My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Sparing


__ADS_3

"Kamu siap Alvin?“ Tanya Shamus dengan pedang kayu bertengger di bahu dan sebuah perisai kayu berukuran sedang.


"Itu perkataanku." ujarku dengan senyuman.


Kelompokku bersepakat dan telah mengatur jadwal untuk pelatihan masing-masing untuk kedepannya. Selama 3 bulan sebelum ujian dimulai, kami diberi tahu untuk mengasah kemampuan agar dapat melewati ujian yang belum diberi tau seperti apa ujian itu akan berlangsung. Akhirnya kami pun mengatur waktu latihan kami setelah kegiatan akademi berakhir.


Dan sekarang seperti yang pernah dijanjikan saati itu. Aku akan melawan Shamus.


"Baik, aturannya mudah. Boleh menggunakan kemampuan semaksimal mungkin dan juga akan berakhir saat ada yang menyerah atau tak sadarkan diri." jelas Kuro yang sekarang menjadi wasit pada pertandinganku dan Shamus.


Aku dan Shamus mengangguk tanpa memalingkan pandangan pada musuh didepan mata. Aku menyeringai senang. Entah kenapa semakin lama aku semakin menyukai pertarungan.


"Baik, MULAI!!"


"Accel!" teriakku


Dengan cepat aku melaju kedepan Shamus. Pedang kayuku mengayun cepat. Shamus terlihat terkejut oleh seranganku. Namun dia dapat menahan seranganku.


"Hooh, kamu bisa menahannya." sindirku.


"Sial! Ini baru mulai tau!" teriak Shamus seraya mengayunkan pedangnya ke arahku.


Aku mundur dengan langkah cepat. Kemudian memutar badan dan melayangkan serangan dengan tangan kiriku menuju ke sisi kiri Shamus.


"Uhk!!" rintihnya saat perisai di tangan kirinya kembali menerima seranganku.


Aku mundur beberapa langkah. Menatap tajam ke arah Shamus. Aku memutar pedangku kemudian mengeraskan genggaman tanganku.


"Kalau ini apa kamu bisa menahannya?"


Aku melesat cepat dan menggunakan Sword Skill. Pedang kayuku memancarkan cahaya biru. Tangan kananku yang kali ini memegang pedang melancarkan serangan dengan Sword Skill [Vortex]. Sebuah skill pedang dengan 4 serangan bertuntun.


Shamus segera melindungi dirinya dengan perisainya. Pedangku dengan cepat menuju ke depan wajahnya yang sudah dia lindungi dengan perisainya.


Pedang dan perisai pun kembali bertemu. Namun kali ini seranganku membuat mundur Shamus.


"Khuk! Kuat sekali!"


"Itu baru serangan pertama. Coba yang ini"


Aku segera berputar den mempercepat pedangku. Kembali serangan itu mengenai perisai Shamus dan membuat perisainya agak condong ke bawah.


Oke, sekarang akan aku buka pertahananmu.


Setelah itu pedangku kembali melesat namun meluncur dari bawah ke atas. Itu membuat Shamus yang sudah menerima tebasan dari atas menjadi tidak siap dan membuat perisainya pun terangkat bersamaan dengan tangannya. Pertahanan Shamus pun terbuka.


Aku menyeringai. "Berakhir sudah."


Tebasan lurus cepat menuju ulu hati Shamus. Hanya butuh 5 cm lagi hingga mengenai tubuhnya. Namun tiba-tiba Shamus berteriak.


"LION ROAAR!!!"


Seketika seranganku berhenti. Bersamaan dengan raungan yang bahkan membuat lantai lapangan ini bergetar. Aku merasa kakiku seperti tertanam di tanah. Tanganku yang hendak menusuk seketika kaku.


Sial! Aku tak bisa bergerak.


Shamus tidak menyianyiakan kesempatan. Dengan cepat dia menggerakkan pedangnya dan melayangkan serangan kepadaku.


Setelah 1 detik aku pun dapat bergerak kembali dan dengan cepat memosisikan pedangku untuk menerima serangan Shamus. Pedang Shamus terlihat bercahaya dan begitu mengenai pedangku, aku terhempas jauh dari tempatku berdiri.


Aku terpukul mundur beberapa meter seraya berputar dan dengan akrobatik kembali berdiri.


"Berat banget seranganmu!"


Shamus hanya tersenyum mengejek dan mengkode padaku agar aku maju.


Sialan itu! Aku tersenyum kecut.


Dengan cepat aku melesat bersama pedangku yang kembali bercahaya. Shamus pun memasang kuda-kuda dan membalas seranganku dengan pedangnya.

__ADS_1


Pedangku dan pedang Shamus bertemu. Cahaya kuning dari pedangnya dan biru muda dari pedangku menghasilkan sebuah tolakan yang keras.


Dikarenakan serangan Shamus lebih kuat dari milikku, itu membuat pedangku terhempas kesamping.


Sial! Tubuhku terbuka.


Shamus tidak menyianyiakan kesempatan itu dan melancarkan serangan menggunakan perisainya. Terpaksa aku pun menggunakan sihir untuk bertahan. Padahal aku tidak berniat menggunakan sihir.


"Air Shield!“


Perisai Shamus pun mengenai sebuah pembatas transparan yang terbentuk oleh sihirku. Aku pun terdorong bersamaan dengan pembatas itu dan kembali berputar ke belakang.


Aku mengambil nafas panjang dan mulai mengamati apa yang sebelumnya sudah terjadi.


Serangan Shamus benar-benar kuat. Namun serangannya lambat. Jadi lebih baik aku menghindari serangannya dan mengakhiri ini.


"Accel!"


Kembali aku melesat dengan cepat. Shamus yang sudah bersiap akan terjanganku pun mengangkat tangannya. Dengan kekuatan penuh dari badan kekar dan Sword skillnya, dia menebasku saat aku berada di hadapannya.


"Mati kau!!"


Serangan kuat itu membuat semua debu berterbaran dan menutupi penglihatan. Tapi sayangnya bagi Shamus, serangan itu tidak mengenaiku. Shamus yang tersadar akan hilangnya diriku mulai mencari-cari keberadaanku.


Sebelum serangan Shamus mengenaiku. Aku menghindari serangannya kemudian melompat ke atas. Saat ini aku berada di atas kepalanya dan bersiap melancarkan serangan menuju punggungnya.


Shamus tersadar dan melihat keatas. Namun dia sudah terlambat untuk bereaksi.


"Ini balasan untuk perkataanmu tadi!!"


Pedang kayu yang tertutupi Sword Skill [Vertical Slash] dengan cepat menebas punggung Shamus dan merobek seragam akademinya.


"Gah!!" rintih Shamus. Dia tersungkur dengan lutut berada ditanah. Wajahnya terlihat kesakitan ditambah kesal akan kekalahannya.


"Aku yang menang ya." Ujarku dengan senyuman jail.


"Sial!" Ketus Shamus.


Shamus hanya cemberut mendengar perkataanku.


Melihat pertandingan usai, Kuro menghampiri kami dengan tepuk tangan.


"Kalian berdua hebat!!“ ujarnya dari kejauhan. Dengan sedikit berlari Kuro menghampiri kami berdua.


"Dia malaikat." ujar Shamus saat melihat Kuro yang berlari seperti anak gadis.


"Kau benar." tambahku.


Kami berdua pun beradu tinju dengan senyuman tidak jelas.


***


"Apa lukamu tak apa-apa?" Tanya Kuro.


"Tenang saja kamu bisa menyerangku kapan saja." Ujar Shamus.


Sekarang Shamus menantang Kuro. Entah apa yang ada dipikirannya saat tadi. Luka di punggungnya sudah disembuhkan oleh sihir [Heal] dariku. Dan seragamnya dengan ajaib kembali ke bentuk semula. Seragam sihir ini benar-benar membuatku terheran-heran.


"Kuro! Jangan terlalu keras padanya!" Seruku. Jujur aku khawatir pada Shamus ketimbang Kuro.


"Baiklah!“ balas Kuro.


"Kok aku yang dikhawatirin!!“ Keluh Shamus. Dia merasa seperti diremehkan.


Aku mengabaikan keluhan itu dan memberi aba-aba. "Bersiaaap. Mulai!“


Kedua petarung itu mulai memasang kuda-kudanya.


Kelihatannya Kuro berniat menyerang langsung. Tidak menggunakan serangan kejutan. Atau dia tak mampu? Tapi tidak mungkin dia tidak membuat gerakan awal.

__ADS_1


Kuro bergerak mendekati Shamus. Tangannya menggenggam pedang kayunya dengan erat. Dan seketika aku dan Shamus terkejut.


Tergambar pada wajah Kuro senyuman yang mengerikkan layaknya pembunuh yang haus darah. Aku menelan ludah. Tak menyangka wajah cowo cantik itu berubah drastis.


Shamus yang tadi terkejut melihat wajah Kuro kembali bersiap dan fokus.


Kuro sekarang terlihat mulai mengucapkan sesuatu.


"Kaminari no michi.."


Bahsa Jepang? Ternyata bahasa didaerahnya pun sama-sama berkebudayaan Jepang seperti baju kimono dan katananya.


“...Saisho no rēn : Rakurai!!"


Seketika Kuro melesat cepat dan segera berada di depan Shamus. Percikan petir terlihat dari pedangnya. Namun pedangnya tak bercahaya. Berbeda dengan Sword skill yang selama ini aku pelajari.


Shamus dengan segera mengebaskan perisainya. Pedang Kuro pun terpukul mundur. Kemudian Shamus menebas Kuro disaat Kuro terpukul mundur.


Kuro dengan sigap menghindar dengan langkah kecil ke samping kanan Shamus dan dengan cepat menebas kearah kepala Shamus.


Shamus yang tangan kanannya sedang berada di bawah dengan setengah mati mengangkatnya.


Aku menahan nafas. Dan ketika dibalik tebaran debu itu aku dapat melihat Shamus berhasil menahannya dengan pedangnya aku menghelakan nafas lega.


Serangan Kuro benar-benar menakutan. Sangat mematikan.


Kuro melihat Shamus dengan kesal. Dia mundur kemudian memasang kuda-kuda.


"Kaminari no michi, Ni-ban no rēn : Kyūgoshirae!!"


Serangan cepat kembali dilancarkan. Kali ini serangan itu kembali mengenai perisai Shamus.


Dua serangan dalam sekejap membentuk X dengan kilatan petir yang kali ini amat jelas. Shamus seketika terpukul mundur dengan masih berdiri tegap. Garis terbentuk dari gesekan kaki Shamus dan lapangan.


Sedetik kemudian, perisai Shamus mengeluarkan suara aneh.


*Krek.. *


Perisai itu ternyata terbelah dan jatuh ketanah. Aku dan Shamus melihat dengan terkejut. Tangan Shamus pun tak luput dari luka dan mulai mengeluarkan darah. Serangan cepat dan kuat itu membuat pedang kayu dapat membelah perisai dengan sempurna.


Shamus bergerak mundur dan bersiap dengan pedang kayunya. Namun Kuro tak membiarkan Shamus menarik nafas. Segera Kuro menyerang pedang yang Shamus pegang dengan cepat.


Pedang Shamus seketika terlepas dari tangannya. Tak menyianyiakan kesempatan, Kuro melangkah dan menodong senjatanya tepat di leher Shamus.


Shamus terkejut dan refleks mengangkat kedua tangan. "A-aku menyerah."


Kuro pun menjauhkan pedangnya. Wajahnya yang memberi kesan ngeri itu kembali melemah dan menjadi manis.


"Pertarungan yang hebat.“ ujar Kuro seraya menyalami Shamus.


"I-iya.." jawab Shamus dengan wajah yang ketakutan.


"Waah... Pertarungan yang hebat..." ujarku datar.


Tadi benar-benar pertarungan sepihak.


Aku pun mendekati Shamus dan menepuk-nepuk bahunya. Setidaknya mencoba menghibur. Namun tiba-tiba Shamus menggenggam pergelangan tanganku dengan erat.


"Sha-Shamus?"


"Lawan Kuro..."


"A-apa?"


"Lawan Kuroo!!" Shamus berseru.


“Eeeh??!!" teriakku terkejut.


"LAWAN DIA DEMI AKUU!!"

__ADS_1


"EEEEH??!!"


__ADS_2