My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Kenekatan


__ADS_3

"Alvin apa kamu yakin?" tanya Kuro sedikit khawatir.


"Tenang saja, pasti ada kesempatan untuk mengalahkan mereka berdua." ujarku.


Sudah 3 hari terlewati semenjak aku dan kelompokku memasuki hutan Hera untuk melaksanakan ujian. Dan saat ini aku dan Kuro sedang bersama menyembunyikan diri dan memantau sebuah pertarungan luar biasa dari 2 magical beast tingkat menengah. Seekor Viper Venom dan seekor Dark Flame Wolf. Yah seekor ular dan serigala raksasa.


"Yakin Vin?" tanya Kuro kembali meyakinkan. Keringat dingin terlihat menetes di wajahnya.


"Beneran, kapan lagi kita bisa dapet mangsa empuk gini."


"Iya sih, tapi kamu perhatiin dong sekitar kamu!!!" seru Kuro.


Yah, sebenarnya apa yang ditakutkan Kuto tidaklah salah. Pertarungan mereka berdua berada di sebuang bidang tanah luas yang mencekung. Seluruh pohon disekitar dana banyak terlempar karena hembusan dan serangan dari kedua makhluk mengerikkan itu. Asap beracun yang membuat setiap pohon meleleh berkeliaran disekitar area itu. Dan juga terdapat api berwarna ungu gelap yang terbakar bahkan di sebidang tanah. Api yang konon mampu bertahan di manapun itu dikeluarkan oleh monster serigala yang saat ini sudah mulai terdesak karena racun yang dikeluarkan oleh ular besar itu.


"Entah kenapa ini menyenangkan." ujarku.


"Vin, aku ga nyangka kamu jahat." Kuro menatapku dengan tatapan tak percaya.


"Eh? Apaan sih?"


"Kamu senang liat binatang beradu gitu? Sungguh tak berperikehewanan."


"Ugh!! Ta-tapikan..."


"Ditambah lagi setelah mereka lemah kamu akan membunuh mereka."


Sialan, aku ga bisa nyangkal.


Kan mau gimana lagi. Sebuah pertarubgan nyata dari monster itukan bener-bener epik gitu. Di duniaku yang dulu mana ada yang kayak gini. Ah sudahlah aku tak peduli lagi.


Suara erangan terdengar dari serigala berapi itu. Dengan setengah mati, serigala itu menggunakan seluruh kekuatannya untuk melepaskan diri dari lilitan ular raksasa itu. Namun serigala itu tak mampu berbuat banyak. Lilitan ular itu semakin erat dan ditambah semburan beracun yang keluar dari mulut ular itu secara langsung menyelimuti wajah serigala itu.


"Woah sepertinya kemenangan sudah dipastikan." seru Kuro.


Ni anak sama-sama seneng nonton juga. Aku menatap Kuro dengan tatapan kesal.


Di detik-detik akhir kematian, serigala itu menggunakan seluruh kekuatannya dan menghembuskan luapan api berwarna ungu gelap tepat di wajah sang ular yang berada di depannya.


"Gi-gila!" seruku terkejut.


Kuro menelan ludah dan menahan nafas. Pertarungan dihadapan kami terasa belum berakhir.

__ADS_1


Ular itu meronta dan melepaskan ikatannya dari serigala itu. Wajah ular itu dipenuhi api yang tak mau padam. Dia mendesis-desis keras karena kesakitan.


Sang serigala terlukai lemas tak berdaya. Sudah terlalu banyak racun yang dihirupnya. Dia pun terjatuh di tanah dan menghembuskan nafas terakhir.


Begitu juga sang ular yang wajahnya mulai mengelupas dan terbakar hebat. Rasa sakit dari panasnya api membuat ular itu mulai kehilangan kekuatan dan akhirnya mati tak jauh dari jasad serigala.


"Du-dua duanya mati." ujarku.


"I-iya." jawab Kuro.


"Entah kenapa melihat perjuangan mereka aku jadi enggan mengambil monster corenya." ucapku.


"Sama, kita benar-benar seperti orang jahat disini."


Aku menghelakan nafas. "Tapi kita harus tetap mengambilnya. Kamu tau apa yang terjadi saat monster core tidak diambil dari tubuh monster?"


"Memang apa yang akan terjadi?" tanya Kuro.


"Mereka akan menjadi mayat hidup dan akan merusak semua yang ada di hutan."


"Heh?! Aku baru tau itu!" ujar Kuro terkejut.


"Bener sih, kawasan ini sudah dipenuhi kekacauan."


"Iya benar."


Dihadapan kami berdua, tempat pertarungan dari Dark Flame Wolf dan Viper Venom. Seluruh area disitu hancur berantakan. Masih tersisa api gelap dan asap beracun dari kedua magical beast itu. Dan tak mungkin ada magical beast atau monster yang akan mendekati mayat mereka berdua.


Kuro menatap serius padaku. "Kamu yakin kita ga akan kenapa-napa saat ngedekatin area itu?"


Aku memalingkan wajahku. "Yaah... Ga tau juga sih. Aku ga yakin."


Kuro memukul-mukul bahuku. "Ih kamu, Shamus sekarang lagi terluka! Jangan nambah pasien lagi dong!"


"I-iya-iya." aku mencoba menghentikan Kuro yang sedang memukulku seperti seorang gadis. "Tenanglah, aku ada cara kok."


Sebenarnya kalau ada Sherly disini semua akan teratasi. Sekarang yang kubutuhkan adalah sihir buff untuk menahan racun. Dan itu bukan keahlianku. Sekarang aku hanya akan bertaruh pada sihir pelindungku.


"Barrier!"


Seketika tubuhku ditutupi oleh pelindung berbentuk lingkaran.

__ADS_1


"Aku akan maju kesana. Kamu tunggu saja disini. Semoga saja pelindung ini dapat menahan asap beracun itu."


Kuro terlihat tak suka. Kelihatannya dia tak mau aku pergi ke tempat berbahaya sendirian.


"Baiklah, tapi kamu harus selamat!" perintah Kuro.


"Iya-iya tenang saja."


Aku melompat kecil dan masuk kedalam dataran yang sedikit lebih rendah. Kemudian aku berjalan pelan seraya menghindari api gelap yang masih bertahan di area itu.


Ouch! Ternyata meski sudah cukup jauh masih terasa panas. Tapi ternyata barier mampu menahan racun ular.


Setelah melewati beberbagai rintangan yang ada, aku pun berada di hadapan mayat serigala.


"Ugh! Mengerikkan."


Tubuh serigala itu terlihat meleleh dan dengan cepat membusuk. Tunggu...


Aku segera melihat barrierku. "Pelindungku meleleh!"


Sial, aku tidak memperhatikannya! Kalau begini terus aku akan ikut keracunan.


Aku dengan cepat mengeluarkan pedangku dan mulai menusuk mayat Dark Flame Wolf.


"Sial! Kalo ga salah corenya ada di area jantungnya." seruku seraya mengingat informasi dari buku yang sudah kubaca.


Aku tak berani menyentuh mayat itu dan membuat proses pengeluaran monster corenya sedikit sulit dan cukup brutal. Aku merobek perut serigala itu dan membuat isi perutnya berhamburan kemana-mana. Mengoreh-ngoreh isian perutnya dan akhirnya menemukan sebongkahan kristal berwarna ungu gelap yang ditengahnya terdapat warna merah yang sedikit redup. Aku langsung memasukkannya kedalam [Item Box] dan berlari menuju mayat sang ular.


Barrierku sudah semakin menipis. Bahkan terdapat lubang dimana-mana. Aku benar-benar harus bergerak cepat. Aku pun menggunakan [Accel] untuk segera melesat menuju mayat ular itu.


Kondisi ular itu sangat mengerikkan. Tubuhnya hangus terbakar gosong seperti arang. Rasa panas menyelimuti diriku dan membuatku pengap. Tapi aku tak boleh bernafas dahulu karena didekat situ banyak tersisa asap beracun.


Aku dengan cepat menebaskan pedangku dan menghancurkan kepala ular itu. Kepala ular yang telah hangus itu dengan mudah hancur dan menyisakan Monster Core di tengah sisa abu kepala ular itu. Masih terdapat api di sekitar monster ular itu. Tapi aku sudah tak punya waktu lagi. Barrierku saat ini sudah sepenuhnya hilang. Aku dengan cepat mengambil monster core itu dan berlari menggunkan [Triple Accel] menuju Kuro dengan cepat. Aku melihat tanganku yang menggenggam monster core itu. Rasa panas terasa dan akupun menyadari kalau tanganku mulai terbakar. Karena tak punya pilihan lain, akupun menggunakan sihir esku dan membekukan seluruh tanganku.


"Alvin!!"


Aku sudah dekat dengan Kuro. Aku menatap ke depan dan melihat Kuro yang meneteskan air mata.


"Alvin! Astaga!"


Aku tersenyum kecil dan seketika aku kehilangan kesadaranku.

__ADS_1


__ADS_2