
Fiuuuh....
Helaan nafasku begitu menyegarkan saat ini. Tubuhku sekarang seperti baru saja meningkat ke tingkatan yang baru. Seperti seorang yang telah menahan air besarnya selama seharian dan sekarang berhasil mengeluarkannya dengan lancar tanpa hambatan. Ini benar-benar Ahhhh..... Lega sekali.
Energi spiritualku telah meningkat menembus ke level 25. Perasaan yang diluapi oleh kekuatan amat sangat luar biasa. Dan bahkan saat aku lihat statusku dengan sihir [Status], banyak sekali peningkatan yang aku dapatkan. Dengan begini aku bisa berlatih untuk menapaki jalan yang selanjutnya.
Aku amat berterima kasih pada kak June yang telah membantuku selama ini. Bahkan membuatkanku sebuah pill untuk memperlancar perkembanganku. Terimakasih wahai guru loliku.
Dan akhirnya tak terasa 3 bulan pun telah berlalu. Pergantian musim telah terjadi. Dan tentunya sesuai jadwal, masa orientasi selama 3 bulan pun berakhir. Yang berarti bahwa ujian kedua sebagai penentu apakah para peserta akan menjadi seorang murid resmi dari akademi Goldendawn pun dimulai.
"Semua berbaris sesuai asrama kalian!!" teriak petugas.
Seluruh peserta pun mulai berbaris rapih. Aku berada di barisan terdepan sebagai ketua dari kelompokku. Dan seperti biasa aku sebenarnya malas berada di depan sini.
Setelah semua berbaris, Pak Wiz pun datang dengan sihir yang menakjubkan seperti biasa. Dia terbang dan mendarat mulus di depan seluruh peserta. Dan yang lucu adalah kedatangannya diakhiri oleh gaya yang sedikit norak. Aria bahkan terlihat malu melihat kakeknya itu.
"3 bulan sudah kalian mendalami semua pelajaran yang kami berikan. Kalian pun telah berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan bahwa kalian bisa berada disini. Dan sekarang usaha kalian perlu membuahkan hasil. Dengan ujian yang harus kalian lewati, maka kalian akan membuktikan bahwa kalian pantas untuk menjadi murid dari akademi Goldendawn ini."
Gaya bicaranya memang selalu enak didengar. Setidaknya aku akan respect pada hal itu.
"Dan untuk ketentuan ujian akan dijelaskan oleh petugas ujian. Kalau begitu sampai jumpa."
Dan dia pun hilang. Terkadang aku agak kesal dengan perginya dia secara tiba-tiba dan membuat sebuah keheningan yang tidak nyaman diantara setiap orang.
"Ehem." seorang petugas mencoba mencairkan suasana. "Baiklah, untuk ketentuan ujian kali ini, kalian perlu waspada. Karena kalian akan masuk ke dalam hutan Hera. Hutan yang diisi oleh banyak magical beast dan monster. Disana kalian harus bertahan hidup selama seminggu dan mendapatkan monster core atau inti monster tingkat menengah untuk setiap anggota kelompok. Atau simpelnya, carilah 5 monster core selama seminggu."
Semua orang tertegun mendengar pernyataan itu. Jujur aku pun cukup kaget. Mengingat pertarunganku melawan Big Black Bisson itu sudah cukup mengerikkan. Dan cukup sulit juga bila harus melawan 5 dari monster seperti itu.
"Soal keselamatan, kalian tidak perlu khawatir. Para petugas akan memastikan tidak ada yang akan ada yang mati diantara kalian. Tapi jika kalian terluka, itu adalah kesalahan kalian sendiri. Meskipun luka itu cukup parah."
Jadi kalau aku kehilangan anggota badanku maka itu kesalahanku dan tak bisa menuntut? Sial ini cukup mengerikkan untuk dilakukan.
Setelah itu para petugas satu persatu berdiri dihadapan para kelompok dan menggunakan sihir secara bersama-sama. Mereka mengangkat tangan dan mengarahkannya tangannya ke setiap kelompok. Sebuah lingkaran sihir muncul ditangan mereka dan memuncuklan sebuah gerbang sihir. Kelihatannya kita akan berpindah dengan gerbang itu.
"Semua kelompok silahkan masuk gerbangnya masing-masing. Kalian akan langsung dipindahkan secara acak di dalam hutan Hera. Selalu waspada dan berhati-hati. Meski pun para petugas menjaga kalian namun tidak menghilangkan kemungkinan kecil kaliam akan kehilangan nyawa bila tidak waspada."
Semua peserta saling berpandangan. Rasanya memang sedikit mengkhawatirkan. Namun mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa menghadapinya.
"Baiklah! Ayo kita masuk!" seruku pada kelompokku.
__ADS_1
Kami pun mulai memasuki gerbang sihir di hadapan kami. Seketika cahaya mulai menerangi pandangan dan saat cahaya itu redup, aku dan semuanya telah berpindah tempat ke tempat yang berbeda.
"Whoaa! Keren sekali!" ujar Shamus.
"Ini bukan pertama kalinya kamu berpindah tempat tau. Harusnya ini sudah biasa." jawab Aria. Entah kenapa dia jadi badmood gitu.
"Aku kagum bukan pada sihir itu. Tapi lihat sekeliling kalian!" seru Shamus.
Kami pun melihat ke sekeliling kami. Dan benar sekali ucapan Shamus. Pemandangan yang hijau, burung-burung bertengger di pepohonan yang unik. Dan nuansa kehidupan yang melimpah ini benar-benar luar biasa. "Jadi ini hutan Hera?"
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Aria.
Aku pun memandang setiap anggota kelompokku. "Baiklah, kita akan berbagi tugas untuk setiap orang. Karena kita akan hidup selama seminggu disini dan itu tanpa perbekalan sedikit pun. Ujian ini memang terlalu mendadak, namun kita harus bisa menyiapkan semuanya sebelum matahari terbenam."
Semua pun mengangguk dan menjawab.
"Baik!“
Aku pun mulai memberi arahan.
"Shamus dan aku akan mencari tempat yang memungkinkan untuk ditempati. Kuro tangkaplah beberapa binatang yang dapat dikonsumsi. Dan kalian para gadis siapkanlah peralatan untuk memasak. Karena kita pasti butuh makan setelah ini."
Semua pun mengangguk paham dan mulai mengerjakan tugasnya masing-masing. Dan ssat ini aku sedang bersama Shamus mencari tempat yang dapat ditinggali.
Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Jikalau ada sesuatu didalam gua kamu mau apa hah?" tanyaku seraya mengetuk kepala Shamus dengan ranting kayu yang akan digunakan sebagai bahan bakar.
"Ya tinggal kita bunuh saja." jawabnya santai.
Aku menghelakan nafas. "Kuharap aku tidak akan mati bila di dekatmu."
Shamus hanya nyengir mendengar ucapanku. Astaga si bodoh ini memang tidak berpikir ke depan. Hmm... Tapi tunggu. Kalau menemukan gua, ada kemungkinan terdapat monster tingkat menengah yang harus dikalahkan bukan? Mungkin idenya tidak terlalu buruk.
Kami berdua pun terus berjalan seraya memunguti ranting pepohonan. Dari yang kulihat, tidak banyak monster disekitar kami. Yah, itu berarti aku dan kawanku tidak akan menetap di satu tempat. Namun akan berpindah-pindah.
Aku menghelakankan nafas. "Kelihatannya kita tidak menemukan tempat yang nyaman. Mungkin kita akan merebahkan diri di tanah dan tidur dengan seadanya."
"Sepertinya kamu benar Vin. Ayo kita kembali." ajak Shamus.
Lalu seketika aku merasakan hal yang tidak nyaman.
__ADS_1
"Tunggu... Aku merasakan sesuatu."
"Sesuatu?"
"Stttt.. Diamlah."
Aku menyuruh Shamus menunduk dan mulai mengintip dari balik semak-semak. Betapa terkejutnya aku saat melihat yang ada didepanku. Ada seekor monster dengan badan yang cukup besar dan berwajah seperti ****. Dia membawa sebuah kayu besar yang terlihat seperti pemukul.
"I-itu..."
"Itu Orc." jawab Shamus. "Ayahku sering melawannya setiap masuk hutan."
"Mukanya jelek banget sampe bikin gugup." keluhku.
"Mau dilawan ga?"
Aku tersenyum. "Jangan ganggu aku ya."
Aku dengan cepat menerjang menggunakan [Accel] dan melesat dengan pedang dipinggangku. Saat jarakku agak dekat dengan Orc itu aku melompat sedikit dan menebaskan pedangku tepat dilehernya.
Orc itu tak menyadari apapun. Dia hanya berdiri dan berbalik saat mendengar suaraku. Namun terlambat baginya karena pedangku sudah melewati lehernya. Sedetik kemudian kepalanya pun terputus dari badannya.
"Ini terlalu mudah." ujarku.
Shamus pun keluar dari semak-semak dan mendekatiku.
"Aku bisa mengalahkannya lebih cepat." ujar Shamus.
"Hooh? Aku tidak yakin itu."
"Orc itu hanya mangsa lemah." jawab Shamus.
*Oink...*
Terdengar suara ringikan ****. Dan itu segera mambuatku dan Shamus bersiaga.
"Kupikir Orc itu tidak sendirian."
"Ya, seperrinya." jawab Shamus.
__ADS_1
Benar saja. 4 ekor Orc muncul ke hadapanku dan Shamus dengan bersenjatakan lebih lengkap dari Orc sebelumnya. Mereka menggunakan armor rusak yang kelihatannya didapatkan dari petualang yang mereka kalahkan.
"Kelihatannya, yang ini akan cukup sulit." ujarku dengan tersenyum menantang.