My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Sword Skill


__ADS_3

Pagi hari terasa begitu cepat. Hariku diawali dengan keindahan. Dan entah kenapa... kak June berada dikasurku!!!


Aku berpikir keras padahal masih pagi hari. Bagaimana melepas pelukan kak June dari tubuhku?? Dan aku harus melakukannya dengan cepat. Sebelum ibuku masuk dan salah paham atas semua ini. Pelukannya benar-benar sangat erat. Jika aku bangunkan, aku pasti dihajar habis-habisan dan dicap mesum oleh kak June seumur hidup. Badanku mulai berkeringat memikirkan apa yang harus kulakukan. Aku menatap kearah kak June. “Gawat, gadis ini terlihat sangat tak berdaya saat tertidur. Wajahnya terlihat manis saat tidur dengan nyenyak. Aah, gimana nih. Otakku tak bisa berpikir jalan keluar yang baik. Sepertinya terpaksa aku harus membangunkannya. Ya, dengan lembut dan halus supaya tidak membuat kak June curiga.” Saat aku ingin membangunkannya, tiba-tiba terdengar suara pintu yang hendak dibuka. Secepat kilat aku melihat kearah pintu. “Aah, apa aku akan mati untuk kedua kalinya?” aku pun mengambil jalan terakhir. Tidur lagi.


Aku menutup mataku dan menenangkan diriku agar tidak mencurigakan. Satu detik, dua detik, tiga detik. Suara itu berhenti. Tidak terdengar suara terbukanya pintu. Aku membuka sedikit mataku dan pintunya sama sekali tertutup. Aku bernafas lega. Sepertinya pintunya terkunci. Akhirnya aku mencoba untuk membangunkan kak June. Tapi muncul keraguan dihatiku. Aku memperhatikan wajahnya.... Memperhatikannnya....


*Glup*


“AKU GAK TEGAAA!!! Kenapa wajahnya begitu manis ketika sedang tertidur nyenyaak!! Oh tuhan, ampuni aku yang akan membangunkan malaikat ciptaanmu ini.” pikirku kacau.


Saat aku merasa bimbang untuk memilih apa yang akan kulakukan, tuhan menjawab kebimbanganku dan memberi tahu sesuatu yang telah aku lupakan. “Oh iya, akukan masih berumur 6 tahun.” Akhirnya aku menyadari kebodohanku dan mencoba membangunkannya.


Saat aku ingin menggoyang tubuh Kak June, sesuatu terjadi....


Kak June bangun dari tidurnya. Aku hanya dapat mematung melihatnya bangun dan duduk didepanku. Dia mengucek-ngucek matanya tanpa menyadari aku sedang berada didepannya dan terlihat seperti orang yg hendak menggerayanginya. “Aah, beneran bakal mati.” Aku hanya dapat tersenyum ketika kak June menatapku. Seketika wajah merah padam dan dalam sekejap, Aku sudah terkapar dilantai.


Aku terbangun diatas kasur kamarku. Kulihat kak June sedang melihatku di samping kiriku. Wajahnya terlihat sangat cemas. Ya, wajar saja. Dia memukulku dengan spontan tanpa berpikir dahulu. Pasti dia merasa bersalah. Tapi anehnya wajahku tidak merasa sakit sama sekali.


“Kak June.” Aku bangun dan duduk dikasurku. Kak June menatapku. Menungguku mengatakan sesuatu. “Tadi benar-benar pukulan yang indah.” Aku mencoba mencairkan suasana murung di kamar ini.


Wajah kak June memerah lagi dan kali ini dia memukul bahuku. Aku tertawa jahil melihat tingkah lakunya. Aku turun dari kasurku dan memberikan tanganku. “Ayo kita sarapan. Ngomong-ngomong, terimakasih telah menyembuhkan aku.”


Wajah kak June kembali memerah. Dia berdiri dan menggenggam tanganku.


“Ayo makan.” ucapnya. Aku melihatnya tersenyum senang saat menggenggam tanganku.

__ADS_1


“Tapi kok kakak berani memukulku yang masih kecil ini?”


“I-itu karena kamu memiliki aura seperti orang dewasa. Itu membuatku spontan memukulmu”


“Ya, memang aku sudah dewasa.” Pikirku ketika mendengar kata-katanya tadi.


Pagi hari ini benar-benar diawali dengan keindahan. Benar-benar momen yang indah.


Setelah sarapan, aku langsung berlatih pedang bersama ayahku. Ini adalah latihan yang sudah kutunggu-tunggu. Karena ayahku akan melatih sword skill dilatihanku kali ini. Aku berlatih di halaman belakang rumahku. Aku dan ayahku berdiri berhadap-hadapan. Dia mengacungkan pedang kayunya kepadaku.


“Lihat dan pelajari.” Aku mengangguk dan memperhatikan dengan seksama. Ayahku mengambil ancang-ancang. Tangan kanannya mengangkat pedang sejajar dengan mata dan menarik sikutnya kebelakang. Ayahku mengangkat tangan kirinya kedepan sama lurusnya dengan pedang kayu. Setelah sesaat, pedang kayu itu mengeluarkan cahaya merah muda. Dan secepat kilat pedangnya menusuk kedepan. Setelah beberapa saat cahaya pancaran dari pedang itu memudar dan hilang. Aku terpana melihatya.


“Skill tadi bernama [Front], sword skill sederhana untuk menusuk lawan dengan cepat. Sekarang, coba tiru apa yang ayah lakukan.” Aku mengangguk dan mengambil ancang-ancang.


Tangan kananku mengangkat pedang layaknya ayahku. Menarik sikut kebelakang dan mengangkat tangan kiriku. Satu detik, dua detik, tiga detik. Cahayanya sama sekali belum muncul. Tiba-tiba ayahku berteriak.


“Kamu kehilangan fokus ketika menusuk.”


Kehilangan fokus? Mungkin itu benar. Aku terlalu senang saat melihat pedangku bercahaya.


“Akan kucoba lagi ayah.”


“Baiklah, cobalah disini. Aku akan ketempat latihan muridku yang lain. Ingat, selalu fokus.” Aku mengangguk. Ayah pun berlalu meninggalkanku menuju halaman depan. Disana para muridnya berlatih. Kalau tidak salah, muridnya berjumlah 5 orang. Salah satunya bahkan gadis.


Aku melanjutkan latihanku sendirian. Kali ini, aku mencoba memfokuskan pada pedangku. Aku mengambil posisi seperti sebelumnya. Pedangku mulai bercahaya lagi. Tapi, saat kutusukkan pedangku kedepan, kejadian sebelumnya terjadi. Cahayanya kembali pudar. Aku menghelakan nafas kecewa. Aku natap pedang kayuku.

__ADS_1


“Apa yang membuatnya gagal?” Aku mengangkat pedangku keatas kepalaku dan menatapnya. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang ayahku lakukan. “Tak ada yang berbeda menurutku. Lantas, apa yang membuatnya gagal?” Aku memejamkan mataku. Memfokuskan pikiranku. Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu. “Ayah tadi mengatakan sesuatu. ‘Kehilangan fokus saat menusuk’. Berarti yang harus aku fokuskan bukanlah pedangnya. Tetapi, sasaran yang akan ditusuk. Tusukannya!! Aku segera mengambil ancang-ancang. Mengangkat tangan kanan dan menarik sikut kebelakang. Tangan kiriku terangkat.


“Fokus pada sasaran. Apa yang akan ditusuk.” Cahaya biru itu kembali menyelimuti pedang kayuku. Aku dengan cepat menusukan pedangku kedepan dan kali ini cahayanya tidak pudar. “Apa ini artinya aku berhasil?”


Aku mencobanya sekali lagi dengan lebih cepat dan aku berhasil melakukannya. “Akhirnya aku bisa menguasai tehnik ini.” Aku segera berlari ke arah halaman depan menuju ayahku. Sampai disana, aku langsung menghampiri ayahku.


“Ayah! aku berhasil melakukannya!” Aku berbinar-binar. Ayahku menatapku dengan senyum.


Ayahku tersenyum. “Baiklah, coba lakukan tehnik itu kepada orang-orangan jerami disana.” Jarinya menunjukan kearah orang-orangan jerami yang ada didepannya. Aku mengangguk dan berjalan kehadapan orang-orangan jerami itu.


Aku menghelakan nafas. Banyak murid-murid lain yang lebih besar dariku dan mereka melihatku, sepertinya mereka penasaran apa yang akan aku lakukan terhadap orang-orangan jerami yang ada didepanku ini. Aku mengambil ancang-ancang, tangan kananku mengangkat pedang kayuku sejajar dengan mataku. Aku menarik sikutku kebelakang dan mengangkat tangan kiriku sejajar dengan pedangku. Seketika pedang kayuku mengeluarkan cahaya dan dalam sekejap, pedangku telah tertusuk di tengah-tengah orang-orangan jerami itu, tiba-tiba terdengar sorakan dari murid-murid yang lain.


“WOAAAAH! HEBAT SEKALI!” Mereka bersorak-sorai sambil bertepuk tangan.


“Berapa umurmu nak ?” tanya salah satu murid.


“Kau kecil sekali.”


“Hebat kau nak.”


Aku hanya bisa melihat ke kanan dan ke kiri. Aku tidak tau mau menjawab apa. Mereka menghujaniku dengan pertanyaan dan pujian. Hingga akhirnya ayah menegur mereka.


“Sudah-sudah, jangan ganggu dia lagi. Sana berlatih yang benar!”


Aku menghela nafas. Akhirnya mereka kembali berlatih.

__ADS_1


Ayahku menepuk kepalaku dan mengelusnya. “Kerja bagus nak.” Dia tersenyum lebar kepadaku. Aku juga merasa senang.


__ADS_2