
"Akhirnya selesaai!!" Teriak Aria di luar Aula.
Aku dan Kuro tertawa kecil melihat tingkah Aria yang seperti anak kecil. Aku tidak bisa menegur sih, aku pun merasakan hal yang sama dengan Aria. Perasaan lepas dari jenuh yang menumpuk di dalam Aula.
"Tapi belum selesai semuakan?" Ujar Kuro.
Aku mengangguk kecil. "Kita belum tau hasil dari ujian tadi."
"Ah sudahlah," celetuk Aria. "Aku bahkan takjub melihat kalian. Kalian pasti lulus."
"Yah benar sekali. Kuro sangat hebat." tambahku.
Kuro menggeleng. "Alvin kamu yang luar biasa."
"Eh?" Aku menatap bingung.
"Dari sekian peserta aku paling takjub pada kemampuanmu." Ujar Kuro dengan senyuman manis.
Ugh sial dia membuatku tersipu. Aku menarik nafas untuk menenangkan diri.
"Ta-tapikan Aria lebih hebat dengan sihirnya. Dia mengeluarkan sihir yang luar biasa."
"Eh... Ga sehebat itu kok.." Jawab Aria dengan ekspresi bodoh yg imut.
"Ah saat itu, aku.. Aku sedang asik makan jadi ga liat..." Jawab Kuro dengan nada canggung seraya menundukkan kepala. "Maaf ya."
“Ah gitu ya... Lain kali akan ku tunjukkan." Aria tersenyum.
"Eumm, iya... Akan kunantikan"
Aku tersenyum melihat kedua temanku. "Semoga kita dapat belajar bersama disini ya."
Akhir ujian yang menyenangkan.
***
"Baiklah! Sekarang waktunya pengumuman!" Teriak salah seorang petugas.
__ADS_1
Semua orang pun menoleh kearah sumber suara dan mulai berkumpul di depan petugas itu.
"Untuk ujian kali ini, ada yang bertahan dan ada yang tersingkirkan. Itu semua adalah hal yang biasa. Dan dari 1010 peserta yang mengikuti ujian ini, hanya ada 500 peserta yang diterima di Goldendawn."
Mendengar itu, semua orang terlihat panik. Mulai berbisik-bisik dan beberapa berdoa. Aku tidak terlalu terkejut. Karena sudah sepatutnya sebuah sekolah bergengsi memasang kuota masuk tidak terlalu banyak.
Aku melirik ke arah Kuro dan aria. Dan kali ini aku terkejut. Terlihat kepanikan dari wajah Kuro. Dia terlihat amat cemas akan hasil yang akan di umumkan.
Kuro melirik ke arahku. "Gi-gimana ini Alvin... Ka-kalau aku gagal aku tidak tau harus gimana..."
Kuro menutup matanya saking gugupnya. Bahkan air mata mulai muncul dari ujung matanya.
"Astaga.." Ujarku dengan helaan. Kemudian aku menepuk kepala Kuro. "Kamu itu kuat. Aku bahkan tidak bisa membayangkan kalau kamu akan gagal. Percayalah pada dirimu sendiri. Tapi kalau sulit, kamu bisa percaya padaku."
Kuro terdiam mendengar ucapanku dan kembali berdiri tegap. Kemudian menatapku dan tersenyum. "Aku percaya padamu Alvin."
Si-sial... Terlalu dekat. Pikirku saat Kuro tersenyum dengan mencondongkan wajahnya ke arahku.
Aku membalas senyumannya dengan canggung dan berusaha memalingkan mataku.
Keimutan yang menakutkan ini benar-benar berbahaya.
"Akan aku lanjutkan, karena pemanggulan 500 orang yang lulus akan memakan waktu, kami sudah menyiapkan sistem sihir yang terdapat pada pin kalian."
Semua orang melirik ke arah nomor urut mereka masing-masing.
"Bagi orang yang setelah ini pinnya tidak melebur menjadi butiran mana, maka orang itu dinyatakan lulus. Dan bagi yang pinnya melebur jadi mana. Maka maaf, sayang sekali kalian tidak dapat melanjutkan diri."
Waw, sistem yang hebat.
"Baiklah, sekarang semua siapkan hati kalian," Petugas itu mengangkan tangannya. "Setelah aku menjentikkan jari, kalian akan mengetahui nasib kalian."
Semua orang disana menelan ludah. Aku pun jadi merasa gugup. Entah aku diterima atau tidak.
Tiba-tiba tanganku di genggam oleh Kuro. Kelihatannya dia masih takut. Tangan Aria yang ada disebelahnya pun tak luput dari genggamannya.
Aku tersenyum kecil. Kita tidak mungkin gagal.
__ADS_1
*Tak!!*
Seketika, banyak berterbangan butiran mana yang menyebar ke langit. Aku melihat ke arah dadaku. Dan pin itu masih berada di tempatnya.
Aku melirik ke arah Kuro dan Aria. Kami bertiga saling bertatapan. Air mata mengalir dari Aria dan Kuro. Dan seketika mereka berdua melompat dan memelukku.
"Kita semua Lulus! Huaaa!!"
"Aku tidak kehilangan teman! Huaa!!"
"Astaga kalian ini... A-hiks... Aku juga jadi ingin nangiskan ah..."
Akhirnya ujian berakhir dengan diterimanya aku dan teman-temanku.
***
>> Sudut Pandang June Cordelia <<
"Bukankah ini yang kamu inginkan pak Wiz?" ujarku.
Aku dan pak Wiz atau penyihir agung Merlin Wizcraft berdiri berdua di bawah pohon rindang. Memandang para peserta ujian yang bersorak disertai tangisan haru. Ada juga yang menangisi kelemahan mereka saat ini. Dan tentunya kami berdua tertuju pada Alvin dan Aria.
"Yah, selama cucuku bahagia aku akan turut bahagia." Ujar pak Wiz pelan.
"Kenapa bapak meminta Alvin untuk menjadi teman Aria?"
Pak Wiz terdiam sejenak. Kemudian membetulkan posisi kacamata yang ia kenakan. "Aku pun tidak tau mengapa. Hanya prasangka saja. Melihat sorotan mata anak yang menyerangku dengan sihirnya 10 tahun lalu membuatku tau kalau dia sama seperti cucuku saat belum menjadi seorang yang tidak disukai banyak orang."
Aku hanya terdiam mendengar ucapan penyihir yang kuhormati itu.
"Aku bersyukur dapat melihat senyuman cucuku lagi."
“Tapi apa bapak yakin tidak akan mengatakan padanya?" tanyaku dengan wajah cemas.
"Tak apa, dia tidak boleh khawatir soal diriku. Selama dia dapat bergantung kembali pada orang selain diriku itu sudah sebuah hal bagus." Pak Wiz tersenyum kecil.
Melihat senyumannya hanya membuat hatiku merasa pilu.
__ADS_1
"Waktuku sudah tidak banyak," Pak Wiz membalikkan badannya. "Hari ini adalah salah satu hari paling berkesan untukku. Aku amat berterima kasih padamu dan Alvin."
Pak Wiz pun pergi dengan [Teleport]. Meninggalkanku dengan hati bergemuruh dab bercampur-aduk.