My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Sparing (2)


__ADS_3

"Apa kamu siap Kuro?" tanya Shamus dengan semangat. Entah apa yang ada dipikirannya sehingga semangat seperti itu.


"Aku siap kok." ujar Kuro.


"Alvin siap?“


"Iya-iya aku siap."


"Kalau begitu mulai!“


Kali ini pertarungan pun dimulai. Berkat paksaan Shamus, aku akhirnya bersedia melawan Kuro. Meski pun begitu sebenarnya aku menantikan pertarungan ini.


"Kau tau Alvin?“ tanya Kuro.


"Hmm?"


"Akhirnya aku bisa bertarung denganmu." Senyum ngeri kembali terlukis di wajah Kuro.


Sumpah serem amat. Aku masih ngerasa ngeri dari pertandingan tadi.


"Yah, aku juga sebenarnya menantikan pertarungan denganmu." Balasku dengan senyuman lebar.


Kuro mulai memosisikan kuda-kudanya. Kelihatannya dia mau melancarkan serangan pembuka. Mulutnya pun mulai berbisik.


"Kaminari no michi Saisho no rēn..."


Serangan ini, aku tau!


"Rakurai!!"


Bersamaan teriakan Kuro, tubuhnya menghilang seketika. Aku yang sudah pernah melihat serangannya dan mengiranya, segera menangkis dengan menggunakan Sword Skill [Round Hit] dan menusuknya.


Kuro terlihat terkejut saat aku dapat menahan serangannya sembari membalasnya. Dia pun segera melompst ke samping untuk menghindari tusukanku.


Setelah itu, dengan cepat Kuro kembali menerjang. Pedang kayu yang diselimuti dengan listrik itu pun menyambar ke arahku dengan cepat.


Aku segera memposisikan pedangku untuk melindungi badanku. Saat pedangku dan pedang kuro bertemu, aku segera membelokkan serangannya ke atas.


Saat pedang Kuro berbelok, dia tidak menghentikan serangannya. Dengan keseimbangan yang mengerikkan dia menggunakan kemampuan pedangnya kembali ditambah daya tolak yang berikan.


"Denkōsekka!!“


Aku tak begitu siap menerima serangan itu dan hanya mampu memposisikan pedang di depanku. Serangan cepat dan kuat itu membuatku terpental cukup jauh begitu mengenai pedangku. Dengan sigap aku memutar badanku dan kembali berdiri.


Aku kembali memposisikan kuda-kudaku. Mengatur nafas, kemudian menggunakan sihir [True Eyes] agar dapat melihat serangan Kuro dengan lebih jelas.


"Accel!“


Dengan cepat aku menerjang Kuro disertai Sword Skill. Kuro tampak tenang dan memosisikan kuda-kudanya.


"Horizontal Slash!!“


“Kyūgoshirae!!“


Serangan cepat Kuro membentuk X didepanku. Aku menerima seranagn itu dengan pedangku yang tengah bercahaya biru terang. Dan disaat pedang kita bertemu, tolakan luar biasa terjadi. Itu membuatku dan Kuro terhempas bersamaan.


Aku dan Kuro terpelanting dan dengan cepat kembali ke posisi bertarung. Kami berdua mengatur nafas seraya masih menatap tajam. Wajah Kuro tidak tersenyum seperti sebelumnya. Dia lebih terlihat.... Fokus.


Aku kembali membuka serangan. Namun Kuro hanya bersiap dengan pedang di pinggangnya. Posisi kuda-kudanya terlihat lebih seperti menunduk dengan salah satu kaki didepan.


"Kaminari no michi Dainana no rēn..."

__ADS_1


Aku berjarak 3 langkah lagi menuju Kuro seketika merasakan sesuatu.


Bahaya!


"Raijin no mai..."


Mataku terbelalak. Serangan Kuro kali ini adalah serangan yang aku lihat saat ujian. 7 serangan dalam sekejap berada di depan mataku. Meski aku dapat melihat serangan itu, tetap akan sangat sulit menghindarinya.


Aku berpikir cepat dan melompat kecil seraya memosisikan pedangku untuk bertahan. 7 serangan itu dengan cepat mengenai pedangku. Dengan lompatan kecil aku membiarkan serangan itu mendorongku ke belakang. Sehingga serangan itu hanya mengenaiku sebanyak 4 kali dan sisanya meleset. Namun 4 serangan cukup untuk membuatku terpental jauh dan mendapatkan luka.


Aku tersenyum kecut. "Serangan yang benar-benar gila."


Kuro tampak terkejut melihatku dapat mengantisipasi serangannya. Namun sesaat kemudian dia tersenyum.


"Kelihatannya, kalau kecepatan sedikit tidak berguna melawanmu Alvin." ujar Kuro.


Aku tersenyum kecil. "Yah, kecepatanku cukup berguna untuk melawanmu."


"Kalau begitu akan aku coba ini."


Kuro kali ini memasang kuda-kuda yang berbeda. Sepertinya dia akan melakukan hal yang tidak sama dari sebelumnya.


Kuro menarik nafas dalam. Kemudian memandang tajam ke arahku. Aku refleks mengeraskan genggaman tanganku dan bersiap.


Kuro dengan cepat melangkah dan mulai menyerang. Namun kali ini serangannya tidak secepat sebelumnya. Serangan dari sisi kanan atas dia lancarkan.


Aku segera memosisikan diriku untuk bertahan dari serangannya. Namun aku terkejut melihat perbedaan serangan kali ini. Pedang Kuro terlihat terselimuti oleh sesuatu yang berbeda.


Itu air?


"Nagaremizu." bisik Kuro.


*Slash!*


Tiba-tiba saja serangan yang kupikir akan datang dari sisi kanan atas sekarang melesat dari arah sebelahnya dan mengenai tubuhku. Perpindahan serangan itu benar-benar membuatku tidak siap sama sekali dengan serangan yang amat halus dan tenang. Kuro menebasku dan mengalahkanku.


Aku tersungkur jatuh dihadapan Kuro. Setelah beberapa saat, seragamku muncul sebuah potongan rapih dan terlihatlah sebuah garis yang terlukis di badanku. Tak lama kemudian dari garis itu mengucur darah secara perlahan.


"Kamu tidak apa-apa Alvin?" Tanya Kuro seraya berjongkok khawatir.


Aku tersenyum dan segera membaringkan tubuhku.


"Aaah... Aku kalah."


Kuro terlihat menyesal dan hendak meminta maaf. Namun aku segera memotongnya dan menyodorkan tinjuku padanya.


"Lain kali aku tidak akan kalah lagi." ujarku seraya tersenyum lebar.


Kuro sedikit terkejut namun kemudian dia tersenyum dengan senyuman manis yang biasa ia perlihatkan.


"Aku juga ga akan kalah." Kuro membalas tinjuku.


***


"Hai kalian!" Aria memanggil kami bertiga. "Ayo sini!"


Aku, Kuro, dan Shamus baru saja mengambil jatah makan di area pengambilan makan dan hendak mencari tempat duduk.


Ternyata Aria dan Sherly juga sedang makan ya.


Kami pun duduk disebuah bangku dengan meja persegi panjang disana. Saat kami duduk, Aria mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Bagaimana latihannya?" tanya Aria penasaran.


Aku dan Shamus saling memandang. Kemudian tertawa bodoh bersama.


"Aku kalah." Ujar Shamus.


"Aku juga." tambahku.


Aria menatap bingung. "Alvin juga kalah? Dari siapa? “


Aku dan Shamus melirik Kuro. Kuro yang menyadari lirikan semua anggota kelompok tersenyum canggung.


"Ehehe, itu cuma keberuntungan kok." ujar Kuro.


"Dasar kamu tukang merendah." Balasku.


"Beneran kok, kalau Alvin tau kemampuanku pasti kamu dapat mengantisipasinya." jelas Kuro.


Entah kenapa aku merasa agak malu mendengarnya. Aku pun memalingkan wajahku.


"Meskipun begitu, aku kalah karena kurang hati-hati." jawabku seraya memasukkan roti lapis ke dalam mulutku.


"Tapi Alvin hebat juga kok."


"Kenapa lagi?“


"Kamu satu-satunya selain ibuku yang dapat mengantisipasi serangan terbaikku. Itu amat membuatku terkejut kau tau?"


"Yang Ragi to mai itu?“ tanyaku jail.


"Raijin no mai ih! Alvin Nyebelin!“ seru Kuro seraya cemberut. Aku pun tertawa melihat reaksinya.


"Bagaimana latihanmu?" tanyaku pada Aria.


"Hmm... Lumayan sih. Tapi aku lebih fokus untuk mengembangkan kemampuan Sherly.


"Hooh.. Kamu ga diapa-apainkan sama Aria Sher?“


"Kamu pikir aku apaan sih?" protes Aria.


Aku tertawa kecil. Kemudian kembali pada Sherly.


"Jadi bagaimana latihanmu Sher?“


"Ba-baik, Aria mengajariku dengan baik. Aku sekarang sudah dapat menggunakan 3 sihir pemberi status." jelas Sherly.


"Wah." Kuro terpana mendengar ucapan Sherly.


"Bukankah itu hebat? Kamu cepat sekali mempelajarinya." pujiku.


"Sherly memang pada dasarnya memiliki bakat yang bagus. Jadi tidak aneh kalau dia belajar dengan cepat." tambah Aria.


Ucapan kami semua membuat Sherly tertunduk dengan wajah yang memerah. Dia saat ini terlihat amat imut.


"Berarti yang paling payah disini Shamus dong." Ejekku.


Shamus yang mulutnya sedang penuh daging merasa tidak terima. "Apwa katamwu?!?!“


Aku tertawa kecil. "Bercanda."


Shamus mengendus kesal sambil masih semangat memakan makanannya.

__ADS_1


Aku yakin dengan tim ini, kami semua mampu lulus di ujian selanjutnya.


__ADS_2