My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Reruntuhan Kuno


__ADS_3

>> Sudut pandang June Cordelia <<


Ugh.. Aku merasa amat khawatir dengan ujian yang sedang dilaksanakan Alvin. Kalau dipikir lagi ini ujian yang cukup sulit. Untuk berburu di hutan Hera butuh kemampuan yang matang. Aku hanya bisa berharap tidak terjadi masalah disana.


Aku kembali melihat lembar kerjaku yang agak menumpuk. Semenjak menjadi guru akademi aku jadi banyak berurusan dengan berkas-berkas. Untungnya para murid tetap sopan meski tubuhku seperti ini. Yah terbilang lebih pendek dari mereka semua.


Sebenarnya aku ingin mengatakan kebenaran tentang ras Leegel. Bukan sekedar masalah kemampuannya tapi tentang kondisi rasku sekarang. Hanya sedikit orang yang mengetahuinya dan aku ingin Alvin mengetahuinya.


Aku menghelakan nafas berat. Mungkin nanti akan kuberitahu. Semoga saja dia tidak terkejut. Mungkin kebenaran ras tidak akan mengejutkannya, namun ada satu lagi yang aku sembunyikan. Dan ini soal diriku. Kalau ini tidak ada yang mengetahuinya selain diriku sendiri. Apa jika Alvin tau dia akan membenciku?


"Aaaah!! Aku males ngapa-ngapain." teriakku di dalam ruang kerjaku.


Terlalu banyak kerjaan. Aku jadi ingin minum teh dan ngemil kue.


Aku pun berdiri dari kursiku kemudian beranjak menuju ke meja perlengkapan. Aku mengambil teko dan bubuk teh. Tapi, saat hendak membuat secangkir teh, terdengar suara di pikiranku.


"June Cordelia."


Hmm? Suara pak Wiz?


“Temui aku di kantor kepala sekolah. Ada hal penting yang harus dibicarakan." ujar suara di kepalaku.


"Baik pak."


Aku pun meletakkan kembali tekoku di tempatnya. Sayang sekali aku harus menunda acara ngetehku. Tapi yah mau gimana lagi.


"Teleportation."


Seketika aku sudah berada di depan ruang kepala sekolah. Aku pun mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuklah."


Aku pun membuka pintu ruangan itu dan menemukan pak Wiz yang sedang duduk serius dan seorang petugas yang ditugaskan di area ujian.


"Ada masalah apa?" tanyaku.


Pak Wiz menghelakan nafas. Kemudian menatap petugas itu. Petugas itu pun mengangguk dan berbalik kepadaku.


"Kami menemukan kejanggalan di area hutan Hera." ucap petugas.


Aku sedikit terkejut. Rasa khawatirku naik dengan cepat. Alvin ada disana. Bisa jadi dia dalam bahaya.


"Jelaskan kejanggalan itu." ujarku.


"Kami menemukan beberapa monster tingkat rendah yang seharusnya tersegel bersama raja iblis." jelas petugas.


"Monster tingkat rendah seperti goblin?" tanyaku.


Petugas itu mengangguk. "Goblin, Orc, imp. Dan yang paling bermasalah Ogre."


Aku terkejut mendengar itu dan segera menggenggam bahu petugas itu dengan keras. "Ogre itu bukan monster tingkat rendah lagi. Kamu harus menghentikan ujian ini."


"Tenang dulu June." ucap pak Wiz.

__ADS_1


Mendengar itu aku menjadi kesal dan menaikkan suara. "Bagaimana aku bisa tenang?! Ada Ogre disana dan itu akan membahayakan para murid!!"


"Soal Ogre itu sudah diatasi oleh para petugas. Mereka berhasil mengalahkan Ogre itu." Jelas pak Wiz.


Aku kembali menatap petugas dengan tajam. "Apa benar?"


Petugas itu mengangguk cepat. "Sebenarnya masalahnya bukan hanya disitu."


Aku menghelakan nafas. Tentunya aku mengerti. Masalah yang lebih besar dari itu.


"Alasan mengapa mereka ada disanakan?"


Petugas itu mengangguk. "Kami pun telah menyelidiki alasan mengapa bisa monster yang seharusnya sudah tersegel kembali berkeliaran."


"Dan yang kamu temukan?"


"Kami menemukan sebuah reruntuhan kuil yang tidak terurus disana. Dan kelihatannya para monster keluar dari sana. Kamu sebenarnya ingin menyelidiki lebih lanjut. Tapi kami belum berani untuk memasukinya." jelas Petugas.


"Baguslah kalian tidak memasukinya. Keputusan kalian sudah tepat." ujarku.


Aku melirik Pak Wiz. Menunggu keputusannya.


"Baiklah, sepertinya aku harus turun tangan." Ujar pak Wiz.


"Apa bapak mau memasuki kuil itu?" tanya petugas.


"Iya, aku akan memasuki reruntuhan itu."


"Kau mau ikut June?“


Aku mengangguk cepat. "Meski tak sehebat dirimu, aku pasti bisa berguna dalam pertempuran."


Pak Wiz tertawa mendengarku. "Bagaimana aku meragukan seseorang dengan gelar elementalist? Tentu aku akan merasa terbantu."


Aku tersenyum kecil. "Kalau begitu, haruskah kita berangkat sekarang?"


***


"Jadi ini reruntuhannya."


Dihadapanku saat ini terlihat sebuah bangunan seperti kuil yang telah banyak kerusakannya dimana-mana. Bebatuan bangunan itu sudah terikat oleh akar dan tertutupi lumut karena lembabnya hutan Hera ini.


"Kalau gitu ayo masuk June." pak Wiz melirik petugas tadi yang telah menunjuk jalan. "Dan kamu tunggulah disini. Aku takut ada bahaya didalam."


"Baik pak." jawab petugas itu.


Aku dan Pak Wiz pun pergi masuk meninggalkan petugas itu. Reruntuhan itu terlihat cukup luas dari dalam. Didalamnya seperti labirin, apa mungkin ada jebakan disini?


“Aku baru tau ada reruntuhan seperti ini. Padahal tahun lalu tidak ada masalah apa-apa di hutan ini." ujar Pak Wiz.


"Apa mungkin ini terjadi tiba-tiba? Seperti reruntuhan ini berpindah tempat."


"Bisa jadi. Tapi untuk sihir perpindahan untuk sesuatu sebesar ini membuat perpindahannya terkena dampak waktu. Sehingga karena percepatan perpindahan, waktu yang di alami reruntuhan ini mengalami percepatan. Mungkin ini yang membuat reruntuhan ini terlihat seperti reruntuhan tua."

__ADS_1


"Waw, itu luar bi-"


"Sstt.." pak Wiz memotong ucapanku. "Kelihatannya disini ada penghuninya."


Pak Wiz dengan cepat mengayunkan tangan dan segera saja sebuah cahaya sihir muncul dan bergerak sesuai arah yang pak Wiz tuju. Ternyata disitu terdapat seekor goblin. Dalam sekejap goblin itu kehilangan nyawa ketika sinar sihir Pak Wiz menembus kepalanya.


"Hmm.. Mungkin akan ada banyak monster yang muncul kedepannya. [Magical Patrol]."


Pak Wiz memunculkan 4 burung sihir dan membiarkannya terbang ke setiap lorong reruntuhan itu.


"Dengan ini para monster itu akan terbantai dengan mudah."


Aku hanya tertawa kecil mendengar itu. Sihirnya benar-benar praktis namun sebenarnya sulit digunakan. Bahkan aku hanya mampu mengeluarkan 1 burung dan memerlukan fokus yang tinggi. Tapi dia dengan mudah melakukannya.


Kami pun kembali berjalan menyusuri reruntuhan. Banyak monster yang telah mati tak bernyawa saat aku dan pak Wiz melewati lorong-lorong. Sihir pak Wiz cukup brutal.


Tiba-tiba pak Wiz terlihat terkejut. Kelihatannya ada sesuatu yang terjadi pada burung sihir itu.


"Ada apa pak?" tanyaku.


"Kelihatannya aku menemukan sumber masalah itu." Pak Wiz tersenyum kemudian menggenggam tanganku. "Kita akan langsung menuju tempat burungku. Teleportation!“


"Uwaah!" aku berteriak karena terkejut. Dan seketika teriakanku berhenti saat melihat dihadapanku terdapat 3 Ogre berbadan besar dengan kulit abu. Wajahnya mengerikkan dengan gigi taring bawah yang panjang dan tajam layaknya gading seekor gajah. Mereka membawa gada besar di tangan mereka. Dan dibelakang mereka terdapat portal gelap sebesar badan mereka. Mereka melirik ke arahku dan Pak Wiz yang tiba-tiba berada di depan mereka. Mereka mengendus keras dan berteriak kencang. Tanpa basa-basi mereka mengayunkan gada mereka padaku dan pak Wiz.


Aku melompat cepat kebelakang sedangkan pak Wiz menggunakan sihir [Blink] dan berpindah ke udara. Yah, dia terbang. Sihir tingkat tinggi [Fly]. Tidak heran seorang penyihir terkuat mampu menggunakan sihir itu.


"June diamlah disitu. Ini akan selesai dengan cepat." Ujar pak Wiz.


Oke aku akan diam. Sekarang bahkan aku bertanya-tanya apa aku harusnya datang atau tidak kemari.


Pak Wiz dengan cepat merapalkan sihir dan mengeluarkannya di udara.


"Fire Bullet!!"


Serangan peluru api bertubi-tubi melayang menuju ke tiga Ogre itu. Mereka terlihat kewalahan menahan serangan itu.


"Kemudian raaakan ini, Fire Bolt!!"


Ah!! Kenapa pake sihir ituu!!


Aku dengan tergesa-gesa mengeluarkan sihir [Triple Air Shield]. Karena sihir yang dikeluarkan kali ini menyebabkan ledakan luar biasa. Bola api besar dengan diselimuti aliran listrik itu mengenai ketiga Ogre itu dan membuat ledakan yang hampir mengenaiku.


Sihir pelindungku sampai rusak 2 lapis. Aku tak percaya pak Wiz menggunakan sihir sebesar itu di ruangan yang tidak terlalu besar ini. Dan tentunya ketiga Ogre itu telah hangus habis dan hanya menyisakan monster core yang tergeletak di tanah. Dan reruntuhan mulai bergetar bahkan roboh dan membuat seluruh atap runtuh. Dan tentunya aku kewalahan menahannya.


"Ternyata tidak cukup." ujar Pak Wiz.


"Tidak cukup apaan?! Tadi itu bahaya banget!!" seruku dengan kesal. Aku keluar dari puing-puing itu dalam kondisi terlindungi pelindung sihir dan menggunakan sihir [Fly]. Sebenarnya sihir ini tak sering kugunakan karena menguras mana yang cukup besar.


Pak Wiz tertawa kecil. "Aku tau kamu bisa mengatasinya. Tapi lihatlah di depanmu."


"Hmm?" aku melihat kedepanku. Dan ternyata meski reruntuhan itu rusak oleh ledakan sihir, portal gelap itu tidak terlihat rusak sama sekali.


"Sepertinya tidak ada cara lain kecuali menyegelnya." ucap Pak Wiz serius.

__ADS_1


__ADS_2