
Suasana ramai di hari pertama masuk kelas sebagai murid resmi dari akademi Goldendawn pasti dirasakan oleh semua orang. Saling tertawa bersama, saling menyapa dengan riang, dan ada juga mulai membentuk kelompok-kelompok tersendiri dengan perasaan akan saling diuntungkan.
Di hari yang menyenangkan bagi semua orang itu, kepalaku tertunduk menyentuh meja di kelas seraya menghelakan nafas berat. Perasaan tidak karuan menghantuiku disertai pikiran-pikiran yang tak kunjung hilang dari otakku.
"Kamu kenapa sih Vin?" tanya Shamus yang bingung melihatku lesu.
Aku hanya diam tak menjawab. Mulutku hanya mengeluarkan nafas yang berisi keresahanku.
"Sejak kemarin dia begitu. Aku juga bingung kenapa Alvin terlihat seperti ikan mati gini." ujar Aria dengan mulut pedas seperti biasa.
Aria dan Shamus berada di kelas yang sama denganku. Kelompok kami agak terpisah-pisah, Kuro berdama dengan Sherly di kelas sebelah. Meski begitu asrama kami masih sama seperti sebelumnya.
"Hooi, Alviin. Kamu kenapa si?" tanya Aria seraya menusuk-nusuk kepalaku dengan jarinya.
"Ugh... diamlah." keluhku seraya menggerakan kepalaku.
"Aku tak kan berhenti sampai kamu bilang padaku." lanjut Aria.
"Ah sudahlah! Aku mau bolos!" seruku dengan sedikit kasar. Aku pun beranjak pergi keluar kelas. Meninggalkan Aria dan Shamus yang menatapku dengan keheranan.
***
"Astaga kenapa aku melakukan itu?!"
Aku menggerutu di area atap akademi. Aku terduduk dengan lesu seraya menatap awan yang bergerak perlahan diterpa angin. Perasaan berkecamuk membuatku menjadi bersikap kasar pada yang lain. Aku menghelakan nafas berat.
"Padahal diriku sudah cukup berumur seharusnya. Sungguh tidak dewasa sekali."
Aku memejamkan mataku. Gambaran ingatan yang masih segar mulai kembali ke benakku.
Saat itu aku tidak bisa tenang saat menyaksikan pidato dari ketua dewan perwakilan siswa. Seluruh penampilannya, suaranya, bahkan sikapnya membuatku tak ragu lagi jika ia adalah teman masa kecilku.
"Tapi kenapa... Kenapa dia melupakanku??"
Di saat aku keluar dari aula setelah upacara pembukaan berakhir. Aku berlari menemuinya. Dia amat sangat populer di kalangan banyak orang. Aku mengejarnya dan mendekatinya. Dan tanpa kusadari aku telah menggenggam tangannya. Aku menatap lurus padanya.
" Tu-tunggu!" seruku padanya.
__ADS_1
Banyak yang menatap tak suka padaku. Terutama para lelaki yang sejak tadi mengikutinya seraya mencari muka padanya. Tapi aku tak peduli. Aku menatap matanya dengan serius. Dia membalas tatapanku.
Namun ketika aku hendak mengatakan sesuatu, mulutnya terbuka lebih cepat.
"Siapa kamu?"
Aku merasa seperti disambar petir di siang bolong. Keterkejutanku membuatku melepas tangannya. Aku berdiri mematung tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mirana pergi meninggalkanku begitu saja.
Orang-orang melewatiku dan mencemooh diriku. Tapi aku tak bisa mendengar apapun ucapan mereka. Bahkan aku tak peduli saat beberapa orang itu memukul kepalaku seraya berlalu meninggalkanku.
"Aku benar-benar menyedihkan." ucapku seraya membuka mataku dan kembali menatap langit biru.
"Kamu emang menyedihkan dasar bodoh."
"Ka-kak June?!"
Aku berteriak terkejut saat melihat di depanku terdapat kak June yang sejak tadi kelihatannya memperhatikanku.
Kak June menatap kesal padaku. Sebagai guru sudah sewajarnya dia kesal melihatku yang bolos di hari pertama.
"Itu sih karena aku yang mengunci pintu untuk ke atap ini. Karena kamu merusaknya jadi aku tau kalau ada yang naik kesini."
"Begitu ya, kukira pak Wiz yang menguncinya."
"Biasanya memang dia, tapi kondisi pak Wiz sedang tidak baik. Jadi aku yang menggantikannya." jelas Kak June.
"Memang pak Wiz kenapa?"
Kak June menghelakan nafas. "Dibanding itu harusnya aku bertanya. Kamu kenapa tidak ada di kelas pagi? Ditambah aku yang mengajar pagi ini di kelasmu. Aku jadi keluar lebih awal karenamu." keluh kak June kesal seraya mencubit pipiku.
"A-adaw!!" rintihku. Cubitan kak June benar-benar ganas.
Kak June menatapku yang sedang mengusap-usap pipi seraya mengenduskan nafas. "Yah, aku mengerti sih. Ini soal Miranakan?"
"Ba-bagaimana kak June tau?" tanyaku sedikit terkejut.
"Tentu taulah. Aku sudah lebih dulu menemuinya dibandingkan dirimu."
__ADS_1
"Lalu bagaimana?"
"Dia kehilangan ingatan masa lalunya."
"A-apa?" mendengar itu aku kembali merasa lemas.
"Tidak ada yang tau alasannya. Tapi aku sempat berbicara dengannya dan dia berkata kalau dia hanya memiliki ingatan saat berada di keluarga Flamesworth."
"Jadi maksudnya... Dia tidak ingat semua hal yang terjadi denganku?"
Kak June mengangguk pelan.
"Yang benar saja..." aku semakin tertunduk.
Kak June yang duduk disebelahku mengelus-elus kepalaku dengan lembut.
"Sudahlah, setidaknya kamu bisa bertemu dengannya."
"Tapi dia sama sekali tidak mengingatku." gerutuku.
"Hmm, mungkin kalau kamu sering bertemu dengannya itu akan membuatnya teringat sedikit tentang masa lalunya."
Aku menengok kearah kak June. "Gimana caranya?"
"Ikut jadi anggota dewan perwakilan siswa." ujar kak June seraya tersenyum.
Aku menghelakan nafas. "Aku malas mengurusi orang lain."
Kak June menjitak kepalaku sesaat setelah mendengar ucapanku. Dia kemudian dengan cepat berdiri dan beranjak pergi.
"Terserah kamu dasar Alvin bodoh!" serunya seraya turun dan membanting pintu.
Aku tertawa kecil melihat perilakunya. Aku berterima kasih pada kak June yang telah sedikit menghiburku. "Terima kasih."
Aku pun berdiri merenggangkan tubuhku. Meskipun aku masih sedikit terbebani, aku merasa lebih ringan dari sebelumnya. Memang bernar, bercerita masalah pada orang lain dapat meringankan beban.
"Baiklah, sudah cukup murungnya. Akan kulakukan apa yang aku bisa."
__ADS_1