
“Sudah sepuluh tahun lamanya sejak terakhir kita bertemu. Aku yakin kamu telah berkembang pesat.” Ujar Tuan Merlin.
“I-iya tuan, jujur saya tidak menyangka akan mendapat kesempatan seperti ini. Terimakasih pada anda tuan.” Aku mencoba berlaku sopan dan melirik kak June.
Kak June terlihat agak terkejut. Sepertinya kebingungan ingin berkata apa didepan idolanya. Tapi secara tak terduga kak June memperkenalkan diri dengan tenang.
“Senang bertemu dengan anda tuan Merlin sang penyihir agung. Sebuah kehormatan untuk saya dapat bertemu dengan anda. Nama saya June Cordelia. Guru dari Alvin Carlos, anak yang anda beri kesempatan untuk berada disini.” Ucap kak June dengan berpose layaknya seorang bangsawan memberi hormat.
“Ah June, sudah lama aku tidak melihatmu nak. Kamu terlihat tidak berubah sama sekali.” Ujar Tuan Merlin.
Mendengar itu kak June tampak bingung. “Eumm.. mohon maaf tuan, tapi ini pertama kalinya saya bertemu dengan anda.”
Tuan Merlin tertawa kecil mendengar perkataan kak June. “Benar juga, kamu tidak pernah melihat penampilan tuaku ini ya.”
Tuan merlin menjentikkan jarinya. Seketika badannya terlihat diputari oleh sesuatu dengan cepat dan berubah menjadi orang yang terlihat lebih muda. Dengan rambut pirang berkacamata dan jenggot tipis di dagunya. Pakaiannya pun menjadi terlihat lebih kasual dengan kemeja putih lengan panjang serta rompi dan dasi.
“Bagaimana? Kamu sudah mengenaliku sekarang?” tanya tuan Merlin dengan senyuman tipis diwajah mudanya.
Aku terkejut melihat perubahan drastis itu. Tuan Merlin benar-benar terlihat amat sangat berbeda dari sebelumnya.
Aku melihat kak June. Dan sama sepertiku, dia terlihat terkejut. Bahkan melebihi keterkejutanku. Tangan dia terlihat bergetar dan wajahnya berekspresi seakan tidak percaya. Dengan gagap dia membuka mulutnya.
“Pa-pak guru Wiz?” tanya kak June tak percaya.
“Benar sekali. Lama tak jumpa June sang Elementalist. Murid terbaikku.”
Watde? Murid terbaik? Dan apa itu gelar Elementalist??? Masih banyak hal yang tidak aku ketahui tentang
kak June!
Mendengar ucapan tuan Merlin, kak June terlihat tersipu malu. “Pujian bapak terlalu berlebihan.”
Tuan Merlin kembali tertawa. “Tentu tidak berlebihan nak! Kamu salah satu pemegang gelar elementalist! Aku senang kamu sekarang datang kesini. Tak kusangka ternyata selama ini kamu menjadi guru dari nak Alvin. Pantas saja dia bisa melakukan sihir menakjubkan di waktu muda.” Tuan Merlin menatap ke arahku. “Kamu sudah belajar dari guru terbaik nak!”
Aku mengangguk seraya tersenyum mengiyakan ucapan Tuan Merlin.
“Oh, sebentar lagi ujian masuknya akan dimulai. Untuk Alvin, kamu akan aku pindahkan ke depan pintu masuk aula tempat ujian akan berlangsung. Dan untuk kamu June, aku ingin berbincang sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
__ADS_1
Aku dan kak June mengangguk paham. Tapi aku penasaran apa yang mau dibicarakan tuan Merlin dan kak June?
“Oh iya, kamu membutuhkan itu.” Tuan merlin menjentikkan jarinya. Dan seketika muncul cahaya di dadaku. Cahaya itu memadat dan membentuk sebuah pin yang tertancap di kerah bajuku.
“Untuk apa ini tuan Merlin?”
“Untuk memasuki ujian, kamu membutuhkan pin itu. Sebenarnya semua sudah mendapatkannya saat mendaftar ulang, tapi karena kamu aku panggil, kamu tidak sempat mendaftar ulang.”
Aku memasang ekspresi paham.
“Oh iya nak, cucuku juga ikut mendaftar, dia mungkin akan kesulitan untuk bergaul. Jadi aku harap kamu dapat berteman baik dengannya.”
“Akan kucoba.”
Tuan Merlin tersenyum senang. “Baiklah kalau begitu, sampai ketemu lagi nak! Dan jangan panggil aku Merlin saat aku dalam wujud seperti ini. Panggil saja aku Wiz.”
Aku kembali mengangguk. Seketika cahaya muncul dibawaj kakiku dan dalam sekejap aku berada di depan sebuah pintu masuk aula yang besar. Aku menghelakan nafas lega. Ternyata di depan pintu aula agak ramai dan semua orang sibuk melihat kedepan. Aku muncul di belakang para calon murid yang sedang berbaris masuk ke dalam aula. Terlihat juga beberapa orang yang memakai seragam mengatur barisan untuk tetap rapih. Kelihatannya mereka adalah murid akademi ini.
Aku berada pada barisan paling belakang. Dari sini aku dapat melihat kesenjangan sosial yang sudah mulai terjadi. Di barisan awal, terlihat orang-orang yang menggunakan pakaian mewah dan berlagak layaknya boss. Dan disisi belakang terlihat orang-orang yang kelihatan biasa saja. Dan terlihat juga dari ekspresi mereka bahwa mereka sedikit tidak percaya diri. Wajar saja, kebanyakan orang disini adalah para bangsawan.
“Ada apa? Kalian tidak perlu merasa gugup kok.” Ujarku pada mereka.
Begitu terkejutnya aku, tiba-tiba orang-orang itu membuka jalan untukku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa.
“Eumm…. Silahkan tuan. Anda bisa berada di depan untuk mengambil nomor urut.” Ujar salah satu dari mereka.
“Astaga kalian ini.” Aku menghelakan nafas panjang. Kemudian aku menggunakan sihir [Item Box]. Seketika muncul dihadapanku sebuah lubang hitam sebesar ring basket dan memasukkan tanganku. Kemudian aku mengambil baju yang terlihat tidak terlalu mewah tapi tetap terlihat sopan. Setelah itu aku menggunakan sihir [Change]. Sihir tingkat rendah yang mampu membuat pemakainya mengganti bajunya dengan cepat. Dalam sekejap baju yang baru aku ambil itu bergerak cepat memutari badanku dan bajuku pun berganti serta pinku sekarang berada di kerah rompi jasku.
Para calon murid yang berada di barisan belakang hanya terdiam melihatku. Kelihatannya mereka agak terkejut.
“Sekarang kalian tidak perlu merasa gugup padaku. Aku bukan orang yang mempermasalahkan hal sepele seperti derajat materi. Tak apa aku berada akan berada di paling belakang.” Jelasku.
Yah, lagi pula aku datang terakhir. Jadi tak masalah.
Setelah kejadian itu, mereka sudah tidak terlihat gugup lagi. Tapi tetap saja mereka terlihat agak tidak enak padaku. Sampai saat aku mendapatkan nomor urutku, mereka tidak mencoba berbicara padaku.
“Kamu yang terkahir ya.” Ujar salah satu pengurus ujian.
__ADS_1
Aku mengangguk mengiyakan. Pengurus itu memberikan secarik kertas padaku.
“Alirkan mana atau energi spiritual pada kertas ini.”
Aku pun menerimanya dan mengalirkan manaku ke secarik kertas itu. Seketika kertas itu terurai dan menjadi butiran-butiran cahaya yang mengarah ke arah pin yang ada di kerah rompi yang aku pakai. Seketika pin itu berubah menjadi sebuah nomor.
“Nomor urutmu 1010. Kamu bisa masuk dan duduk atau berdiri dimana saja asalkan tidak ditengah aula. Karena itu akan menjadi tempat ujiannya. Selagi menunggu kamu bisa menonton ujiannya hingga namamu dipanggil.” Jelas petugas itu.
Aku mengangguk paham. “Terima kasih kak.” Aku pun memasuki aula itu.
Aula yang aku masuki terlihat lebih seperti stadion sepak bola di duniaku yang sebelumnya. Aula itu terdiri dari lapangan luas yang terbuat dari beton halus dan memiliki lingkaran sihir yang besar tergambar diatasnya. Disisinya terdapat tempat duduk yang memutari lapangan itu sebanyak 10 tingkat.
Semua orang yang berada disana berbaris rapi di tengah lapangan. Di depan barisan itu terlihat tuan Merlin berdiri menghadap semua murid dengan wujud mudanya. Dia memberikan sambutan untuk semua peserta.
“Selamat pagi anak-anak, selamat datang di Goldendawn. Hari ini adalah hari untuk ujian masuk Goldendawn. Hanya setengah dari kalian yang akan lolos dari sini. Bahkan bisa kurang. Tapi aku harap kalian tidak berkecil hati apabila kalian mengalami kegagalan. Masih ada kesempatan tahun depan dan kalian bisa mengisi waktu satu tahun itu dengan melatih diri kalian. Karena ada urusan mendesak aku tidak bisa berlama-lama disini. Semua akan di lanjut oleh kakak kelas kalian yang menjadi petugas untuk acara ujian ini.”
Setelah berkata seperti itu, seketika Tuan Merlin menghilang dari pandangan semua orang dengan menggunakan sihir [Teleportation]. Semua orang terdiam dan semua merasa seperti ada yang kurang dan Susana menjadi agak canggung.
“Ehem…” Salah satu petugas mencoba mencairkan suasana dan mulai menjelaskan tata cara ujian masuk Goldendawn.
“Baiklah, aku akan memberikan intruksi tentang ujiannya pada kalian. Di aula ini, kami telah memasang sihir ruang dan waktu tingkat tinggi untuk mengatur waktu didalam ruangan ini. Waktu yang berjalan diruangan ini lebih lambat 10 kali lipat dibandingkan di luar ruangan. Sehingga apabila waktu sudah berjalan selama 1 jam disini maka diluar ruangan ini baru lewat 6 menit. Kalian tidak diperkenankan keluar dari ruangan hingga seluruh kegiatan ujian ini berakhir.”
Waw, aku tak menyangka ujiannya akan dilakukan seperti ini. Tapi wajar saja sih karena 1000 orang pendaftar akan di tes dan pasti akan memakan waktu yang lama.
“Untuk makan kalian semua sudah disiapkan oleh akademi sehingga kalian bisa menikmati sepuasnya selagi menunggu giliran atau menunggu ujian ini usai. Kalian bebas melakukan apapun selain mengganggu jalannya ujian ini. Siapapun yang melakukan hal yang memicu terganggu jalannya ujian ini akan langsung didiskualifikasi.”
Hmm… semoga saja waktu bebas ini tidak menimbulkan masalah.
“Dan sekarang untuk tata cara ujiannya, setiap 5 urut dari 1 akan dipanggil untuk memperagakan sihir atau kemampuan bertarung terbaiknya maksimal lima menit di depan para penguji yang tidak lain adalah orang yang akan menjadi guru kalian. Terdapat 10 guru yang akan menguji kalian dalam waktu bersamaan. Hasilnya akan diumumkan 1 jam setelah ujian berakhir melalui pin yang ada pada kalian. Apabila pin itu hancur, maka kalian dinyatakan gagal. Dan apabila pin itu tetap utuh, kalian dinyatakan lulus.”
Dengan sihir semua bisa sepraktis itu ya. Semua akan selesai dalam sehari kalau seperti ini.
“Terakhir untuk peringatan, jangan mencoba-coba mencuri pin dari orang yang lulus. Kami akan dengan mudah mengetahui kebenarannya. Sekian dan semoga beruntung.”
Semua bertepuk tangan setelah petugas itu selesai menjelaskan semua yang berkaitan tentang ujian. Jujur ini benar-benar hebat dan aku sangat berdebar-debar. Aku penasaran bagaimana sihir dan kemampuan bertarung orang lain.
Akhirnya Ujian akademi ksatria Goldendawn pun dimulai.
__ADS_1