My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Pertemuan Kembali


__ADS_3

“Apa engga keliatan aneh aku pakai baju begini?”


Kak June tersenyum lebar. “Enggak kok, kamu terlihat tampan.”


Aku hanya dapat menghelakan nafas panjang. Aku sekarang sedang mengenakan pakaian ala pangeran dengan warna dominan putih dipadu dengan warna biru seperti rambut putih dan mata biruku. Bentuknya terlihat mirip jas seperti di duniaku yang sebelumnya tapi lebih rapat dan bentuknya sedikit berbeda. Di bahuku terdapat jubah berkerah berwarna putih dan di dadaku melingkar rantai kuning yang menyambukan sisi dari jubah yang kukenakan. Sumpah ribet banget.


Kak June memegang bahuku dari belakang. “Sekarang saatnya mengatur rambutmu.”


“Gak gini aja?”


“Diatur dong biar keliatan formal.” Jawab kak June jail.


“Uuuh.. terserah kakak deh.”


Aku pun menyerah. Kak Junemulai mengolesi tangannya dengan minyak rambut kemudian dengan perlahan


mengatur rambutku dan menatanya menjadi kearah belakang dengan menyisakansedikit poni di dahiku.


“Astaga Alvin.”


“Kenapa kak?”


“Aku tau kamu ganteng. Tapi sekarang kamu ganteng dan keren banget.” Ucap kak June dengan wajah tak percaya.


"Apaan sih." Aku tersipu malu mendengar perkataannya.


“Boleh aku menciummu?” tanya kak June tiba-tiba.


Aku terkejut dan memalingkan wajahku. “Engga boleh!”


Kak June tertawa. “Cuma bercanda kok.”


***


“Sudah siap?” tanya paman Gason di tempat kusir.

__ADS_1


Aku dan kak June mengangguk. Paman Gason pun memecut kudanya dan kuda pun mulai bergerak maju. Kereta kuda yang kami naiki berbeda dari sebelumnya. Paman Armin menawarkan bahkan menyuruhku untuk menggunakan kereta kuda khusus untuk meeting paman Armin. Dan beneran bukan main mewahnya.


Aku menghelakan nafas. Sebenernya aku ga mau menarik banyak perhatian.


Kereta kuda berjalan di jalanan kota. Aku melirik ke luar jendela kereta kuda dan melihat banyak orang berhenti dan memandangi kereta kuda yang kunaiki. Astaga ini memalukkan.


Aku menyandarkan tubuhku lebih keras mencoba bersembunyi dari tatapan orang diluar.


“Kamu kenapa sih?” tanya kak June yang daritadi memperhatikan kelakuanku.


“Aku hanya merasa ini memalukkan.”


“Tenanglah bukankah dengan ini kamu akan terkenal?”


“Aku ga mau menarik perhatian yang ga perlu kak.” Jawabku kesal.


“Yah, mau gimana lagi….” kak June mengalihkan matanya dengan canggung.


Ya sudahlah yang terjadi maka terjadilah.


Aku berharap menggunakan pakaian seperti itu ketimbang pakaian mewah yang kupakai.


Tiba-tiba, kereta kuda berhenti bergerak dan membuatku berhenti memikirkan masalah pakaian. Lalu terdengar suara paman Gason dari tempatnya.


“Sudah sampai.”


Aku dan kak June pun turun dari kereta kuda. Dan benar saja, ada banyak orang yang memperhatikan kami. Meskipun begitu, ternyata ada juga orang-orang yang tidak acuh.


“Kalau gitu aku akan kembali ya.” Ujar paman Gason.


“iya paman terima kasih.” Ujarku seraya melambaikan tangan.


Kereta kuda pun berputar balik dan mulai berjalan pergi.


“Kak June mau nganter sampai mana sih?”

__ADS_1


“Aku? Hmmm sebenernya aku mau nostalgia dulu kedalam jadi aku akan menemanimu sampai kamu dapat asrama. Lagipula akademi ini terbuka untuk para alumni. Dan aku juga ingin menemui guruku sebelum pergi.”


“Oh begitu ya. Ngomong-ngomong, kenapa semua orang terlihat seperti mau ke pesta sih? Termasuk aku dengan pakaian ini.”


Kak June tertawa kecil. “Enggaklah masa pesta. Memang sudah dari dulu seperti ini. Yang pasti ini dikarenakan kebanyakan siswa yang masuk kesini adalah para bangsawan dari berbagai negri.”


“Tapi adakan yang bukan bangsawan?”


“Iya ada contohnya aku.” Ujar kak June.


Ketika aku memperhatikan kak June, ekspresinya sedikit tidak mengenakkan hati.


“Sebenarnya Alvin, aku hanya tidak mau kamu merasakan hal yang kurasakan dulu.”


Terlihat kesedihan di mata kak June. Rasanya ada yang mengganjal di hatiku saat melihat ekspresinya.


“Ka-kak June…” aku memegang bahunya.


Kak June menatapku dan tersenyum lebar. “Sudahlah itu sudah lewat. Sekarang ayo kita masuk. Dari tadi kita malah ngobrol di depan gerbang.”


“I-iya juga.” Aku tertawa kecil.


Kami berdua pun berjalan masuk kedalam. Tapi tiba-tiba muncul sesuatu begitu aku menginjakkan langkah pertamaku ke dalam area akademi.


“A-apa ini?”


Muncul sebuah lingkaran dari bawah kakiku dan aku berada ditengah-tengahnya.


“Itu lingakaran teleportasi!” kak June segera mendekatiku dan menggenggam lenganku.


Seketika cahaya menerangi aku dan kak June. Aku menutup mataku. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan setelah beberapa saat aku menyadari bahwa aku dan kak June sudah berpindah tempat dan berada disebuah ruangan luas dengan banyak rak buku. Dihadapan kami berdua terdapat seseorang yang tak pernah bisa aku lupakan sejak 10 tahun yang lalu. Seorang lelaki tua dengan janggut tebal dan pakaian penyihir yang lebar.


“Selamat datang nak. Lama tak berjumpa.”


Di hadapanku seorang penyihit terkuat. Sedang duduk di sebuah bangku dengan meja persegi panjang yang lebar. Menatap ke arahku.

__ADS_1


“Ha-halo tuan Merlin.”


__ADS_2