
“Kamu harus makan yang sehat nak, jaga kesehatanmu.” Ujar ibuku seraya memelukku.
Hari ini adalah hari dimana aku akan berangkat menuju Akademi ksatria Goldendawn yang letaknya di ibu kota. Dan butuh waktu sekitar 5 hari untuk tiba kesana. Untungnya, paman Armin hari ini akan pergi ke ibu kota juga. Dia menawariku tumpangan kesana. Tentunya dengan senang hati aku menerimanya.
Kak June pun ikut denganku ke ibu kota. Setelah usai pembelajaranku sekarang, kontrak untuk menjadi guruku pun selesai. Dia berencana untuk mencari pekerjaan baru di ibu kota dan sekalian mengantarku ke Goldendawn,
“Iya bu, akan aku lakukan kok.” Jawabku seraya menerima pelukan ibuku.
Ibuku melepas pelukannya seraya menghaous air matanya. Ayahku mendekatiku dan mengusap kepalaku.
“Jadilah kuat nak dan kalahkan aku saat kamu pulang.” Ujar ayahku dengan senyum lebar.
Aku tersenyum mendengarnya. “Akan kulakukan yang terbaik.”
“Kakak….”
“Ya whiney?”
Whitney mendekatiku dan memelukku. “Kakak harus pulang….”
“Iya kakak pasti pulang.” Jawabku seraya mengelus kepalanya.
“June.” Panggil ibuku.
“Ya Shiele?”
“Jaga Alvin ya.”
“Tentu saja.”
Kak June dan ibuku berpelukan.
Setelah berpamitan, aku naik ke kereta kuda bersama kak June. Diatas kereta kuda itu terdapat paman Armin dan dua orang pria yang terlihat amat kuat. Salah satu pria itu berada di kusir untuk mengemudikan kereta kuda. Sepertinya dua pria itu adalah bodyguard yang paman sewa.
“Sudah naik semua?” tanya pria yang berada di kusir.
“Sudah semua. Kita bisa berangkat sekarang.” Jawab paman Armin.
Kereta kuda pun bergerak meninggalkan rumahku. Aku dan kak June melambaikan tanganku ke arah keluargaku hingga aku tidak dapat melihat mereka lagi.
Selama perjalanan aku berkenalan dengan bodyguard paman Armin.
“Siapa namamu nak?” tanya bodyguard yang duduk dihadapanku.
“Namaku Alvin Carlos. Dan disebelahku ini kak June.” Jawabku.
“Kak? Memang kamu lebih muda?”
“Bisa jadi aku seumuran denganmu.” Jawab kak June dengan nada kesal.
Aku hanya tersenyum canggung. Yah, sulit untuk melihat kak June sebagai orang berumur diatas 20 tahun.
“Wah maaf karena tidak sopan. Dilihat dari karakteristikmu sepertinya kamu bangsa Leegel ya? Pertama kali aku melihatnya.” Bodyguard itu menawarkan tangannya untuk bersalaman. “Namaku Gason Brantley. Aku seorang penyihir yang dipekerjakan tuan Armin.”
Kak June membalas menyalaminya. “Namaku June Cordelia. Guru sihirnya Alvin.”
“Waw, berarti kita bertiga sama-sama penyihir!” Paman Gason tersenyum. “Oh ya yang sedang mengemudi itu namanya Hadwin Gladstone. Dia seorang guardian yang amat kuat.”
Paman Hadwin menengok kebelakang dan melambaikan tangannya. Aku dan kak June pun membalas lambaiannya.
“Apa kalian berdua sudah lama menjadi bodyguardnya tuan Armin?” tanya kak June.
“2 bulanankan Gason?” tanya paman armin.
“Hmm… iya sekitar 2 bulan. Tapi tidak setiap hari juga. Hanya saat berpergian jauh saja.” Ujar paman Gason.
Tiba-tiba terbersit ingatan 5 tahun lalu di benakku.
“Ngomong-ngomong paman Armin. Apa masalah 5 tahun lalu itu sudah selesai?”
“5 tahun lalu? Oh saat aku membeli pill penembus jiwa ya? Itu sudah selesai kok. 2 tahun lalu kakakku membereskan organisasi mereka dan membunuh pemimpin mereka. Kalau ga salah, nama pemimpinnya itu hmm…. Vender. Ya Vender. Biasanya dia dipanggil The Killer Father.”
Uwaw julukannya agak gimana gitu ya. Mungkin karena dia dikenal sebagai penjual budak?
“Oh aku tau itu. Dia orang yang amat kejam. Salah satu penguasa pasar gelap. Untunglah dia sudah mati.” Tambah Gason.
“Iya sih, tapi masalahnya ada kabar burung kalau sebenarnya yang terbunuh itu bukan Vender melainkan bawahannya yang menjadi bidak dan digunakan olehnya. Tapi untungnya selama 2 tahun terakhir tidak banyak penyerangan. Dan walaupun itu ada hanyalah bandit biasa. Bukan suruhan orang.” Jelas Paman Armin.
Well, ini cerita yang terasa sedikit menakutkan untukku. Aku paham di dunia ini membunuh adalah hal biasa. Aku tidak bisa menjadi orang yang naif.
Selama perjalanan, aku dan yang lainnya berbagi banyak cerita. Cerita dari paman Armin, Gason, dan Hadwin ternyata amat seru. Cerita tentang pengalaman berpetualang yang menegangkan. Kemudian tentang perang bisnis. Dan berbagai hal.
Kami melakukan perjalanan disaat pagi hingga malam. Beberapa kali kami singgah di kota atau desa yang kami lalui. Sesekali kami berkemah dalam perjalanan. Dan sekarang sudah hari ke enam aku melakukan perjalanan. Sehari lagi untuk sampai ke ibu kota.
__ADS_1
Kereta kuda bergerak stagnan disebuah dataran landai. Sejauh mata memandang, tidak ada yang dapat dilihat kecuali rerumputan dan beberapa pohon.
“Dulu aku pernah berburu disini.” Ujar paman Gason saat kereta kuda berada di tengah dataran itu.
“Apa yang paman buru?” tanyaku.
“Saat itu paman menerima permintaan untuk menghabisi Black Bisson yang sedang bermigrasi. Monster itu terkadang berpisah dari kawanannya saat bermigrasi dan membuat onar di sekitar sini. Makanya beberapa pedagang yang melewati jalur ini membuat permintaan di Guild Petualang.” Jelas paman Gason.
“Eumm… paman….”
“Ya kenapa?”
“Apa Black Bisson itu seperti itu?”
Aku menunjuk ke arah kiri kereta kuda. Ada sesuatu yang mendekat dengan amat cepat.
Paman Gason menoleh kea rah yang aku tunjuk dan menggunakan sihir. “Eagle Eyes..”
Aku memperhatikan paman Gason. Dia menyipitkan matanya dan tiba-tiba dia berteriak.
“HADWIN!! PACU KUDANYA LEBIH CEPAT!!”
Paman Hadwin mengangguk dan segera memecuk kuda. Kereta pun bergerak dengan cepat seketika. Sesuatu yang mendekat itu mempercepat lajunya dan mengejar kereta kuda.
“Alvin, June. Kalian bisa bertarungkan?”
Aku dan kak June mengangguk.
“Ini mungkin akan berbahaya. Itu bukanlah Black Bisson. Itu adalah Blalck Giant Bisson. Evolusi lanjutan Black Bisson. Sekarang kita akan melompat dari kereta kuda dan menghadangnya. Setelah membuatnya terhenti sejenak Hadwin akan datang membantu.”
Aku dan kak June mengangguk paham. Aku pun segera melompat dari kereta kuda dan mendarat dengan mulus. Kak June dan paman Gason menyusul dengan skil [Blink].
“Sepertinya sudah waktunya mencoba persenjataanku.”
Aku mengeluarkan pedang kesayanganku dan mana cube pemberian kak June. Aku melempar mana cube itu ke udara dan membuat mana cube itu terpisah-pisah menjadi Sembilan bagian dan terbang disekutarku. Aku mengacungkan pedangku dan menatap lurus ke arah monster yang ukurannya 2 kali lebih besar dari banteng dewasa yang berjarak 100 meter dariku.
“Enchant Skill, [Ice].”
Seketika pedangku mengeluarkan hawa dingin yang amat menusuk. [Enchant Skill] adalah skill untuk menambahkan attribute pada senjata. Aku menambah attribute es ke dalam pedangku.
“Accel!”
Aku melesat maju ke arah Bisson itu. Pedangku mulai mengeluarkan cahaya. Aku menggunakan skill [Horizontal Slash] dan mengincar bagian perutnya. Bisson itu mendekat dengan cepat. Aku pun melesat kearahnya.
*SLASH!*
Seranganku dengan mulus mendarat di daerah rusuk Bisson itu.
“ALVIN AWAS!!”
Aku mendengar teriakan kak June dan berbalik. Alangkah terkejutnya aku melihat Bisson itu tidak terluka dan sedang mengangkat kedua kaki depannya untuk menginjakku.
Aku dengan cepat melompat kebelakang. Kaki besar monster itu mehempas tanah berumput dan membuat retakan di sekitar pijakannya. Aku yang sudah melompat mengambil ancang-ancang dan melancarkan kembali serangan dengan skill [Front] ke arah kepalanya.
Bisson itu dengan cepat menggerakan kepalanya dan menangkis tusukanku dengan tanduknya yang keras. Aku mendecakkan lidah melihat seranganku tak berdampak padanya.
“Nak! Mudurlah!” teriak paman Gason.
Begitu mendengarnya aku mundur sejauh 10 meter untuk menjaga jarak.
Paman Gason dan kak June sedang merapalkan sihir bersama. Terlihat muncul lingkaran sihir dibawah kaki mereka yang menandakan mereka sedang mengeluarkan sihir tingkat tinggi yang di rapal karan membutuhkan konsentrasi tinggi.
Mereka berdua menaikkan tongkat sihir mereka dan mengarahkannya pada Bisson itu.
“FLAME INFERNO!!” teriak mereka berdua.
Muncul dua bola api raksasa menyerbu Bisson besar itu. Terjadi ledakan dahsyat begitu kedua bola api mengenai Bisson itu. Terdengar erangan kesakitan dari Bisson itu. Tapi ternyata tidak selesai sampai disitu.
Bisson itu melesat dengan kecepatan yang luar biasa menuju ke arah kak June dan paman Gason. Dengan bermandikan api, Bisson itu mengeluarkan suara keras siap menghantap mereka berdua.
Aku hanya dapat melihatnya dengan panik.
“SHORT OF DISTANCE!!”
Aku mendengar suara paman Hadwin berteriak. Dan ternyata paman Hadwin menggunakan skill untuk segera berada di depan Bisson itu dan menahan serangannya dengan sebuah tameng besar ditangannya.
“Kau tepat waktu kawan.” Ujar Paman Gason.
Paman Hadwin tersenyum kemudian menggunakan sebuah skill yang biasa digunakan Guardian.
“Provoke!!”
Seketika Bisson itu terluhat kesal dan mulai menyeruduk paman Hadwin.
__ADS_1
“Sekarang ayo serang!!” teriak paman Gason.
Aku mengangguk dan melesat dengan [Accel] menuju bisson itu. Kemudian melancarkan serangan ke arah punggungnya. Tapi hasilnya nihil.
Sial! Kulitnya keras sekali! Apa yang harus kulakukan! Eh tunggu! Itu…
Aku menyadari terdapat sebuah luka dibagian bahunya. Sepertinya serangan kak June dan paman Gason membuatnya terluka.
Sepertinya sihir api lebih berdampak dari sihir lainnya.
“Kak June! Paman! Aku menemukan sebuah luka dibagian bahunya!”
Kak June dan paman yang sedang bertarung dengan Bisson itu melirik bahunya.
“Bagus Alvin! Coba serang bagian itu!” teriak kak June.
Aku mengangguk mantap kemudian melesat dan melompat ke atas. Aku mengarahkan tanganku ke arah luka itu. Mana cube yang berada disekitarku mulai bersinar dan siap mengeluarkan sihir.
“Fire Arrow!!”
9 panah muncul dan melesat menuju luka yang aku tuju. Bisson itu mengerang kesakitan begitu seranganku mengenai targetnya. Tapi ternyata serangan itu masih terlalu dangkal dan membuat Bisson itu marah.
Bisson itu mengerang seraya mengangkat kedua kaki depannya dan menghentakkannya ke tanah. Seketika sebuah luapan energi muncul dari arahnya dan menghempaskan semua yang berada disitu.
Aku terpukul mundur beberapa langkah. Dan saat aku bangkit dari hempasan itu, Bisson itu sudah siap menerjangku. Aku terkejut dan tak siap untuk mengelak.
Sial!
Tiba-tiba, paman Hadwin berada di depanku. Dia mencoba menahan terjangan itu namun serangan dari Bisson itu terlalu kuat dan mehempaskan paman Hadwin dan aku.
Berkat paman Hadwin yang menahan serangan Bisson itu, dampak kerusakan yang mengenaiku tidak terlalu parah. Namun paman Hadwin terlihat mengeluarkan darah dari mulutnya.
“Paman! Paman tidak apa-apa?!”
Paman Hadwin terbatuk dan memegang bahuku. “Bersiap dan serang dia. Aku akan kembali setelah meminum elixir pemulihan.”
Aku mengangguk dan berdiri kembali. Aku melirik luka di tubuh Bisson itu. Aku melihat darah mulai keluar dari situ. Aku menelan ludah dan menggenggam erat pedangku.
Tiba-tiba muncul akar kayu dan mulai mengikat Bisson itu. [Chain Root], sihir kak June.
“Diam kau disana banteng sialan!” Seru kak June seraya mengepalkan tangannya.
Paman Gason melakukan hal yang serupa dengan menggunakan sihir tanah dan memunculkan lengan raksasa kemudian menahan tubuh Bisson itu.
“Alvin! Cepat serang! Kami tidak akan mampu menahan dengan lama!” teriak kak June.
Aku mengangguk dan segera berlari ke arah Bisson itu. Aku melompat ke punggung Bisson itu dan melancarkan skill [Triple Stab] ke arah luka Bisson itu. Pedangku mengeluarkan cahaya biru muda dan menusuk lukanya dengan cepat.
Bisson itu mengerang kesakitan dan meronta-ronta. Bisson itu menguak keras membuat tanah dan akar yang mengikatnya hancur. Aku yang berada diatas punggungnya melompat dengan cekatan menjauhi kekacauan yang dibuat Bison itu.
Kak June mendecakkan lidah dan mengeluarkan [Wind Cutter] ke arah Bisson itu. Bisson yang cerdik itu memutar badannya untuk menghindari serangan kak June. Dan mulai bergerak cepat menuju kak June.
Kak June tersenyum licik. “Kemarilah kau banteng.”
Bisson itu bergerak cepat dan menghantam kak June. itulah yang aku pikirkan. Namun ternyata tidak.
Kak June menggunakan sihir [Blink] dan berpindah tempat ke atas Bisson itu.
“Rasakan ini! GRAVITATiON DOUBLE FOLD!!!”
Seketika tanah bergetar hebat. Radius sepuluh meter dari kak June tenggelam seketika. Bisson itu tersungkur mencium tanah dengan kak June berada diatasnya.
“ALVIN!!”
“BAIK KAK!!”
Aku melompat untuk sekian kalinya dengan seluruh kekuatan terpusat di kakiku. Karena jika tidak, aku pasti akan terkena dampak gravitasi dan tak mampu melompat. Aku melompat tepat diatas luka Bisson itu dan mengarahkan pedangku saat masih berada di atas angin. Menggunakan daya sihir kak June dan Sword skillku, pedang itu menusuk luka Bisson dengan amat dalam.
“ENCHANT SKILL!! FIRE!!!”
Pedangku mengeluarkan api dengan dahsyat. Aku mengerahkan seluruh manaku untuk menciptakan api itu dan membakar tubuh Bisson itu dari dalam. Bisson itu berteriak kesakitan dan mencoba melepaskan diri. Tapi dia tidak mampu sama sekali.
Aku menggertakkan diriku menahan tekanan.
“MATILAAAH!!!!”
*BWOSSHH!!*
Suara itu muncul dari tubuh Bisson raksasa itu. dan setelah itu hening. Black Giant Bisson itu berhasil kubunuh.
Aku melepas pedangku dan menghelakan nafas Panjang. Kak June menatapku dengan senyuman bangga. Aku tertawa membalasnya.
Astaga, ini pertarungan paling gila yang pernah kurasakan.
__ADS_1