
Selesai menyelesaikan perkara mereka, Jason kembali ke perusahaannya dengan riang gembira. Hatinya bersorak senang. Perlahan ia akan meruntuhkan semua pembatas yang dibangun Lysny agar kembali mencintainya seperti sedia kala.
Matahari sudah terbenam mengganti menjadi bulan. Bulan pada malam ini bulan purnama, menunjukkan sinarnya yang menerangi bumi pada malam hari.
Joe sudah menjemput Lysny dan kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke mansion Jason. Lysny menatap wajah sang anaknya tak sengaja mengingatkannya pada suatu hal.
"Joe apa tuan mu itu sudah pernah menikah?"
Joe menjadi bingung mau menjawab apa. Di satu sisi ia ingin berkata jujur tapi di sisi lain ia takut keceplosan dan membeberkan hal yang ia pastikan akan membuat nonanya murka.
"Tuan belum pernah menikah nona"
Lysny bertanya seperti itu karena teringat akan Velin yang akan menikah dengan Jason, dan ia lupa menanyakannya pada Jason saat di Paris kemarin. Jadi ia ingin tahu apakah keduanya sudah menikah atau belum, karena jika sudah ia tak akan mau menjadi istri kedua Jason. Dan akan segera menggugat cerainya. Ia tak mau di duakan dan menjadi perusak kebahagiaan orang.
"Apa kau tahu Velin?"
"Ada apa nona, kenapa bertanya seperti ini?"
__ADS_1
"Apa yang terjadi saat hari pernikahan mereka? Kenapa Jason belum menikah? Seharusnya dia sudah menikah bukan? Dan anaknya dengan Velin pasti sudah sebesar Eros sekarang"
Deg!
Pertanyaan yang Joe hindari kini harus ia jawab dengan terpaksa. Dengan cerdas Joe mengubah topik pembicaraan, "Ehh... Nona kita sudah sampai."
"Sudah sampai ya?" Lysny celingak celinguk melihat ke arah sekitar. Melihat apa benar dirinya sudah sampai di mansion Jason.
"Iya nona." Untung saja pembicaraannya mudah dialihkan sehingga tidak perlu untuk menjawab pertanyaan Lysny.
Jason sudah tiba lebih dulu di rumah dengan diantar sopir barunya. Ia membuka kan pintu untuk Lysny keluar.
Ohh... Tuhan aku melupakannya.
Lysny membuka pintu kamar Jason yang akan menjadi miliknya juga mulai hari ini. Semua barang miliknya sudah berpindah ke kamar Jason tanpa sepegetahuannya.
Saat di kantor tadi, Jason menyuruh para pelayan memindahkan barang Lysny juga Eros ke kamarnya.
__ADS_1
"Apalagi yang kau tunggu? Masuklah" Jason memecahkan lamunan Lysny seketika.
Melihat Lysny hanya menatapnya dan bergerak dengan terpaksa Jason menarik Lysny dengan lembut masuk ke dalam kamarnya.
Kamarnya lebih besar dari pada kamar ku yang disebelah.
Jason duduk di sofa yang berada di depan ranjangnya dengan menggendong Eros yang sedang terelelap. "Mandilah setelahnya kita turun makan malam." Tak ingin membantah, setelah mengambil baju miliknya Lysny masuk kedalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
Dengan sabar, selama kurang lebih 25 menit Jason menunggunya di sofa yang sama sedari tadi. Sembari menunggu tadi ia memikirkan langkah apa selanjunya untuk membuat istrinya kembali mencintainya.
Satu hal susah jika memiliki istri CEO, yaitu mereka tidak akan meminta hal yang berhubungan dengan uang. Jadi jika ia memberi Lysny sejenis pakaian mahal atau sebagainya Lysny pasti akan menolaknya. Yang harus dilalukan untuk meluluhkan wanita seperti Lysny adalah dengan memberinya perhatian dan cinta yang berlimpah.
Lysny sudah keluar dengan menggunakan piyamanya, tangannya memegang handuk kecil. Ia sedang mengeringkan rambutnya, mengosok handuk itu ke rambut nya.
"Pakai saja hairdryer," Jason mengambil ahli handuk kecil yang sedang dipegang Lysny dan melemparkannya kesembarang tempat.
Kemudian ia mengambil hairdryer dari laci nakas yang berada di kamar mandinya.
__ADS_1
Jason meluruskan kabel yang kusut dan mencolok kepala colokannya kedalam colokan. "Kemarilah akan ku keringkan rambut mu," ucap Jason sambil membuat gerakan tangannya mundur.
TBC