
Tak terasa waktu makan siang telah tiba. Aku dan para murid ayahku berkumpul dibawah pohon yang rindang. Menunggu makanan dari ibu dan kak June. Saat waktu luang, kak June membantu pekerjaan-pekerjaan ibuku seperti mencuci, memasak, dan membersihkan ruangan. Walau ibuku melarangnya, kak June memaksa untuk membantu. Katanya “supaya ada kerjaan.” Aku hanya tertawa saat mendengar itu. Dan sekarang, makanannya telah datang. Kak June dan ibuku membawa makanan dan menghampiri kami. Saat kak June datang, murid-murid yang lain berbisisk-bisik.
“Mereka pasti membicarakan kak June. Melihatnya benar-benar membuatku kesal.” pikirku.
Lalu tiba-tiba semua murid menatap kak June. Dan sialnya kak June tersipu malu. Dia pun meletakan makanannya kehadapan kami.
“Ini makanannya.” Kak June menunduk malu.
Seketika seluruh murid disana berkata “Terima kasih” secara serempak dengan wajah-wajah konyol. Wajah kak June memerah. Dia segera pamit dan berlari kecil menuju rumah. Ibuku yang tadi bersamanya tertawa kecil melihat kak June memasuki rumah. Saat ibuku meletakkan makanan, dia melihat wajah kesalku. Kembali ibuku tertawa dan mengikuti kak June memasuki rumah.
Aku, ayahku, dan murid-muridnya menyantap makanan yang dibawakan kak June dan ibuku. Makanan sederhana yang mudah dimakan tanpa sendok dan garpu seperti roti sandwich. Sambil bersantap para murid berbincang-bincang. Aku menyantap makananku tanpa berbicara dengan siapapun. Hingga tiba-tiba salah satu murid ayahku itu menyapaku.
“Hei nak. Kamu benar-benar hebat sekali tadi.” Dia menepuk-nepuk pundakku. Dan tertawa riang. Dia terlihat masih muda. Rambutnya berwarna kuning lurus berponi. Tapi telinganya tidak runcing, dia bukan seorang Elf. Aku hanya tersenyum canggung menanggapi pujiannya. Dia kembali bertanya. “Berapa umurmu? Oh iya namaku Fred, umurku 16 tahun.”
“Hooh. Dia seumuran denganku. Eh, tapi itu umurku sebelum aku ke dunia ini. Berarti umurku sekarang 22 tahun. Waw, umurku sudah sebesar itu ternyata.” Pikirku ketika mendengar umurnya. Aku pun menatapnya dan berkata. “Umurku dua pu – eh maksudku enam tahun.” Aku tersenyum canggung. “Hampir saja aku kelepasan.”
“Diumur segitu kamu sudah bisa melakukan sword skill?!” Tiba-tiba salah satu murid yang lain ikut bertanya kepadaku. Kali ini pemuda berambut coklat pendek. “Namaku Criss. Senang bertemu denganmu.”
Sisa murid yang lain pun mengenalkan dirinya. Berbeda dangan yang lainnya mereka kembar.
“Hai aku Carl dan ini Curl. Aku kakak dan dia adik. Kami sama tapi berbeda.” Dia merangkul saudaranya untuk mendekatkan diri padanya. Aku tertawa melihat kemiripan. Yang berbeda hanya pada warna rambutnya. Carl berambut merah dan Curl berambut coklat.
“Namaku Alvin, Umurku 6 tahun.”
“Wow 6 tahun!” ucap Fred. Aku hanya mengangguk saja.
Seketika aku teringat bahwa ayahku memiliki lima murid. Aku menengok kekanan dan kekiri mencari murid kelima. Pandanganku terhenti pada seorang gadis kecil yang sepertinya seumuran denganku dibawah pohon. Memakan sandwich sambil menatap langit. Entah kenapa dia terlihat sedih. Criss menyadari bahwa aku memperhatikan gadis itu.
“Gadis itu Mirana. Dia memiliki kemampuan berpedang yang luar biasa. Akan tetapi sejak pertama berada disini dia selalu menyendiri. Coba saja sapa dia. Mungkin saja, dia lebih terbuka padamu.”
“Ya, cobalah.” Ayahku tiba-tiba menepukku. “Ayahnya dan aku adalah teman baik. Ayahnya sebenarnya ksatria berpedang terbaik yang sesungguhnya. Tapi dia meninggal ketika menahan seekor naga untuk mengulur waktu teman-temannya agar dapat kembali dengan selamat. Walau dia seorang kesatria berpedang yang luar biasa kuat, namun tidak ada yang bisa melawan satu naga sendirian. Aku mendengar kabarnya saat temannya telah mencapai kota.”
Aku tertegun mendengarnya. Tapi ada salah satu hal yang belum pasti. Ada kemungkinan ayahnya masih hidup entah dimana. Dia ditinggalkan tanpa diketahui kondisinya. Aku pun memberanikan diri untuk menyapa Mirana. Aku berjalan menuju tempat ia duduk.
“Boleh aku duduk disini?” Aku mencoba duduk didekatnya. Dia menatapku. Dam mengangguk tanpa mengucapkan apa apa. “Siapa namamu?” lanjutku. Dia kembali menatapku. Mulai merasa tidak nyaman akan kehadiranku.
“Namaku Mirana Starfold.” Jawabnya dingin. Dia sepertinya tidak ingin diganggu. Tapi aku tidak menyerah begitu saja.
“Aku Alvin Carlos. Senang bertemu denganmu.” Aku tersenyum padanya. Dia menatapku tanpa ekspresi.
“Kamu anak dari master Martin ya?”
Aku mengangguk.
“Kamu pasti akan kukalahkan.”
Aku terkejut mendengar deklarasi perang darinya. Apa ini ada hubungannya dengan ayahnya?
Dia beranjak meninggalkanku yang masih terdiam. Melanjutkan latihannya.
Aku kembali mendekati Mirana. Mencoba menenangkannya. Tapi itu malah menjadi bumerang padaku. “Hei Mirana, tenanglah. Jika aku salah bicara aku minta maaf. Ini tidak ada hubungannya dengan ayahkukan?”
__ADS_1
Dia diam saja. Tidak berkata apa-apa. Hanya mengayun-ayun pedang kayunya. Dan itu membuatku kesal.
“Hei, jawab aku Mirana.”
Seketika dia berhenti mengayunkan pedang. Menatap padaku. Aku hanya terdiam melihat tingkah lakunya. Dia mengacungkan pedangnya padaku.
“Berduellah denganku. Aku dan kau. Aku tidak mungkin kalah oleh anak master Martin layaknya ayahku berduel dengannya.” Mukanya mengeras. Aku gugup mendengar tantangannya. “Kau tidak akan menolaknyakan? Alvin Carlos?”
“Aku mengizinkannya.” Ayahku tiba-tiba sudah berada disampingku. Sepertinya ayah mendengar percakapanku dengan Mirana dari tadi. Aku memandang kesal padanya. Dia hanya tertawa melihat wajah kesalku.
Aku dan Mirana akan berduel di halaman depan. Orang-orangan jerami yang tadinya ada disana telah disingkirkan. Aku dan Mirana berhadap-hadapan sekitar 5 meter. Ayahku berada ditengahnya menjadi wasit duel kami.
“Bila ada yang menyerah, kehilangan kesadaran, atau pertandingannya aku hentikan, maka duel selesai. Tiada dendam disini. Bertarunglah dengan jujur. Mengerti kalian?”
Kami berdua menganggguk.
“Baiklah, kalau begitu MULAI!!”
Dengan cepat aku dan Mirana menyiapkan kuda-kuda. Aku memegang pedang dengan satu tangan. Begitu pula Mirana. Beberapa detik kemudian pedang Mirana memancarkan cahaya kuning. Dia akan menggunakan sword skill. Tiba-tiba, pedang Mirana sudah berada didepan mataku. Secepat kilat aku menghindarinya. Nyaris saja aku tertusuk. Dari gerakannya tadi dia menggunakan skill [Front]. Setelah mundur beberapa langkah, aku menggunakan skill [Vertical Slash] yang baru saja aku pelajari tadi.
Saat ini aku telah menguasai 4 sword skill. [Front], [Round Hit], [Vertical Slash], dan [Horizontal Slash].
[Vertical Slash] adalah skill adalah sederhana yang menebas dari atas kebawah, atau sebaliknya.
Pedangku mengeluarkan cahaya biru, aku memegang pedang dengan kedua tanganku. Pedangku telah berada diatas kepala Mirana. Tapi Mirana lebih cepat. Dia melompat mundur dan segera menggunakan skill [Front]. Untung aku menghindar dengan cepat. Tapi lengan atasku tegores. Dia benar-benar hebat.
Aku tidak berhenti disitu. Setelah menghindar ke arah kiri, aku langsung menggunakan skill [Horizontal Slash].
[Horizontal Slash] adalah skill untuk menebas secara lurus kesamping.
Pedangku bergerak berlawanan arah. Aku kehilangan keseimbangan. Aku melepas pedangku dan berputar kearah kanan. Menghindari tusukan Mirana. Kali ini aku kehilangan senjataku.
“Menyerahlah. Kau sudah kehilangan senjatamu. Kuakui kau cukup hebat bisa bertahan dari seranganku.”
“Yah, kau memang hebat Mirana. Tapi aku memiliki sesuatu yang sepertinya tidak kau miliki.” Aku berdiri dan mengangkat tanganku kesamping. “Water sword.” Seketika ditanganku berkumpul gumpalan air dan membentuk pedang. “Kamu tidak bilang ini duel pedang. Nah, sekarang aku memiliki senjata. Aku masih belum kalah.”
Mirana menghelakan nafas. “Kau tidak tau kapan untuk menyerah. Kalau begitu aku akan mengeluarkan seluruh kekuatanku. Kau juga keluarkan semua kemampuanmu.” Dia mengacungkan pedangnya. Aku tersenyum mendengarnya.
Aku berlari kearah Mirana. Menyerang kearah bahu kanannya. Mirana menangkis seranganku. Aku mendorongnya lebih kera hingga dia terpukul mundur. Aku menggunakan sword skill [Vertikal Slash] dari arah bawah. Mirana melompat mundur menghindari seranganku. Aku melanjutkan seranganku. Aku menggunakan sword skill [Front]. Dia berputar kearah samping kiri. Dan saat itu dalam sekejap..... Mirana berada disampingku.
“Saatnya aku serius.” ucap Mirana.
Aku secepatnya menangkis serangannya. Aku yang masih terheran-heran karena kecepatan itu kembali dikagetkan lagi. Mirana sudah ada dibelakangku dan menebasku dengan pedang kayunya. Aku terjatuh. Pedangku kembali menjadi air dan masuk ke tanah.
Aku segera berputar kedepan menjaga jarak darinya. Saat aku menghadap kearahnya, dia tidak ada disana. Aku berdiri dan melihat kearah kanan dan kiri. Tapi saat aku melakukan itu, aku baru menyadari bahwa dia sudah berada di samping kiriku. Aku segera menahan serangan itu dengan menyilangkan tanganku. Aku terpental dan terkapar ditanah. Dia menatapku. Merasa kemenangan sudah berada ditangannya.
“Kali ini menyerahlah.”
“Tidak akan.” ucapku menolak.
Aku menggunakan skill [Heal] untuk menyembuhkan luka-lukaku. Aku berdiri tegak menghadap kearah Mirana. Aku menggunakan skill [Air Shield] . Skill magic untuk pertahanan. Aku tersenyum padanya. “Aku tau apa yang kau gunakan. Kau menggunakan skill [Accel]. Skill itu cukup sulit dipelajari. Dan dapat meningkatkan kecepatan pemakainya. Aku kagum kamu bisa mempelajari itu.”
__ADS_1
“Terima kasih pujiannya." Mirana tersenyum. "Hebat kamu bisa mengetahui apa yang aku gunakan. Tapi itu tidak mengubah fakta kalau kamu tidak bisa mengikutiku.”
“Kita lihat saja.”
Mirana kembali menggunakan [Accel] . Dia benar-benar tidak terlihat olehku. [Accel] memang skill yang benar-benar hebat. Tapi aku juga memiliki skill magic yang sama hebatnya. Aku memfokuskan pikiranku. Aku berencana menggunakan skill yang bisa menghentikan laju dari kecepatan [Accel] . Aku merentangkan tanganku dan menempelkan telapak tanganku ke tanah.
“Earthshake.” Seketika tanahnya bergetar hebat. Itu membuat Mirana kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, aku berlari kearahnya. Aku berlari seraya merentangkan tangan kananku dan menggunakan sihir [Water Sword].
Mirana tak bisa mengelak. Aku sudah berada didepannya. Mengacungkan pedang, dan menusuknya. Tapi dia dengan sigap mengarahkan pedangnya ke leherku. Dan seketika ayahku menghentikan pertarungannya.
“CUKUP! HENTIKAN PERTARUNGANNYA!!”
Setelah suara itu terdengar, kami berdua menghentikan gerakan kami. Pedang airku sudah berada didepan wajah Mirana. Begitu pedang kayunya, benda itu berada di depan leherku. Sepertinya ini bukan kemenanganku. Aku menarik kembali pedang airku dari wajahnya. Aku menyodorkan tanganku pada Mirana. Dia menatapku bingung. Aku jadi malu melihat wajahnya.
“Nih, tanganku mulai lemas tau. Terima aja bantuanku.” ucapku kesal menutupi maluku. Dia pun tersenyum menerima tanganku.
Aku pun membantunya berdiri. Terdengar sorakan dan tepuk tangan dari murid yang lain. Ayahku berjalan mendekati kami sambil bertepuk tangan.
“Hebat sekali! Kemampuan Mirana dan juga refleksnya. Sedangkan Alvin, mengantisipasinya dengan sihir."
Aku tersenyum canggung mendengar ucapan ayahku.
"Ya, memang tak ada yang menyebutkan kalau ini hanya pertarungan pedang. Pokoknya selamat untuk kalian berdua. Dan hasilnya adalah....”
Kami berdua menunggu. Meski aku kalah, aku tidak terlalu memikirkannya. Mirana memang hebat. Sampai akhir dia tidak menyerah untuk disudutkan olehku.
“SERI!” Seru ayahku.
Aku keheranan. Bukankah aku yang paling banyak terserang dan terluka? Aku melihat kearah Mirana. Wajahnya terlihat tidak masalah. Apa aku yang merasa ada yang salah disini? Mirana menatapku dan terssenyum.
“Sebenarnya aku juga terluka.” Mirana menunjuk pergelangan kaki kanannya. “Saat kamu membuat tanahnya bergetar, kakiku terkilir. Jadi kita seimbang, ya?” Kali ini senyuman tulus muncul dari wajahnya. Aku kaget melihat senyumannya.
“Dia bisa membuat wajah seperti itu juga ternyata.” Pikirku. Setelah itu aku pun tersadar kalau Mirana sedang terluka. Aku merunduk mendekatkan diri ke kaki Mirana. “Duduklah, Aku akan menyembuhkanmu.”
Mirana pun duduk menurutiku. Aku mendekatkan tanganku ke kaki kanannya. Muncul cahaya hijau disekitar tanganku. Mirana merintih kecil. Pergelangan kakinya mulai terlihat membaik. Aku bertanya pada Mirana.
“Gimana?”
“Rasanya lebih baik.”
“Tapi sepertinya luka ini tidak akan sembuh cepat, mungkin perlu satu minggu untuk menyembuhkannya.” ujarku.
Mirana terlihat sedih mendengar perkataanku.
“Yah, karena hasil ini seri, lain kali aku akan mengalahkanmu. Jadi, bersiaplah!” aku tersenyum lebar padanya.
Mirana tersenyum tipis dan berubah menjadi senyum sombong. “Harusnya kau yang bersiap.”
Sepertinya aku berhasil menyemangatinya sedikit. Kami berdua tertawa bersama. Ayah dan para muridnya tersenyum melihat kami berdua.
“Oh iya, aku penasaran. Kenapa kamu ingin berduel denganku?” tanyaku.
__ADS_1
“Itu karena ayahku. Ayahku bisa mengalahkan ayahmu. Maka aku pun harus bisa mengalahkan anak dari Master Martin.” Jawab Mirana jujur.
Aku kembali tertawa. Pada hari ini, aku mempunyai seorang rival sekaligus teman baru.