
Sudah sebulan lebih aku berada di akademi Goldendawn. Keseharianku kalau dipikir lagi terasa sama seperti dulu. Belajar, latihan, belajar, latihan. Terkadang aku berpikir kapan aku akan menggunakan kerja kerasku selama ini.
Tapi berada di akademi tidak terlalu buruk. Aku merasa senang dengan kelompokku sekarang. Mereka amat bersahabat. Aria yang sekarang amat ceria padahal sebelumnya dia selalu murung. Shamus yang bodoh dan bersemangat. Sherly yang sangat pemalu. Dan Kuro yang entah kenapa semakin cantik dari hari ke hari. Padahal dia cowo sial.
Terkadang aku mengingat seseorang gadis. Seorang dengan rambut hitam dan mata merah menyala. Dia selalu bersamaku sejak kecil. Mirana, ya itu namanya. Jujur aku sangat merindukannya. Dia yang mewarnai kehidupan masa kecilku.
Kembali ke kehidupanku sekarang, aku yang akhirnya sudah bertambah kuat dengan menguasai sebagian kemampuan yang diajarkan oleh Kuro, merasa sebuah keanehan. Level energi Spiritualku tidak naik dan hanya berhenti pada level 24.
Ini amat membuatku frustasi. Meski aku sudah melakukan [Spirit Meditation] setiap kali hendak tidur, namun hasilnya nihil. Rasanya seperti energi disekitarku menolak atau tidak dapat masuk ke dalam tubuhku.
Dan hari ini aku berada di ruangan kak June untuk berkonsultasi.
"Kak Juunee, gimana ini? " Tanyaku dengan lesu.
"Gimana apanya? Dan juga panggil aku bu guru sekarang." ujar kak June seraya meneguk secangkir teh.
"Ceh, sombong banget dah jadi guru resmi."
Kak June sekarang kembali menjadi guruku. Kepala sekolah si penyihir agung Pak Wiz yang memintanya menjadi guru. Itu benar-benar membuatku terkejut. Kupikir aku akan berpisah dengan kak June dan pergi berpetualang entah kemana.
Aku pun kembali mengeluh dan menjelaskan semua pada kak June. Berharap kak June memiliki solusi untuk permasalahanku.
"Kamu tidak dapat meningkatkan energi spiritualmu?" kak June meletakkan cangkir tehnya.
"Iya bu guru June." entah kenapa aku kesal dengan penyebutan bu guru ini.
"Mungkin itu sebuah gap energy. Situasi dimana energi akan terhenti seperti ada dinding dihadapannya."
"Lalu apa yang harus kulakukan... Aku tak akan mampu menjadi Alchemist kalau gini terus."
Kak June kelihatan berpikir. Atau mungkin lebih tepatnya mengingat-ngingat. Entah apa yang dia ingat.
"Bu guru lupa, sebenarnya ada pil yang mampu menyelesaikan masalah itu. Tapi bahannya sebentar..." Kak June mulai mencari sesuatu di rak buku.
Kuharap kak June tidak menggunakan bu guru. Tubuh kecil dan wajah mungilnya itu sangat tidak mencerminkan seorang guru.
"Kupikir aku akan menggunkan kak June. Ucapan Bu guru pada kakak terlalu membuat punggungku gatal."
"Yah yah, terserah kamu vin." Kak june kelihatan jengkel. Astaga aku kangen dengan ekspresi jengkelnya itu.
"Ah ketemu." kak June mengambil salah satu buku di rak dan meletakkannya di meja kerjanya.
"Buku apa itu kak?“
"Buku resep obat. Sekarang akan aku cari resep untuk permasalahanmu."
"Ouh... Kakak memang kakak yang terbaik." Godaku.
Wajah kak June memerah. "Berisik ah."
Aku tertawa melihat kak June yang tersipu. Sudah lama sekali aku tidak menjaili kak June.
__ADS_1
Setelah beberapa menit menatap ke buku tebal itu, akhirnya kak June menemukan resep yang dicari.
"Ini nih. Spirit Breaker. Tulis resepnya nih." perintah kak June.
"Okay okay."
Hmm... Spirit breaker. Sebuah pill yang dibuat dari bahan khusus untuk memacu kenaikan level energi spiritual. Ditulis juga ternyata masalahku ini memang lumrah terjadi. Jadi aku tidak perlu khawatir dan dapat menyelesaikannya dengan menyerap pill itu.
"Sudah kamu catat?" tanya kak June.
"Okay, sudah. Apa ini bahan yang sulit didapat?"
"Hmm... Coba kulihat." kak June menarik kertas berisi resep dari tanganku. "Yah, agak mahal mungkin."
"Soal uang sih ada. Aku jarang membeli banyak barang selama ini."
Kak June menghela nafas. "Yah, aku pikir juga kamu tak ada masalah. Dan juga ini pill tingkat rendah. Jadi tak akan menghabiskan 1 koin emas."
"Kalo segitu murah dong."
"Ya kalau dilihat dari uang sakumu ya murah." ujar kak June geram.
Aku tertawa kecil. Senang melihatnya kembali seperti kak June biasanya.
"Kalau gitu aku pamit dulu ya kak."
"Iya, keluar sana."
Saat membuka pintu aku kembali berbalik.
"Oh iya kak."
"Kenapa?“
"Kakak jangan terlalu memaksakan diri. Aku khawatir kakak akan tertekan."
"Alvin..." Kak june tersipu.
"Tapi kalo liat kakak kesel aku suka. Daah."
Aku segera keluar dan kabur. Terdengar suara teriakkan kak June dari dalam kamar. Aku hanya berjalan santai seraya tertawa kecil.
***
Di akademi Goldendawn, hari minggu adalah hari dimana para siswa boleh keluar asrama. Biasanya para siswa tidak diperbolehkan keluar lingkungan Goldendawn.
Saat ini aku dan kelompokku sedang menyantap sarapan yang telah disediakan oleh akademi.
"Setelah ini kalian ada rencana?“ tanyaku pada yang lain.
"Aku akan latihan lagi." seru Shamus. Yah dia memang karakternya seperti itu. Jadi tak heran.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu Sham." ujar Kuro pada Shamus dengan senyuman yang tak ada tandingannya. Kalau dia cewe aku pasti sudah menembaknya.
"Kalau kalian berdua gimana?" tanyaku pada Aria dan Sherly.
"A-aku mau pergi ke perpustakaan akademi." ujar Sherly. Astaga dia belum sembuh dari gugupnya. Padahal sudah sebulan kami semua hidup bersama dalam satu kamar.
"Aku kosong sih ga ada rencara." ujar Aria. "Kelihatannya kamu mau pergi ya vin?“
Seperti biasanya Aria sangat peka. "Yah, aku hendak ke pasar di kota. Ada beberapa hal yang ingin aku beli. Aku hanya penasaran, mungkin dari kalian ada yang mau ikut."
"Hmm... Kalau gitu aku akan ikut." jawab Aria.
"Hooh, berarti aku akan kencan denganmu dong?" tanyaku jail.
Wajah Aria seketika merah padam. "Si-si-siapa juga yang mau kencan sama kamu!!“
Aku tertawa melihat ekspresi lucunya. Aria mengendus kesal seraya menyuap makanan miliknya.
"Kalau begitu setelah makan kita langsung berangkat ya." ujarku pada Aria.
"Ba-baik..."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai Readers, lama tak bicara gini ke kalian
◕‿‿◕。)づ
Hari ini aku cuma mau kasih tau aja soal penulisan cerita
ಠ_ಠ
Di chapter-chapter sebelumnya, aku merasa kurang nyaman dengan gaya penulisanku yang mulai berubah entah kenapa dan sejak kapan.
(;´༎ຶД༎ຶ`) *Screaming
Dan di chapter ini aku lebih mengedepankan pikiran si tokoh utama sebagai narator.
Kurasa ini lebih nyaman untuk di tulis bagiku.
( ◕ヮ◕)/
Jangan lupa komen dan likenya yaaa
Like tidak akan membuat jempolmu ilang
(づ ̄ ³ ̄)づ
Okay mungkin itu aja ya, terima kasih dah baca.
Tunggu kelanjutan kisah Alvin yaaa ~(˘▾˘~)
__ADS_1