My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Kencan?


__ADS_3

> Sudut Pandang Aria Wizcraft <


Oh astaga, astaga, astaga! Bukankah ini pertama kalinya aku akan keluar berduaan bersama seseorang?? Aaaa..... Ini benar-benar membuatku bingung!


Aku menghelakan nafas di dalam kamarku dengan berpikir keras apa yang harus kukenakan untuk keluar bersama Alvin. Dan lagi kenapa dia mengatakan kencan kepadaku?? Ini membuatku jadi salah tingkah.


"Oh ayolah... Kenapa aku merasa seperti ini..." gerutuku.


"Ariaaa.. Masih lama?" Alvin memanggilku dari luar kamar. "Kamu ngapain sih?"


Astaga kenapa sih ga bisa dia bersabar. Aku kan bingung mau pake apa.


"Iya bentar!" Sahutku.


"Kalau kamu bingung soal baju, pakai seragam akademi aja.“


Aku menoleh cepat. Dan membuka pintu dengan kasar.


" Kamu ngintip?!"


" Eh?! Enggak kok! Aku cuma punya pengalaman yang sama seperti ini." jelas Alvin seraya menggeleng dan menggerakkan tangan dengan panik.


Pengalaman yang sama? Jangan-jangan...


"Ka-kamu pernah kencan dengan seseoarang?" tanyaku penasaran.


"Hmm? Belum pernah sih. Tapi aku sering keluar sama Kak June."


Aku tercengang. "Bu-bu guru June?"


Alvin mengangguk pelan. "Iya memang dia."


Eughh.... Emang sih dia pernah cerita soal bu guru June. Tapi apa mungkin hubungan mereka lebih dari sekedar guru dan murid? Ditambah Bu guru June amat cantik dan banyak yang menyukainya. Bahkan para wanita pun banyak yang mengaguminya. Astaga kok aku jadi khawatir gini sih?


"Hooi... Apa ada orang?"


Aku segera tersadar karena ucapan Alvin yang ngawur. Dia sedang mengibas-ngibaskan tangannya di depanku ke kiri dan kanan.


"Kamu kok ngelamun sih?" tanya Alvin.


"Ga apa-apa, ayo pergi." jawabku kesal. Meski aku ga tau kesal karena apa.


Kami berdua pun berjalan menuju pasar yang tak jauh dari akademi. Di hari libur seperti ini, banyak juga murid-murid yang keluar dan berjalan-jalan. Tentunya mereka melakukan kencan dan hal semacamnya. Tunggu, aku ga kencankan?


"Ramai sekali ya hari ini." Ujar Alvin.


"Namanya juga hari libur." jawabku.


"Oh! Itu Alfred dan Anna!“ seru Alvin sambil menunjuk dua orang yang sekelas dengan kami berdua.


"Loh apa yang mereka lakukan berdua ya?“ tanyaku.


"Mereka sepertinya sedang kencan deh. Padahal dikelas mereka kelihatan tidak akur."


Aku melirik ke Alvin. Astaga dia malah cengar cengir gitu. Apa dia tidak berpikir kalau orang melihat kita pasti akan berpikiran sama seperti yang sedang dia pikirkan?


"Sudahlah, ayo cepat kita menuju pasar." ucapku seraya menarik kerah Alvin.


"Iya-iya ga usah ditarik dong." Keluh Alvin.


Akhirnya kami berdua pun sampai di pasar. Seperti biasa pasar adalah tempat yang amat ramai. Dimana penjual dan pembeli bertemu dan saling bertarung menentukan harga jual.


"Memang apa yang mau kamu beli Vin?" Tanyaku.


"Hmm... Beberapa bahan untuk meningkatkan energi spiritualku yang mentok." jelasnya.

__ADS_1


"Memang sekarang kamu berada di level berapa?"


"24."


Hmm? 24 memang level yang agak sulit dinaikkan sih. Bahkan untukku sendiri.


"Aku juga pernah sepertimu kok."


"Benarkah?“ Alvin menatapku dengan antusias. "Apa yang kamu lakukan saat itu?"


"Kakekku memberi ramuan untukku. Sepertinya sih sama dengan yang akan kamu beli."


"Hooh begitu ya. Tapi aku ga akan beli ramuannya."


"Hah? Kamu mau beli bahannya? Emang siapa yang bisa bikin Vin? Teman kita ga ada yang bisa skill Alchemist."


"Kak June bisa kok." jawab Alvin seraya tersenyum.


Bu guru June lagi... Sepertinya memang Alvin ada sesuatu dengannya.


"Dan juga sebenarnya aku bisa menggunakan skill Alchemist." ujar Alvin tiba-tiba.


"Heh? Beneran? Kenapa ga kamu yang buat aja?"


Alvin tertawa kecil. "Sebenarnya masih ada yang kurang dari persiapanku. Dan untuk persiapan itu aku butuh menaikkan levelku."


"Persiapan?"


"Aku harus memiliki [Pure Fire] dengan cara menyerap beberapa inti monster type flame."


"Hooh begitu ya."


Selama ini aku tidak pernah penasaran sih dengan job sampingan Alchemist, jadi aku baru mengetahui hal itu saat Alvin membicarakannya. Kelihatannya Alchemist bukan job yang mudah.


Dan akhirnya kami pun tinggal membutuhkan satu bahan lagi.


"Ayolah paman, beri aku 20 perak untuk ini. Ini sudah cukup menguntungkan untukmu."


"Ah, belum bisa nak. Aku belum bisa menurunkannya hingga segitu."


Alvin saat ini sedang tawar menawar dengan salah satu pedagang. Aku yang sejak tadi mengikutinya sudah agak jenuh dengan petualangan di pasar ini.


"Dan ini sama sekali tidak terasa seperti kecan." keluhku.


Saat aku mengeluh dan melirik kesana kemari. Mencoba menemukan sesuatu yang menarik perhatianku, aku melihat seorang anak kecil sedang menangis di tengah kerumunan orang berlalu lalang.


"Huaaa!!! Ibu dimana??!!"


Aku segera mendekati anak itu. "Dik kamu tidak apa-apa?"


"Hiks.. Hiks... HUAAAA!!!" Tangisannya semakin keras.


Oh astaga aku tidak pernah mengurusi anak kecil.


"Dik, coba lihat ini."


Seketika Alvin berada di dekat anak itu dan sedang berjongkok dengan sebungkus permen kecil di tanganya.


Anak kecil itu berhenti berteriak meski masih terisak.


"Lihat ini ya." ujar Alvin kembali. Dia menggunakan sihir pada permen itu dan membuatnya melayang di telapak tangannya.


Anak kecil itu seketika merasa takjub. Matanya terlihat berbinar-binar.


"Coba tiup itu." pinta Alvin.

__ADS_1


Anak kecil itu pun meniup permen yang masih terbungkus itu dan seketika permen itu terlepas dari bungkusnya.


"Waaah!!“ anak itu terlihat senang. Dan kemudian permen melayang itu masuk kedalam mulut anak itu.


"Enakkan?" Tanya Alvin.


Anak itu mengangguk. Dia terlihat tidak sedih lagi.


Aku yang melihat perbuatan Alvin itu merasa terpukau. Jujur dia saat ini amat menawan. Astaga apa wajahku memerah?


Alvin pun mengelus kepala anak kecil itu. "Apa kamu mau naik kuda?"


Anak itu mengangguk cepat.


"Kalau gitu," Alvin mengangkat anak itu dan menaikkannya ke pundaknya. "Sambil naik kuda tampan ini, kita akan cari ibumu ya?“


Astaga kuda tampan, apaan tuh.


Meski dengan guyonan tak jelas Alvin, anak itu tertawa senang dan setuju.


Kami pun berjalan mengitari pasar seraya mencari ibu dari anak itu.


"Apa kamu liat ibumu?" tanya Alvin.


"Belum." jawab anak itu.


Namun tak lama kemudian ada teriakan seorang wanita.


"Kevin!"


Kami pun menoleh ke sumber suara itu. Seroang wanita berjalan cepat melewati kerumunan orang menuju ke arah kami.


"IBU!!" Teriak anaknya.


Begitu ibunya sampai ke hadapan kami, Alvin pun menurunkan anak itu dari pundak dan menyerahkannya pada ibunya.


"Oh astaga, terima kasih sudah menjaga anak saya. Saya tidak tau kenapa bisa saya terpisah tadi." jelas ibu itu.


"Tak apa bu, lain kali berhati-hati saja." ujar Alvin.


"Saya benar-benar berterima kasih." ujar Ibu itu sekali lagi. Dan setelah itu dia pun pamit.


"Kakak makasih permen ajaibnya yaa.“ seru anak itu pada Alvin seraya melambaikan tangan.


Aku dan Alvin melambaikan tangan pada anak itu. Kemudian aku menyenggol Alvin.


"Aku tidak tau kamu hebat dalam mengurusi anak kecil." ujarku.


Alvin tertawa kecil. "Aku sering mengurusi adikku sejak dia kecil. Jadi setidaknya aku mampu membuatnya berhenti menangis."


Hari itu aku melihat sisi lain dari Alvin yang lemah lembut. Melihatnya tersenyum bersama seorang anak kecil terlihat berbeda dari Alvin yang biasanya. Apa mungkin karena dia mengingat adiknya?


"Kalau gitu ayo kita pergi makan. Aku yang akan bayar." ujar Alvin.


"Eh?" aku menatap bingung tak mengira Alvin akan mengajakku ke tempat lain. Kupikir setelah ini kita berdua akan pulang.


"Hari ini kamu sudah menemaniku. Aku senang ada teman bicara karena memutari pasar sendirian itu amat melelahkan. Aku senang kamu ada disini." ujarnya seraya tersenyum.


Aku terkejut mendengar itu. Dan sepertinya wajahku memerah. Kenapa sih dia suka ngomong sesuatu yang memalukan seperti itu?


"Ba-baiklah... Tapi aku yang pilih makanannya."


Alvin tertawa kecil. "Tentu."


Ternyata berjalan ke pasar bersamanya tidak terlalu buruk.

__ADS_1


__ADS_2