My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Batasan


__ADS_3

3 bulan berlalu semenjak aku memulai latihanku untuk mendapatkan afinitas type wood. Kelima bibit Spirit Enhancer pun sudah tumbuh dengan baik dan berkualitas. Meski bibit itu membuatku kesakitan, aku merawat mereka dengan baik. Adikku begitu senang melihat bibit itu tumbuh dari hari ke hari. Hingga akhirnya sekarang bibit itu sudah tumbuh dan terlihat indah dengan kelopak berwarna biru dan bersinar layaknya kunang-kunang. Sosok bunga itu amat memikat hati, tapi hari ini tumbuhan itu akan diolah untuk latihanku.


Dengan berat hati aku membawa pot berisi Bunga Spirit Enhancer ke tempat latihan. Kak June disana sedang menunggu seraya mempersiapkan peralatan alchemistnya.


“Kak June ini.” Ujarku seraya menurunkan pot di depannya.


“Oke, sekarang kamu duduk dulu. Aku belum selesai mempersiapkan peralatanku.”


Aku mengangguk. Kak June terlihat membuka [Item Box] dan mengambil peralatannya. Kulihat disitu terdapat alat seperti mortar dan pestle yang biasa kulihat di lab sekoloahku saat masih di dunia sebelumnya, kemudian sebuah pengaduk, pemecah batu, dan yang paling menarik perhatian adalah, sebuah tunggku berbentuk seperti kendi lebar berukuran sebesar panci.


“Baiklah, sekarang kita akan membuat Elixir Pemicu Energi Spirit. Elixir ini berguna untuk membantu meningkatkan tingkat energi spiritual secara bertahap hingga ke level 25. Untuk 25 ke atas membutuhkan pill atau elixir yang lebih tinggi lagi. tapi untuk sekarang elixir pemicu energi ini akan sangat berguna untukmu. Aku sengaja menyuruhmu menanam ini untuk meningkatkan level energi spiritualmu.” Jelas kak June.


“Waaah… kakak sudah memikirkannya ya. Kak June memang terbaik.” Ucapku.


“Hehe,” kak June berpose angkuh. “Tentu saja karena aku adalah gurumu yang perhatian.”


“Dan kakakku yang paling kusayang.” Lanjutku.


Mendengar itu wajah kak June memerah. “A-apaan sih udah kita lanjut latihannya.”


Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.


“Ehem, baiklah kita lanjutkan.” Kak June mengambil salah satu bunga Spirit Enhancer.


“Petama, kita harus memanaskan bunga ini di tungku dengan menggunakan sihir api.”


Kak June memasukkan bunga itu ke dalam tungku dengan hati-hati. Kemudian dia mengeluarkan sihir apinya. Tapi api itu terlihat berbeda. Rasanya lebih indah, bersih, atau bisa disebut juga lebih murni.


Api itu mulai masuk ke dalam tungku. Kak June menarik nafas dalam. “Sekarang gunakan energi spiritual type flame untuk mengendalikan apinya dan type wood untuk mengatur suhunya.”


Kedua tangan kak June mengarah pada tungku yang berisi bunga Spirit Enhancer. Di tangan kirinya terlihat aura merah tanda energi spiritual type flame dan di tangan kanannya terlihat aura berwarna hijau tanda energi spiritual type wood.


Aku memperhatikan kak Juen dangan seksama. Dia terlihat kesulitan dengan keringat yang mulai menetes. Butuh konsentrasi tinggi dalam pembuatan elixir ini. Hingga setelah semenit lewat, kak June menghelakan nafas dan mengangkat tangan kirinya.


Bunga Spirit Enhancer pun ikut terangkat keluar dari tungku itu. Bunga itu bersinar lebih terang dari sebelumnya. Kak June mengarahkannya ke mortar dan melumatkan bunga itu dengan lembut menggunakan pestle di tangannya.


Kuperhatikan, ternyata kak June menggunakan pestle dengan mengalirkan energi spiritualnya melalui pestle yang dipegangnya.


“Kemudian masukan air ke dalam tungku, dilanjut memasukan bunga Spirit Enhancer yang sudah di haluskan dan masukkan juga sedikit monster core. Akan lebih baik jika monster corenya sesuai dengan afinitas pemakai. Karena afinitasmu lebih ke elemen air, jadi aku akan memasukkan potongan kecil monster core type water.”

__ADS_1


Kak June menjentikkan jari kemudian muncul segumpal air di udara dan masuk kedalam tungku. Kemudian dia memasukkan bunga yang sudah dihaluskan. Dan memasukkan monster core berwarna biru sebesar bola kelereng tapi berbentuk kubus.


Setelah itu kak June kembali menggunakan apinya untuk memanaskan tungku. Kali ini durasi memanaskannya cukup lama. Sesekali, kak June memintaku untuk mengaduk larutannya elixir itu. Hingga setelah kurang lebih satu jam, Elixir pemicu energi sudah siap.


Kak June menata lima botol kaca berukuran kecil. Dia melirik padaku seraya tersenyum. “Alvin lihat ini.” Kak June menunjuk ke arah tungku kemuidan jarinya bergerak menunjuk ke atas.


Elixir itu naik keluar dari tungku seperti bergerak dengan sendirinya. Kemudian kak June menggerakkan tangannya dan menujuk kearah botol kaca yang sudah ditata. Elixir itu melesat dan masuk ke dalam lima botol itu dengan volume yang sama di kelima botol itu.


“KOK BISAA???!!” seruku begitu melihat acrobat kak June.


Kak June tersenyum angkuh. “Mudah.”


“Ih gimana kak caranya?” tanyaku penasaran.


“Itu hanya sihir [Telekinesis], sihir  yang mampu menggerakkan benda mati. Tapi hanya sebatas itu. Dan juga kekuatan sihirnya tidak begitu besar. Tapi kalau dilatih akan jadi pertunjukan yang menarik.” Jelas kak June.


“Tapi lumayan berguna kalau lagi males gerak.” Ujarku sambil tertawa.


“Iya juga.” Jawab kak June seraya ikut tertawa,


Setelah itu, kak June dan aku menutup botol yang berisi cairan berwarna biru itu.


“Ya, ada.”


“Apa itu?


“Api kak June kenapa terlihat lebih bersih gitu? Apa aku harus menggunakan api itu juga?”


“Oh itu ya? Bukannya aku sudah kasi- oh tuhan bodohnya aku.” Seketika wajah kak June terlihat panik.


“Ke-kenapa kak?”


Kak June menatapku. Tatapan yang biasa aku dapatkan kalau aku kenapa-napa. Pasti ada yang salah.


“Alvin…. Maaf….. kamu belum bisa membuat obat ….” Ujarnya dengan wajah sedih.


Aku terkejut mendengar pernyataan kak June. “Kenapa belum bisa kak? Apa soal api itu?”


Kak June mengangguk. “Dalam membuat obat, kamu membutuhkan sihir api. Namun bukan sihir api biasa. Kamu harus memiliki sihir berelemen api disertai skill [Pure Fire] yang memurnikan sihir apimu.”

__ADS_1


“Ka-kalau gitu kan bisa aku pelajari.” Jawabku gugup.


“Memang bisa tapi…”


Aku menelan ludah.


“Syarat untuk mempelajari skill itu, energi spiritualmu harus mencapai level 25.”


Aku semakin shock mendengarnya. TINGGI BANGEEET!!!


“A-apa g-g-ga ada cara lain?” tanyaku tergagap lemas.


Kak June menggelengkan kepalanya. “Ngomong-ngomong, berapa level energi spiritualmu saat ini?”


Aku yang sudah terduduk lemas ditanah. “Masih level 17…”


Mendengar ucapanku, tiba-tiba kak June memegang pundakku. “Yang bener?!”


“I-iya kak beneran.”


“Itu sih dah tinggi Alvin! Di umurmu yang sekarang, aku masih berlevel 13.”


Aku tidak terlalu peduli dengan ucapan kak June. Aku hanya merasa sedih atas usahaku yang terasa sia-sia.


Sial, untuk apa aku mempelajari pengendalian api dan merasa sakit untuk mendapat afinitas kayu. Rasanya menyakitkan saat yang ingin aku gapai ternyata jalannya masih terlalu jauh. Aku merasa semua hal yang aku lakukan sia-sia saja. 


“ALVIN!”


Aku tersadar oleh suara kak June dan merasakan telapak tangan kak June berada di pipiku.


“Kamu ga boleh nyerah Alvin.” kak June menatap dengan serius. “Kamu masih bisa mencapainya. Umurmu masih sepuluh tahun, masih banyak hal yang harus kamu pelajari. Hal yang kamu pelajari sebelumnya pun sama sekali tidak sia-sia. Lihat dari banyak sisi. Jangan lihat dari satu sisi saja. Apa yang kamu pelajari, rasa sakit yang kamu terima sebelumnya bukanlah hal sia-sia. Tapi sebuah modal untuk kedepannya nanti. Yang kamu rasakan saat ini, pasti akan memudahkanmu di masa depan.”


Mendengar itu, hatiku merasa tergerak. Entah kenapa aku tak tahan menahan air mataku. Air mataku mengalir begitu saja.


Kak June memelukku dengan lembut. “Kamu gak oleh nyerah ya.”


Aku membenamkan kepalaku ke pundaknya. “Hiks… Iya kak…”


Sesi latihan itu berakhir dengan tangisanku.

__ADS_1


__ADS_2