My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Janji


__ADS_3

“Kakaak!!” seru Whitney seraya berlari ke arahku.


Aku tesenyum melihatnya menyambutku. Aku bertengkuk lutut untuk menyamakan tinggiku dengan whitney dan menyambutnya dengan pelukan. Lalu mengangkat dan menggendongnya.


“Kakak lama sekali pulangnya.” Ucap Whitney dengan wajah cemberut.


“Maaf, maaf.” Pintaku seraya tersenyum.


“Selamat datang sayang.” Sambut ibuku seraya mengelap tangannya dengan celemek yang ia gunakan.


“Aku pulang ibu.” Ujarku seraya mendekatinya sambil masih menggendong adikku.


Ayah dan murid-muridnya pun berdatangan menyambutku. Setelah saling menyambut, ibuku mengajak semuanya untuk makan siang. Kak June yang baru saja kembali pun langsung menawarkan diri untuk membantu ibuku. Tapi ibuku menolak dan menyuruhnya istirahat terlebih dahulu. Tapi kak June bersikeras dan akhirnya ibuku pun menyerah.


Ayah dan paman Armin mulai berbincang-bincang secara pribadi. Sedangkan aku menjaga adikku dengan Mirana duduk bersama dibawah pohon.


“Jadi bagaimana perjalananmu ke kota?” tanya Mirana padaku.


“Cukup seru, dan juga banyak hal yang tidak terduga terjadi.”


“Hooh, kalau gitu ceritalah.” Pinta Mirana.


“Iya cerita ceritaa!” tambah adikku.


Aku tertawa melihat tingkah mereka. Aku pun menceritakan semua kejadian dari awal keberangkatanku, kemudian saat aku hendak ditipu, pertemuanku dengan penyihir tua, dan terakhir dengan penyergapan oleh bandit.


“Ka-kamu gapapakan?” tanya Mirana khawatir saat aku bercerita tentang penyergapan oleh bandit itu.


“Gapapa kok.” Aku tersenyum. “Kamu khawatir ya?” tanyaku jail.


“Eng-Enggak kok! Apaan sih kamu!” ketus Mirana dengan wajah yang memerah. Aku tertawa melihat reaksi imutnya.


“Yah itu benar-benar pengalaman yang cukup menakutkan.” Ujarku seraya mengelus kepala adikku yang tertidur di pangkuanku. “Apa kamu merasa kesepian tanpaku kemarin?”


Mirana memasang muka kesal dan membuang muka dariku. “Gak tau ah!”

__ADS_1


Aku kembali tertawa melihat reaksinya. Sangat menyenangkan menjaili Mirana.


“Oh iya Mir, aku ada sesuatu buat kamu.” Aku mengeluarkan oleh-oleh untuknya dari kantongku. “Kemarilah mendekat.”


“Ada apa sih?” tanya Mirana seraya mendekatkan dirinya padaku.


Aku pun memasang jepit rambut yang aku beli di kota di sebelah kanan rambut hitam mirana. dengan lembut aku memindahkan sebagian poninya kepinggir dan menjeptinya. “Dah selesai.”


Mirana terlihat terdiam dengan wajahnya yang merah padam. Begitu melihat ekspresinya aku baru tersadar.


AIIIIH!! Aku tadi ngapain siiih???!!!! Kok berani banget aku masangin jepit rambutnya??!!


“Eumm…. Makasih..” ucap Mirana seraya menunduk malu.


“I-iya sama-sama.” Balasku seraya mengalihkan pandanganku. DUUUH! Mukaku pasti merah jugaaa.


Dan akhirnya suasana menjadi canggung. Duh gawat nih. Kan jadi canggung gini duh.


Aku melirik ke arah Mirana. dan mata kita bertemu. Wajahnya terlihat merah merona dengan ekspresi yang menawan. Mata merahnya benar-benar menghipnotisku. Angin berhembus membuat rambut panjangnya bergerak pelan menambah kecantikannya.


“Cantik…”


Mirana memandangku terkejut. “Eh?”


“Eh?” Aku tersadar. WATDE? Kok aku bisa kelepasan siiiih??!! Duh bunuh aja aku aaaahh!!!


Mirana terlihat malu-malu dengan wajah memerahnya. “Ma-makasih.”


Duh! Kokoroku. Ga kuat aku.


Tiba-tiba adikku terbangun dari tidurnya.


“Kakak… laper….”


“I-iya bentar lagi kayaknya beres.” Jawabku.

__ADS_1


Benar saja, kak June memanggil kami bertiga untuk ikut makan.


“Alvin, Mirana, Whitney! Ayo makan!” seru kak June di tempat semua orang berkumpul.


“Iya kami kesana!” balasku. Aku menggendong adikku kemudian berpaling ke arah Mirana. “A-ayo makan Mir.”


“I-iya.”


Duh ga kuat aku liat wajahnyaaa! Untung Whitney bangun tadi. Kalo engga aku ga kuat sama suasana canggung itu. Dahlah sekarang waktunya makan.


Kami bertiga pun berjalan menuju tempat semua berkumpul dan makan bersama.


Di sore hari, keadaanku dan Mirana kembali seperti biasa. Berlatih bersama di sore hari, dan juga memamerkan pedang baruku. Dia terlihat kagum dengan pedangku. Sebagai penggila pedang seperti dia memang sudah wajar kalau pedang ini membuatnya terkagum-kagum. Aku pun mencoba beberapa Sword Skill dan ternyata kekuatannya meningkat saat menggunakan pedangku. Tapi tentunya aku tidak menggunakannya untuk sparing dengan Mirana.


“Seri lagi hehe.” Ujarku pada Mirana. kami berdua sedang bersebelan terkapar di lapangan sehabis sparing.


“15 menang 15 kalah dan 30 seri. Kenapa bisa seimbang seperti ini?” tanya Mirana.


“Hehe, kita sama-sama kuat.”


“Tapi aku lebih kuat.” Ujar Mirana memancing.


“Apaa??!! Aku lebih kuat tau!” balasku tak mau kalah.


Aku dan Mirana saling bertatapan dengan wajah tak mau kalah. Dan setelah beberapa saat kami berdua tertawa bersama.


“Setelah ini aku kok yang menang.” Ucap Mirana dengan senyuman.


“Hmm… kalau begitu nanti kita lihat. Yang kalah harus mengabulkan permintaan yang menang.” Tantangku.


“Janji ya?”


“Janji.”


Kami pun saling beradu pukulan. Dan kembali tertawa bersama.

__ADS_1


Tapi…. Hari dimana aku bertarung kembali dengan Mirana tidak pernah terwujud.


__ADS_2