My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Pemimpin


__ADS_3

"Bagi peserta yang lulus harap berbaris!!!"


Teriakan dari petugas itu membuat setiap orang yang bersorak dan bersedih menjadi diam dan mulai berbaris. Orang-orang yang tidak lulus hanya dapat meratapi kesedihan dan mulai berjalan meninggalkan area akademi. Sedangkan yang lulus dengan cepat berbaris rapih di depan petugas.


"Selamat atas kelulusan kalian. Tapi jangan terlalu bahagia akan hal ini. Masih ada ujian yang akan datang setelah beberapa bulan kalian tinggal di akademi ini."


Semua menelan ludah. Ujian belum selesai. Masih ada yang perlu dikhawatirkan.


"Sekarang kalian akan mendapatkan seragam akademi. Seragam khusus ini akan langsung menyatu dengan badan kalian dengan menyentuh pin yang ada pada kalian. Silahkan kalian satu persatu maju untuk mengambil seragam."


Datang salah seorang petugas membawa segunung pakaian dengan sebuah kereta dorong yang luas. Satu persatu peserta maju dan mengambil pakaian berwarna merah hitam itu.


Aku, Aria, dan Kuro mengambil pakaian itu secara bergiliran.


"Sudah dapat semuakan?" tanya Aria.


Aku dan Kuro mengangguk.


"Kalau begitu kita sentuh pinnya bersama sama."


"Satu."


"Dua."


"Tigaaa!"


Setelah Aria berhitung, kami bertiga menyentuh pin itu.


Seketika kain yang berada di tanganku berputar cepat mengelilingiku dan seketika bajuku berubah dari baju kasual biasa menjadi baju hitam bercorak putih dengan sebuah jubah lebar berwarna merah. Ditengahnya terdapat kristal sihir berwarna keemasan yang mengapit ujung jubah di leherku. Dan baju yang sebelumnya aku pakai sekarang terlipat rapih di tanganku.


"Woah!!" Kuro adalah yang paling terkejut diantara kita bertiga. "Lihat ini Alvin!"


Kuro berputar dengan mengenakan pakaian barunya. Pesona kewanitaanya tidak berubah mesik bagian bawah yang dikenakan Kuro adalah celana bukan Rok seperti Aria.


Sial dia imut dengan pakaian itu.


Aku pun melirik Aria dari atas kebawah.


Hmm... Imut parah...


"Jangan liat kayak gitu dong." ujar Aria saat menyadari tatapanku.


Aku tertawa kecil. "Maaf, maaf. Kamu terlihat imut sih."


"Eh?"


"Iya bener Aria imut banget." tambah Kuro seraya memeluk Aria.


Hmm... Aria terlihat tidak mempermasalahkan pelukannya. Apa menjadi cantik itu sebuah keuntungan? Dan juga ini...


Aria dan Kuro terlihat menempel dan amat dekat.

__ADS_1


This is yuri outside stright inside...


"Kamu mikirin apa sih Vin?" Tanya Aria kesal.


"Mukamu terlihat aneh Alvin." ujar Kuro.


"Eh? Enggak kok ga ada apa-apa." jawabku panik.


"Sekarang setiap orang akan dibagi kelompok. Kalian akan dikelompokkan dengan peserta terdekat. Semua perhatikan kristal di dada kalian."


Mendengar ucapan petugas itu, semua orang menatap ke arah kristal di dada masing-masing. Tiba-tiba muncul sebuah garis cahaya yang terbuat dari mana dan menghubungkan setiap 5 orang. Kuro dan Aria tentunya menyatu denganku. Dan kedua garis lagi menuju ke orang yang belum kami kenal.


"Setiap yang terhubung adalah satu kelompok. Setiap kelompok akan menerima secarik kertas dari tengah garis tersebut. Itu akan menjadi nomor kamar kalian. Dan setiap kelompok akan menjadi saingan kelompok lainnya. Setelah mendapat nomor, kalian akan segera dipindahkan kedalam kamar. "


Aku, Aria, dan Kuro saling bertatapan dan mengalihkan pandangan kepada 2 peserta yang menjadi kelompok kami. Karena kami berada di belakang, kami bersama dengan peserta yang kelihatannya bukanlah seorang bangsawan.


Yang pertama adalah seorang lelaki dengan tubuh yang besar dan perkasa. Rambut lebatnya berwarna jingga terang dengan bentuk acak-acakan. Meski pakaian kami sama dan kesannya ukurannya sama saat dibagikan, bajunya terlihat amat pas di badan besarnya. Mungkin baju ini dapat menyesuaikan tubuh pemakainya.


Yang kedua adalah seorang gadis dengan rambut biru pendek sebahu. Dia terlihat tertunduk malu saat mendekati kami.


Saat kami sudah saling berdekatan, garis cahaya itu mulai meredup dan seketika muncul secarik kertas. Dengan cepat aku mengambilnya saat kelompokku menatap kagum.


"Kita berada di kamar nomor 29." ujarku pada mereka.


"Bersiap untuk pemindahan!!"


*TAK!!!*


"Uwaah!!"


"Benar-benar mengejutkan."


Aku tertawa kecil melihat anggota kelompok selain aku dan Aria kaget dan panik setelah berpindah tempat.


"Sihir benar-benar hebat." Puji Kuro.


"Tadi itu benar-benar mengejutkanku." Tambah si lelaki kekar.


"Sekolah ini memang hebat sekali dengan sistemnya praktis." ujarku seraya melirik Aria.


Aria seperti mengerti maksudku. "Aku dengar dari kakek kalau persiapan saat penerimaan murid memang menggunakan banyak alat dan sihir untuk bisa menghasilkan sistem yang praktis seperti ini."


Aku mengangguk mengerti. Kemudian aku menatap satu persatu anggota kelompokku.


"Mungkin pertama-tama kita perlu berkenalan terlebih dahulu." Ucapku.


Semua disitu mengangguk setuju.


"Baiklah, mulai dariku ya. Namaku Alvin Carlos. Aku datang dari sebuah desa yang agak jauh dari sini. Aku dapat menggunakan sihir dan skill berpedang."


Searah jarum jam. Dilanjut ke Kuro.

__ADS_1


"Namaku Kuro Murasame. Aku datang dari benua di timur. Aku seorang pengguna katana atau biasa kalian sebut pedang bermata satu."


Giliran gadis berambut biru.


"A-anu... Eumm... Namaku Sherly. A-aku datang dari desa di sebelah barat ibu kota. A-aku bisa sihir."


Kami semua tersenyum melihat Kegugupan Sherly yang imut.


Sekarang giliran lelaki kekar.


"Namaku Shamus. Aku salah satu penduduk di area sini. Aku seorang penggunaa pedang dan perisai."


Suaranya amat berat. Sedikit memberi kesan garang.


Dan terakhir Aria.


"Namaku Aria. Aku juga berasal dari daerah sini. Aku seorang pengguna sihil-."


Ah lidahnya kegigit.


Wajah Aria memerah dan bersembunyi dibalik lenganku karena malu. Dan kelihatannya sejak tadi dia berusaha percaya diri di depan kedua orang baru itu. Aria masih belum terbiasa untuk bergaul.


"Karena semua sudah berkenalan dan akhirnya menjadi kelompok. Mungkin ada yang mau menjadi pemimpin dari kelompok ini? Karena kelompok akan selalu membutuhkan pemimpin." Jelasku.


Semua terdiam tak bersuara. Dan setelah beberapa saat Kuro mengangkat tangan.


"Kupikir kamj sudah cocok menjadi pemimpin kami Alvin." Ujar Kuro


Eeeeh... Jujur aku sebenarnya malas.


"Aku pun setuju." tambah Shamus. "Aku orang yang bodoh jadi tak pantas menjadi pemimpin."


Jujur sekali orang ini. Tampangnya padahal sangar.


"A-aku juga tidak keberatan." tambah Sherly


Aria menarik lengan bajuku. "Aku hanya mau kamu yang jadi pemimpin."


Aku menghelakan nafas. Sepertinya tidak ada pilihan lain.


"Baiklah, kalian yang memintakukan? Aku akan lakukan dengan sebaik-baiknya. Dan akan aku beri peraturan awal sekarang."


Semua mengangguk setuju.


"Tidak ada perbedaan diantara kita. Semua sama derajatnya. Tidak ada bangsawan atau orang biasa. Kita semua sama-sama belajar bersama. Jadi tidak boleh ada yang berbicara secara formal kepada teman sekamar. Setuju?“


“Setuju.“ jawab mereka serempak.


" Jika ada yang salah dsri keputusanku atau ingin memberi saran, langsung kemukakan pendapat kalian. Meski aku pemimpin, bukan berarti kalian tidak dapat memberi masukan. Mengerti?“


"Mengerti."

__ADS_1


Aku tersenyum senang. Aku menjadi pemimpin kelompok. Akan kupastikan kelompok ini menjadi kelompok terbaik di ujian yang akan datang.


__ADS_2