
"Aaah... Ini membosankan sekali..." Keluh Aria.
Aku tersenyum melihat tingkahnya. Wajar saja, sudah cukup lama kami berada di aula besar ini yang mempertontonkan kemampuan setiap peserta. Beberapa orang peserta bahkan sudah ada yang tertidur dalam posisi yang beragam. Tapi kebanyakan mereka tidur seraya duduk layaknya pengguna kereta yang tidur di duniaku sebelumnya.
“Alvin dipanggil kapaaaan?" tanya Aria dengan nada malas.
" Aku dipanggil paling terakhir."
"Hmmm..." Aria menatapku kemudian memalingkan wajah. "Entah apa aku harus senang karena tau saat kamu beres bisa keluar atau enggak. Yang pasti aku bosaan!"
Aku tertaaa kecil dan mengusap kepala Aria. "Sudahlah, sabar saja ya."
Seketika wajah Aria memerah. "Tidak pernah ada yang mengusap kepalaku..." ucapnya dengan suara kecil.
"Ah! Maaf," aku melepaskan tanganku. "Aku terbiasa mengelus kepala adikku saat dia menggerutu."
Aria menarik kembali tanganku dan meletakkannya di kepalanya. "Jangan berhenti... Aku bukannya ga suka kok."
Aku tersenyum. Yah sudahlah.
"Kalian akrab banget ya." ujar Kuro ssat melihatku.
Aku tersenyum kecil. "Sebenarnya aku tidak menyangka sih. Ternyata Aria mudah bergaul. Sayangnya sikap orang lain yang terlalu berlebihan membuatnya sulit mendapat teman."
Aria terlihat tidak mendengarkan apa yang kuucapkan. Dia hanya tersenyum-senyum menukmati elusan kepalaku.
"Alvin, aku ngantuk." ucap Aria tiba-tiba.
"Ya tidur aja." jawabku singkat.
Aria tersenyum jail. "Kamu yang bilang ya, aku pinjem bahumu!"
Tiba-tiba Aria menyenderkan badannya ke badan sebelah kiriku dan kepalanya ke bahuku. Itu membuatku sedikit terkejut.
"A-Aria-"
"Ga boleh protes."
Aku menghelakan nafas. Untuk kali ini biarkan saja deh.
"Kalau gitu aku juga."
Aaaaa!! Jangan Kurooo!!
Kuro menyandarkan badannya di sebelah kananku.
__ADS_1
Ugh.. Sepertinya sifat kelakian dari anak ini sudah hilang karena ibunya. Dia bersikap seperti perempuan. Tapi astaga aku tidak bisa membayangkan kalau dia ini laki-laki. Jujur saja jantungku berdetak lebih cepat ketimbang Aria yang menyandar padaku. Tunggu... Ga ga gaaa! Aku gak beloook!! Aku masih suka ceweee!!
Aku menghelakan nafas panjang. Rasanya tubuhku lemas karena hal ini.
Aku tidak bisa menolak mereka. Entah kenapa tidak tega. Dan juga sialan mereka berdua cantik banget. Apa aku cowo beruntung? Eh Kuro cowo oi!
Tapi melihat mereka yang seketika terlelap, aku tau bahwa mereka sebenarnya lelah dan bosan. Aku tersenyum melihat wajah tidur mereka.
"Untuk kali ini saja ya..."
***
"Untuk nomor 1006 sampai 1010 mohon segera memasuki lapangan!" Teriak salah satu panitia ujian.
Ah, itu nomorku.
"Hei kalian, bangunlah." ucapku pelan seraya menggerakkan bahuku.
Aria dan Kuro terbangun seraya mengucek-ucek mata.
Duh, bahuku agak mati rasa karena mereka tidur dengan nyenyak.
"Apa sudah pulang?" tanya Aria seraya masih menguap.
"Sebentar lagi kita keluar." ujarku seraya merenggangkan bahuku.
"Ini nomorku sudah dipanggil."
Aku pun berdiri dan merenggangkan seluruh badan.
"Euugh!! Aah... Kalau gitu aku kesana dulu ya."
"Okay..." jawab Kuro dan Aria dengan lesu.
Aku pun berjalan kebawah menuju ke lapangan. Di depanku sudah terdapat 10 orang pengetes yang kelihatannya juga sudah mulai jenuh akan ujian yang memakan waktu yang cukup lama. Meski pada akhirnya ketika keluar waktu yang sudah terpakai mungkin sekitar 1 jam saja. Padahal sudah sekitar 10 jam semua berada disini.
"Hai Alvin." bisik kak June seraya melambai kecil.
Aku tersenyum dan menatap kesal. Kakak berhutang penjelasan atas yang terjadi saat ini.
Kak June tertawa canggung seperti mengerti apa yang aku pikirkan.
Aku menghelakan nafas. Untuk sekarang tidak penting memikirkan itu. Saatnya ujian.
"Nomor 1006 silahkan memperlihatkan kemampuannya. Untuk sisanya silahkan menunggu di pinggir lapangan." ujar salah satu penguji.
__ADS_1
Aku dan beberapa orang lainnya bergerak menyisi meninggalkan nomor urut 1006. Kemudian dia memperlihatkan kemampuannya di depan para juri.
Bergiliran setiap orang menunjukkan kemampuannya. Ada yang mengeluarkan sihir, dan ada juga yang memperlihatkan kemampuan bertarung. Setiap orang memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri.
"Silahkan nomor 1010."
Akhirnya nomorku disebut.
Aku melangkah menuju ke depan para penguji.
"Silahkan."
Aku mengangguk dan membalikkan badanku.
Okay apa yang akan aku tunjukkan ya? Apa sihir gabungan? Atau sihir tingkat tinggi dengan afinitas terbaikku? Dan bagaimana dengan kemampuan berpedangku? Cih, seharusnya aku memikirkannya sebelum berada disini.
Aku melirik kearah tempat Kuro dan Aria. Mereka melambaikan tangan padaku. Sepertinya mereka menungguku. Aku membalas lambaian mereka.
Baillah, akan kugunakan itu.
Aku menjauh dari tempat penguji. Kemudian aku mengibaskan tangan kananku dan mengeluarkan pedangku dari [Item Box]. Kemudian aku mengeluarkan pedang dari pelingungnya. Sebuah pedang bermata satu dengan warma hitam pekat teracung ditanganku. Kemudian aku memutarnya dan memegangnya secara terbalik.
"Hawa dingin yang menusuk... Membekukan segala yang menyentuhnya... Kupersembahkan tubuhku dan jiwaku untuk membekukan segalahal... Merambat dari setiap sisi... Mematikan segala hal... Memadatlah... Selimuti bumi ini dengan dinginmu yang mematikan!! WORLD OF DOMINATION ICE!!!"
Segera aku menusuk lapangan dengan pedangku yang mengeluarkan hawa dingin. Dalam sekejap, seluruh area di sekitarku membeku. Merambat dari ujung pedangku menuju ke seluruh arah seluas 10 meter.
[World of Domination Ice]. Sihir yang mampu menghentikan pergerakan lawan. Sihir ini adalah sihir yang mampu ditingkatkan. Tapi karena level sihirku yang masih kurang, aku baru bisa mengeluarkan sejauh ini. Seharusnya penggunanya bisa membekukan seluruh ruangan ini. Tapi jujur saja, dengan ini aku hanya bisa bertahan hingga 5 menit karena keterbatasan manaku. Tapi sepanjang radius 10 meter ini, aku mampu mengendalikan es sesuka hatiku.
Aku pun menarik pedangku dan membayangkan muncul balok es setinggi diriku. Aku bermaksud untuk membuatnya sebagai orang-orangan sawah. Dan mucunlah balok es setinggi dan selebar badanku.
Aku mempersiapkan kuda-kudaku. Helaan nafasku terasa dingin dengan asap dingin tipis yang terhebus oleh nafasku. Tanganku memegang erat pegangan pedangku. Pedangku mulai mengeluarkan cahaya biru muda. Aku menatap bongkahan es itu dengan tajam. Dan kemudian aku mengeluarkan skill pedang yang membuatku takjub sejak kecil.
"Triple Slash.."
Aku melesat cepat dan memotong bongkahan es itu dalam sekejap. Aku sekarang sudah berada di belakang es itu dan memasukkan kembali pedangku.
Es yang aku potong terlihat tidak bergerak. Namun selang beberapa detik, es itu mulai berjatuhan menjadi 6 bagian.
Aku menghelakan nafas. Dan menuju ke tempat penguji untuk memberi hormat dan terima kasih.
Mereka memberiku tepuk tangan dan pujian. Namun di hatiku aku masih merasa kurang.
Aku yang sekarang baru bisa seperti itu. Ayah dan Kuro masih lebih hebat dari yang dapat aku lakukan. Sial...
"Berhubung seluruh peserta sudah melakukan pengujian, silahkan untuk mengikuti instruksi para petugas untuk keluar dari Aula."
__ADS_1
Ujian pun berakhir.