My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Sebuah Kebodohan


__ADS_3

"Tapi sekamar kita laki-laki dan perempuan tidak dipisah ya." ujar Kuro saat sedang memperhatikan kamar.


Kamar kami terlihat cukup luas dengan perabotan yang seadanya. Ada 6 buah kasur yang tertata disisi kiri dan kanan secara horizontal. Di setiap sela kasur terdapat lemari kecil untuk penyimpanan baju dan beberapa barang.


Lemari kecil ya, aku tidak terlalu butuh sih. Skill [Item Box] sudah cukup bagiku.


"Untuk penggunaan kasur mungkin seperti ini saja. Sisi kiri untuk Aria dan Sherly untuk perempuan. Dan di kanan aku, Kuro, dan Shamus." jelasku.


"Tunggu sebentar." bantah Shamus. Semua orang memandang ke arahnya.


"Kenapa Sham?" tanyaku.


"Bukankah ini aneh?"


Aku memiringkan kepala. "Aneh?"


Shamus menggaruk kepala dnegan kasar. "Aaah! Bukannya Kuro itu cewe?!"


"Aku cowo kok." jawab Kuro singkat.


Shamus terbelalak mendengar itu. Aku tertawa kecil melihatnya.


"Aku pun awalnya tak percaya. Tapi sepertinya Kuro memang cowo." jelasku.


"Bukan sepertinya ih, emang beneran cowo." gerutu Kuro.


"Tuh cewe dia." Shamus membantah. "Sikapnya benar-benar mirip adik perempuanku."


Aku tertawa kembali. "Nanti kita akan cerita tentang asal usul kita. Tapi sekarang urusi dulu barang yang kalian bawa."


Kecuali aku dan Aria, teman sekamarku membawa sebuah kantung berisi pakaian dan peralatan mereka. Mendengar perintahku mereka mengangguk dan mulai merapihkan barang mereka masing-masing.


"Ehem, Ehem." terdengar suara dari sebuah lubang logam berbentuk megafon.


Kami yang sedang memperisapkan barang melihat kearah lubang logam itu.


"Sekarang kamar mandi dibuka untuk para wanita hingga 3 jam kedepan. Setelah 3 jam akan kami beri tahukan penggunaan kamar mandi untuk pria. Diharap untuk peserta wanita bersegera untuk memasuki kamar mandi dan membersihkan diri hingga batas waktu yang ditentukan. Sekian."


Setelah itu suara pun hening. Sepertinya itu pengumuman dari petugas.


"Kalau begitu yang cewe langsung ke kamar mandi dulu sekarang. Kita para cowo akan menunggu disini." ujarku.


Aria dan Sherly tampak gugup. Keduanya adalah tipe yang pemalu. Meski Aria pemalu karena keadaan bukan sifat aslinya pemalu.


"Tenang saja. Kalian tidak akan kenapa-napa kok. Tidak perlu banyak bicara dengan orang lain. Nikmati waktu kalian untuk saling mengenal satu sama lain."


Mendengar ucapanku, Aria dan Sherly mengangguk pelan. Mereka pun keluar dari kamar dengan saling bergandengan.


Meski baru berkenalan, pasti mereka akan akrab. Aku yakin itu.


Aku mengantar hingga luar kamar dan seperinya ada petugas yang menunjukkan jalan ke kamar mandi. Jadi tidak mungkin kesasar.

__ADS_1


"Apa kamu bisa jelaskan sekarang?" tanya Shamus dengan antusias. Dia memberi tekanan pada Kuro dengan tatapannya yang tajam.


Aku menengok ke arah Kuro. Wajahnya terlihat agak kewalahan.


"Alviiin.... Tolong aku...." pinta Kuro saat Shamus menatapnya dengan dekat.


"Cukup Sham." perintahku seraya menarik kerah lehernya kebelakang. Diapun terduduk di kasurku. Kasurku berada di tengah barisan sisi kanan. Kasur Kuro berada di pojok ruangan sedangkan kasur Shamus adalah yang paling dekat dengan pintu.


"Maaf... Aku terlalu penasaran." Ujar Shamus.


Aku dan Kuro saling memandang. Kemudian aku menepuk bahu Shamus.


"Yah, tenang saja. Tidak ada yang marah kok."


"Iya aku ga marah." ujar Kuro.


Setelah itu Kuro pun bercerita soal keluarga khususnya soal ibunya persis seperti yang ia ceritakan padaku dan Aria.


***


"Halo semuaa." sapa Aria saat memasuki kamar.


"Ha-halo." tambah Sherly.


"Yo, sudah beres mandinya?“ Tanyaku.


"Iya sudah. Tapi belum waktunya kalian masuk." jawab Aria.


"Sebentar lagi kok." jawabku.


Tak lama kemudian, suara dari lubang logam kembali terdengar.


"Ehem, ehem. Sekarang waktunya untuk para pria memasuki kamar mandi. Waktu kalian 3 jam. Setelah itu kamar akan terbagi menjadi area perempuan dan laki-laki."


Kenapa ga dari awal di pisah sih?


Aku menghelakan nafas panjang. Lagipula ga ada gunanya juga kalau dipikirin.


"Ayo kita mandi." seru Shamus dengan handuk di bahunya.


"Ayo!" Jawab Kuro semangat. Dia sudah amat menantikan jatah mandinya.


Aku tersenyum kecil dan berjalan bersama dengan Shamus dan Kuro.


Saat keluar kamar, kelihatannya banyak sekali pintu kamar yang berderet. Namun secara logika, ruangan luas itu tidak sesuai dengan pintu yang saling berdekatan.


"Apabila kalian bingung mengapa pintunya saling berdekatan, sebenarnya ruangan kalian adalah ruangan sihir. Setiap ruangan terdapat lingkaran sihir yang mampu memperluas ruangannya bila dilihat dari dalam. Bila dari luar akan terasa aneh karena sebenarnya itu ruangan yang kecil." jelas petugas.


Beberapa orang mengangguk paham dan beberapa yang lainnya terlihat bingung. Setelah itu petugas pun mengiring seluruh peserta laki-laki menuju kamar mandi.


Sesampai dari sana, kami pun tiba di kamar mandi. Kamar mandi itu lebih terlihat seperti pemandian air panas dengan bak yang luas. Terdapat patung singa dengan mulut terbuka yang terus mengalirkan air panas.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, orang-orang mulai melepas bajunya dan menutup *********** dengan handuk yang mereka bawa.


"Benar-benar aneh kelihatannya." ujar Shamus.


"Ya benar-benar aneh." jawabku menyetujuinya.


"Hmm? Kenapa?" tanya Kuro bingung.


Jujur saja melihat badan Kuro yang sudah terbuka aku dapat melihat badannya yang terlihat seperti cowo.


"Hidup memang penuh kebohongan." ucapku dan Shamus bersamaan.


"Kenapa sih kalian?" Kuro menatap kami berdua dengan kebingungan.


Kami bertiga pun memulai dengan membasahi tubuh dengan menggunakan air panas yang keluar dari keran yang ada di pinggir kamar mandi.


Hmm... Dijaman ini belum ada yang namanya shampo. Tapi kalau sabun sih sudah ada. Sayang sekali aku tidak begitu ingat dengan cara pembuatan shampo kehidupan sebelumnya.


Setelah membersihkan badan, kami bertiga pun beranjak menuju bak besar. Saat kami berjalan, Kuro menutupi tubuh bagian depannya dengan handuk. Tidak seperti yang lain yang hanya menutupi ********. Dan itu membuat orang-orang disekitar bertanya-tanya.


"*Loh kok ada perempuan disini?“


"Lah itu perempuan."


"Duh aku jadi malukan*."


Mendengar itu bukannya Kuro yang terganggu malah Shamus yang terganggu.


"Diam kalian! Dia itu cowo!" seru Shamus. Dan tanpa diduga-duga, Shamus menarik handuk milik Kuro.


"Ap-!!" Kuro terkejut.


Aku seketika melotot melihat itu saking kagetnya. Semua orang melihat kearah Kuro dengan sama terkejutnya denganku.


Ternyata Kuro juga punya.


Wajah Kuro seketika memerah saking malunya. Dia menatap Shamus dengan tajam dan memukulnya dengan keras hingga masuk ke dalam kolam. Padahal jaraknya masih 10 meter dari tempat Shamus berdiri.


"Shamuuuss!!!“ Teriakku refleks.


"Alvin kamu ada di pihak Shamus sekarang?“ tanya Kuro dengan tatapan mengerikkan.


"Eh enggak kok!"


Tapi sayangnya Kuro sudah tidak peduli.


Oh tuhan apa salahku kali ini.


Pukulan pun melayang ke arah wajahku dan mementalkanku hingga masuk ke dalam bak. Tepat disebelahku ada Shamus yang sudah terkapar.


Hari itu aku mendapat pelajaran.

__ADS_1


Jangan biarkan orang bodoh bertindak...


__ADS_2