My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Malam Terakhir


__ADS_3

5 tahun telah kulewati dengan penuh perjuangan. Sekarang umurku sudah menginjak 15 tahun. Di dunia ini, 15 tahun adalah umur dimana seseorang sudah menjadi dewasa. Dan sudah menjadi sebuah adat di desaku, jika seorang menginjak umur 15 tahun maka akan diadakan sebuah pesta sebelum akhirnya aku pergi merantau untuk merasakan bagaimana kehidupan di luar desa.


Selama lima tahun terakhir, aku tetap giat berlatih untuk meningkatkan kemampuanku. Aku memfokuskan diriku pada sihir berelemen air yang sesuai dengan afinitsku. Sehingga perkembangan sihirku meningkat lebih pesat dari sebelumnya. Sama halnya dengan energi spiritualku. Dibantu dengan elixir pemicu energi yang kak June buat, energi spiritualku meningkat pesat dan sekarang sudah berada di level 24. Hanya tinggal selangkah lagi untuk dapat mempelajari skill [Pure Fire].


Dan di hari besar ini, seluruh anggota keluargaku sedang sibuk untuk mempersiapkan pesta untukku. Tentunya aku tidak hanya diam dan melihat. Aku pun ikut membantu dalam persiapan pesta itu. Beberapa orang desa pun ada yagn ikut membantu persiapannya. Sayangnya, murid-murid ayahku tidak bisa hadir karena mereka sudah merantau ke kota sejak 2 tahun yang lalu. Dan kabarnya mereka resmi menjadi ksatria kerajaan. Padahal ujian untuk menjadi ksatria kerajaan cukup sulit. Yah tidak herasn sih. Mereka sudah diajari oleh ayahku dan aku tau kekuatan mereka diatas rata-rata.


Kak June seperti biasa masih tinggal di rumahku. Sekarang aku dan kak June sudah terlihat berbeda jauh. Aku lebih tinggi darinya dan jika orang baru melihat kita berdua, mereka pasti mengira aku lebih tua dari kak June. Penampilan Ras Leegel memang misterius.


Adikku sekarang sudah berumur 9 tahun. Dia tumbuh menjadi gadis yang manis. Ayahku tidak memaksanya untuk mempelajari pedang sepertiku. Tapi ternyata dia memiliki minat untuk mempelajarinya. Sejak umurnya menginjak 6 tahun, aku mengajarinya semua yang aku tau. Mau dari pedang atau pun sihir. Dan kelihatannya dia menikmati pelajaran itu sehingga aku pun dengan senang hati mengajarinya. Meski terkadang aku tidak tega saat melakukan duel dengan adikku sendiri.


***


Menjelang sore, seluruh persiapan pesta telah selesai. Para warga desa mulai berdatangan ke halaman rumahku tempat pesta perpisahan diadakan. Dan ternyata para warga tidak hanya sekedar datang, tapi mereka membawa banyak makanan dan minuman sehingga semakin banyak persediaan pesta yang ada. Ini pesta paling megah yang pernah aku rasakan.


Semua orang tertawa bersama di hari itu. Mengucapkan selamat kepadaku dan sungguh itu membuatku kewalahan dan lelah. Aku memang tidak nyaman dalam keramaian.


“Perhatian semuanya!” teriak ayahku. Seluruh orang yang berada disana seketika menoleh dan berhenti berbicara.


“Di hari spesial ini, hari dimana anak pertamaku beranjak dewasa. Sungguh sebuah hari yang tak terduga olehku. Memiliki seorang anak yang luar biasa. Bahkan aku sempat berpikir untuk menyuruhnya tidak pergi kemana-mana dan segera menikah saja disini.”


Orang-orang tertawa mendengar guyonan ayahku. Dan aku hanya tertunduk malu mengutuk apa yang ayahku katakan.


“Tapi aku ingin anakku melihat dunia. Melihat apa yang sudah aku lihat. Menggapai apa yang pernah aku gapai. Bahkan melebihi semua yang pernah aku lakukan. Anakku Avin,” ayah menengok ke arahku. “Meski kamu sudah mulai pergi dari sini, jangan lupakan keluargamu nak. Datanglah bersama cerita-cerita yang dapat kamu certakan kepada semua orang disini.”


Mendengar ayahku berbicara didepan semua orang dengan nada yang berat membuatku terharu.


“Dan jangan lupa bawa pasanganmu kemari nak. Kenalkan pada ayahmu.” Lanjut ayahku dengan candaan. Semua orang tertawa lepas mendengarnya.


Ayah sialan kembalikan rasa haruku!


“Dan mungkin itu saja yang dapat aku ucapkan untuk anakku yang tersayang. Sekarang, kemarilah nak.” Panggil ayahku.


Aku pun menuruti dan berdiri di sebelah ayahku.


“Sekarang giliranmu yang berbicara pada kita semua apa yang kamu rasakan.”


“Eh? Harus?”


“Harus dong! Masa enggak. Harus gak hadirin??!!”


“HARUS!!” teriak semua warga disana.


Ugh, aku bahkan tidak menyiapkan apapun untuk bicara didepan semuanya sial.


Aku menarik nafas dalam. “Eumm… mungkin pertama-tama saya ucapkan terima kasih pada semuanya yang telah menghadiri pesta ini dan memeriahkan-NYA!!”


Tiba-tiba ayahku memukul punggunggku. “Ayolah nak ga usah kaku gitu dong.”


Aku menatap ayahku dengan kesal. Para warga desa kembali tertawa.


“Iya deh ga kaku nih.” Ucapku dengan nada kesal. “Di hari ini, hari besar yang aku tunggu-tunggu. 5 tahun sebelumnya aku bertemu dengan seorang penyihir tua di kota. Dia menyuruhku untuk datang ke tempatnya. Dan besok, aku akan menjadi murid di sekolah Goldendawn.”


Semua warga tercengang mendengar ucapanku. Goldendawn sangat terkenal di kalangan manapun. Sebuah sekolah elite yang kebanyakan isinya adalah bangsawan.

__ADS_1


“Ga usah kaget gitu juga kali.” Ujarku seraya tersenyum kecil. “Aku berterima kasih kepada kedua orang tuaku, yang telah merawatku. Eh, ayah sih kerjanya melukaiku dan menyakitiku dengan latihan darinya.”


Ayahku tertawa keras. “Hahahaha! Memang itu tugasku.”


Para warga kembali tertawa.


“Kemudian terima kasih pada kak June, dia sudah menjadi sosok seorang kakak bagiku. Dan menjadi sosok guru terbaik yang pernah aku rasakan. Aku bahkan tidak yakin kalau pengajaran di Goldendawn lebih baik dari pada ajaran dari kak June. Aku sangat berterima kasih padanya. Terima kasih sudah menjadi kakak yang perhatian dan sayang padaku.” Ujarku seraya menatap kak June.


Kak June terlihat tersipu malu. Para warga bertepuk tangan dan menatap juga ke arahnya. Itu semakin membuat kak June salah tingkah.


“Baiklah semuanya!! Sekarang semua bersulang!” teriak ayahku seraya mengangkat gelas berisi beer.


“Bersulang!!!” teriak semua orang disana.


***


“Kamu sudah siapkan semua barangmu untuk besok?” tanya kak June.


“Sudah kak, semua sudah dalam [Item Box].”


“Waw, kakak ga inget ngajarin kamu skill itu.” Ujar kak June terheran.


“Aku belajar sendiri hehe, meski kapasitasnya belum sebesar kak June.”


“Segitu pun sudah lumayan kok.” Kak June tersenyum. Tapi beberapa saat kemudian senyumannya hilang.


“Kenapa kak?”


“Kau tau Alvin, rasanya baru kemarin aku mengajarimu soal sihir. Dan sekarang begitu kusadari, dirimu bahkan terlihat lebih dewasa dari pada aku.”


“Dasar, bisa-bisanya kamu bercanda seperti itu.” Balas kak June kesal.


Kak June mendekatiku dan duduk disebelahku. Kemudian dia menandarkan diri padaku. Aku agak sedikit panik karena kak June belum pernah melakukan hal itu padaku.


“Kau tau Alvin… tubuh kakak tidak akan menua bahkan hingga satu abad kedepan. Jadi…” kak June menatapku. “Bisakah kamu lihat aku sebagai wanita? Bukan seorang anak kecil ataupun kakakmu?”


Aku menelan ludah. Suasana ini benar-benar berbahaya. Kak June terlihat lebih cantik dari biasanya. Wajahku pun ikut memerah. Hatiku berdegup sangat kencang.


“Ka-kak June…” aku tak bisa menahan diriku. Wajahku bergerak mendekatinya. Seperti inikah yang di dirasakan orang di film?


*DUAK!!*


“Kakaaak!!” adikku berteriak masuk ke dalam kamar.


Aku dan kak June terkejut dan menjaga jarak. Wajah kami berdua memerah. Hampir saja aku mencium kak June.


Aku menatap adikku yang terdiam sekarang.


“Ada apa Whitney?” tanyaku.


“Kakak tadi mau ngapain sama kak June?”


“Eh? Ga ngapa-ngapain kok.” Jawabku panik.

__ADS_1


“Iya kakak ga ngapain-ngapain.” Tambah kak June.


“Hmmmm……. Yang bener?”


“Beneran kok!” jawabku dan kak June bersamaan dengan wajah yang memerah.


“Hmmm.. ya udah sih kalo gitu. Oh iya kak ini buat kakak.” Whitney memberikanku sebuah gelang anyaman berwarna biru dan putih.


“Wah! Ini buatan kamu Whit?”


Whitney mengangguk.


“Bagus bangeet! Makasiih!” ucapku seraya memeluk Whitney.


Whitney terkejut oleh pelukanku. “Kakaaak! Jangan peluk akuu!” tolaknya.


“Ga boleh?” tanyaku meski belum melepaskan pelukan.


“Bukan ga boleh sih…” Whitney terdiam sejenak kemudian membalas memelukku. “Kalau gini aku… hiks…. Ga mau lepas dari kakak.. huaaa.” Whitney menangis.


“Cup cup cup.” Ucapku seraya mengelus-elus kepalanya.


Butuh beberapa saat untuk menghentikan tangisan Whitney. Setelah dia selesai menangis, aku mengantarnya ke kamarnya. Kalau dipikir lagi kenapa kak June ga tidur di kamar Whitney aja ya?


Begitu aku berada di depan pintu kamarku, rasa canggung kembali muncul.


Duh, bagaimana aku menanggapi kak June ya. Tadi dia bilang gitu berarti dia suka sama akukan? Di dunia ini aku popular banget sih. Aku suka sama kak June, tapi aku ga niat punya hubungan apa-apa. Tapi kalau gitu mungkin aku bakal nyakitin ka June. Duh.padahal di dunia sebelumnya ga ada cewe yang deketin aku. Dan jomblo sampai kematianku. Ternyata hidupku yang dulu ngenes banget. Stop-stop lupakan itu, sekarang bagaimana aku bersikap ke kak June. Say hai nya gimana? Ato jalan ke kasur langsung tidur? Ah bodo lah terobos ajalah.


Aku pun masuk dengan perlahan. Begitu masuk, ternyata kak June menungguku. Dia tersenyum manis dan sedang duduk diatas kasurku. Aku menelan ludahku.


“Alvin, ada sesuatu yang mau aku beri.”


Aku menghelakan nafas. “Apa itu kak?”


Kak June mengeluarkan sesuatu dari [Item Box]nya. Muncul sebuah rubik dengan satu warna. Rubik itu berwarna biru transparan.


“Ini adalah Mana Cube. Terbuat dari monster core yang dikumpulkan dan dibentuk menjadi kotak seperti ini. Dan kalau kamu mengalirkan manamu ke benda ini, lihatlah.”


Mana Cube di tangan kak June berubah menjadi 9 potongan dan bergerak sesuai keinginan kak June.


“Setiap kotak kecill ini bisa mengeluarkan sihir yang kamu inginkan. Dan memperkuat sihir yang kamu keluarkan. Kamu pun tidak perlu memegangnya. Jadi ini efektif untukmu yang bertarung menggunakan pedang.” Jelas kak June.


Aku terkagum-kagum melihat itu. Kak June pun mengembalikan Mana Cube itu ke bentuk awal dan memberikannya padaku.


“Ini hadiah untukmu. Seharusnya sih aku memberi tongkat sihir tapi kupikir ini lebih baik.” Ujarnya seraya tersenyum.


Aku menatap terharu. Hadiah yang kak June berikan benar-benar luar biasa. Aku memeluk kak June. Aku berusaha untuk tidak mengeluarkan air mataku.


“Makasih kak, makasih. Selama 10 tahun kakak mengajariku, mendidikku, memberikanku banyak pengetahuan bukan hanya dalam sihir tapi pelajaran untuk hidup. Kakak tak pernah lelah menasehatiku, memarahiku, memperhatikanku, mengkhawatirkanku selama ini. Kak June.… aku mencintaimu kak.” Ungkapku dengan tangisan membasahi pipiku.


Kak June membalas pelukanku. Aku bisa mendengar isakan tangisnya.


"Aku juga... Hiks..."

__ADS_1


Malam itu aku dan kak June tertidur di kasurku dengan tangan yang saling menggenggam.


__ADS_2