My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Merlin Wizcraft


__ADS_3

Kesibukan kota benar-benar berbeda dengan di desa. Banyak orang berlalu-lalang melakukan pekerjaannya. Tidak seperti desa yang sepi dan tenang, kota bernuansa dengan keramaian. Dan entah kenapa aku menikmatinya.


Tapi ada beberapa hal yang menggangguku. Kulihat terdapat beberapa orang berpakaian lusuh dengan kaki dirantai. Mereka dipaksa untuk mengerjakan sesuatu. Dan terkadang saat melakukan hal yang salah, mereka dipukuli. Itu membuat perasaanku tidak nyaman. Ditambah lagi tatapan kosong mereka yang terlihat tanpa harapan. Aku benar-benar merasa iba pada mereka.


“Itu Namanya budak Alvin.” Ucap kak June tiba-tiba.


Sepertinya dia melihatku memperhatikan orang yang disebut budak itu.


“Mereka itu orang-orang yang seluruh haknya diambil. Mereka terikat oleh rantai yang mengekang mereka. Hati mereka sudah menyerah dan hanya dapat pasrah menerima perintah walaupun perintahnya tidak masuk akal.” Tambah kak June.


Aku hanya terdiam mendengar itu. Entah kenapa hatiku merasa pilu. Ingin rasanya membantu tapi aku tidak dapat melakukan apa-apa.


Tak lama dari itu, kereta kuda berhenti secara perlahan. Kulihat sekeliling dan kali ini merasa takjub. Tempat kami berhenti, lebih ramai 2 kali lipat ketimbang saat berada di jalanan kota.


“Selamat datang di pasar kota.” Ujar pak Armin.


Aku dan kak June pun turun dari kereta kuda dan berterima kasih pada pak Armin.


“Terima kasih tumpangannya pak.” Ucapku.


“Nah, tenang saja. Ayahmu sudah banyak membantuku.” Ujar pak Armin seraya tersenyum. “Nanti sore aku akan menunggu disini. Sekarang kita berpisah dulu ya. Sampai nanti.”


Kereta kuda pak Armin pun berputar dan berjalan menjauh. Aku melambaikan tangan kepada pak Armin hingga dia tak dapat kulihat lagi.


“Sekarang ayo kita masuk pasar.” Ujar kak June.


Aku pun mengangguk. Kemudian berjalan berdampingan Bersama kak June.


Banyak sekali barang yang dapat kamu temukan di pasar ini. Dari mulai makanan, perhiasan, senjata, dan tentunya monster core. Teriakan-teriakan para penjual yang berusaha mendapatkan pelanggan memenuhi telingaku. Aku yang sudah lama tidak berada di keramaian jadi merasa tidak nyaman.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya kak June cemas.


“Gak apa-apa kok.” Jawabku dengan berusaha tetap tersenyum.


“Baiklah kalau begitu, sekarang kamu cari barang ini.” Kak June mengeluarkan secarik kertas.


Aku menerimanya dan membacanya. “Bibit bunga Spirit Enhancer?”


“Iya, itu tumbuhan yang bagus untuk melatih kekuatan spiritualmu. Dan juga bisa dipakai sebagai bahan pembuat pill pemicu kekuatan spiritual.”


Aku mengangguk paham.


“Dan untuk harganya biasanya seharga 2 koin perak per 5 butir bibit. Dan kalau sudah tumbuh, harganya pertungkainya bisa 3-5 koin perak. Untuk sekarang kamu dapatkan bibirnya yang seharga 2 koin perak. dan hari-hati, ada juga penjual yang licik. Gunakan sihir . Dan kalau bibitnya memancarkan energi spiritual, maka itu asli. Jika tidak jangan dibeli.” Jelas kak June.


“Siap boss.” Jawabku paham seraya berpose hormat.


“Kamu ngapain sih?” tanya kak June sambil tertawa geli melihat tingkahku. Kemudian dia mengeluarkan kantong kecil dari sakunya.


“Ini uang sebesar 3 koin perak. Gunakan dengan baik, dan kembaliannya kamu bisa pakai untuk sesuatu yang mau kamu beli.” kak June menyodorkannya padaku. “Hati-hati uangnya hilang atau dicuri.”


Aku mengangguk mantap. “Tenang saja, aku pasti bisa menjaganya.” Ucapku seraya mengacungkan jempol dan mengambil koin perak itu.


Di dunia ini, penggunaan uang masih menggunakan emas, perak, dan perunggu. Itungan aku mulasinya adalah 1 banding 10. 1 koin emas berarti 10 koin perak. Dan untuk 1 koin perak berarti 10 koin perunggu.


Aku pun beranjak pergi menuju pedagang yang terlihat menjual tumbuhan dan obat-obatan. Banyak sekali pedagang herbal yang ada disana. Terpajang juga harga-harga dari tumbuhan, pill, dan elizir. Dan bukan main harga dari pill dan elixir itu sangat mahal. Bahkan paling murah seharga 1 koin emas. Harga yang wajar untuk job alchemist yang kesulitannya tinggi.


Aku pun memutuskan untuk mendatangi salah satu pedagang yang ramai dikunjungi pelanggan. Terlihat banyak sekali orang yang mengerumuni tempatnya. Dan itu membuatku penasaran. Mungkin saja disana harganya lebih murah atau memiliki barang yang bagus.


“LIhatlah!! Belilah!! Kami menjual segala kebutuhan anda dengan harga yang murah!!” teriak seorang pembantu dari pedagang yang mau kukunjungi.


Aku pun melihat barang-barang itu dan agak kaget karena harganya hamper setengah lebih murah dari pada toko yang lain.


“Hai nak! Apa yang kamu cari?” tanya pedagang itu.


“Aku butuh bibit bunga Spirit Enhancer. Apa paman memilikinya?”

__ADS_1


“Tentu saja ada. Dan disini harganya lebih murah!! Kamu bisa mendapatkan 5 butir bibit Spirit Enhancer hanya dengan 1 koin perak!” seru pedagang itu.


“Benarkah?!” tanyaku antusias. Kalau begini aku bisa mendapat kembalian lebih banyak!


“Benar sekali!"


“Aku beli 5 butir paman!” pintaku.


“Baiklah!”


Pedagang itu berbalik badan. Sepertinya dia hendak membungkus bibit itu. Tak lama kemudian benar saja, dia memberikan bibit itu dengan sebuah kantung kecil.


“Ini nak! Jangan lupa bayar ya.” Jawabnya menyeringai.


Aku pun menerima kantung itu dan teringat perkataan kak June yang menyuruhku untuk berhati-hati terhadap pedagang. Aku memutuskan untuk mengeluarkan bibit itu sebelum membayarnya.


“True eyes.”


Seketika aku merasakan manaku bergerak menuju mataku. Warna dari seluruh pandanganku menjadi berwarna biru. Kemudian aku melihat ke arah bibit bunga Spirit Enhancer yang bentuknya sebesar kacang polong.


Bentuk dari bibit itu sama tidak ada bedanya. Namun jika kulihat, bibit yang mengeluarkan aura hanya satu butir. Aku pun mendecakkan lidah dan mematikan sihirku.


“Paman sialan, kau hendak menipukukan?” ucapku dengan wajah menahan amarah.


“APA KATAMU!!” dia berteriak keras dan membuat orang-orang disekitar berhenti dan menatap ke arah tokonya. “JANGAN SOK KAMU BOCAH!!”


Sialan dia mau menjatuhkanku dengan kedewasaannya. Karena aku malas untuk banyak bicara aku pun mengeluarkan sihir . Sihir tingkat menengah yang membuatku terselubungi oleh api.


Lingkaran muncul di bawah memutari kakiku. Kemudian kobaran api keluar dari lingkaran itu dan menyelubungiku. Orang-orang yang berada didekatku mundur menjaga jarak. Tentunya aku sudah memperkirakan apiku agar tidak mengenai siapapun.


“Aku hanya ingin membeli dengan baik-baik. Dan kamu berani menipuku.” Ucapku seraya memperbesar api untuk menakuti pedagang itu.


Sang pedagang menelan ludah. Sepertinya dia termakan oleh dominasiku dan membuatnya ketakutan.


“Me-memangnya kamu punya bukti apa!” serunya berusaha menutupi ketakutannya.


Api pun bergerak terus mendekatinya hingga hampir menyentuhnya. Tatapan tajamku pun tidak aku lepaskan darinya. Hingga akhirnya….


“IYA IYA MAAFKAN AKU!! AMPUUN!! MAAF SUDAH MAU MENIPUMU!!” teriak pedagang itu ketakutan.


Aku pun menghelakan nafas dan mematikan sihirku. Kemudian aku melempar bibit itu kea rah pedagang itu.


“HIIY!!” teriaknya. Saat dia berteriak gitu sumpah aku pengen ketawa. Tapi aku tidak mau merusak imageku jadi terpaksa kutahan.


“Sudahlah lupakan.” Ujarku seraya beranjak pergi. “Tokomu tidak bisa dipercaya.”


Aku pergi meninggalkan kerumunan orang yang terlihat terpana melihat kejadian itu. Dan setelah kejadian itu, tidak ada yang mendatangi tokonya lagi selama seharian penuh. Rumor bergerak sangat cepat ternyata.


Aku pun pergi ke toko yang lain. Aku memilih salah satu toko yang agak jauh dari situ agar tidak jadi tontonan lagi. Penjaga toko itu adalah seorang yang berumur dan memiliki senyuman yang ramah sehingga aku agak nyaman untuk bercakap-cakap.


“Selamat datang nak, apa yang sedang kamu cari?” Sapa pedagang tua itu.


“Apa bapak memiliki bibit bunga Spirit Enhancer?”


“Ya aku masih ada stoknya, bibit itu amat popular hingga banyak orang yang membelinya sejak tadi pagi. Untungnya masih tersisa 6 biji. Kamu bisa memiliki semuanya.” Ujar pedagang tua itu sambil tersenyum.


Aku membalas senyumannya. Ternyata bibit itu cukup popular ya.


“Ini nak bibit pesananmu.” Pedagang tua itu menyodorkan kantung kecil. “Kamu bisa mengecek keasliannya kok.” Dia tertawa kecil dan terasa seperti sindiran.


“Eumm… bapak melihat kejadian tadi?” tanyaku penasaran dengan tawa kecilnya.


“Yah, aku tadi lewat kesana. Kamu hebat sekali nak bisa menggunakan sihir sulit padahal kamu masih terlihat muda.”


Aku tersipu malu mendengar pujiannya. Pertama kali ada yang mengatakanku hebat selain keluarga dan teman dekatku. Aku pun menerima kantung kecil itu dan memeriksanya dengan .

__ADS_1


Keenam bibit itu ternyata memiliki pancaran energi. Pedagang tua itu tak berbohong.


“Berapa harganya pak?” tanyaku.


“Heemm…. Aku bisa memberimu bibit itu dengan harga 1 koin perak dan 5 perunggu. Tapi kamu harus memperlihatkan beberapa trik sihirmu.” Dia melihat tajam ke arahku. “Perlihatkan hiburan untukku.”


Aku menelan ludah. Entah kenapa aku merasakan hal yang berbeda pada pedagang tua itu. Dia sepertinya bukan orang tua biasa.


Aku pun mengiyakan tantangannya. Dan mulai berpikir apa yang bisa kujadikan tontonan. Karena aku hanya tau sihir-sihir untuk menyerang.


Pada akhirnya aku jadi kebingungan sendiri.


“Eumm.. sebenarnya aku agak bingung bagaimana mengeluarkan sihirnya.” Ucapku canggung.


Pedagang tua itu mengangguk mengerti. “Kalau begitu coba serang aku dengan sihir terbaikmu.”


Mendengar itu aku terkejut. Bagaimana mungkin aku menyerangnya? Bisa jadi pedagang tua itu terluka parah bahkan mati!


Melihat keraguanku, pedagang tua itu berdiri dengan tongkatnya kemudian mengetukkan tongkatnya.


Seketika seluruh orang yang berada disana menghilang. Tampilan pedagang tua itu pun berubah. Yang awalnya hanya menggunakan baju layaknya orang sekitar, tiba-tiba dia sudah menggunakan jubah dan sebuah topi khas penyihir seperti kak June. Lengkap dengan kalung Ruby di dadanya.


Aku menatapnya kemudian melihat ke sekitar dengan tatapan kaget.


Bagaimana bisa dia berubah dan membuat semua orang disekitar sana menghilang begitu saja!


“Itu adalah sihirku nak, sihir dimensi. Sihir tingkat tinggi yang membuat ruangan dimana tidak akan mempengaruhi yang lain. Disini kamu bebas mengeluarkan sihirmu.”


Aku memandang tak percaya pada pedagang tua itu. Ternyata dia bukan sekedar pedagang tua! Dia juga seorang penyihir tingkat tinggi!


“Serang aku dengan sihir terbaikmu. Jika kamu tidak melakukannya, lupakan bibit yang kamu inginkan.”


AAAH!! Sial! Aku cuma harus nyerang kan! Ugh…. Sihir terkuatku…. Dengan Afinitas air dan apiku yang tinggi, aku akan menggunakan sihir gabungan air dan api. Ditambah dengan sihir angin untuk penyerangannya. Oke akan kulakukan itu.


Aku mengangkat tangan kananku ke depan. Tangan kiriku menggenggam pergelangan tanganku. Aku mulai memfokuskan imajinasiku. Pertama membentuk bola api. Bola api yang kecil namun padat.


Muncul kobaran api di tanganku dan menjalar kemana-mana. Dengan energi spiritualku, aku mengendalikan api itu dan membuatnya padat hingga ukurannya sebesar bola baseball.


Kemudian aku memunculkan air. Air mulai muncul dari sekitarku dan berputar. Bergerak menyelimuti api itu. Perlahan namun pasti. Air itu pun menyelimuti bola api itu.


Air itu mulai bergejolak karena panas dari bola api ditengahnya. Kemudian aku melepaskan sihir kombinasi ketiga yang berfungsi sebagai pelontar. Dengan sihir angin , aku melontarkan bola api yang diselimuti oleh air.


Dengan cepat sihirku melesat dan berubah menjadi sebuah sayatan yang berisi api dan air. Menghasilkan sebuah sayatan yang sangat panas. Dengan kecepatan penuh melesat menuju ke arah penyihit tua.


Penyihir tua itu mengeluarkan sihir . Sihir pertahanan tingkat tinggi yang sulit untuk dihancurkan. Dan begitu sihirku mengenai nya, sihirku tertahan namun masih melaju melawan penyihir itu.


“HEBAT SEKALI!! Kamu dapat mengkombinasikan 3 elemen sihir! Tapi apa hanya segini saja?!!” seru penyihir tua itu.


Aku tersenyum kecil. Dan tak lama dari itu seketika sihirku meledak dahsyat. Mengeluarkan uap yang amat panas. Hasil dari penggabungan sihir air dan apiku meledak dan menghempaskan penyihir tua itu. Tapi ketika aku melihatnya dengan seksama, ternyata dia dapat bertahan dari serangan itu!


Penyihir tua itu tertawa. “HEBAAAT!! Aku tak menyangka kamu dapat membuatku mundur oleh sihirmu!” dia mendekatiku perlahan. Dan itu membuatku waspada.


Tapi entah kenapa aku tidak melakukan perlawanan lagi. Rasanya seperti dia mendekatiku tanpa niatan menyerang. Dan begitu dia berada dihadapanku, dia mengelus kepalaku.


“Kamu benar-benar penyihir cilik yang hebat.” Ucapnya seraya tersenyum tulus.


Aku hanya tersenyum canggung. Jujur saja aku masih takut pada penyihir ini.


“Karena aku sudah melihat hal yang luar biasa aku akan pergi sekarang.” Ujar penyihir tua itu.


“Ba-bagaimana dengan uang untuk bibitnya?”


“Kamu bisa memilikinya nak, itu sebagai rasa terima kasihku karena sudah menghiburku.” Penyihir tua itu berjalan menjauh namun dia berhenti lagi dan berbalik.


“Dan juga, ketika umurmu menginjak 15 tahun, temui aku di Akademi ksatria Goldendawn. Sebut saja namaku…. Namaku Merlin Wizcraft.”

__ADS_1


Setelah berkata itu dia seketika menghilang. Sepertinya dia menggunakan skill tingkat tinggi .


Aku hanya terdiam melihat kepergiannya. Mematung disaat seluruh keadaan sekitar kembali normal.


__ADS_2