My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Ancaman


__ADS_3

"Baiklah, sekarang kamu sudah sembuh total." Bu Erine tersenyum kecil padaku. "Pemulihanmu cepat juga ternyata."


"Itu berkat pengobatan ibu kok. Pil yang anda buat benar-benar mujarab." ujarku seraya tersenyum.


"Be-benarkah?" tanya Bu Erine tersipu.


"Kan ibu dokternya harusnya ibu tau khasiat obat buatan ibu dong." jawabku jail.


Bu Erine menggerutu. "Terserah."


Aku tertawa kecil. "Tapi terima kasih bu, berkat ibu aku bisa sembuh."


"Ya ya, sudah sana keluar." ujar bu Erine.


Aku tersenyum sebelum keluar ruangan. "Bu, telinga panjang ibu memerah tuh."


"Sudah sana keluaar!!" teriak bu Erine kesal dengan wajah merah padam.


"Dah, bu Erine!" ucapku seraya berlari meninggalkan ruang medis.


***


Waktu istirahat tiba. Waktu yang paling ditunggu setiap murid selepas berkutat dengan buku tebal mereka. Aku, Kuro, dan Shamus berbincang santai di lorong luar kelas. Kami tidak melakukan di dalam kelas karena Kuro tidak sekelas denganku dan Shamus.


"Jadi kamu sudah bisa ikut berlatih lagi Vin?" tanya Shamus.


"Yah, begitulah. Meskipun aku diam-diam berlatih agar kemampuanku tidak menumpul." jawabku.


"Kamu memang ga bisa disuruh istirahat ya." balas Kuro dengan senyuman pasrah.


"Yang pentingkan sembuh." jawabku seraya tersenyum kecil.


Disaat kami sedang mengobrol, datang seseorang paling menyebalkan dari kelas sebelah, tempat Kuro berada.


"Wah wah, lihat trio ini. Si buntung, banci, dan gorilla sedang bicara layaknya orang bodoh."


Aku mendecakkan lidah. Dia adalah Victor. Seorang bangsawan sombong yang selalu membanggakan apa yang ia miliki. Dan dia selalu saja mengusik kelompokku. Dan seperti biasa dia datang dengan anak buah dibelakangnya.


"Hei, Victor. Kamu harusnya menjaga mulutmu. Aku dan Kuro tidak seperti yang kamu ucapkan." balasku. Entah Shamus akan sadar akan ucapanku atau tidak.


"Tunggu aku jugakan bukan gorilla?!"


Dia sadar ternyata.


Aku tersenyum kecil dan menatap mengejek. "Kalau yang itu dia benar." jawabku.

__ADS_1


"Sialan kau!" seru Shamus sebal kemudian mencekikku dengan lengannya.


"Aa! Ampun-ampun! Bercanda kok!" pintaku meronta-ronta. Tenaga Shamus benar-benar kuat sial.


"Sha-Shamus lepasin Alvin!" seru Kuro kewalahan.


Pada akhirnya kami bertiga sibuk sendiri tanpa memperhatikan Victor yang sedang menatap kesal. Kelihatannya dia merasa di permalukkan


"Hoi badut-badut sialan!" seru Victor. "Dengerin oi!"


Aku menatap ke arah Victor dengan kesal. "Ngapain sih kamu teriak-teriak. Berisik banget tau." ucapku seraya mengusap leherku.


"Dasar sialan! Berani-beraninya kalian tidak mengacuhkanku! Kalian memang tidak tau siapa aku?!" seru Victor marah. Seperti biasa dia menyebalkan.


"Gya gya gya, kamu berisik sekali." ejekku menirukan gaya bicara salah satu karakter favoritku.


"Sialan Alvin! Kamu memang selalu membuatku kesal!"


Aku tersenyum mengejek. "Terus kamu mau apa? Merengek pada ayahmu dan keluargamu yang kamu banggakan?"


"Keluargaku adalah keluarga yang dekat dengan keluarga kerajaan! Berani-beraninya kamu mengejek keluargaku!" seru Victor


Tak mau ketinggalan anak buahnya pun menambahkan.


"Dasar tidak tau malu."


Aku menghela nafas panjang. Saat aku melirik ke belakang mereka, tak disangka ada pangeran Charles sedang berjalan sendiri ke arah kami. Aku pun tersenyum dan mencoba menyapanya.


"Yo Charles! Disini ada orang yang mengaku dekat denganmu." ucapku.


Victor dan anak buahnya berbalik terkejut dan melihat Charles sang pangeran yang sedang berjalan tak peduli. Dia melewatiku dan Victor tanpa bicara apapun.


"Dasar cowo yang dingin." ucapku seraya mengangkat kedua tanganku. Kemudian aku menatap Victor seraya tersenyum jail. "Kelihatannya sang pangeran tak mempedulikanmu."


Victor yang kesal menarik kerah seragamku dengan kasar. Aku sedikit terkejut dan kesal karena itu.


"Dasar kamu Al-"


"Lepaskan." ucapku memotong Victor.


"Beraninya kamu membala-“


"Kubilang lepaskan."


Aku menatap Victor dengan skill [Intimidation]. Itu membuat tatapanku dan raut wajahku terlihat lebih mengintimidasi. Dan itu membuat Victor melepaskan genggamannya.

__ADS_1


"Cih, sialan! Lihat saja nanti saat tes praktek! Ayo kita pergi!" Victor pun beranjak dengan kesal diikuti anak buahnya.


"Aku benar-benar ingin menghajarnya." gerutu Shamus setelah rombongan Victor pergi.


"Mereka memang menyebalkan tapi latar belakang mereka terlalu bagus." Kuro menatapku. "Hanya Alvin yang berani melawan mereka."


Aku tersenyum kecil. "Yah lupakan soal itu, ngomong-ngomong memangnya ada apa nanti tes praktek?" tanyaku pada kedua temanku.


"Kamu tidak tau?" tanya Kuro.


"Karena ga tau aku nanya."


"Kamu terlalu sering bolos sih." ejek Shamus.


"Itu bukan bolos tau." jawabku kesal.


"Katanya tes praktek minggu ini cukup spesial." ujar Kuro.


"Spesial gimana?"


"Kelas kita akan digabung. Dan akan diadakan latih tanding." jelas Kuro.


"Hoo seperti itu, pantas saja."


"Aku ingin menendang bokongnya di arena nanti." ujar Shamus.


"Yah itu kalau kita kebagian lawan dia. Kalau lawan Kuro gimana?" tanyaku pada Shamus.


"Siapa pun yang melawanmu akan melihat neraka." ucap Shamus seraya menyentuh pundak Kuro.


"Ih apaan sih! Emangnya kalian pikir aku ini apa?!" teriak Kuro yang seperti biasa terlihat feminim.


"Kamu monster." ucapku dan Shamus bersamaan.


"Ih! Gatau ah!" seru Kuro seraya cemberut.


"Ya habis saat kamu megang pedang wajahmu dah kayak setan tau." ujarku.


"Bener itu. Sumpah merinding." tambah Shamus.


"Wajah cowo cantik tapi kekuatan monster. Ga ada yang menyadarinya." tambahku.


"Bener banget tuh." ucap Shamus membenarkan.


"Aku benci kalian berduaa!!“ Seru Kuro kesal dan memukuli kami berdua.

__ADS_1


Aku dan Shamus tertawa melihat ekspresi Kuro. Dan itu membuat Kuro tambah kesal.


Pada akhirnya aku dan Shamus menjaili Kuro hingga waktu istirahat selesai.


__ADS_2