My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
The Killer Father


__ADS_3

>> Sudut pandang orang ketiga <<


Di bawah sinar rembulan, para manusia berkerumun di kota. Suasana dengan cahaya remang-remang memenuhi jalanan di kota dan menyembunyikan sesosok lelaki bertudung hitam yang sedang berbaur dengan keramaian di kota. Dia berjalan lebih cepat dari orang disekitarnya. Menghindari benturan-benturan bahu yang hanya akan menimbulkan masalah, dia dengan lihai melewati kerumunan orang yang sedang berjalan malam entah untuk mencari angin atau menuju bar untuk menghabiskan malam. Lelaki bertudung itu memasuki salah satu rumah yang kelihatan seperti rumah biasa dari luar. Di dalam rumah itu masih terlihat biasa. Terdapat perabotan sederhana layaknya rumah yang ditinggali keluarga normal. Namun terdapat satu barang yang jarang ditemukan di rumah biasa. Terdapat sebuah altar kecil dengan sebuah rongga unik ditengahnya. Kemudian lelaki bertudung itu merogoh dan mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Sebuah benda sederhana yang memiliki bentuk persis seperti rongga di altar. Dia menengok ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada orang yang mengikutinya. Lalu dia mencocokkan benda di tangannya dengan altar di hadapannya. Seketika dinding di belakang altar itu bergetar hebat dan tak lama kemudian terbelah menjadi dua. Dinding itu pun terbuka dan memperlihatkan lorong gelap dengan sedikit cahaya dari lilin. Lelaki bertudung itu pun masuk dan sedetik kemudian dinding itu tertutup kembali.


Sosok bertudung itu berjalan perlahan menuju ke ujung dari lorong gelap itu yang jaraknya tak sampai 10 meter. Dan disana terlihat sebuah tempat layaknya bar yang lengkap oleh segala perabotannya. Meja bundar tertata rapih lengkap dengan kursinya dan sebuah bar yang disana berdiri seorang bartender sedang melakukan kebiasaannya mengelap gelas-gelas kaca dengan serius.


Lelaki itu berjalan melewati sekumpulan manusia yang sedang bersantai di bangkunya seraya meneguk segelas minuman keras dan berbincang mengenai pekerjaan mereka. Mereka adalah sekumpulan mercenary atau disebut juga tentara bayaran yang biasa disewa oleh para pemilik uang tentunya untuk menjadi penjaga atau pasukan. Namun disini cukup berbeda karena mercenary disini menerima permintaan untuk melakukan pembunuhan dan juga menjarah pedagang padahal di tempat lain terdapat aturan soal pekerjaan mercenary ini.


Acuh tak acuh orang-orang disana hanya melirik lelaki bertudung itu lalu kembali pada pesta mereka masing-masing. Sedangkan lelaki itu sudah berada di atas kursi di depan bartender itu.


"Berikan aku yang biasanya." ucap lelaki bertudung itu seraya menyodorkan barang yang ia gunakan untuk membuka jalan masuk kedalam situ.


Melihat benda itu, sang bartender menatap serius dan memberi hormat padanya. "Silahkan masuk melalui pintu disana tuan." ujar bartender itu.

__ADS_1


Lelaki itu pun kembali berdiri dan berjalan menuju pintu yang ada di sisi kanan bartender itu. Dia memasuki ruangan di dalam situ dan melihat sesosok lelaki dengan pakaian berbulu memamerkan dadanya yang bidang dengan otot perut yang sempurna. Wajah sangar penuh intimidasi menyeringai dengan bengis. Disebelahnya terdapat 2 orang wanita disisi kiri dan kanannya dengan pakaian yang tidak senonoh.


Lelaki bertudung itu memberikan hormat layaknya ksatria pada seorang raja. Rasa intimidasi dari lelaki dihadapannya membuat seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.


"Jadi bagaimana progresnya?" tanya lelaki penuh intimidasi itu.


Lelaki bertudung itu mengangkat kepala dan mulai berbicara. "Seperti yang tuan perkirakan, rencana anda berhasil."


Lelaki bengis itu terkekeh kecil. Dia sudah menduganya. Dia pun berdiri dan berjalan turun dari tempat duduknya yang terlihat layaknya singgasana kecil.


Lelaki bertudung itu bergidik sejenak saat lelaki bengis itu turun dari tahtanya. "Ko-kondisinya sekarang amat buruk baginya. Kutukan yang terdapat pada pecahan jiwa raja iblis telah meracuni tubuhnya dan membuatnya semakin melemah."


Lelaki bengis itu tertawa. "Lalu bagaimana dengan pecahan jiwa itu?"

__ADS_1


"Pecahan jiwa itu tersegel dan berada di area bawah tanah akademi. Dan pecahan itu disimpan dengan baik ditambah benda itu dikelilingi oleh jebakan-jebakan tingkat tinggi yang digunakan untuk mencegah adanya pencurian pada pecahan jiwa raja iblis itu."


"Hmm, seperti yang sudah kuduga. Tapi tentunya kamu berhasil melakukan sesuatu soal itukan? Seperti yang kusuruh."


"Ya tuan, seluruh perangkap itu dilakukan oleh beberapa guru di akademi termasuk saya. Dan saya sudah menyiapkan beberapa hal untuk merusak perangkap itu."


"Bagus sekali, kamu memang tidak pernah mengecewakanku." lelaki bengis itu mengisyaratkan tangannya dan segera beberapa pengawal pribadinya membawakan sebuah kotak harta yang berisikan banyak uang emas. "Ini jatahmu. Aku tak pernah berbohong dalam transaksi."


Lelaki bertudung itu tersenyum girang dan menunduk berterima kasih.


"Lanjutkan tugasmu di dalam sana dan laporkan perkembangannya padaku. Aku tak mau rencana yang sudah aku susun ini gagal." ucap lelaki bengis itu.


"Baik tuan." jawab lelaki bertudung itu.

__ADS_1


"Sekarang pergilah dan bersenang-senang sana." ucap lelaki bengis itu seraya kembali duduk di singgasananya bersama kedua gadis cantik disebelahnya.


"Baik tuan Vender, The Killer Father."


__ADS_2