
"Pagi hari sudah tiba. Semua ayo bangun!!“
Terdengar suara seruan dari megafon yang berada di sudut atas kamar.
Semua anggota kelompok terbangun seraya masih menguap. Pemandian kemarin benar-benar membuat tubuh rileks dan menjadikan tidur kami semua menjadi nyenyak.
Meski yah ada hal yang ga mengenakkan sih saat di pemandian...
Aku melirik Kuro. Tadi malam aku dan Shamus sudah memohon maaf padanya.
"Pagi Alvin." sapa Kuro dari kasurnya.
"Pa-pagi juga." jawabku canggung.
Setelah bangun, kami semua bersiap-siap. Aku dan Aria menggunakan sihir [Clean] untuk semuanya. Sihir air tingkat rendah yang mampu membersihkan badan. Setidaknya kami jadi tidak terlihat kucel seperti saat bangun tidur. Dan aku yakin setiap kamar memiliki penyihir yang mampu melakukan sihir tingkat rendah itu.
"Sekarang seluruh peserta akan memasuki ruang pembelajaran. Setiap kelas akan diisi oleh 50 peserta atau 10 kelompok. Silahkan keluar kamar dan mengikuti instruksi dari para petugas." jelas seorang petugas melalui lubang logam.
Kami pun mengikuti instruksi petugas dan masuk kedalam ruangan yang berbentuk seperti ruangan auditorium. Dengan bangku yang bertingkat dan setiap bangku dapat di isi oleh 5 orang.
"Selamat datang anak-anak." Sapa Pak Wiz yang berada di depan kelas. "Dan selamat juga karena telah lulus ujian tahap awal. Untuk kali ini bapak akan mengajari kalian tentang instalasi sihir."
Instalasi sihir? Aku baru pertama kali mendengarnya.
"Instalasi sihir adalah sihir yang tidak bisa dipelajari secara manual. Tapi membutuhkan sebuah gulungan sihir yang terdapat lingkaran sihir didalamnya. Itu dikarenakan kerumitan dalam pengimajinasian sihir tersebut. Dan juga instalasi sihir menanamkan sebuah lingkaran sihir pada tubuh kita secara otomatis sehingga sihir itu akan selalu bisa aktif saat sudah kita kuasai."
Pak Wiz mengambil sesuatu dari [Item Box]nya kemudian mengeluarkan sebuah gulungan dengan panjang sekitar 30 cm.
"Ini adahal gulungan sihir untuk instalasi sihir [Status]. Sihir yang mampu memperlihatkan tingkatan sihir dan energi spiritual kalian bahkan potensi yang kalian miliki termasuk job yang bisa kalian dapatkan. Sistemnya sama seperti kartu pengenal namun dengan fitur yang lebih banyak dan kompleks. Sihir ini masih tergolong sihir tipe baru karena baru ditemukan sekitar 5 tahun yang lalu. Dan kalian beruntung karena hari ini bapak akan menginstal sihir ini pada kalian sehingga kalian mampu memperoleh informasi tentang diri kalian."
Seluruh seisi kelas terkejut. Bahkan aku pun terkejut. Bagaimana tidak? Mengetahui adanya sihir yang tidak kuketahui ditambah sebuah sihir yang mampu membuat kita mengetahui status kekuatan saat ini benar-benar mirip seperti status game ataupun dari novel yang sering kubaca di kehidupanku yang sebelumnya.
Pak Wiz tertawa kecil. "Hebatkan? Kalau begitu setiap orang akan melakukan instalasi sihir dibantu olehku. Satu persatu dari kalian maju kedepan untuk menginstal sihir ini. Dimulai dari kelompok 21."
Kelima anggota dari kelompok 21 pun maju kedepan dan mulai menggunakan gulungan itu.
Sial, karena terlalu jauh aku ga bisa liat dengan jelas.
Posisiku berada pada barisan paling teratas atau barisan terbelakang. Aku cuma bisa menggerutu karena dapat giliran terakhir melulu.
"Kira-kira kita punya potensi untuk menjadi apa ya?" tanya Kuro antusias.
"Kita ga tau sih sebelum mendapat skill itu." Jawabku kemudian aku mengingat ujian awal Kuro. "Tapi aku sepertinya tau setidaknya salah satu potensi jobmu."
"Hooh! Apa itu Alvin?!" Kuro dengan antusias memegang tanganku dengan kedua tangannya. Matanya berbinar dan wajahnya begitu dekat.
Ke-kedekatan....
"Te-tenanglah Kuro...." pintaku.
"Ah maaf..." Kuro melelas genggamannya dan terlihat agak murung. "Aku bersikap kayak cewe lagi ya?“
Yah gaperlu ditanya lagi...
"Tenanglah, aku tidak mempermasalahkannya kok. Kamu bisa bersikap seperti biasa. Hanya saja aku yah... Eumm... Belum terbiasa saja." jelasku.
"Jadi apa jobku?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Kalau dilihat dari saat ujian pertama, kamu memiliki potensi menjadi Assasins."
"Assasins?“
"Iya."
"Itu berarti kamu tukang nusuk dari belakang Kuro." celoteh Aria tiba-tiba dari sebelah kiriku.
"Ap-apa?! Aku ga gitu iih." seru Kuro seraya memukul-mukul bahuku seperti perempuan yang gemas.
__ADS_1
Kenapa aku yang dipukuli sih?
***
"Kelompok selanjutnya."
Seketika Shamus berdiri. "Akhirnya giliran kitaa!!“
Shamus terlihat berapi-api. Yah memang sih sejak tadi Shamus amat bersemangat dan tidak sabar untuk mendapat sihir itu. Padahal meski sudah menginstalnya, semua belum di izinkan untuk menggunakan sihir itu hingga semua murid selesai terinstal sihir itu.
Aku dan kelompokku berjalan turun menuju tempat pak Wiz berada.
"Siapa diantara kalian yang menjadi pemimpin kelompok?" tanya pak Wiz.
"Aku pak."
"Alvin ya." pak Wiz tertawa kecil. "Sudah kuduga."
Mendengar itu aku hanya menatap bingung. Apa aku kelihatan seperti pemimpin?
"Kemarikan tanganmu nak." ujar pak Wiz seraya menunjuk ke arah gulungan yang terbuka.
Gulungan itu terlihat berisi sebuah lingkaran sihir yang unik dan rumit. Bahkan di sekitar lingkaran itu tertulis juga sebuah sirkuit sihir.
Uwah rumit banget ini. Tidak seperti lingkaran sihir biasa.
Aku pun meletakkan tanganku diatas lingkaran sihir itu.
"Pejamkan matamu sekarang, alirkan manamu ke arah tanganmu dan keluarkan perlahan."
Aku pun menurutinya. Setelah melakukan itu, tiba-tiba tanganku seperti tersetrum dan terasa seperti ada yang merambat keseluruh tubuhku.
"Baiklah, selesai." pak Wiz tersenyum kecil "Jangan gunakan sihir ini dulu ya, tunggu semua kebagian."
Aku pun mengangguk pelan. Setelah itu semua anggotaku bergiliran menginstal sihir [Status] itu. Dan aku tak habis pikir. Betapa konyolnya Shamus yang berteriak saat perasaan merambat itu muncul ditangannya. Itu membuat sesisi kelas tertawa geli.
Setelah kelompokku, kelompok 30 pun maju dan akhirnya semua orang didalam kelas telah melakukan instalasi sihir.
Semua orang pun mulai mengikuti apa yang pak Wiz arahkan.
"Open Status."
Seketika muncul sebuah layar yang memperlihatkanku informasi milikku dalam bentuk huruf dan angka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Nama : Alvin Carlos
Ras : Manusia
Umur : 15 tahun
Kategori Mana : Kategori 3 tingkat 9
Level Energi Spiritual : Level 24
Afinitas Sihir
Air : 85
Api : 70
Angin : 70
Tanah : 40
Kayu : 55
__ADS_1
Cahaya : 30
Kegelapan : 20
Non elemen : 70
Status
Strength : 76
Agility : 80
Intelligent : 80
Dexterity : 65
Defense : 75
Magic Defense : 60
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Potensi Job Utama :
Warrior
Mage
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Uwaaw ini benar-benar seperti game rpg! Aku kira tidak ada sistem seperti ini karena ini dunia nyata. Ini luar biasa!!
Semua orang pun gaduh dan mulai membandingkan miliknya dengan teman sebangkunya. Termasuk juga Shamus yang mulai membandingkan dirinya dengan Kuro yang berada disebelahnya.
"Berapa tingkat kekuatanmu?" tanya Shamus dengan wajah yakin akan lebih unggul.
"Eeeeh... Aku? Aku kecil kok." jawab Kuro.
"Berapa sebut saja." Shamus merasa berada diatas angin.
"112."
"A-Apuaaa??!!" Shamus terperanjat. "Bagaimana lelaki dengan paras cantik inu menang dari segi kekuatan siaaal!!"
Aku tertawa melihat tingkah mereka. Tiba-tiba Kuro menatapku.
"Alvin. Ternyata benar seperti ucapanmu."
"Apanya?" tanuaku heran.
"Rekomendasi Jobku ternyata ada Assasinnya seperti katamu." ujar Kuro dengan tersenyum. "Kamu hebat bisa tau."
Aku tersenyum bangga. "Tentu saja."
"Yah Kuro akan jadi tukang nusuk dari belakang." goda Aria seraya tersenyum jail dan bersembunyi disebelahku.
"Iih Ariaaa!" teriak Kuro kesal.
"Yak semua perhatikan!“ seru pak Wiz menenangkan semua kegaduhan.
Semua orang segera berhenti dan mulai memperhatikan pak Wiz kembali.
"Seperti yang kalian lihat, terdapat potensi job yang kalian bisa ambil. Dan ini lah yang spesial dari instalasi sihir ini. Kalian akan mendapatkan satu kemampuan sihir tanpa perlu mempelajarinya. Karena itu bapak minta kalian memikirkannya dengan baik-baik. Gunakan waktu kalian untuk memilih job kalian dan sesuaikan dengan teman kelompok kalian. Karena nanti saat kalian menjalani ujian selanjutnya, kerjasama tim yang akan dinilai. Maka dari itu diskusikan dengan kelompok kalian. Mengerti?“
“Mengerti pak!“ jawab seluruh siswa.
"Baiklah, kalau begitu sekian untuk hari ini. Sampai jumpa lagi."
__ADS_1
Dan seketika Pak Wiz pergi dengan [Teleport] nya.
Sesi kelas hari pertama pun berakhir dengan menakjubkan.