My Reincarnation Life

My Reincarnation Life
Latihan Ekstrim


__ADS_3

Di pagi hari, ayah sudah menungguku di lapangan. Jarang-jarang dia bangun sepagi ini. Aku melihatnya sedang menyusun beberapa balok kayu dan mengikatnya dengan tali tambang. 


“Halo yah.” Sapaku.


“Oh Alvin, kemarilah.” Ayahku berdiri menghadap ke arahku.


Aku mendekatinya dan begitu berada di hadapannya, tiba-tiba dia menganggkatku.


“A-apa yang ayah lakukaaan??!!” tanyaku kaget. 


“Hmmm… segini ya.” Ayah tidak mempedulikan kepanikanku.


Tak lama kemudian aku diturunkan. Aku merasa seperti anak kecil lagi. Ketika aku melirik kedalam rumah, ternyata MIrana dan kak June sedang mengintip dibalik pintu. Itu membuatku amat malu. Sepertinya wajahku memerah.


“Baiklah Alvin, sekarang ayah akan mengikat balok kayu ini.” Ujar ayah.


Aku pun kembali fokus pada ayahku dan mengangguk.


Ayah mengisyaratkanku untuk menganggkat tangan. Aku pun menurutinya. Setelah itu dia mengikatku Bersama dengan balok kayu dengan menggunakan tali tambang. 


“Jadi latihan kali ini adalah berlari.” Ucap ayahku.


Aku memasang wajah bingung. 


“Dasarnya, adalah kecepatan. Dan kamu harus bisa berlari cepat. Untuk dapat menggunakannya, kamu harus berlari dengan membawa beban yang sama dengan tubuhmu. Makanya ayah tadi mengangkatmu untuk mengetahui beratmu dan menyamakannya dengan kayu.” Jelas Ayah.


Aku mengangguk paham. Aku pun mengerti kenapa ini latihan sangat ekstrim.


“Dan juga kamu tidak hanya berlari biasa. Kamu harus memfokuskan energi spiritualmu ke kakimu. Dan apabila sudah terbiasa, kamu harus menyebarkannya ke seluruh badanmu. Agar seluruh pergerakanmu lebih cepat tidak hanya di kaki saja. Karena cukup rumit, untuk sekarang fokuskan saja pada kakimu.” 


Aku kembali mengangguk mendengar penjelasan ayah.


“Sekarang cobalah memfokuskan energi spiritualmu ke kakimu.”


Aku memejamkan mataku. Aku mulai memfokuskan energi spiritualku ke kakiku. Sesuatu terasa mengalir dari atas ke bawah kakiku. Yah aku merasakannya.

__ADS_1


“Bagus, sekarang cobalah berjalan.” Perintah ayahku.


Aku pun membuka mataku dan mulai melangkah. Kaki kecilku perlahan berjalan. Badanku mulai bergerak maju mengikuti langkah kakiku. Tapi…. GILAAA BERAT BANGEET!!! Beban yang terikat denganku memperlambatku dan menyulitkanku. Aku pun berusaha sekuat tenaga untuk melangkah dan berhenti karena kelelahan.


“Hmmm…. Lumayan untuk percobaan pertama.” Ujar ayahku.


Aku menatapnya dengan nafas yang terengah-engah.


“Gunakan untuk menghilangkan lelahmu.”


Aku pun menurutinya dan menggunakan . Perlahan, tenagaku kembali lagi.


“Lakukan itu terus dan ulang kembali setiap kamu merasa Lelah. Lama kelamaan kamu akan terbiasa dan secara otomatis mengalirkan energi spiritualmu keseluruh tubuh. Dan membuat tubuhmu menjadi ringan. Latihan ini selesai apabila kamu sudah bisa berlari dengan membawa beban itu.” Ayahku pun meninggalkanku dan kembali ke dalam rumah.


Akupun mencoba kembali apa yang tadi kulakukan. Memfokuskan energi spiritual ke kaki, mulai berjalan, dan ketika Lelah menggunakan untuk mengembalikan tenagaku. Aku mengulang it uterus menerus. Awalnya berhasih 5 meter, naik 7 meter, 10 meter. Hingga akhirnya di sore hari aku tidak kuat lagi dan berhasil mencapai 70 meter. Aku terkapar dengan baju penuh dengan keringat. Aku butuh mandi.


“Kamu terlihat menggelikkan.” Ujar Mirana yang tiba-tiba muncul dan menatapku yang sedang terkapar di halaman.


“Terserah kau saja.” Ucapku kesal dengan suara lesu.


“Sini aku bantu.” Mirana memberikan tangannya. “Aku juga pernah mengalami hal yang kamu rasakan jadi aku jadi ingin membantumu.” Dia bicara tanpa melihatku. Pipinya terlihat sedikit memerah.


Dengan sempoyongan aku berdiri dan berjalan menuju rumah dibantu oleh Mirana.


“Setelah ini kau harus mandi Alvin. Kamu benar-benar basah.” Ucapnya.


“Iya aku tau.” Aku tersenyum memikirkan hal jail. “Mau mandi bareng?”


Mendengar itu Mirana terdiam dan wajahnya memerah. Kemudian dia menjatuhkanku. “TAU AH MANDI SENDIRI SANA!!” dia berjalan cepat memasuki rumah. Meninggalkanku.


“Duh dahal aku Cuma bercanda.” Keluhku seraya mencoba berdiri.


Hari yang amat melelahkan.


Setelah mandi dengan susah payah, makan malam pun sudah siap. Aku pun duduk dan disebelahku ada Mirana yang masih terlihat kesal. 

__ADS_1


“Maaf Mir, aku kelewatan bercandanya.” Ucapku.


Dia hanya memalingkan wajahnya dan mengendus kecil. Kelihatannya dia belum mau memaafkanku.


Aku memalingkan perhatianku ke arah makanan yang sudah disiapkan oleh ibu dan kak June. Banyak sekali makanan lezat disitu. Dan pas sekali aku sedang lapar. Tapi sialnya…. Tanganku tidak bisa kugerakkan.


“Eumm…” aku termangu melihat yang lain mulai memakan makanannya.


“Kenapa Alvin? Kamu tidak mau makan?” tanya kak June.


“Mau kok, mau banget malah. Cuman..” aku menatap tanganku. “… aku tidak dapat menggerakkan tanganku.”


Kak June menghelakan nafas. “Dasar, mau gimana lagi.” Kak June berdiri dan memindahkan kursinya ke dekatku. Kemudian dia menyendokkan semur daging dan mendekatkannya ke wajahku. “Ayo buka mulutmu.”


“Eh? Kakak ngapain ih, aku kan sudah besar.” Jawabku malu.


“Sudahlah lagian kamu ga bisa apa-apa dengan tubuhmu sekarang.” Ujar kak June.


Mau tidak mau aku pun mengikuti apa yand dia minta. Aku pun membuka mulut. Tapi tiba-tiba Mirana memasukkan potongan kecil roti kedalam mulutku. 


“Bi-biar aku yang menyuapimu.” Ucap Mirana dengan sedikit gugup.


Kak June yang melihat itu bukannya bersikap dewasa malah seperti tidak mau kalah. Dengan cepat dia memasukkan semur daging itu ke mulutku. 


“Tidak! Biar aku yang merawat muridku.” Tegas kak June.


“Tidak! Biar aku saja.” Balas Mirana. 


Oh ayolah, aku hanya ingin makan dengan tenang.


Aku menatap kedua orang tuaku. Ayahku tersenyum melihatku.


“Ramainya makan Bersama.” Ujarnya tanpa mempedulikanku.


Ibuku tersenyum kecil. “Anakku begitu popular ya.”

__ADS_1


Ah ga tau lagi aku. Aku hanya dapat pasrah dan mengisi perutku dengan makanan yang disodorkan padaku. Tapi debat kak June dan Mirana berlangsung hingga makanannya tidak tersisa. Setidaknya aku makan cukup banyak untuk memenuhi perutku.


Selesai makan malam yang penuh kehebohan, aku beranjak ke kamarku. Sebelumnya aku berpikir untuk melatih sihirku. Ternyata tidak bisa. Aku tidak memiliki tenaga untuk itu. Dan juga sepertinya aku tidak dapat meggunakan . Aku langsung menjatuhkan tubuhku ke Kasur dan terlelap dengan cepat. Hari ini benar-benar melelahkan.


__ADS_2