
Di atas kursi empuk yang amat nyaman, aku terduduk manis di dalam ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku yang tersusun rapi di setiap dinding ruangan. Aroma teh yang menyejukkan membuatku semakin menikmati suasana santai ini. Akupun mulai meminu-
“Hey."
Aku menoleh dan menemukan wajah kak June yang sedang merasa terganggu akan sesuatu.
"Ke-kenapa kak?"
"Wajahmu tadi terlihat seperti seorang puitis murahan sedang memikirkan bait-bait puisi yang tidak bagus."
"Eeeh? Sejelas itu ya?"
Yah memang sedikit memalukkan melakukan narasi yabg tidak jelas dalam pikiranku sendiri.
"Ngomong-ngomong kakak ga ngajar sekarang?" tanyaku pada kak June yang sedang mengoreksi kertas jawaban.
Kak June menghentikan pena berbentuk bulunya dan menatap tajam padaku.
"Harusnya aku yang nanya, kenapa kamu ga masuk kelas wahai murid?"
"Kakak harusnya tau dong, lihat tanganku yang menyedihkan ini." aku mengangkat tanganku yang masih terbalut kain kearah kak June.
"Ya setidaknya istirahatlah di ruangan medis dasar."
"Enak disini sih, ada tehnya." jawabku seraya menyeruput teh di tanganku.
"Tok tok." Terdengar suara ketukan pintu.
"Ya masuklah." ujar kak June.
Pintu pun terbuka dan terlihat seorang wanita cantik dengan rambut pirang dan telinga panjang. Berbalut jas putih panjang yang tak lain adalah Bu Erine.
"Hai June, aku ingin bertanya soal.." Bu Erine menengok ke kiri dan melihatku yang sedang duduk nyaman dengan wajah tanpa dosa.
"Hai Bu Erine."
Bu Erine seketika mendekatiku. Itu sedikit membuatku panik.
"Kamu kenapa malah disini hah?!" seru Bu Erine seraya menarik keras telingaku.
"A-adadaw!!" rintihku.
Aku menatap kak June namun dia melirik acuh tak acuh dan kembali pada pekerjaannya.
"Dasar kamu. Sudah kubilang kalau kamu tidak ikut kelas fisik datang ke ruangan medis." ujar Bu Erine seraya melepas tarikannya. "Aku sampai mencarimu kemana-mana."
__ADS_1
"Aduduh, habisnya disana ga ada orang. Dan itu membosankan." keluhku.
"Kamu mau yang sebelahnya kena tarik?" ancam bu Erine seraya menunjuk telingaku yang belum terkena damage.
Aku menggeleng cepat serya menutup telinga yang ditunjuk bu Erine.
Bu Erine menghelakan nafas. "Sekarang ikut aku ke ruangan medis."
"Baiklah."
"Urusanmu itu soal Alvin?" tanya kak June sesaat sebelum aku dan bu Erine keluar.
"Yah begitulah. Sampai nanti June."
"Dah kak June." ucapku seraya tersenyum kemudian menutup pintu.
Aku dan bu Erine berjalan bersebelahan. Bu Erine terlihat lebih tinggi dibandingkan aku. Tubuhnya benar-benar seperti model yang amat ideal. Ditambah wajahnya yang cantik pasti membuat para lelaki dimabuk kepayang olehnya.
"Ka-kamu ngapain sih ngeliat kayak gitu?" tanya bu Erine seraya menutup mulutnya dengan lengannya. Dia terlihat tersipu.
Aku tersenyum kecil. "Yah, ibu benar-benar amat cantik hari ini seperti biasanya."
"Ka-ka-kamu ngomong apa sih?" tanya bu Erine seraya memalingkan wajahnya dariku. Wajahnya semakin memerah membuatku tertawa jail.
"Sekarang kamu diam disini. Jangan kemana-mana." ujar bu Erine sedikit kasar. Yah aku mengerti sih perasaannya.
Aku pun duduk di salah satu dari kasur yang terjajar disana. Suasana yang terlihat seperti ruangan rumah sakit kecil itu tak disangka cukup nyaman juga.
Aku memperhatikan bu Erine yang sedang duduk dibangkunya. Dia mulai mengeluarkan berbagai bahan obat dan mengeluarkan "tungku" dari [Item Box]nya. Itu membuatku sedikit terkejut mengetahui kalau bu Erine adalah seorang Alchemist.
Aku pun segera berdiri dan menghampiri bangku bu Erine. Kemudian aku pun duduk di kursi di depan bangkunya.
"Ke-kenapa kamu duduk disini sih?" tanya bu Erine.
"Tak apa. Aku hanya ingin melihat dari dekat apa yang ibu lakukan." ujarku.
Bu Erine menatapku dengan tatapan bingung. "Yah tak apa sih. Tapi jangan ganggu aku."
Aku tersenyum dan mengangguk menurut pada perintah bu Erine.
Bu Erine mulai menyalakan tungkunya dengan api yang terlihat lebih kekuningan daru api biasa. Dia pun mulai memasukkan bahan-bahan yang telah ia siapkan satu persatu. Kemudian dengan fokus yang luar biasa ia mulai mengendalikan apinya besama dengan suhu api itu di dalam tungku.
Aku menatap dengan serius. Dia terlihat lebih pandai ketimbang kak June dalam pembuatan obat. Aku bahkan dapat melihat perbedaan kemampuan dari mereka yang terlihat cukup jauh.
Setengah jam terasa amat cepat. Padahal aku hanya memperhatikan bu Erine saja. Dan kelihatannya bu Erine telah selesai.
__ADS_1
Bu Erine dengan sigap mematikan tungku dan menggunakan sihirnya untuk mengambil bahan yang sudah tercampur dan terlihat seperti gumpalan berwarna hijau. Kemudian ia menggunakan kedua tangannya dan mulai memadatkan gumpalan itu menjadi tiga bulatan sempurna tanpa menyentuhnya. Dan setelah itu gumpalan yang sudah menjadi tiga pill berbentuk seperti kelereng ia turunkan dan ia letakkan di atas selembar kain putih kecil.
"Akhirnya selesai." ujar bu Erine. Dia kemudian menatapku dan terlihat terkejut. "Loh kamu masih ada disini?"
Aku melihat bu Erine bingung. "Memang kenapa?"
"Kukira kamu telah duduk atau tertidur diatas kasur. Tak kusangka kamu benar-benar memperhatikanku dalam pembuatan pill ini."
Saking seriusnya sampai aku pun tak ia sadari. Fokus yang menakutkan.
"Ngomong-ngomong ini pill apa bu?"
“Ini pill penyembuh tingkat menengah. Dan ini kuberikan untukmu."
"U-untukku?!" aku sedikit terkejut.
Bu Erine mengangguk. "Memang aturan dari akademi untuk memberikan pengobatan terbaik disini. Dan tenang saja, semua biaya bahan ditanggung oleh akademi. Jadi kamu tak perlu khawatir."
"Aku penasaran siapa yang menjadi sponsor akademi ini." ucapku seraya memegang dagu.
Bu Erine tertawa kecil. "Itu sih langsung dari kerajaan."
"Langsung dari kerajaan?"
Bu Erine mengangguk pelan. "Sponsor paling besar tentunya dari kerajaan, karena akademi ini mencetak banyak ksatria dan penyihir yang kebanyakan akan di jadikan salah satu prajurit kerajaan. Dan seorang prajurit kerajaan sudah dipastikan kesejahteraan hidupnya. Ditambah apabila berprestasi, maka bisa saja mendapat gelar kebangsawanan. Maka dari itu banyak orang yang mati-matian masuk akademi ini."
"Ternyata begitu ya." aku mengangguk paham.
"Dan juga yah tentu bantuan kerajaan tidak hanya dari satu kerajaan. Bahkan kerajaan dari ras yang berbeda memberikan banyak uang kesini. Bisa dibilang akademi ini amat sangat kaya."
"Benar juga ya."
"Dan yah, karena itu banyak yang mengincar kepala sekolah disini. Dan parahnya kepala sekolah saat ini sedang dalam kondisi yang berbahaya." ujar bu Erine yang terlihat murung
"Memangnya apa yang terjadi pada pak Wiz?"
Mendengar itu bu Erine terlihat terkejut dan menutup mulutnya. "Ti-tidak apa-apa kok! Lu-lupakan yang aku ucapkan tadi!"
Aku menatap heran pada bu Erine. Tapi tentunya aku sadar jika ada sesuatu yang terjadi pada pak Wiz. Mungkin akan kutanya Aria atau kak June soal ini.
"I-ini ambilah pil ini! A-aku ada urusan dulu jadi selamat tinggal." bu Erine pergi setelah memberikan pil yang ia buat dan pergi begitu dengan panik.
"Ah, dia pergi. Padahal aku mau memintanya untuk mengajariku soal alcemist. Yah masih ada waktu sih sampai tanganku sembuh. Aku tak perlu terburu-buru."
Aku menyimpan pil itu kedalam [Item Box]ku dan keluar dari ruang medis dengan kekhawatiranku pada pak Wiz.
__ADS_1