
> Sudut pandang June Cordelia <
“ALVIN!!” Aku berteriak begitu melihat bola api besar hendak menghantam kereta kuda yang berisi Alvin dan Tuan Armin.
Jarakku dengan kereta itu cukup jauh. Meski menggunakan sihir berpindah tempat , Aku tidak akan sempat menahan api itu dan hanya akan membuatku ikut terbunuh.
“Maaf Alvin….” Aku menutup mataku tak berani untuk melihat.
Dan setelah beberapa saat, aku tidak mendengar suara api lagi. Segera aku membuka mataku dan aku tak percaya apa yang kulihat sekarang. Alvin sudah berada di luar kereta kuda dengan posisi baru saja menebas sesuatu. Pedangnya memancarkan cahaya berwarna biru terang. Dan bola api itu sudah tidak ada lagi.
Aku berpikir cepat dan menyadari jika Alvin bisa mengatasi keadaan. “Maaf Alvin tidak mengandalkanmu dari awal.” Pikirku.
Fokusku kembali dan segera menatap ke arah bandit biadab yang harus kulawan. Dia terlihat terkejut sama sepertiku. Tapi dia segera mengalihkan pandangannya padaku seraya mendecakkan lidah.
“Cih! Tidak ada yang bilang kalau saudagar sialan ini dikawal oleh orang yang kuat!” ketus bandit itu.
“FLAME LANCE!!” aku dengan cepat menusuk bandit itu dengan tongkatku yang berubah menjadi tombak api.
Tapi bandit sialan itu dapat menahan seranganku dengan menyilangkan senjatanya dan menerima seranganku kemudian melompat mundur menjaga jarak dariku.
“Hei hei! Tidak perlu terburu-buru gitu gadis kecil.” Bandit itu menatap tajam ke arahku. “Jika memang kamu mau kubunuh… dengan senang hati!!”
Tiba-tiba dia sudah berada di depanku. Aku langsung mennggunakan untuk menahan serangan serangannya.
__ADS_1
Senjata bandit itu bersinar dan mengeluarkan serangan yang cepat. Aku terpukul mundur oleh serangan cepat dan bertuntun darinya. Dia membuat sihir pelindungku mulai retak dan pecah. Dia tertawa keras dan mengakhiri serangannya dengan tendangan kuat.
Aku dengan cepat bereaksi terhadap serangannya begitu sihir pelindungku pecah. Aku menahan tendangan terakhirnya dengan tongkat sihirku dan membuatku mundur dan melompat berputar ke belakang. Aku membalas serangannya dengan sihir begitu aku menghadapnya.
Sayatan angin muncul dan melesat menuju bandit itu tapi begitu serangan itu hampir mengenainya, dia seketika berpindah tempat dan berada di hadapanku.
Dengan senyuman liciknya bandit itu menganggkat tangannya dan melancarkan serangannya ke arahku.
Aku segera melompat menghindari serangan dari bandit itu kemudian menjaga jarak darinya.
“Kamu benar-benar lincah gadis kecil.” Ucap bandit itu.
Aku tersenyum canggung. “Aku tidak senang mendengar pujianmu.”
Aku mengibaskan tongkat sihirku dan
mengeluarkan sihir . Kemudian muncul 5 panah api disekitarku.
Dan kemudian aku mengarahkan panah apiku ke arah bandit itu. Panah apiku melesat cepat ke arahnya.
Seperti yang kuduga, dia tidak menghindari serangan itu seketika dia berpindah ke dekatku. Dan sekarang sepertinya dia sudah berada dibelakangku.
“MATI KAU GADIS KECIL!!” seru Bandit itu seraya melancarkan serangan kepadaku.
__ADS_1
Aku tersenyum kecil dan menggunakan sihir tingkat tinggiku. “Gravitation…”
Seketika tanah di radius 10 meter dariku retak seperti ditekan dengan kuat. Skill membuat semua yang berada 10 meter dariku terkena tekanan grafitasi 10 kali lipat biasanya.
“UGH!!” Bandit itu merintih kesakitan. Dia tertekan oleh sihirku. Tubuhnya menyentuh tanah dan tak bisa bergerak.
“SIALAN KAU BOCAAAH!!” teriak Bandit itu berusaha seraya berusaha berdiri.
“Jangan paksakan dirimu tuan.” Aku tersenyum licik. “Kamu tidak akan dapat bertahan dari sihirku.”
Aku menambah kekuatan dari sihir ku dan membuat bandit itu berteriak kesakitan.
“AAAARRGHH!! SHO-SHORT OF DISTANCE!!!”
Seketika bandit itu berpindah tempat ke dekat anak buahnya yang sedang tak sadarkan diri dibawah pohon.
Dengan terpincang-pincang bandit itu berlari seraya mengumpat tidak jelas. Aku mematikan sihirku dan bergerak cepat mengejarnya. Dan ketika aku sudah mendekatinya aku melihat dia menggenggam sebuah batu sihir yang sangat familiar untukku.
Itu… Itu batu teleportasi!! Sialan! Dia mau kabur!
Aku dengan cepat mengeluarkan sihir dan melesatkan sayatan angin ke arahnya. Tapi sayangnya itu terlambat. Dia berhasil berpindah tempat entah kemana.
Aku mendecakkan lidah. “Sial! Aku melepaskannya!”
__ADS_1
Dengan perasaan kesal aku berbalik. ”Setidaknya aku harus mengetahui siapa dalang dari penyergapan ini. Yang pasti ini bukan penyergapan biasa.”