
Ia mengarahkan potongan itu ke mukutnya dan...."Hap" ia memakannya. Lezat itulah kata yang pantas untuk ia sematkan untuk masakan Jason. Tak hanya bermodal tampang dan kekayaan, ternyata pria itu juga pandai memasak.
"Bagaimana? Enak?" Tanya Jason yang mendapat anggukan dari Lysny.
"Ini sangat lezat, seperti yang aku makan di restoran biasa." Jason senang mendengar pujian yang diberikan oleh istrinya. Hatinya berbunga bunga.
Tidak sembarang orang yang bisa memakan masakannya. Hanya orang special yang bisa merasakannya. Ibunya sendiri pun tidak pernah ia memasakkannya.
"Karna makanannya enak, mana hadiah ku?" Jason menaik turunkan kedua alisnya bergantian.
"Hadiah?" Lysny mengernyitkan dahinya, pasalnya ia tak tahu harus memberi hadiah apa pada pria yang sudah menjadi suaminya itu. Semuanya dimiliki pria itu kecuali cintanya saat ini. Haruskah ia memberi ia cinta saat ini juga sebagai hadiah?
"Jasonnnn!!!" Teriak Lysny kesall, lagi lagi pria itu mencuri kecupan dari bibirnya.
"Terlalu lama mikirnya, jadi aku cium langsung aja," ucap Jason dengan cengir kudanya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, melihat Lysny masih melihatnya dengan kesal.
"Itu sebagai hadiahnya." Pria itu memamerkan jajaran gigi putihnya tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Malam ini aku tidak mau tidur dengan mu!!"
"Lalu kau akan tidur dimana? Kamarnya hanya ada 1," ucapnya berbohong.
"Tidak ada kamar?!! Ahhh... gampang aku akan menyuruh Aro menyiapkan jet pribadi ku dan menjemput ku nanti," jawab Lysny dengan enteng.
Jason membulatkan matanya, "Tidak! Kau tidak boleh pulang!"
Aduhh dia ngambek, bagaimana ini? Apa aku ajak berenang saja?
"Hmphhhh.... Sebenarnya aku ingin mengajak mu ke suatu tempat, tapi kau kesal. Ya sudah.... Tidak jadi," ucap Jason mengendikkan bahunya.
"Tapi kau tidak boleh kesal lagi! Janji?"
"Tergantung... Kita lihat saja nanti"
.
__ADS_1
.
.
Jason sudah berjanji pada Lysny untuk mengajaknya ke suatu tempat, dan disinilah mereka sekarang. Setelah menidurkan Eros tadi yang betetapan dengan datangnya pelayan kepercayaan Jason, mereka menitipnya ke pelayan itu dan langsung ke tempat yang Jason bicarakan.
Di depan mata Lysny ia bisa melihat sebuah pemandangan yang menabjubkan. Pemandangan air terjun, itulah yang Lysny lihat. Air yang turun kemudian mengalir sampai ke hilir. Mereka mau bermain air disini.
"Indah bukan? Sudah tidak kesal lagi?
"Iya, aku sudah tidak kesal lagi." Lysny turun dan merasakan jernihnya air yang mengalir, diikuti Jason disampingnya. Lysny menyulusupkan sebagian tubuhnya kedalam air dan menikmatinya. Rasanya luar biasa, sangat segar rasanya. Sejenak ia melupakan semua hal yang membebaninya dan menikmati momen indahnya air terjun.
"Kau menyukai pulau ini?" Tanpa ragu Lysny menganggukkan kepalanya. "Jika kau suka aku akan mengubah kepemilikannya menjadi nama mu."
"Benarkah?" Wajah Lysny berbinar seketika, "Kau tidak akan menyesalinya, kau pasti akan rugi nanti? Pernikahan kita akan segera berakhir, hanya tersisa 357 hari lagi."
"Aku tidak merasa rugi, asalkan kau bahagia. Apa pun aku lakukan untuk mu, Darling..."
__ADS_1
Jason merasa senang karena bisa membuat istrinya bahagia. Apa pun akan ia lakukan demi istrinya yang tercinta. Wanita yang sudah berhasil mengendalikan akal sehat dan jiwanya. Saat Lysny masih belum ditemukan, ia selalu meminum alkohol sebagai pengganti rasa rindunya. Kini ia sudah bersamanya, jadi akan ia usahakan istrinya itu bahagia. Walaupun hatinya belum miliknya.
TBC