My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Serangan Para Kera


__ADS_3

"Eummm!!! Ini enak sekali!!“


Begitulah reaksi semua anggota saat makanan masuk ke dalam mulut mereka.


Sepanci besar sup dengan menggunakan daging kelinci bertanduk sebagai bahan utamanya terhidangkan di depan kami semua.


"Sherly! Kamu sangat berbakat dalam memasak!" seru Shamus seraya menyendokkan huapan terakhir.


"Iya ini beneran enak." tambah Kuro.


"Te-terima kasih..." balas Sherly dengan gugup.


Aku pun merasa takjub dengan kemampuan masak Sherly. Tak kusangka dia dapat memasak selezat ini. Apa aku nikahi saja dia yah?


Aku mulai menghuap sup itu lagi. Aku amat bersyukur karena Sherly membawa sayuran dan rempah-rempah dalam [Item Box] miliknya. Kelihatannya dia suka memasak hingga membawa bahan makanan seperti itu.


"Fiuhh... Aku kenyang. Terima kasih Sherly buat makanannya." ujar ku seraya tersenyum padanya.


"I-iya.."


Kemudian aku melirik Aria. Dia terlihat nampak kesal.


"Kamu pasti ga bisa masak ya?" tanyaku pada Aria.


Seketika dia terlihat tersentak dan wajahnya memerah. "Ap- ya-ya wajarlah aku ga bisa masak! Aku ga pernah masuk ke dapur!"


Aku tertawa kecil. Sebenarnya aku paham mengapa Aria tidak mampu memasak. Di jaman pertengahan seperti ini, memasak adalah tugas dari pelayan. Dan tuannya hampir tidak pernah menyentuh alat masak. Jadi memang wajar seperti ini.


Tapi kelezatan dan senda gurau kami tidak berlangsung lama. Aku mulai merasakan keanehan dari udara disekitarku. Aku melirik Kuro dan menatapnya dengan serius.


"Kamu merasakannya Alvin?“ tanya Kuro.


"Yah, aku merasakannya." aku tersenyum kecil. "Sepertinya ada tamu yang mencium sup buatan Sherly."

__ADS_1


Semua mulai menatapku dengan serius. Aku berisyarat pada semuanya untuk bersiap. Dan sial banget sih. Aku baru aja makan sudah harus bergerak gini.


Aku mengeluarkan pedangku dengan posisi bersiap. Suasana hening di dalam hutan itu membuat kami semua semakin waspada. Hari sudah mulai menjelang sore. Dan sepertinya ada yang bersembunyi dari sinar senja yang menimpa.


KEAAAAK!!!


Pekikan terdengar disertai dengan serangan yang datang menuju ke arahku. Seekor kera berekor dua menerjang ke arahku dengan sembrono. Aku dengan sigap menebas leher kera itu dengan sempurna. Kera itu tergeletak di tanah dengan tanpa kepala.


"Ah, sial." ucapku saat melihat mayat kera itu.


Aku segera melihat ke sekeliling. Kera yang aku bunuh adalah salah satu monster tingkat rendah. Mungkin itu tidak akan masalah, akan tetapi kera yang kutau dari buku di dunia ini tidak salah lagi...


"Astaga..." Aria tercengang.


"Sial." keluh Shamus.


Aku menggenggam erat pedangku. Dugaanku tidak meleset. Sekarang di sekeliling kami sudah berkumpul ratusan kera yang bersiap menerkam kami.


Semua pun mengangguk. Dan seketika kera-kera yang memiliki dua ekor itu mulai berlarian menerjang kelompokku. Pekikan-pekikan kera terdengar nyaring dan menyiksa telinga. Rasa bising ini amat membuatku merinding.


Kuro dengan cepat melesat dan mulai menyerang para kera. Aku pun mulai bergerak dengan mengeluarkan mana cube dan mulai membuatnya menyebar.


Untungnya kami dikepung di area yang lapang, bukan di tempat yang penuh pepohonan. Jadi kami bisa bersiap dan tak akan ada serangan dari atas. Aku dengan cepat menebas dan menghindari serangan para kera yang mengamuk itu. Aku menyerang menggunakan seni berpedang yang diajarkan Kuro dan melancarkan serangan bertuntun untuk menyerang banyak musuh. Mana Cube milikku pun menembakkan sihir ke arah kera yang aku pandang dari kejauhan. Kera-kera itu amat lemah namun jumlahnya benar benar-benar membuat kewalahan.


"Haste!!" Sherly berteriak dan mengeluarkan skillnya.


Seketika tubuhku merasa ringan dan mudah untuk bergerak. [Haste] adalah sihir pendukung yang membuat penerimanya dapat bergerak lebih cepat dan leluasa.


Pergerakanku saat ini benar-benar seperti sedang menari dengan sebuah pedang. Air yang muncul dari pedangku saat menggunakan Mizu no michi memberikan gambaran gerakan tebasan yang indah. Dan ini membuat Kera-kera itu mulai menjaga jarak. Mereka merasa aku bukan lawan yang sepadan untuk mereka.


Aku melirik ke arah Shamus, Sherly, dan Aria. Shamus dengan ganas mengayunkan pedangnya dan mendorong setiap kera yang hendak mendekatinya dengan perisainya. Aria pun dengan elegan mengeluarkan sihir angin [Wind Cutter] dan menebas para kera dengan sihir anginnya. Sherly juga membantu Shamus dengan menggunakan sihir [Paralize] pada kera itu dengan membuatnya terhenti selama beberapa detik dan Shamus dapat dengan mudah menebas mereka.


Aku juga melihat Kuro. Dan dia... Sungguh berbeda saat ini. Dia terlihat seperti psikopat yang menebas para kera dengan senyuman lebar mengerikkan. Darah yang tak dia pikirkan berlumuran di wajah san baju akademinya. Sial dia membuatku lebih takut ketimbang pada kera-kera ini.

__ADS_1


Sudah cukup banyak kami mengatasi gelombang yang datang dari para kera itu. Hampir setengahnya dari jumlah mereka telah kami buat menjadi mayat. Dan karena itu mulailah para Kera itu mundur.


"Apa selesai?" tanya Aria.


"Tunggu.." jawabku.


Aku menyipitkan mataku dan melihat dari kejauhan. Para kera berposisi seperti memberiksn jalan pada seseorang. Dan terlihatlah sesuatu yang besar muncul dari balik bayang-bayang.


"Astaga, ini akan lebih sulit dari sebelumnya." ujarku.


Di depan kami datang seekor kera dengan badan yang besar dan wajah yang mengerikkan. Dia mengendus-ngendus dengan kasar dan berjalan perlahan menuju kami dengan amat gagah.


"Ini sih bukan monyet lagi." Ujar Shamus.


Tangan dari kera itu lebih besar dan dominan. Kelihatan seperti itulah keunggulannya. Dan jika diperhatikan lagi, tubuh besarnya membuatnya terlihat seperti seekor gorila. Hmm... Atau itu memang gorila ya?


"I-itu Donkey Steel. Monster tingkat menengah yang cukup kuat." jelas Aria.


Donkey Steel. Monster kera besar yang memiliki kemampuan untuk mengeraskan diri dan juga memiliki daya hancur yang besar. Yah, begitulah yang aku baca di buku.


Monster itu mengendus dan berhenti. Masih cukup jauh dari tempat kelompokku berada. Kemudian tiba-tiba dia berteriak dengan suara pekikan yang keras seraya memukul-mukul dadanya.


"Ukh!!" rintihku seraya menutup telinga. "I-ini... Skill..."


Ya, teriakan itu adalah kemampuan dari Donkey Steel yang membuat musuh yang mendengar teriakannnya menjadi gentar. Kulihat Aria dan Sherly yang terlihat ketakutan dibalik badan Shamus.


Teriakan Donkey Steel itu membuat para kera semangat. Dia berhasil membuat meningkatkan kembali moral para kera yang sebelumnya ketakutan.


Aku menelan ludah. Lawan kali ini akan sangat sulit. Tak kusangka monster tingkat menengah itu akan selevel ini.


Tapi aku tidak gentar. Malahan senyuman tergambar pada wajahku. Saat bertarung melawan yang kuat, itu membuat hatiku bersemangat dan berdebar-debar.


"Sekarang kita mulai ronde dua monyet sialan!!"

__ADS_1


__ADS_2