
Aku terbangun di pagi hari dan menjalani aktifitasku seperti biasa. Hanya saja, hari ini Mirana tidak terlihat. Jarang sekali melihatnya tidak datang saat latihan. Mirana adalah murid ayahku yang paling rajin selain aku. Kalau aku sih jangan ditanya. Aku selalu dipaksa untuk latihan setiap hari.
Sepi rasanya saat Mirana tidak datang untuk latihan. Meski terkadang aku berlatih dangan teman-temanku yang lain, aku lebih sering berlatih dengan Mirana. Dia satu-satunya temanku yang seumuran denganku. Eumm… sebenarnya berda dua tahun sih, tapi rasanya masih sebaya. Mirana juga yang membuat latihanku menyenangkan. Terkadang dia membantuku dalam latihan berpedangku. Kalau di suruh jujur, kemampuan berpedangnya lebih daripada diriku. Tapi kalau soal sihir itu kebalikannya. Aku lebih baik dalam sihir. Meskipun aku merasa Mirana mulai mengejarku dalam bidang sihir. Itu membuatku sedikit khawatir.
Duh, kok aku malah jadi kangen sama Mirana? Padahal cuma sehari doang. Apa kemarin Mirana merasakan hal yang sama sepertiku?
Aku berteriak ga jelas karena pikiranku. Itu membuat Whitney mendekatiku dengan kebingungan.
“Kakak kenapa?” tanyanya penasaran.
“Eh.. Whitney. Gapapa kok. Cuma kepikiran sesuatu aja.”
“Hooo… kakak lagi ngapain?”
“Oh ini,” aku memperlihatkan yang sedang kulakukan. “Kakak lagi nanam bunga.”
“Waaah! Bunga apa kak??” Whitney ikut berjongkok denganku.
“Kakak lagi nanam bunga Spirit Enhancer.”
“Sprincer?”
“Eummm… yah bisa disebut gitu.” Aku tersenyum geli ketika mendengarnya.
“Mana bunganya kak?” tanya Whitney polos.
“Masih nunggu dulu sayang.”
“Lama?”
“Mungkin.”
“Yaah… Whitney mau liat bunganya.” Ujar adikku murung.
“Tenang, nanti kakak kasih liat kalau udah tumbuh.” Jawabku seraya tersenyum.
“Okay!” jawab Whitney senang.
Aku tersenyum melihat adikku yang imut ini. Akhir-akhir ini Whitney jadi lebih sering berbicara dan berekspresi. Senyumannya selalu membuat hatiku tenang.
“kakaaak.”
“Kenapa sayang?”
“Ayo main bola!” pinta Whitney seraya menyodorkan bola karet pemberianku.
“Sebentar ya, kakak simpan dulu potnya di dekat jendela kamar.”
Aku pun berdiri dan mengangkat pot berbentuk persegi panjang. Aku menanam kelima bibit itu di dalam satu pot besar. Kemudian aku mengangkatnya dan menyimpannya diatas lemari. Aku menempatkannya pas di depan jendela. Karena tentunya tumbuhan membutuhkan cahaya matahari.
__ADS_1
Aku berbalik dan menatap Whitney. “Abis kakak cuci tangan, kita main bola diluar. Okay?”
“Okay!” adikku bersorak dan berlari membawa bola ke halaman.
Aku membereskan peralatan menanamku kemudian mencuci tanganku. Setelah itu aku keluar rumah dan melihat sebuah kereta kuda yang amat mewah. Dan disana aku melihat sesosok yang seharian ini aku pikirkan. Di depan rumahku gadis berambut hitam dengan mata merah indah menyala berdiri dengan wajah yang terlihat sedih.
Aku mendekatinya dengan perasaan bingung. Kenapa Mirana terlihat sedih? Kereta kuda itu milik siapa?
“A-Alvin…” ujar Mirana dengan suara yang berat.
“Mirana? Ada apa? Kupikir kamu tid-“
Belum aku menyelesaikan kalimatku, Mirana membenamkan dirinya padaku. Tangannya meremas baju bajuku. Tentunya aku terkejut dan salah tingkah.
“Mi-Mirana? Kenapa kamu-“
“Hiks…”
Untuk pertama kalinya aku mendengar isakan Mirana.
“Huuu… Alvin…..”
Mirana menangis. Mirana yang kukenal sebagai wanita yang kuat dan tidak pernah memperlihatkannya kelemahannya sedang menangis di dadaku.
Tangan basahku dengan lembut membelai kepalanya. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan selain itu.
Butuh cukup lama untuk Mirana mulai menenangkan dirinya. Yang aku bisa hanya mengelus kepalanya dengan tanganku. Hingga akhirnya dia melepas remasan tangannya dan mulai mengusap air matanya.
“A-Alvin… maaf yah…”
“Tidak, tidak apa-apa kok.”
Mirana mencoba tersenyum meski terlihat amat menyedihkan. Kemudian dia mengambil sesuatu dari tas kecilnya dan memberikannya kepadaku.
“Ini… Surat?” tanyaku seraya menerima pemberian Mirana.
Mirana mengangguk pelan. Kemudian dia berbalik. “Selamat tinggal Alvin….”
Aku masih belum mengerti apa yang terjadi. Mirana berlari menuju ke kereta kuda sebelum aku menanyakan sesuatu. Tanganku terangkat seperti hendak menghentikannya. Namun aku tidak mampu. Aku hanya dapat melihat kepergiannya dengan kereta kuda mewah itu. Hingga akhirnya kereta kuda itu tidak terlihat lagi.
***
Aku termangu di tempat makananku. Biasanya aku semangat untuk menyantap makan malam tapi Mirana benar-benar membuatku kepikiran. Surat yang dia berikan belum berani aku buka. Entah kenapa aku merasa berat untuk membukanya. Padahal itu satu-satunya petunjuk yang ada. Yang dapat menjelaskan kenapa wajah Mirana terlihat amat sedih dan keberatan.
Ugh… sepertinya aku harus membuk-
“Alvin!”
“Hah? Apa?” aku tersadar dari lamunanku. Aku melihat kak June dengan muka kesal.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih? Aku dah panggil kamu beberapa kali.” Ujar kak June kesal.
“Eum… maaf..”
“Kamu kepikiran sesuatu sayang?” tanya ibuku.
Aku mengangguk pelan.
“Setidaknya isi duluperutmu nak, baru kamu pikirkan yah.” Ibuku menyodorkan sesendok nasi. “Katakan Aah..”
Aku tanpa banyak pikir menerima suapan ibuku dengan lesu. Ibuku terkejut karena aku menerima suapannya. Sejak aku bisa makan sendiri, aku tidak pernah mau disuapi lagi. Kalau soal saat aku berlatih [Accel] itu aku terpaksa.
“Ini gawat, benar-benar gawat.” Ujar ayahku.
“Alvin mau menerima suapan ibu ehehe.” Ujar ibuku dengan wajah senang.
Dan akhirnya aku disuapi oleh ibuku hingga makananku habis. Rasanya aku tidak bisa berpikir jernih lagi.
Setelah makan malam aku membenamkan diriku ke atas kasur. Harusnya sebentar lagi aku berlatih untuk mendapat afinitas kayu, tapi semakin lama semakin aku merasa penasaran dengan surat yang Mirana berikan padaku.
Aku mengeluarkan surat itu dari kantongku kemudian duduk di meja belajarku. Dengan sebuah lilin sebagai peneranganku, aku mulai membuka surat itu. Dengan perlahan aku mulai membacanya.
***
Halo Alvin, ini pertama kalinya aku membuat surat untuk seseorang. Jadi aku tidak yakin surat ini dapat disebut bagus.
Aku membuat surat ini karena rasanya aku tidak dapat mengutarakan apa yang aku pikirkan lewat mulutku. Jadi saat kamu membaca ini, mungkin aku sedang terlihat menyedihkan dan merasa bersalah karena tidak dapat mengutarakan semuanya padamu secara langsung.
Aku diadopsi oleh seseorang. Aku tidak tau siapa mereka, tapi mereka benar-benar ingin membawaku pergi. Dan juga mereka memintaku untuk bergegas jadi aku minta maaf aku tidak dapat menghabiskan waktu bersamamu dulu sebelum pergi. Maaf… maafkan aku Alvin…
Kamu tau? Aku benar-benar bersyukur bertemu denganmu. Aku sangat sulit untuk berinteraksi dengan orang lain. Tapi kamu datang dan tak kenal lelah untuk mendekatiku. Kamu adalah teman pertamaku. Dan juga teman terbaikku. Meski kamu sering menjailiku, membuatku kesal, dan juga tidak mau kalah, saat-saat bersamamu adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku. Aku sangat senang memiliki orang sepertimu yang menjadi temanku.
Hadiah yang kamu berikan, ini sangat indah. Tidak pernah ada yang memberikanku hadiah selain almarhum ayahku. Aku amat senang saat kamu memberikan hadiah untukku. Aku tidak pernah menyangkanya. Aku akan menjaga ini baik-baik.
Maafkan aku Alvin, janji kita aku tidak tau apa aku dapat menepatinya atau tidak. Padahal baru saja kita membuat janji. Tapi takdir berkata lain. Maafkan aku Alvin.
Sebenarnya aku tidak mau pergi. Sempat aku menolak tapi aku tidak bisa apa-apa. Semua sudah diputuskan. Aku memohon pada mereka agar dapat melihatmu untuk terakhir kalinya. Untungnya mereka setuju. Aku cepat-cepat membuat surat ini karena hanya satu kesempatan saja aku bisa memberikan ini padamu.
Alvin, aku tidak akan pernah melupakanmu selamanya. Kamu adalah teman terbaikku dan akan selalu seperti itu. Aku hanya dapat berharap kita akan bertemu lagi nanti. Sungguh, itu harapanku yang palingku inginkan.
Terima kasih atas segalanya.
***
Tetesan air membuat sebuah tanda di atas surat itu. Aku tidak tau kenapa, tapi air mataku mengalir begitu saja. Hatiku terasa sakit. Untuk pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini bahkan semenjak aku berada di duniaku yang sebelumnya. Rasa kehilangan seorang teman.
Jadi kamu pergi ya Mirana….
Mirana dia teman baikku. Tentu aku tidak akan melupakannya. Semoga di masa depan nanti aku dapat menemuinya lagi.
__ADS_1