My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Ujian


__ADS_3

“Ayo semua yang belum dipanggil segera menempati tempat yang disediakan!!”


Seluruh petugas menginstruksikan semua peserta untuk menjauh dari lapangan. 10 guru yang akan menguji pun telah datang ke dalam lapangan. Sungguh menarik melihat para ahli datang. Dapat terlihat perbedaan karakteristik mereka dan kemampuan mereka. Ada yang terlihat membawa pedang besar, mengenakan pakaian khas job ranger, ada yang terlihat seperti penyihir namun bermacam macam type seperti tipe elemen dan tipe buff/debuff, dan bahkan ada yang terlihat seperti seorang ninja. Dan yang paling mengejutkanku adalah…. KAK JUNE KOK ADA DISITU????!!!


Aku tidak menyangka kalau kak June adalah guru di akademi ini. Tunggu… apa mungkin yang mau dibicarakan oleh Tuan Merlin itu soal ini? Kak June direkrut menjadi seorang guru disini? Yah kupikir itu bagus sih, tapi tiba-tiba banget!!


Aku menghelakan nafas. Aku harus terbiasa dengan kejuatan-kejutan yang tak terduga kalau soal kak June. Yah, dia adalah wanita yang sulit ditebak.


Aku berada di barisan terdepan kursi penonton. Di depan kursi itu terdapat pembatas seperti pagar setinggi 1 meter yang terbuat dari beton. Aku berdiri disana  dengan kedua tangan berada di pembatas itu.


Untuk nomer 1 sampai 5, terdapat 2 penyihir, 1 pengguna pedang, 1 pengguna tombak dan 1 pengguna panah. Mereka menunjukkan kebolehan mereka di depan guru-guru penguji.


Yah, karena ini nomer awal, pasti para ningrat yang sedang di uji.


Aku melirik salah satu penyihir. Melihat gelagatnya saja aku sudah tidak enak. Sikap angkuhnya benar-benar menyebalkan.


“Aku Edgar Bridmaster! Ayahku adalah Duke Bridmaster!” dia menoleh ke arah tempat berkumpulnya peserta yang berpakaian biasa. “Kalian anak rendahan lihatlah kehebatanku!!” teriak penyihir angkuh itu.


Uwah…. Kenapa sih harus bilang anak Duke sih? Kan ga ada yang nanya.


Anak angkuh itu mengangkat tangannya dan mulai merapalkan mantra. Tak lama kemudian muncul sebuah bola api diatas tangannya. Awalnya bola api itu sebesar bola baseball. Tapi lama kelamaan bola api itu terus membesar dan membesar. Semua orang menatapnya tanpa berkedip.


Anak itu tertawa sombong. Kemudian menyeringai dan melempar bola itu ke arah kumpulan anak biasa. Aku terkejut melihat itu. beberapa anak berteriak namun begitu api itu hendak melewati lapangan menuju pada mereka, bola api itu lenyap. Aku menghelakan nafas lega. Sepertinya terdapat lapangan itu memiliki pembatas sehingga tidak ada sihir yang mampu keluar dari situ.


“BWAHAHAHA! Dasar orang-orang kampungan bodoh!” ejek Anak itu.


Kalo aku ada disana sudah aku pukul wajah angkuhnya!


Ekspresi dari para anak biasa terlihat bermacam-macam. Ada yang ketakutan, ada juga yang marah. Beberapa anak juga hanya berekspresi tidak peduli. Yah hal ini pasti sudah wajar. Tapi yang mengesalkannya, banyak anak kalangan bangsawan yang mendukung bocah angkuh itu. pemandangan yang menyedihkan.


Lima urutan berikutnya terus bergulir. Beberapa memang ada yang menarik, namun rasanya memuakkan saat ada yang menyombongkan diri mereka. Kesan kagumku jadi jatuh begitu saja. Sangat merusak suasana hati.


Urutan sudah mencapai 200-an. Aku mulai merasa haus. Mungkin aku akan ke bawah dimana letak tersedianya makanan dan minuman.


Aku akan mengambil minum setelah melihat yang ini.


Di giliran kali ini, entah kenapa tidak banyak orang yang berbicara keras. Semua berbisik-bisik. Dan kelihatannya mereka menatap seorang lelaki tampan dengan rambut pirang halus dan pakaian yang mewah. Dia membawa sebuah busur yang terlihat menakjubkan


“Itu pangeran Charles.”


“Iya, sekarang gilirannya.”


“Wah, dia tampan sekali."


Bisikan-bisikan itu terdengar olehku. Aku memangku daguku dengan telapak tanganku.


Jadi itu pangeran kerajaan ini? Dia seorang Ranger class Archer ya.


Pangeran itu terlihat tidak banyak bicara. Aku akui sikapnya tidak menunjukkan keangkuhan. Dia menunggu pengujinya mempersilahkannya mengeluarkan skilllnya. Begitu dia dipersilahkan, dia mengangguk dan menarik busurnya.


Anak panah bercahaya muncul ditangannya saat sang pangeran menarik busurnya. Semua orang terdiam melihat penampilannya. Hingga setelah beberapa saat dia berteriak.


“RAIN ARROW!!” Pangeran itu melepaskan tarikannya.


Melesat satu anak panah dari busurnya. Namun begitu anak panahnya mengarah kebawah, anak panah itu berubah menjadi ratusan anak panah yang menghujani area kosong dari lapangan.

__ADS_1


Aku menatap kagum. Benar-benar kemampuan yang luar biasa. Namun kelihatannya itu memerlukan energi spiritual dan mana yang banyak. Pangeran itu terlihat sedikit kelelahan setelah mengeluarkan skillnya.


Penampilan yang luar biasa pangeran! Kamu mendapat jempol dariku!!


Aku berbalik dan turun ke bawah. Sekarang waktunya menghilangkan dahagaku.


***


>> Sudut Pandang Aira Wizcraft. Cucu Merlin Wizcraft <<


Aku tak pernah berpikir kalau aku akan berada disini. Aku melihat kesekelilingku dan mendapati semua orang memuji kemampuan sihirnya. Tapi bagiku rasanya hampa.


Entah sejak kapan terakhir kalinya aku merasakan kesenangan dalam menggunakan sihir. Pada akhirnya teman temanku, bahkan kedua orang tuaku menjauhi karena bakat sihirku. Sihir bukan lah hal yang menyenangkan bagiku.


Dan sekarang aku hanya dapat mempercayai ucapan kakekku. Dia bilang aku akan mendapatkan teman apabila aku bersekolah di akademi miliknya. Ya teman… hanya itu yang aku harapkan saat ini.


“Nomer 210-215 silahkan masuk kedalam lapangan!!” teriak seorang petugas.


Ah, itu nomor urutku.


Aku pun memasuki lapangan dengan sedikit harapan.


“Hey lihat itukan cucu dari penyhir agung.”


“Pasti dia berbakat sekali.”


Aku menggertakkan gigiku. Memangnya apa yang kalian pikirkan tentang bakat sih?!!


Sekarang didepanku terdapat 10 orang penguji yang akan menguji kemampuanku. Mereka tersenyum padaku. Wajar saja, mereka adalah bawahan kakekku.


Aku mengangguk dan mengarahkan tanganku kearah lapangan yang kosong.


Sihir terkuatku… apa aku harus mengeluarkan yang terkuat? Apa semua akan berakhir dengan baik?


Hatiku penuh dengan kebimbangan.


Aku menghelakan nafas dan mulai merapal mantra. Sihir tingkat tinggi sulit untuk di keluarkan tanpa mantra.


“Wahai angin, hempasan yang mampu menerbangkan apapun. Berhebus dengan ribut di atas langit. Datanglah, berhembuslah dan muncul sebagai kekacauaan yang agung… BIRD OF WIND!!”


Seketika angin berhembus kencang dari seluruh lapangan. Angin-angin itu berkumpul didepan tanganku dengan pusaran yang luar biasa dan membentuk seekor burung raksasa yang sedang membentangkan sayap.


Semua orang menatap ke arah sihirku. Burung raksasa yang terlihat menakutkan dengan warna hijau dari padatnya angin.


Orang-orang terlihat bertepuk tangan melihat sihirku. Entah kenapa rasanya menjadi menyenangkan. Aku tersenyum dan mengelurakan sihir api.


Api itu muncul dari tengah burung angin buatanku dan mulai bersinkronisasi. Api itu menyebar dan menyelimuti burung angin itu dan merubahnya menjadi burung api yang memiliki hempasan angin. Angin panas memenuhi ruangan itu.


Aku melihat sekeliling dengan senyuman. Namun yang kudapat bukanlah hal yang aku harapkan. Orang-orang terlihat takut padaku. Mereka sudah tidak ada yang bertepuk tangan untukku.


Kenapa?!! Apa yang salah dariku??!!!


Aku segera mematikan sihirku dan temperatur aula kembali seperti semula dengan cepat.


Aku berbalik menghadap ke arah para penguji. Aku mencoba tersenyum kepada mereka mencoba menutupi kesedihan dan kekesalan didalam hatiku.

__ADS_1


“Kamu hebat sekali bisa mengeluarkan sihir seperti itu.”


“Ya benar.”


“Seperti yang diduga dari cucu Tuan Merlin. Benar-benar berbakat.”


“Benar, bakat yang luar biasa.”


Aku meremas tanganku. Bertubi-tubi pujian dari penguji aku dapatkan. Tapi…..


Bukan itu yang mau aku dengar….


Hanya penguji yang terlihat seperti anak kecil yang hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Setidaknya dia lebih baik daripada penguji lainnya bagiku.


Aku keluar dari lapangan. Berharap ada yang mencoba berkenalan denganku seperti peserta yang lain ketika keluar dari lapangan. Saling tertawa dan membicarakan kemampuan yang mereka perlihatkan. Tapi tidak ada yang aku harapkan terjadi.


“Uwah… dia hebat sekali. Aku tidak sepadan dengannya.”


“Yah, Namanya juga cucu dari penyihir agung. Bakatnya pasti besar.”


“Curang sekali. Dia sudah ditakdirkan untuk menjadi penyhir yang hebat dengan bakatnya.”


“Kita tidak memiliki tempat disisinya.”


Diamlah! Diamlaaah!


“Enak ya punya bakat sepertinya.”


Bukan kemauanku aku memiliki bakat seperti ini!!


Akhirnya aku kembali sendirian. Mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hendak keluar. Rasanya amat menyakitkan berada disini. Kenapa semua ini terjadi padaku.


“Yo.”


Aku refleks menoleh ke arah datangnya suara. Di depanku terdapat seorang lelaki dengan rambut putih bersih dan mata biru yang indah. Dari penampilannya dia tidak terlihat seperti seorang bangsawan.


“Kamu hebat sekali ya.” Ujar lelaki itu.


Aku meremas rokku. Aku tidak kuat lagi apa bila dipuji lagi karena bakatku.


“Kamu pasti sudah bekerja keras sampai dapat mengeluarkan sihir yang luar biasa seperti itu.” ujarnya seraya tersenyum.


Mendengar itu air mataku tak tertahan lagi. Akhirnya…. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengakui kerja kerasku. Akhirnya….


“Hikss…” aku terisak.


“Loh? Kamu kenapa?” tanyanya panik.


“Tidak apa-apa…” jawabku dengan senyuman. Tapi tetap saja air mataku mengalir.


Lelaki itu menatapku bingung kemudian tersenyum.


“Kalau kamu tak apa-apa baguslah, Eumm... mungkin ini mendadak tapi..." lelaki itu menggaruk kepalanya.


"Kenapa?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Eumm...maukah kamu berteman denganku?”


__ADS_2