My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Perjalanan Pertama


__ADS_3

“KAKAAAAAK BANGUUUN!!”


Teriakan yang sering kudengar apabila aku bangun kesiangan.


Suara itu berasal dari adik perempuanku. Di umurku yang ke 7, ibuku melahirkan seorang anak perempuan yang menjadi adikku. Namanya Whitney. Dan sekarang umurnya sudah menginjak 3 tahun. Dia amat suka mengikutiku. Hanya saja dia selalu takut untuk keluar rumah.


Disaat aku berlatih, dia selalu diam di kamarnya. Dan ketika aku istirahat atau libur, aku bermain dengannya.


Begitu umurnya menginjak 3 tahun, dia mulai sering keluar. Dia pun mulai ikut makan Bersama di ruang makan. Biasanya dia disusui oleh ibuku dikamar. Dan selama aku berlatih dulu, aku selalu dibangunkan olehnya. Jujur saja karena pelatihan yang melelahkan, itu membuatku terlalu nyenyak saat tidur.


Dan pada hari ini dia meminta sesuatu.


“Aku mau pergi ke pasar dengan kakak.” Pinta Whitney.


Aku menatapnya bingung. Biasanya dia tak berani menginjakkan kaki keluar rumah, sekarang dia ingin ke pasar bersamaku.


“Bawa aku.” Ucapnya memohon.


Ugh… sulit sekali menolaknya ketika dia mengeluarkan ekspresi seperti itu.


“Ibu, ini Whitneynya bu.” Ucapku memanggil ibu untuk membawanya kedalam rumah.


Ibuku datang seraya tersenyum. “Aduh sayangku, kakakmu ingin pergi sebentar. Nanti sore juga kembali.”


“Ga mau! Maunya ikut kakak!” seru Whitney.


“Ga boleh gitu sayang… nanti juga kakakmu kembali kok.”


“GA MAU!”


Mendengarnya berteriak gitu aku menghelakan nafas. Kemudian aku bertelut untuk menyamakan tinggiku dengannya.


“Whitney.” Ucapku pelan seraya mengelus kepalanya.


“Iya kak?” jawabnya senang. Mengira akan dibawa olehku.


“Tunggu kakak dirumah ya…. Jagain ibu, nanti kakak datang bawain sesuatu buat Whitney.”

__ADS_1


“Eummm…” Whitney terlihat murung mendengar jawabanku.


“Whitney bisa janji jagain ibu?” tanyaku.


“Bisa…” jawab Whitney pelan.


“Jagain ya sampai kakak balik nanti.” Ucap ku seraya tersenyum.


Whitney pun mengangguk. Dan kemudian dia dapat melepas kepergianku begitu aku menaiki kereta kuda dan bergerak menuju pasar.


Kak June yang sejak tadi memperhatikanku kemudian berbicara padaku ketika kereta kuda sudah berjalan.


“Dramatis sekali ya kalian.” Ucapnya mengejek.


Wajahku memerah. Dan mengalihkan pandanganku dari kak June. “Berisik ah!” jawabku kesal.


Kak June hanya tertawa melihatku salah tingkah. Kemudian dia tersenyum tapi senyumannya terlihat agak sedih.


“Kenapa kak?” tanyaku penasaran.


“Tidak… hanya saja…” kak June menatap kosong ke arah rumahku. “…aku hanya berharap aku bisa sepertimu.”


“Kakak bisa kok. Bagiku kakak sudah seperti kakak kandungku. Dan aku sangat menyayangi kakak.” Jawabku spontan.


Mendengar itu kak June seketika menatap kearahku dengan wajah yang memerah. Dia terlihat salah tingkah dan menurutku itu imut sekali.


“A-a-apa sih yang kamu katakana?!” dia menarik tangannya, menutup mulut dengan tangannya kemudian memalingkan pandangannya dariku.


Aku tersenyum melihat kelakuannya itu. Dan membuatku ingin menggodanya lagi.


“Telinga kakak memerah loh.” Ucapku usil.


“DIAAM LAAAH!!” teriak kak June dangan wajah merah padam.


Aku tertawa terbahak-bahak. Bahkan kusir yang dari tadi diam di depan ikut menahan tawa. Sepertinya dia memperhatikanku dan kak June.


***

__ADS_1


Perjalanan menuju pasar memakan waktu cukup lama. Tidak seperti di kehidupanku yang lama, yang bisa menggunakan mobil atau pun motor yang cukup cepat, kereta kuda tidak dapat bergerak cepat. Ditambah beban yang dibawa oleh kuda yang membuatnya berjalan lebih lambat.


Tapi aku tidak begitu risau. Aku menikmati perjalanan itu dengan antusias. Baru pertama kali aku berpergian sejauh ini. Dan juga pasar terdapat di kota sehingga aku bisa mempelajari banyak hal yang tidak dapat kupelajari secara langsung di desaku.


Selama perjalanan, aku dan kak June mengobrol Bersama dengan pak kusir. Dia orang yang ramah. Dia mengenal ayahku sudah sejak sebelum aku lahir. Dia bilang biasanya ayahku menjual hasil buruannya kepada dia ketika ayahku masih menjadi petualang.


Dia juga bercerita jika perjalanan kali ini terkadang sedikit rawan. Karena akhir-akhir ini bandit sedang berkeliaran. Dia bilang kalau sebenarnya dia sudah memberitahukan ayahku soal itu. Tapi ayahku hanya tertawa dan berkata kalau aku yang akan menendang pantat para bandit itu.


Mendengar itu aku hanya tersenyum canggung. Terkadang ayahku sedikit berlebihan menilaiku. Atau memang aku yang sudah menjadi kuat ya?


Di siang hari, akhirnya kami pun sampai di gerbang masuk kota. Aku terkagum-kagum dengan sebuah benteng besar yang mengelilingi kota itu. Terdapat beberapa orang yang berjaga disana. Mereka menggunakan zirah besi dan membawa sebuah tombak. Kami diberhentikan oleh penjaga itu.


“Halo Tuan Armin.” Sapa penjaga itu dengan ramah kepada pak kusir. Kalo diingat aku baru tau Namanya itu Armin.


“Halo.” Pak Armin membalas sapaan penjaga itu. Kemudian dia memperlihatkan sesuatu semacam kartu.


“Baiklah anda boleh masuk.” Penjaga itu kemudian menatap kak June. “Nona yang berada dibelakang tolong perlihatkan kartu pengenal anda.”


Kak June pun mengangguk dan memperlihatkan kartunya. Setelah itu penjaga itu mempersilahkan kami masuk.


Kereta kuda pun kembali berjalan. Aku bertanya-tanya apa itu kartu pengenal.


“Kak, apa itu kartu pengenal?” tanyaku pada kak June.


“Itu adalah kartu yang berisi informasi tentangmu. Mulai dari nama, pekerjaan, dan informasi lainnya seperti riwayat kriminal. Biasanya orang yang tidak memiliki kartu itu akan ditahan sementara untuk membuat surat keterangan. Tentunya itu memerlukan pemeriksaan yang lumayan rumit. Karena bisa jadi dia seorang kriminal.” Jelas kak June.


“Tapi aku tidak ditanyai atau pun ditahan.” Ucapku bingung.


Kak June tertawa. “Tentu saja kamu tidak ditanya Alvin, kamu masih berumur 10 tahun. Jadi tidak memerlukan kartu pengenal.”


“Kapan aku akan mendapat kartu pengenal?” tanyaku.


“Disaat umurmu 16 tahun, kamu akan mendapatkan kartu ini.”


“Apa itu berfungsi untuk masuk kota saja?”


“Tidak,” kak June menunjukkan kartunya. “Ini berfungsi untuk banyak hal. Kartu pengenal dibutuhkan untuk mencari pekerjaan, melihat status, dan melaporkan sesuatu. Bagi petualang, kartu ini sangat penting dan banyak kegunaannya.” Jelas kak June.

__ADS_1


“Itu juga dibutuhkan untuk mendapat izin berdagang loh.” Tambah pak Armin.


Aku mengangguk paham. Aku juga pasti butuh kartu itu untuk kedepannya.


__ADS_2