
Sebuah papan kayu bergambar bulan terpampang di depan penginapan yang aku dan kak June tuju. Kami berdua pun memasuki penginapan itu. Interior didalam penginapan itu lebih terlihat seperti restoran. Banyak meja makan mundar tertata disana. Tempat itu lumayan ramai. Suara-suara obrolan dan tawa menyatu meramaikan suasana.
Kak June berjalan seraya masih sambil menggenggam tanganku menuju meja resepsionis. Kami disambut
oleh seorang gadis muda. Tapi untuk ukuran badanku yang sekarang dia terlihat lebih tua dariku.
“Selamat datang di penginapan Moonlight.” sapa kakak Resepsionis dengan ramah. “Apa anda ingin makan saja atau sekalian menyewa kamar?”
“Kami ingin menyewa kamar. Dan juga makan untuk malam ini dan sarapan pagi.” Jawab kak June.
“Mau menyewa 2 kamar atau satu kamar?”
“Satu saja cukup.” Jawab kak June.
Ugh… aku kira aku bisa tenang malam ini.
“Tapi, satu kamar hanya memiliki satu kasur saja.” Ujar kakak resepsionis.
What?! Kalau gitu aku satu kasur sama kak June dong!
“Tidak masalah.” Jawab kak June santai.
“Ni orang malah nyantai pula. Aku kan masih cowo tau! Tinggiku aja udah mau ngelewatin kamu!” pikirku kesal.
Tiba-tiba kak June menatapku. Aku kaget dan hanya bisa tersenyum canggung. Dia ga denger apa yang kupikirkan kan?
“Kamu ga mikir aneh-anehkan?” tanya kak June.
“Aneh gimana?” kupaksa wajahku senormal mungkin.
“Hemm… ya sudahlah.” Kak June berbalik.
Kak June kalo kesenggol soal tinggi badan peka banget. Bahkan meski cuma kepikiran doang
“Kamu mikir aneh lagikan?”
Aku tersentak kaget. Tiba-tiba kak June menatapku dengan tajam lagi.
“Enggak ih!” sanggahku. Kak June benar-benar menakutkan.
Akhirnya kak June pun berbalik lagi dan menyelesaikan pemesanannya. Kak June mengeluarkan
kartu pengenalnya. Ternyata untuk menginap pun dibutuhkan. Dia juga menyebut nama paman Armin. Begitu dia menyebutkan nama paman, resepsionis itu mengangguk, memberikan kunci, dan mempersilahkan aku dan kak June menuju kamar.
__ADS_1
“Silahkan kamar kalian ada di nomer 12.” Kakak resepsionis itu menunjuk ke arah tangga. Sepertinya kamarnya ada di lantai 2. Dan lantai 1 khusus untuk makan.
“Terima kasih.” Ucap kak June. Kemudian kami berdua pun menaiki tangga dan masuk kedalam kamar.
Kamar itu tidak terlalu luas, tapi tidak terlalu sempit juga. Sekitar 2,5 meter x 3 meter untuk luasnya. Dan benar saja, kasur di kamar itu hanya ada satu.
Aku menghelakan nafas. Aku sebenarnya agak malas untuk sekasur dengan kak June. Karena
dia itu tukang tidur yang tidak bisa diam. Buktinya terkadang dia tiba-tiba berada di kasurku. Dan tanpa bosan aku terlempar dari kasurku jikalau kak June terbangun dan aku berada di dekatnya.
Setelah aku dan kak June meletakkan barang, kak June mengajakku turun untuk makan malam. Aku pun mengangguk dan mengikutinya menuju ke bawah. Disana kakak resepsionis sudah menunggu dan mengantarkan aku dan kak June ke meja makan yang sudah disiapkan.
“Silahkan dinikmati.” Ujar kakak resepsionis itu.
Aku dan kak June tercengang dengan penuhnya meja makan dengan makanan yang terlihat amat lezat.
“Tu-tunggu.” Kak June menahan resepsionis itu sebelum pergi ke tempatnya.
“Ya ada apa nona?”
“Apa makanan ini tidak terlalu berlebihan?”
Kakak resepsionis itu tersenyum. “Tentu tidak, anda adalah kenalan dari tuan Armin jadi sudah sewajarnya kami memperlakukan anda dengan special.”
Kak June juga terlihat bingung. Dan menatapku.
“Eum.. kita… makan aja yah.” Ajak kak June seraya tersenyum.
Aku mengangguk cepat. Lagipula siapa juga yang dapat menahan godaan dari makanan-makanan ini. Ditambah
aku sangat lapar.
Kami berdua pun mulai makan dan menghabiskan semua hidangan yang ada di meja makan. Rasanya
benar-benar lezat!!
***
“Jadi apa yang kamu beli dengan sisa uangmu?” tanya kak June di dalam kamar.
Aku yang sedang membuka kantong belanjaanku menoleh kepadan kak June. “Yah, 3 perak itu aku habiskan untuk macam-macam sih.”
“Apa saja?” ucap kak June seraya duduk diatas kasur.
__ADS_1
Aku pun mengeluarkan barang-barang belanjaanku. “Karena tadi aku dapat bibit bunga Spirit Enhancer secara gratis, aku menghabiskan sisanya untuk sate barbeque yang tadi kita makan dan beberapa barang di sebuah toko barang bekas.”
Kak June mendekatiku dan melihat barang-barangku.
“Aku membeli hadiah untuk Whitney dan Mirana. untuk Whitney aku membelikannya sebuah bola karet seharga 2 koin perunggu. Kupikir dia akan menyukainya. Dan untuk Mirana aku membeli sebuah jepit rambut dengan Pernik berwarna merah ini. Warnanya sama
persis dengan mata merahnya.” Ujarku.
“Hemm…. Padahal mataku juga berwarna merah.” Ucap kak June dengan nada kesal.
“Eum… kakak juga mau hadiah dariku?”
“Gak ah gatau!” jawab kak June kemudian beranjak menuju Kasur dan membenamkan dirinya disana.
“Eumm… Maaf…” pintaku. Tak kukira kak June juga menginginkan hadiah dariku.
“Lupakan soal itu, ada lagi yang kamu beli?” tanya kak June seraya bangun dan duduk di atas kasur.
“Ada satu lagi. dan ini untukku.” Aku mengeluarkan sebuah kayu dengan lapisan berwarna hitam pekat dan berbentuk panjang seperti pedang. “Aku merasakan sedikit energi dari kayu ini dan entah kenapa membuatku sangat tertarik.”
“Hmm… coba ku liat sini.” Pinta kak June.
Aku pun menurutinya dan memberikan kayu itu pada kak June. Kak June menerima dan mulai melihatnya dari ujung ke ujung.
“Appraisal.”
Kak June menggunakan skill lanjutan dari yaitu . Mata kak June terlihat menyala. Dan setelah beberapa saat, matanya kembali normal.
“Ini sepertinya barang yang bagus.” Ujar kak June seraya mengembalikan kayu hitamku.
“Sepertinya?”
“Skill tidak mampu mengetahui benda apa ini. Bahkan sepertinya, skill ingkat tinggi tidak mampu untuk mengetahui benda apa ini. Tapi ada sedikit informasi yang
aku dapatkan.” Jelas kak June.
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
“Benda ini sepertinya memiliki segel yang membuat skill penilaian. Dan sepertinya benda ini membutuhkan energi spiritual untuk melepas segelnya. Tapi tidak sembarang orang bisa mengalirkan energinya ke benda itu. Aku tadi sudah mencobanya tapi benda itu tampak tidak menerima energi yang kuberikan.”
Aku terdiam dan menatap kayu hitam itu. Setelah mendengar penjelasan kak June , aku jadi penasaran dan mencoba mengalirkan energi spiritualku ke kayu hitam itu. Begitu aku mengalirkan energiku. Tiba-tiba…
*Brug!*
__ADS_1
Aku seketika terjatuh. Pandanganku menggelap. Aku hanya dapat mendengar suara kecil kak June memanggil namaku. Semakin lama semakin gelap dan akhirnya aku tak sadarkan diri.