
Waktu petang telah tiba. Dan waktunya aku berlatih dengan kak June.
Para murid... bukan. Para teman-temanku telah pulang, kecuali Mirana. karena luka di kakinya, dia tidak bisa pulang. Dan saat ini dia sedang memperhatikanku. Memperhatikan latihan sihirku. Cuma dari tatapan tajamnya, dia membuatku gugup. Tapi kali ini lupakan Mirana. Saatnya fokus pada pelajaran kak June.
Kak June berdiri berhadapan denganku. Di antara kami ada kotak kayu sedang setinggi leherku. “Kali ini kita akan mempelajari penggabungan elemen. Pertama kita harus mengetahui elemen yang kamu miliki. Lalu kita satukan dengan elemen yang saling mendukung. Untuk contoh... ”
Tangan kiri kak June terangkat mengarah ke kotak kayu. “... Aku akan menggunakan elemen api dan angin.”
Kak June terlihat serius. Dia menghelakan nafas, dan kembali fokus. Seketika di atas kotak kayu itu muncul api kecil. Itu skill , aku pernah mengeluarkannya.
Dan setelah itu muncul pusaran angin dari bawah bola api. Itu . Skill untuk membuat pusaran angin.
Pusaran angin itu membuat apinya ikut terbawa dan menjadi pusaran api. Aku terpana melihatnya. Walau aku sudah menduganya akan terjadi seperti ini, aku tetap masih takjub.
Setelah itu, kak June menghelakan nafas dan pusaran api itu lenyap. Aku bertepuk tangan melihatnya.
“Seperti itulah contohnya. Meski ada elemen yang bertolak belakang, tapi elemen itu masih bisa digabung. Penggabungan api dan angin adalah salah satu yang mudah. Sekarang cobalah untuk menyatukan api dan angin.”
Aku mengangguk.
Aku mencoba melakukan hal yang sama dengan kak June lakukan. Bola api muncul di atas kotak kayu. Tapi, saat aku menggunakan , bola api itu lenyap. Aku terbelalak melihatnya. Kenapa begini?
“Yang paling sulit dalam menguasai tehnik ini adalah menjaga skill pertama agar tidak lenyap. Cobalah untuk menjaga fokusmu agar skill itu tidak hilang.” jelas kak June.
Aku mengangguk. Kufokuskan kembali ke kotak kayu itu. Tanganku terangkat kearah kotak itu.
“Fire ball.” Kuberbisik sedikit.
Muncul bola api diatas kotak. Aku mempertahankan bola api itu cukup lama. Memfokuskan pikiranku kepada api itu. Aku pun mencoba mengimajinasikan apa yang akan terjadi. Terbayang olehku sebuah putaran api diatas kotak kayu.
Aku mennghelakan nafas. Fokus kembali ke bola api, dan mengeluarkan skill . Muncul pusaran kecil dikotak itu. Aku terkejut bisa melakukannya. Tetapi, seketika pusaran itu hilang. Tadi hanya terjadi beberapa detik saja. Aku tidak bisa menahan kedua sihir itu bersamaan.
“Setelah kamu bisa menjaga skill pertama, bagian sulit selanjutnya adalah menjaga skill pertama dan kedua tetap aktif. Tadi itu terjadi karena belum terbisa. Kamu lakukan saja terus menerus hingga terbiasa.”
Aku mengangguk dan mencobanya lagi dan lagi.
Matahari telah tenggelam. Dan dihalaman aku sedang terkapar. Nafasku terengah-engah. Aku mengangkat tangan kananku ke arah langit.
"Uwaah, tanganku gemetaran gini.” Aku melemaskan tanganku dan tanganku kembali menyentuh tanah. Aku benar-benar kelelahan. Wajar saja, aku menggunakan sihir dan ratusan kali. Manaku pun sudah hampir habis. Tapi latihan itu membuahkan hasil. Aku akhirnya bisa menggunakan 2 elemen sekaligus dalam satu waktu. Meski durasinya tidak terlalu lama.
Kak June dan Mirana mendekatiku. Melihatku dan bertatapan satu sama lain. Tak lama dari itu mereka berdua tertawa.
“Jangan tertawai aku dong.” Ucapku dan menunjukan wajah kesal pada mereka berdua.
“Habis kamu terlihat seperti ikan kehabisan nafas.” Ejek Mirana.
Sial, Mirana mengataiku sampai segitunya. Aku memasang muka kesal.
Kak June tertawa kembali. Lalu tersenyum padaku. “Alvin, kerja bagus. Dalam sehari kamu bisa mempertahankan 2 elemen selama itu sudah capaian yang baik.” Kak June menyodorkan tangannya. “Sekarang istirahatlah didalam. Kamu pasti sangat kelelahan.”
Aku tersenyum pada kak June saat mendengarnya. Aku mengenggam tangannya dan berdiri.
__ADS_1
Mirana menarik lenganku. Dia membantuku berjalan walau kakinya terluka. Aku pun berjalan masuk ke rumah dibantu mereka berdua.
Aku merebahkan diriku di kasur. Makan malamnya belum siap. Kak June membantu ibuku menyiapkan makan malam. Dan di kamarku ini, aku berdua dengan Mirana. Dia duduk di kasur yang dipakai oleh kak June. Dia melihat kesekeliling kamarku, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Tiba-tiba Mirana menatapku.
“A-ada apa Mirana?” ucapku kaget.
Dia hanya menatapku tanpa bicara apa apa.
Aku menelan ludah menunggu apa yang akan dia katakan. “Kenapa aku gugup? Padahal mau ngomong apapun juga aku gak harusnya gugup gini.” Aku bertanya pada diriku sendiri.
“Tubuhmu, gak apa-apa?” Dia memiringkan kepalanya.
Aku menghelakan nafas. Kupikir dia akan mengomentari kamarku. Aku takut akan mulutnya yang tajam dibalik diamnya.
“Sudah lebih baik. Kalau kakimu?”
“Kakiku tidak apa-apa, cuma sakit saat berjalan.”
“Begitu ya. Apa kamu bisa pulang sendiri?”
“Entahlah, tapi aku sepertinya menginap disini.”
Seketika pikiranku kosong. Dan mulai masuk pertanyaan pertanyaan yang mengherankan.
“Lah? Ni anak mau nginep disini?! Dia tidur dimana??!! Jangan bilang dia sekasur dengan kak June. Dikamarku akan ada dua cewek cakep!! Oke tenanglah diriku, jangan berpikir yang aneh-aneh.” aku bermain-main lagi dengan pikiranku dan tersadarkan oleh teriakan yang mengagetkanku.
Aku sontak kaget dan menatapnya.
“Kamu sudah aku panggil berkali-kali. Mikirin apa sih?!” dia terlihat kesal.
“Ma-maaf, ada apa?”
“Makan malamnya sudah siap.”
“O-oh, gitu. Yuk kita ke ruang makan. Aku sudah kelaparan.” Aku pun bangun dari kasurku dan berdiri sempoyongan. Mirana memegangiku dan meletakkan tanganku di bahunya. “Ma-makasih Mirana.” aku tersenyum canggung.
“Tak usah dipikirkan.” Jawabnya datar. Kami berdua pun berjalan menuju ruang makan. Disana kami disambut ayah, ibu, dan kak June.
“Apa ini? Anak ayah begitu lemah sampai berjalan dibantu berjalan oleh wanita?” ayah mendecakkan lidahnya.
“Berisik ayah ****.” Wajahku memerah saat mengatakannya. Ayahku hanya tertawa mendengarku.
“Ayo kalian berdua. Duduk, duduk.” Ibuku mempersilahkan kami duduk.
Aku dan Mirana duduk bersebelahan, ibu bersebelahan dengan kak June, dan ayah berada dipinggir meja samping kami. Meja persegi panjang itu sudah penuh dengan makanan yang terlihat lezat.
“Selamat makaaan!” serempak kami semua mengucapkannya.
Aku yang masih lemah makan agak lambat dibanding sebelumnya. Tapi setelah menghabiskan satu porsi, aku menambah lagi. Dan menambah lagi. Hari ini aku benar-benar kelaparan.
__ADS_1
Ibuku tersenyum-senyum melihatku makan sangat banyak. Sementara ayah dan Mirana terlihat kaget melihatku makan sangat banyak.
“Kamu makan banyak sekali nak.” Kata ayahku kaget.
“Ewntwahlah ywah, akwu bwenar bwear kelapwawan.” Aku berbicara dengan mulut masih penuh dengan makanan.
“Habiskan dulu makanan dimulutmu.” Jawab ayah kesal.
Aku menelan makanan dimulutku dan mulai bicara. “Entahlah yah, aku benar-benar kelaparan.” Setelah itu kembali makan.
“Itu karena mana yang kamu miliki sudah habis. Jadi, kamu harus mengisinya dengan makan yang banyak. Nanti juga nafsu makannya akan kembali seperti semula.” ucap kak June.
Aku pun mengangguk dan kembali makan dengan lahap. Lalu aku teringat dengan kata-kata Mirana.
“Yah, apa benar Mirana akan menginap disini?”
“Ya.” Benar-benar singkat, padat, jelas. Terkadang sikap ayahku ini menjengkelkan.
Aku menghelakan nafas. Makananku sudah habis. “Aku meresa bodoh bertanya pada ayah.” pikirku. Aku berdiri dan membawa alat makanku ke tempat cuci piring. Seraya berjalan, aku bertanya. “Mirana akan tidur dimana?”
“Tentu saja di kamarmu.” Jawab ayah. Aku hanya dapat mengangguk.
“Sudah kuduga.” Pikirku dalam hati. Setelah meletakkan peralata makanku, aku berjalan menuju kamar. “Hari ini aku benar-benar lelah, aku tidur duluan. Selamat malam.” Aku pun memasuki kamar dan merebahkan diri di kasurku. Aku terlelap dengan cepat.
Seperti biasa aku bangun dengan cepat. Kali ini kak June tidak mengigau dan menempati kasurku. Dia masih berada dikasurnya, walau posisinya berantakan. Tapi tidak ada Mirana di kasurnya. Karena malas untuk memikirkannya aku segera beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka, tanganku seperti terjepit sesuatu. Betapa tercengangnya aku. Mirana memegang erat tangan kananku.
“Gawat, kenapa Mirana ada di kasurku? De javu yang mengerikkan.” Aku menelan ludah. Aku pun mulai membayangkan apa yang akan terjadi.
“Hmm, kalau dia bangun kemungkinan aku akan terkapar dilantai lagi. Bahkan mungkin lebih parah. Kekuatan fisik milik Mirana lebih besar ketimbang kak June. Kemungkinan terburuk dia mengambil pedang disampingnya dan membunuhku. Eh, sebentar. Itukan pedang kayu, gak mungkin membunuhku. Tapi kalau dia mengeluarkan sword skill...... serangannya bakal sakit banget!!” aku langsung panik. Melihat kiri dan kanan. Wajahku mulai pucat.
“Ugh, gimana cara agar bisa lepas dari situasi mengerikkan ini. Disebelahku ini dewa kematian kecil tertidur tanpa menyadari apa yang sedang dia lakukan. Oh tuhan, bisakah kamu mengembalikanku ke dunia asalku?” aku mulai banyak melantur tidak karuan.
Tiba-tiba tubuh Mirana bergerak. Aku sontak melihatnya dengan tegang. “Mati daku.”
“Eumm....” Terdengar suara kecilnya. Mirana membuka matanya. Dia melihat kearahku.
“Kenapa wajahmu pucat, Alvin?”
Aku hanya dapat menelan ludah dan tersenyum paksa. “Gak kok gak apa apa.”
“Oh begitu.” Pegangan Mirana mulai melemah. Secepat kilat aku menarik tanganku. Mirana hanya kebingungan dengan tingkah lakuku.
“Kalau gitu aku ke dapur dulu ya, dah.” Aku segera turun dari kasur dan beranjak menuju dapur. Aku selamat kali ini.
Setelah sarapan, ayahku menyuruh untuk mengantarkan Mirana ke panti asuhannya. Aku baru tau ternyata dia itu yatim piatu, karena itu dia boleh menginap di rumahku.
Aku membantu Mirana berjalan dijalan setapak menuju panti asuhan. Sesampai disana aku disambut ibu panti. Setelah menjelaskan apa yang terjadi pada Mirana, aku pamit untuk pulang.
“Datang lagi ya, Alvin.” ucap ibu panti di depan pintu panti asuhan. Aku mengangguk dan tersenyum.
“Jangan lupakan duel kita setelah aku sembuh.” Mirana menyodorkan tinjunya padaku.
__ADS_1
“Tentu saja.” Aku membalas tinjunya. Kami berdua saling tersenyum. Aku harus banyak berlatih agar tidak kalah dari Mirana.