My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Skill Baru


__ADS_3

Seringkali Mirana menginap di rumahku. Dia juga suka menyimak apa yang diajarkan kak June. Dan juga kak June memintaku untuk mengajarkan Mirana sihir. Itu untuk melatihku bagaimana cara mengajari yang baik dan sekalian menambah pengetahuan untuk Mirana. Dan ternyata itu cukup menyenangkan. Mengajari seseorang dan melihatnya berhasil memiliki kesenangan tersendiri didalamnya. Akan tetapi itu membuat rivalku semakin kuat. Aku jadi khawatir memikirkannya.


“Alvin! Lihat ini!” teriak Mirana.


Aku mengalihkan pandanganku kearahnya dan membuat sihirku lenyap. Ugh… sulit menjaga sihir tetap menyala.


“Apa sih, sihirnyakan jadi lenyap!” jawabku kesal.


“Eumm… Jangan marah gitu dong…” ucap Mirana murung.


“Eh? Aku ga marah kok.” Aku jadi panik. “Maaf kalau aku kelihatan memarahimu…” aku pun tertunduk menyesal.


Tiba-tiba terdengar suara cekikikan dari Mirana. Sial, ternyata dia menjailiku.


“Jangan ketawa!” ucapku kesal. Kemudian teringat Mirana berkata kalau ada yang ingin dia perlihatkan. “Ngomong-ngomong apa yang ingin kamu perlihatkan?”


Mirana tersenyum bangga. “Lihat ini!” dia mengangkat kedua tangannya kearah depan. “Flame Sword!!”


Seketika muncul percikan api didepan tangannya. Mirana perlahan melebarkan tangannya bersamaan dengan api itu melebar menjadi sebuah pedang.


Aku cukup kagum karena akhirnya dia bisa menggunakan sihir yang sejak awal ingin dia keluarkan. Akhirnya usahanya terjawab.


“Wah! Hebat! Akhirnya kamu bisa menggunakannya.” Ucapku seraya bertepuk tangan.


Mirana kembali tersenyum. Sihir miliknya terlihat seperti sebuah pedang yang terbuat dari api. Tapi aku tidak berpikir kalo itu padat. Karena api itu terlihat seperti kobaran.


“Sebenarnya ini belum selesai.” Ucap Mirana. Dia menghilangkan sihirnya dengan mengibaskan tangannya.


“Belum selesai?” aku memasang wajah penasaran.


Mirana mengeluarkan pedang kayunya yang ada di pinggangnya kemudian berposisi seperti saat hendak mengeluarkan sihirnya. Tapi bedanya tangan kanannya menggenggam pedang yang menghadap kearah kiri. Tangan kirinya berada di sebelah tangan kanan yang menggengam pedang.

__ADS_1


“Flame Sword.”


Di tangan kiri Mirana muncul api dan mulai menyelimuti pedangnya. Mirana pun menggeser tangan kirinya hingga ke ujung atas pedangnya dan membuat pedang itu terselimuti oleh api.


Melihat itu aku amat kaget. Ternyata dia bisa menggunakan sihir sebagai atribut untuk senjatanya. Itu cukup sulit untuk dilakukan. Meski aku sudah menguasainya sejak lama sih.


“Miranaaa!! Hebat sekali!!” aku menepuk tanganku. Ini amat sangat tidak terduga olehku.


Dia tersenyum. Kemudian mengayun-ayunkan pedangnya. Dan mencoba menggunakan sword skill. Aku semakin terkejut melihat itu.


Tapi ketika dia menggunakan Sword skill , pedang itu kehilangan apinya. Yah aku tidak terlalu kaget karena kegagalan itu. Tingkatan untuk mempertahankan sihir elemen dan menggunakan sword skill cukup sulit. Akupun belum bisa melakukannya.


“Yah.. gagal lagi…” ujar Mirana murung. Sepertinya dia sudah mencobanya beberapa kali.


Aku mendekati Mirana dan mengelus kepalanya. “Sudah jangan dipikirkan. Masih banyak waktu untuk melatihnya. Lagipula itu sudah sangat hebat kok.”


Mirana tersenyum kembali mendengar itu. Tapi lama kelamaan dia menyadari sesuatu.


“Be-benarkah?” ucapku gugup.


“Dulu padahal aku lebih tinggi dari padamu.”


“Yah artinya pertumbuhanmu lebih lambat dariku.” Ejekku.


Seketika Mirana terlihat kesal dan meninju perutku. “Jangan sok!”


Sial, itu beneran sakit.


Mirana meninggalkanku dan kembali berlatih. Cewe benar-benar menakutkan.


Aku pun terkapar melihat langit. Bagaimana cara menjadi lebih kuat ya. Apa mungkin aku harus mempelakjari ? Mungkin nanti aku akan meminta pada ayah untuk melatihku menggunakan skill itu.

__ADS_1


Aku kembali bangun dan melanjutkan latihanku.


Waktu untuk makan malam pun tiba. Malam ini Mirana ikut makan malam. Itu berarti dia akan menginap hari ini. Dalam seminggu dia bisa menginap sampai 3 kali. Tapi karena sudah terbiasa, aku jadi tidak terlalu memikirkannya. Dan lebih pentingnya aku harus meminta ayahku mengajariku skill baru.


“Ayah.”


“Kenapa nak?” tanya ayah selagi masih menghuapkan makanan ke mulutnya.


“Ajari aku .”


Seketika ayahku menghentikan huapannya. Dan menatapku dengan serius.


“Apa kau serius? Latihannya berat sekali loh.” tanya Ayah.


Mendengar itu aku sedikit gugup. Tapi aku ingin menjadi lebih kuat. Lagipula aku sudah banyak berlatih hal-hal yang sulit. Aku pun mengangguk mantap.


“Sebenarnya, ayah tidak mengajarimu karena itu membutuhkan waktu yang lama.” Ayah meneguk minum. “Itu berarti mungkin kamu tidak akan dapat mempelajari sihir untuk sementara waktu dan berfokus pada latihan skill itu.”


Oh begitu, ternyata bukannya tidak mau tapi itu akan memotong waktu untuk mempelajari sihir. Tapi aku pikir aku bisa mempelajari sihir saat waktu malam jadi menurutku tidak masalah.


“Tolong ajari aku.” Pintaku.


“Baiklah, June aku pinjam dulu anakku hingga dia dapat menguasai skillnya.” Ucap ayahku pada kak June.


“Tentu, lagipula dia sudah cukup mahir dalam sihir. Ilmu berpedangnya perlu lebih ditingkatkan.” Jawab kak June.


Aku tersenyum mendengarnya. Akhirnya aku bisa mempelajari .


Mirana melirikku dengan tatapan meremehkan. Sepertinya dia mengira aku tidak dapat melakukannya.


“Lihat saja nanti aku pasti bisa menguasainya lebih cepat darimu.” Pikirku.

__ADS_1


__ADS_2