. Rasanya aku ingin muntah. Dan benar saja aku bangun dan mengeluarkan isi perutku ke samping kasur agar aku tak mengotori kasur.
Terdapat keanehan saat aku melihat muntahanku. Pada muntahan itu seperti ada banyak potongan kecil kayu.
Apa yang terjadi pada tubuhku?
Aku terbatuk-batuk dengan keras. Disaatku terbatuk, kak June muncul dari arah pintu kamar dengan tergesa-gesa.
“Alvin!” serunya berlari mendekatiku.
“Ka-kak June…”
“Kamu kharus istirahat Alvin. Kamu sepertinya sudah muntah yah. Berarti racun dalam tubuhmu sudah mulai keluar. Astaga, kamu benar-benar membuatku khawatir.” Jelas kak June seraya membersihkan muntahanku.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya
terjadi?”
“Harusnya aku yang bertanya, aku tidak percaya kamu mengalirkan energimu ke semua bibit. Harusnya kamu hanya menggunakan satu bibit saja!”
“Ah, aku tidak tau. Kakak tidak pernah memberi tau soal itu…”
“Eh beneran?”
Aku mengangguk pelan. Dan seketika kak June terlihat berlinang air mata.
“HUAA! Jadi aku sudah membahayakanmu lagi dong?!” teriak kak June.
Oh ayolah kapan kak June akan berhenti cengeng sih. Aku padahal ingin istirahat.
Aku hanya diam mendengarkan tangisan kak June. Wajahnya terbenam di kasur. Aku mencoba menenagkannya dengan mengelus pelan kepalanya.
“Tidak apa-apa kak, lagian aku tidak kenapa-napakan?” tanyaku.
“Hiks… hampir kamu kehilangan tangan tau… untung saja aku dapat menanganinya. Hiks…” Ujar kak June seraya masih terisak.
Aku mengangkat tangan kananku. Tangan kananku terlihat normal seperti biasanya. Hanya saja warna ujung jariku samar-samar terlihat seperti warna hijau.
“Aku sudah menertralisir tanganmu yang terkontaminasi oleh energi spiritual dari bibit Spirit Enhancer. Itu terjadi karena kamu menyalurkan energi ke banyak bibit sehingga mengontaminasi energimu secara berlebihan. Untungnya aku memiliki elixir untuk menetralkannya. Saat kamu piingsan, aku memaksa dirimu untuk meminum obat yang terbuat dari elixir itu. Sekarang kamu harus meminumnya lagi.”
Aku mengangguk. Kak June pun beranjak keluar kamar untuk mengambil elixirnya. Tak lama kemudian, dia pun kembali dengan secangkir gelas di tangannya.
“Ini minumlah obat ini. Aku membuatnya menggunakan elixir penetral energi untuk membuatnya. Dan kamu harus menahan rasanya. Karena beneran ga enak.” Ujar kak June
Aku menelan ludah. Terpaksa aku meminumnya. Aku menahan nafasku dan mulai meminumnya dengan sekali tegukan.
Hoek! Ga enak banget! Pahit pahit ga jelas sumpah!
Aku memaksa diriku menelan seluruhnya. Benar-benar rasa yang tidak enak.
Kak June tertawa kecil melihatku. Aku membalasnya dengan wajah cemberut.
“Sekarang istirahatlah dulu. Kalau bisa aku sarankan gunakanlah [Spirit Meditation]. Itu akan memudahkanmu untuk menetralkan energimu ditambah afinitas type wood akan bertambah. Tapi tak perlu memaksakan dirimu jika kelelahan” Jelas kak June.
Aku mengangguk. Tentunya aku akan menggunakan [Spirit Meditation] karena aku terbiasa menggunakannya. Rasanya sama seperti tidur tapi kesadaranku terjaga. Dan aku pun ingin secepatnya menguasai energi spiritual type wood.
Dengan posisi tertidur diatas kasur, aku menggunakan [Spirit Meditation] dan menyerap energi asing yang berada di tanganku.
Dengan ini [asti afinitas type woodku akan berkembang.
__ADS_1