Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Ditunda


__ADS_3

Suara tangisan dari pasien ranjang sebelah mengusik tidur Salma. Wanita itu membuka matanya, saat menyadari Aundy masih terlelap, dia kembali melanjutkan tidur. Mungkin, sangking lelahnya, Salma sampai tidak menyadari jika di ruangan itu, ada Sabda yang mengawasi tingkah lakunya.


"Harusnya dia pulang saja!" Sabda bergumam, sambil mendudukan tubuhnya di sofa. Usai memastikan keduanya sudah terlelap, Sabda ikut memejamkan mata. Berulangkali dia mengatur napas, seakan baru saja berburu dari petualangan panjang. Sampai akhirnya dia terlelap dalam posisi duduk.


“Bunda, Ody mau pipis!”


Seruan dari Aundy membangunkan Sabda. Pria itu langsung terhenyak, menghampiri ranjang.


"Ayah, Sabda?!" Aundy memekik, dia terkejut melihat keberadaan Sabda di ruangan itu.


"Shutt! Jangan keras-keras, bunda Salma lagi bobo!"


Aundy dengan gemas langsung menutup mulutnya. Dia memandangi Salma yang masih memejamkan mata.


“Ayo ayah anterin!” bisik Sabda lalu menggendong Aundy. Sedikit kesusahan karena harus membawa serta kantong infusnya.


Sabda dengan telaten membantu Aundy, menggantikan peran yang biasa dilakukan Salma. Saat Sabda hendak menggendong kembali tubuh Aundy. Gadis enam tahun itu justru melemparkan pertanyaan padanya.


“Ayah, kita jadi kan jalan-jalan sama Bunda? Enaknya kapan ya ayah terus kita ke mana?” Aundy tetaplah Aundy yang masih polos dan belum mengenal arti kata cemburu. Dia tidak tahu saja kalau Salma ikut pergi Endra bisa cemburu.


Sabda tentu saja heran, padahal niatnya kemarin hanya gurauan, supaya Aundy mau dibawa jalan dengan Hani. “Kapanpun asalkan Ody sembuh dulu!” kini mundur pun salah, jadi lebih baik dia menuruti apa kemauan Aundy.


“Ody udah sembuh, kok!" ujarnya begitu semangat. "Ody juga sudah mau makan banyak! Kalau nanti-nanti, keburu ayah kerja lagi!” wajahnya tiba-tiba masam. Seakan kepergian Sabda adalah hal yang paling ditakuti.


Sabda meringis, “Okay, nanti ayah atur jadwal supaya kita bisa liburan. Yang penting Ody sembuh dulu.”


Gadis itu mengangguk, lalu mengalikan lengannya ke leher Sabda. “Ody mau makan banyak-banyak biar cepat sembuh!” ucapnya dengan semangat.


“Anak pintar.” Sabda memuji seraya membawa Aundy keluar dari kamar mandi. Sabda tersenyum simpul saat melihat Salma masih terlelap di atas ranjang.


“Ayah habis dari mana?” tanya Aundy dengan suara pelan. Takut Salma akan bangun.

__ADS_1


“Pulang. Mandi. Bunda Salma sudah makan?” tanya Sabda, sudut matanya melirik Salma yang tidur meringkuk.


Sedangkan Aundy, pandangannya langsung tertuju pada ayam katsu di atas meja. “Belum. Tadi dibawain ayam katsu sama nenek Tantri. Tapi itu nasinya masih utuh!”


Sabda menyatukan pandangannya ke arah yang ditunjuk Aundy. Dia tahu Salma tidak menyukai ayam. Jadi, jangan harap mau makan. “Ody, tidur lagi ya! katanya mau liburan!”


Aundy merebahkan tubuhnya lagi di samping Salma. “Ayah jangan pergi lagi ya!” pesannya sambil menatap Sabda.


Sabda mengangguk. Mengusap dahi Aundy dengan gerakan lembut, menghantarkan gadis itu masuk ke alam mimpi.


Sabda memastikan kalau Aundy sudah benar-benar terlelap. Kemudian beralih membangunkan Salma, meminta wanita itu makan. "Sal, bangun makan dulu!" perintahnya lembut. "Salma ...."


“Mas Sab—da?” Salma langsung bangun, dia berusaha membuka matanya lebar.


“Kamu belum makan, kan? makanlah dulu!” perintahnya. “Aku beliin nasi gudeg kesukaanmu!” imbuhnya.


Salma menoleh ke arah meja yang ditunjuk Sabda. Ada dua strerofoam di sana.


“Ya enggak! kok bisa dapat nasi gudeg? Pasti mengantre banyak banget.”


“Udah nggak usah banyak nanya, makanlah! Bisa gawat kalau kamu sakit.” Sabda mengambil plastik itu. Lalu meminta Salma pindah ke sofa.


Salma tidak membantah, dia turun dari ranjang, dan duduk di sofa. Menerima strerofoam pemberian Sabda.


"Ini nasi liwet bukan nasi gudeg!" protes Salma setelah berhasil membuka strerofoam itu.


"Kalau aku bilang nasi liwet kamu juga nggak bakalan bangun! Udah, sekarang makan!" Sabda sedikit memaksa. Bibirnya tersenyum cerah melihat Salma mau memakan makanan itu.


Sejenak keduanya disibukkan dengan nasi di tangan. Saat makanan hampir habis, Salma menerima air mineral pemberian Sabda. Pria itu sudah lebih dulu menyelesaikan makannya. Jadi, dia terus memerhatikan cara Salma makan.


“Jadi, gimana acara lamarannya? Lancar, kan?” tanya Salma, saat menyadari Sabda justru memperhatikannya. Jujur, dia merasa tidak nyaman ditatap pria itu.

__ADS_1


"Ditunda."


Jawaban singkat dan penuh makna itu, membuat Salma mengerutkan kening. Dia menatap lekat ke arah Sabda, tatapannya menuntut penjelasan.


"Paklek dari Hani meninggal dunia sore tadi, rumahnya bersisian, jadi kami terpaksa menunda acara lamaran itu."


"Kok bisa kebetulan banget."


"Ya, namanya juga belum rezekiku, jadi ya harus sabar."


Salma mengangguk ragu. Sebenarnya dia cukup terkejut mendengar Sabda hendak menikah dengan Hani. Kenapa bukan Regina saja, yang saat ini berstatus janda? Eh, tapi kalau dia yang diminta untuk memilih tentu juga bakalan milih Hani yang masih perawan. Et, tapi bukankah janda lebih berpengalaman. Astaga! Apa yang kamu pikirkan, Salma!? Batin Salma merutuki pikirannya yang berkeliaran.


"Tidurlah, Mas! kamu gantian yang temani Ody, biar aku tidur di sofa!" Salma beranjak, membuang strerofoam yang baru saja digunakan. Lalu kembali lagi ke posisinya, bersiap untuk tidur.


"Kamu saja, biar aku yang di sofa!" Sabda menolak, kasihan dengan Salma karena sofa di ruangan itu tidak terlalu besar. Yang ada tubuhnya akan sakit semua setelah bangun nanti.


Mereka berdua ribut masalah tempat tidur, enggak selesai-selesai. Sampai akhirnya demi keadilan, mereka memutuskan duduk di sofa.


"Kamu masih saja, egois!"


"Bukankah sama sifat keras kepalamu juga meningkat!" balas Sabda. Belum berhenti, mereka beradu mulut dalam bisikan.


Setelah merasa lelah, Salma akhirnya diam. Dia terlelap lebih dahulu. Sedangkan Sabda masih sibuk dengan ponselnya. Niat hati ingin begadang sampai matahari terbit, tapi sayang kantuk yang mendera tak mampu ditahan lagi.


Sabda terlelap di sofa itu dalam posisi duduk, begitupun dengan Salma, mereka tidur sambil bersandar. Sangking nyenyaknya tidur Sabda sampai tidak menyadari jika kepalanya sudah jatuh di pangkuan Salma.


Tentu apa yang dilakukan Sabda membuat Salma terbangun. Saat tangannya hendak mendorong tubuh Sabda, dia merasa tidak tega melihat wajah lelah pria itu. Dia yang mengantuk kembali terlelap, membiarkan Sabda tidur di pangkuannya.


Beberapa menit berlalu, Aundy yang sudah bangun justru sengaja menutup mulut. Dia tidak ingin mengganggu orang tuanya yang sedang terlelap. Karena suasana masih sunyi dan temaram, Aundy memilih memejamkan mata, kembali tidur.


Mereka masih terlelap saat jarum jam menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Bahkan posisi mereka masih sama saat ini. Sampai akhirnya, seseorang yang masuk membangunkan sepasang manusia yang kini tidur di sofa. Mereka berdua gelagapan saat mendengar tuduhan yang dilemparkan pada Salma.

__ADS_1


 


__ADS_2