My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Bandit (1)


__ADS_3

“SERAHKAN KERETA KUDA KALIAN!!” teriak salah satu dari para bandit itu.


Kelima bandit itu mulai mengeluarkan senjata mereka. Ada pengguna pedeng, kapak, dan pisau. Tapi yang paling mencolok adalah pengguna Hand claw yang berada ditengah mereka dan memiliki aura paling kuat diantara yang lain. Rambutnya Panjang berkibar dengan tubuh yang terlihat matang. Beda dengan sisanya yang terlihat tidak begitu kuat.


“Tak kusangka ternyata seorang saudagar besar Armin dari perusahaan dagang Heaven Door benar-benar selalu melakukan perjalanan tanpa dikawal banyak orang.” Ucap bandit pengguna Hand claw.


“Ternyata paman Armin seorang saudagar besar! Sudah kuduga dia bukan orang biasa.” Pikirku.


“Tuan kekar! Sepertinya kamu salah orang!” seru kak June.


Mendengar seruan itu, bandit berhand claw itu tersenyum licik. “Meski pun salah…. Aku tak peduli.”


Kak June mendecakkan lidah kemudian turun dari kereta kuda.


“Kalian tetap diam di kereta!” perintah kak June padaku dan paman Armin.


Paman Armin mengangguk. Sedangkan aku hanya diam enggan untuk menuruti.


Kak June menatapku. “LIndungi paman Armin.”


Setelah mendengar itu, aku paham kenapa aku disuruh diam di kereta. Aku pun mengangguk.


”Aku percaya kak June. Aku tahu kekuatan kak June tidak bisa dibandingkan dengan para bandit itu.”


“Gadis kecil! Kalian membuatku harus melawan gadis kecil ini?!” tanya bandit berhand claw. Dia terlihat cukup kesal ketika melihat kak June turun.


Kak June berjalan mendekati mereka dan tersenyum. “Kalian berlima bahkan tidak akan cukup untuk melawanku.”


“Oh begitu?” bandit berhand claw tersenyum. “Serang gadis itu.” Perintahnya pada bandit yang lain.


Empat orang bandit itu mengangguk dan bergerak cepat mendekati kak June. Seorang bersenjatakan kapak bergerak maju membuka serangan. Dia mengayunkan kapaknya secara vertikal dari atas ke bawah. Kapak besar itu melesat cepat hendak membelah kak June menjadi dua.


*CLANG!*


Kapak itu tertahan oleh milik kak June. Bandit pengguna kapak itu terkejut melihat serangannya gagal dan dalam sekejap mata, pengguna kapak itu terpental dengan mengerikkan dan berguling ditanah sejauh 100 meter. Kak June mengerluakan sihir . Skill yang membuat lawan terpental oleh putaran angin yang dahsyat. Bandit itu seketika tak sadarkan diri.


Para bandit terkejut melihat temannya terpental hebat. Mereka akhirnya menyadari kalau lawannya itu bukan gadis biasa. Sisa penyerang itu saling bertatapan dan mengangguk. Sedangkan ketua mereka hanya tersenyum menikmati anak buahnya bertarung.

__ADS_1


Para bandit itu menjaga jarak dan mulai bergerak memutari kak June. Dua pengguna pedang dan satu pengguna pisau. Bergerak perlahan.


Kak June mengibaskan tangan kanannya. “Open item box! Keluarkan tongkat sihir.” Seketika muncul tongkat sihir sepanjang tubuh kak June di tangannya.


Sihir , sihir tingkat tinggi yang berfungsi membuat tas dimensi untuk memudahkan penggunanya. Ternyata kak June bisa menggunakannya. Aku baru tahu itu.


Kak June memasang kuda-kuda bertarung layaknya pengguna tombak. Sepertinya kak June bukan tipe penyihir yang bertarung hanya dari belakang.


Sebelum para bandit itu memutari kak June, kak June melesat menuju pengguna pisau. Dengan cepat kak June berada di depan pengguna pisau. Kemudian memutar tongkatnya dan mengenainya pas di ulu hati pengguna pisau itu.


Bandit pengguna pisau tidak dapat mengelak dari serangan cepat kak June. Dia terangkat dan terpental hingga menabrak pohon. Bandit itu mengeluarkan darah dari mulutnya kemudian tak sadarkan diri.


Setelah kak June menyerang pengguna pisau, kedua pengguna pedang menyerangnya dari dua sisi. Tapi dengan mudah kak June menghindari salah satu serangan dan menahan sisanya dengan tongkatnya.


Kak June mendorong tongkatnya dan membuat pengguna pedang yang serangannya tertahan kehilangan keseimbangan kemudian dia mengarahkan tangan kanannya ke arah badan si bandit. Kemudian dengan sihir yang sama yang mengalahkan pengguna kapak, kak June membuat terpental bandit pengguna pedang.


Tinggal satu musuh kak June. Dan kelihatan sekali dari tatapannya, bandit terakhir itu ketakutan. Dengan putus asa dia mengeluarkan Sword Skill. Tapi kak June dengan mudah mematahkan seragnannya dan membuat pedangnya melayang. Bandit itu terlihat tak percaya bahwa serangannya dengan mudah dipatahkan. Dan tiba-tiba….


*SRUK!!*


Kak June terkejut tapi mampu mengatasi situasinya. Dia dengan cepat mengeluarkan dan menahan serangan tiba-tiba dari pengguna hand claw.


Serangan tiba-tiba itu ternyata bukan serangan biasa. Serangan itu terlihat sama seperti Sword Skill. Tiga bilah cakar berbentuk pedang itu terlihat berwarna ungu terang tanda penggunaan skill. Dan serangan itu membuat kak June terpukul mundur beberapa meter meski tanpa luka.


“Wah-wah seranganku ternyata bisa kau gagalkan gadis kecil.” Ketua bandit itu menarik senjatanya dari tubuh anak buahnya. “Tidurlah yang tenang kawan.”


Anak buahnya hanya dapat menatap tidak percaya. Mulutnya mengeluarkan darah dan berakhir terbujur kaku diatas tanah.


“Kamu benar-benar biadab lebih dari yang kukira.” Ketus kak June.


Ketua bandit itu tertawa. “Mereka hanyalah orang-orang lemah. Pada akhirnya mereka sama sekali tidak berguna.” Ujarnya seraya mengebaskan tangannya dan membuat darah yang berada di senjatanya pun terciprat ke tanah.


Kak June memasang posisi siap menyerang. Ketua bandit itu tersenyum.


“Apa tidak apa-apa kau melawanku?” tanya ketua bandit dengan senyuman licik.


“Apa maksudmu?” balas kak June.

__ADS_1


Tiba-tiba ketua bandit itu menatap kepadaku. Aku terkejut. Untuk apa dia menatapku?


Tidak, dia tidak menatapku! Aku berbalik dan melihat ke arah belakang kereta kuda.


Aku melihat seorang penyihir yang baru saja selesai merapalkan sebuah mantra.


“SERANG KERETA ITU!!” teriak ketua bandit.


“ALVIN!!” kak June berteriak dan mencoba melindungi kereta. Tapi terlambat, dia terlalu jauh.


Sekarang di depan mataku mendekat dengan cepat sebuah bola api besar yang siap menghantam aku dan paman Armin.


Semua terasa lambat sekali. Aku mungkin bisa bertahan tapi… bagaimana paman Armin?


Disaat pikiranku mulai kosong. Tubuhku bergerak dengan sendirinya. Aku menggenggam pedangku menatap lurus ke arah bola api itu datang.


“Accel….”


Dengan cepat aku melesat maju menuju bola api itu. Aku menarik pedangku dan menebas bola api itu. Pedangku bercahaya biru muda dan memanjang melebihi ukuran seharusnya. Dan dari waktu 1 detik itu, bola api terbelah menjadi dua dan lenyap.


Aku tersadar beberapa saat setelah aku menebas bola api itu.


Apa yang terjadi? Tubuhku bergerak sendiri? Bahkan aku menggunakan skill ×dan skill dengan sendirinya.


Aku membuang semua pikiranku dan kembali fokus. Masih ada musuh yang harus aku lawan.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah penyihir yang hendak membakar habis diriku. Dia terlihat terkejut melihat sihirnya lenyap. Aku tidak membuang buang waktu dan segera menggunakan skill untuk mengejarnya.


Penyihir itu melemparkan bola-bola api kecil ke arahku yang sedang mendekatinya dengan cepat. Aku dengan mudah menghindarinya dan tetap terus mengejarnya tanpa mengurangi kecepatan.


Sedetik kemudian aku sudah berada di depan penyihir itu dengan posisi merunduk siap menebas dari bawah. Aku sudah memasukan kembali pedangku dan membiarkan sarungnya terpasang. Sarung itu tidak akan terlepas kecuali jika aku ingin. Tapi karena aku tidak berniat membunuh musuhku, aku menyerangnya selagi sarungnya masih terpakai.


Sarung pedang itu mengeluarkan cahaya biru muda. Aku menggunakan Sword Skill dalam seranganku kemudian pedangku mengenai milik penyihir itu. Sayang untuknya itu sia-sia.


Pedangku menghancurkan sihir pelindungnya kemudian menghantap tulang rusuk penyihir itu dengan keras dan membuatnya terpental. Terdengar suara retakan tulang rusuknya dan dia pun berakhir dengan memuntahkan darah dan tak sadarkan diri.


Aku menghelakan nafas. Entah beruntung atau bukan, setidaknya aku masih hidup saat ini.

__ADS_1


__ADS_2