My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Kuro


__ADS_3

"Ka-kamu beneran laki-laki?" tanyaku gugup.


Laki-laki(?) itu mengengguk pelan. "Aku kelihatan seperti perempuan ya?"


Jujur fisiknya keseluruhan benar-benar cewe banget. Paling cuma bagian dadanya yang terlihat lelaki. Tidak memiliki benjolan.


"Oh iya, sekali lagi makasih ya. Namaku Kuro Murasame. Aku berasal dari benua yang berada jauh di timur dari sini."


Kuro menjabat tanganku. Aku pun tersenyum dan mencoba untuk tidak memikirkan kelamin dari lelaki cantik ini.


"Namaku Alvin Carlos, dan ini temanku Aria Wizcraft." jawabku.


Aria melirikku dan tersenyum senang. Kemudian dia menjabat tangan Kuro.


"Semoga kita bisa berteman baik!" Ujar Aria dengan senyuman lebar.


"Tentu."


Setelah berkenalan, kami bertiga pindah ke tempat penonton dan berbincang-bincang untuk mengusir kebosanan dalam menunggu antrian. Jujur saja aku berharap aku dipanggil lebih cepat. Tapi nomerku adalah nomor paling terakhir yang akan disebut.


"Kuro, kenapa kamu bisa secantik ini sih?" tanya Aria seraya menyentuh pipi kuro.


Kenapa kalian bisa dengan cepat akrab sih?


Kuro tertawa kecil. "Sepertinya aku tau alasannya."


Aku melirik cepat. Ada alasannya toh?


"Wah apa alasannya?" tanya Aria cepat.


"Itu karena ibuku. " Kuro tertawa kecil saat mengatakan itu.


Aku bertatapan bingung dengan Aria. Tidak mengerti dengan yang Kuro katakan.


"Aku anak paling bungsu dari 7 bersaudara. Dan semua kakakku adalah lelaki. Padahal ibuku sangat menginginkan seorang anak perempuan. Karena itu dia memperlakukanku seperti perempuan dan membuatku bergaul dengan sepupu dan teman perempuan."


"Kamu tidak masalah dengan hal itu?" Tanyaku.


"Iya, meski sikapnya padaku seperti itu, dia bukan ibu yang buruk kok. Dan aku juga mengerti kalau dia menginginkan seorang anak perempuan. Makanya aku malah seperti dimanja oleh ibuku." Jelas Kuro dengan senyuman kecil.

__ADS_1


Aku menelan ludah. Vin, dia cowo. Jangan kalah ama senyuman manisnyaa!!


"Ta-tapi kamu masih diperbolehkan untuk bertarung? Itukan ga sesuai untuk perempuan biasanya." tanyaku dengan agak canggung.


"Aku masih diperbolehkan kok untuk berlatih pedang, meski aku hanya boleh berlatih dengan ibuku. Aku tidak dibolehkan masuk kedalam dojo tempat berlatih ayah dan kakak-kakakku. Tapi jujur saja ibuku lebih kuat dibandingkan ayahku. Makanya ibuku tidak mempermasalahkan itu."


"Kamu benar-benar menyukai ibumu ya." Ujar Aria.


Kuro tersenyum mendengar itu. "Tentu aku sangat mencintainya."


Uaagh!! Cukup.. Damagenya begitu besar! Kenapa bisa cowo menjadi semanis dia sih!!


"Alvin!"


"Eh apa?" aku tersadar dari kekacauan pikiranku.


"Sekarang sudah giliran Kuro." Jelas Aria.


"Oh ya?"


Aku menengok ke arah Kuro. Dia sudah berada di tangga dan mulai turun menuju lapangan. Begitu berada dibawah, dia melirik kearahku dan Aria seraya tersenyum melambaikan tangan.


Tolong... Jangan tersenyum padaku...


***


Kuro sekarang sedang berdiri dihadapan para penilai. Tak terasa juga sudah masuk nomer 715. Nomor milik Kuro. Kuro berdiri dengan sebuah katana yang menggantung di pinggangnya. Pedang yang bentuknya mirip dengan pedang milikku. Dan tentunya aku penasaran dengan skill pedang milik Kuro yang pastinya terkhusus untuk pedang bermata satu itu.


Kuro pun dipersilahkan untuk menunjukan skill miliknya. Dia pun mengangguk dan berbalik membelakangi juri. Kemudian dia memposisikan kuda-kudanya layaknya orang yang ingin menebas lawan. Tangannya berada di pegangan pedang miliknya. Kemudian....


*Sring...*


Suara pedang menebas dengan halus.


Aku melotot melihat apa yang aku saksikan. Mungkin orang lain hanya melihat itu sebagai 1 tebasan. Tapi aku yang sudah terbiasa untuk berlatih pedang dengan ayahku aku dapat melihatnya. Semua pergerakan yang amat sangat cepat telah dilakukan oleh Kuro. Kuro maju 5 meter dari tempat dia berdiri sebelumnya dan sudah melancarkan 7 tebasan bertuntun dengan sangat cepat.


Debu di area latihan tersapu oleh angin yang terpotong oleh Kuro. Dan di kumpulan debu itu aku dapat melihat percikan-percikan listrik. Dia menggunakan skill yang mengandung elemen petir.


"Apa kamu lihat yang Kuro lakukan Aria?" tanyaku.

__ADS_1


"Dia hanya menebas pedang seperti biasakan?"


Aku tersenyum kecil. Cowo cantik ini kemampuannya berbeda dengan penampilan manisnya.


Serangan Kuro sama sekali tidak membuat para peserta lain takjub. Dia terlihat seperti orang biasa yang menebas pedang. Tapi dengan dia yang tidak menarik perhatian meski dengan serangan yang luar biasa itu adalah yang paling menakutkan. Dia berbakat untuk menjadi seorang assassin.


Setelah memperagakan kemampuannya, Kuro kembali ke tempatku dan Aria.


"Kamu luar biasa sekali Kuro!!" seruku seraya memegang tangannya tanpa sadar.


“Be-benarkah?" tanya kuro dengan wajah yang memerah.


Aku mengangguk cepat. "Ngomong-ngomong aku juga menggunakan pedang yang bentuknya sama sepertimu."


"Oh ya?! Waah tak kusangka ada yang menggunakan katana sepertiku." Kuro tersenyum senang. "Boleh aku melihat pedangmu?"


"Tentu."


Kuro kembali tersenyum. Aku pun mengeluarkan pedang milikku dari [Item Box]. Kemudian aku mengeluarkan pedangku dari sarungnya. Pedang yang full hitam itu aku biarkan Kuro melihatnya.


"Waw.. Ini hebat Alvin." Ujar Kuro seraya memegang pedangku. "Darimana kamu mendapatkannya?"


"Dari Toko barang bekas. Sebelumnya pedangku terlihat seperti kayu biasa saat masih berada dalam sarungnya. Tapi ternyata itu sebuah pedang. Dan cuma aku yang bisa menggunakan pedang itu."


"Ah, senjata yang mampu memilih pemiliknya. Keluargaku memiliki pedang seperti ini juga.


Senjata pusaka keluarga. Kamu hebat sekali memiliki pedang seperti ini secara pribadi."


"Yah, mungkin sebuah keberuntungan." ujarku seraya tersenyum kecil.


"Bukan keberuntungan, senjata ini memang ditakdirkan untuk menjadi senjatamu." jelas Kuro seraya tersenyum dan mengembalikan pedangku.


"Eumm.. Kuro."


“Ya?"


“Selama ini aku mempelajari skill pedang biasa. Dan setelah melihat kemampuanmu tadi, eumm.. Bisakah kamu mengajariku skill katana?"


Kuro menatap terkejut dan tersenyum kecil. "Kalau kita lulus dari ujian ini ya."

__ADS_1


Aku membalas senyumannya. "Tentu."


Latihanku masih memiliki jalan yang panjang.


__ADS_2