
“Hoooi! Alviin!!”
Aku yang sedang berada di tempat pedagang sate Barbeque, menoleh kearah suara itu dengan mulut sedang mengunyah.
Suara itu berasal dari kak June. Dia berlari kecil mendekatiku. Selagi menunggu dia sampai, aku membayar sate yang aku beli.
“Ini pak uangnya.” Ucapku seraya menyodorkan 1 koin perak.
“Oke makasih!” ucap pedagang itu menerimanya.
Aku membeli 5 tusuk sate barbeque. Harga pertusuknya 2 koin perunggu. Aku tersenyum pada pedagang itu dan beranjak berjalan menuju kak June.
Kak June dengan nafas terengah-engah menatapku. Aku masih saja dengan santai mengunyah sate barbeque yang baru saja aku beli. Aku cukup bingung kenapa kak June terlihat terburu-buru.
“Kakak kenapa terburu-buru gitu?” ucapku setelah menelan porongan daging yang nikmat.
“Ka-kamu…” kak June mencoba bernafas secara teratur. “Kamu kemana saja siiih??!!” seru kak June seraya
memukul kepalaku.
“ADUH!!” rintihku. “Kakak kenapa sih?! Aku kan Cuma di pasar dari tadi.”
Ketika aku menatap kak June dia terlihat berkaca-kaca. Seperti menahan tangis. Aku jadi bingung sebenarnya apa yang terjadi.
Tiba-tiba kak June memelukku dengan erat. Terdengar suara isakan dari kak June.
“Ta….tadi kamu… hiks…… kamu tadi ilang tiba-tiba….huaaa….” tangis kak June.
Aku hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya mencoba menenangkannya.
“AKu ga pergi kemana-mana kok kak.” Ucapku mencoba menenangkan.
Kak June hanya terisak dan tetap memelukku. Hingga setelah beberapa saat dia mampu berhenti.
Aku dan kak June keluar dari pasar. Kak June tidak mau melepaskan tanganku. Dia menggenggamnya
sepanjang jalan. Sepertinya kak June tidak mau kehilanganku lagi. Untuk menenangkannya aku hanya bisa membiarkan itu. Kami berjalan menuju ke sebuah air mancur yang berada di tengah kota.
Hari sudah mulai sore. Aku dan kak June duduk di salah satu kursi di dekat air mancur. Rasanya agak canggung sih karena kak June hanya terdiam dan menggenggam erat tanganku. Aku berpikir keras untuk mencairkan suasana ini.
“Eumm… kakak mau sate barbeque?” tanyaku. Dan aku merasa kebodohanku cukup tinggi dengan menanyakan
itni sial.
Kak June hanya terdiam. Aku jadi garuk-garuk kepala sendiri.
“Eumm… tadi aku bertemu seorang pedagang tua.”
Aku mencoba bercerita meski kak June hanya diam.
“Ternyata dia adalah seorang penyihir bernama Merlin Wizcraft.”
__ADS_1
“APAH????!!!” tiba-tiba kak June berteriak. Aku bahkan jadi kaget ditempat. “KAMU KETEMU SAMA TUAN MERLIN WIZCRAFT???!!”
Pliss kak jangan teriak dekatku.
Orang-orang disekitar berhenti sesaat ketika kak June berteriak. Dan wajah kak June mendekat mengunggu jawabanku. Deket banget sial. Mana kak June cantik lagi. bikin aku makin gugup.
Dengan wajah memerah aku memalingkan wajah. “Te-tenang dulu kak ih… nanti aku kasih tau kok.”
Kak June tersadar dengan tingkahnya seketika melepasku dan menjaga jarak dariku. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Dia imut banget.
“Ayu cepat cerita.” Pinta kak June. Wajah imutnya terlihat memerah dengan ekspresi memelas.
“Iya iya. Aku cerita.”
Aku pun menceritakan seluruh kejadian yang terjadi. Saat aku bercerita soal kejadian saat hendak ditipu, kak June ternyata sudah mengetahuinya. Bahkan dia melihat langsung tapi dari kejauhan. Selama ini ternyata mengawasiku.
Aku pun melanjutkan ceritaku ketika saat bertemu si penyihir tua, Merlin Wizcraft. Kak June mendengarkan
dengan seksama seraya mengunyah sate barbeque yang sudah terlanjur dingin. Dia sesekali memotong ceritaku dengan ucapan terkejut dan terkadang membuatku kaget sendiri. Hingga pada akhirnya aku selesai bercerita.
“Kamu sangat beruntung Alvin. Kakak iri padamu.” Jawab kak June dengan wajah masam.
“Memangnya kenapa?” tanyaku penasaran.
“Merlin Wizcraft adalah penyihir terbaik di dunia. Satu-satunya orang yang memiliki gelar sage. Bertemu dengannya itu sebuah mimpi yang didambakan setiap penyihir tau.”
“Benarkah?”
“Goldendawn itu sekolah seperti apa sih?” tanyaku.
“Itu sekolah terbaik di negara ini! Tempat yang melahirkan penyihir dan petarung yang hebat! Lulus darisana pun hidupmu pasti terjamin!” seru kak June dengan mata berbinar.
“Oke-oke tenang kak.” Aku mencoba menenangkan antusiasme kak June.
“Aku tenang kok!” ketus kak June.
"Tenang darimananya?" Pikirku. Aku hanya bisa tersenyum kaku.
“Dan kamu tau?” kak June tersenyum padaku. “Dulu aku sekolah disana juga loh.”
“Oh benarkah??” tanyaku penasaran.
“Iya, setelah lulus dari Goldendawn, aku mendapat tawaran pekerjaan dari banyak bangsawan. Tapi aku
memilih berpetualang dulu selama setahun. Dan setelah itu aku mendapat tawaran dari tuan Carlos.”
Aku merasa bingung. Kenapa dia memilih bekerja di tempatku? Padahal banyak bangsawan yang menginginkannya.
“Kamu bingung ya kenapa aku memilih mengajarimu?” tebak kak June.
Cewe ini esper kayaknya.
__ADS_1
“Memangnya keliatan ya?” tanyaku.
“Kelihatan jelas di mukamu tau.” Ujarnya seraya tersenyum.
Aku hanya tersenyum membalasnya. Ternyata aku mudah ditebak.
“Sebenarnya aku tidak begitu menyukai bangsawan.”
Aku sedikit terkejut dan memasang wajah bingung begitu mendengarnya.
“Aku jadi teringat seorang anak bangsawan yang ada di kelasku saat aku bersekolah di Goldendawn. Setiap hari
dia mengataiku anak kampung! EEUGH!! Daasar nyebelin banget pokoknya!” keluh kak June dengan gregetan.
Aku tertawa mendengarnya. Setelah itu kak June menceritakan banyak pengalamannya saat berada di sekolah. Dan pada akhirnya aku dan kak June berbincang-bincang dan tertawa bersama di terpa cahaya sore yang menghangatkan. Hingga akhirnya datang paman Armin dengan kuda tapi tanpa ada kereta seperti sebelumnya.
“Ternyata kalian disini.” Sapa paman Armin seraya turun dari kudanya.
“Eh iya maaf kita malah keasikan disini bukannya menunggu ditempat ketemuan.” Ujar kak June.
“TIdak, tidak apa-apa kok. Lagipula aku langsung melihat kalian karena jarak dari pasar tidak begitu
jauh. Malah aku yang ingin meminta maaf karena hari sudah mulai menggelap.”
Benar juga kata paman Armin. Tidak terasa, hari sudah menggelap.
Meski hari sudah mulai gelap, tapi keramaian kota masih tetap berjalan. Lampu-lampu taman mulai menyala dengan sihir cahaya. Sebuah pemandangan yang tak pernah kudapati di desaku.
“Mungkin kita akan berangkat besok pagi.” Ujar paman Armin.
“Jadi kita menginap di kota hari ini?” tanyaku.
“Iya,” paman Armin mengangguk. “Terlalu berbahaya untuk melakukan perjalanan di malam hari.”
Aku mengangguk paham. Kak June pun tampak setuju.
“Kalau begitu pesanlah kamar di penginapan Moonlight. Aku sudah dekat dengan pemiliknya jadi tinggal sebutkan nama saja. Urusan biaya biar aku yang menanggung.” Paman Armin naik ke pelana kudanya. “Aku ada urusan dulu di pelelangan. Kamu tau penginapannyakan June?”
Kak June mengangguk. “Aku pernah menginap disana beberapa kali saat ada urusan disini.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku pamit dulu. Setelah sarapan nanti kita berangkat kembali ke desa.” Paman Armin pergi menjauh setelah berpamitan.
“Kalau begitu ayo Alvin.” Ajak kak June.
Kak June kembali menggenggam tanganku. Dia kelihatan khawatir sekali. Itu membuatku tersenyum
senang.
“Kak, aku ga akan kemana-mana. Ga usah dipegangin terus dong.” Ucapku usil.
“Gak, aku ga akan lepasin. Ntar kamu ilang tiba-tiba.” Jawab kak June kesal.
__ADS_1
Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Senang rasanya ada orang yang mengkhawatirkanku.