Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Permintaan Endra


__ADS_3

"Mas Sabda mana, Pak?” Salma menatap heran ke arah pak Arif yang baru saja masuk ke ruangannya. Pria itu tidak datang bersama Sabda.


“Dia pulang, Sal! Dia juga punya kehidupan sendiri! Jadi biarkan dia pergi.” pak Arif yang memiliki sikap tegas dan keras berusaha menjelaskan. Dia tidak ingin Salma berharap lebih dengan keberadaan Sabda saat ini. Jadi, sebelum kembali ke ruang ICU yang ditempati putrinya, pak Arif sengaja meminta Sabda untuk menjauh.


“Maksud, Bapak apa?” Salma yang semula duduk bersandar, mulai menegakan tubuhnya.


“Salma, kalian sudah bercerai! Kamu punya kehidupan sendiri begitupun dengan Sabda! Endra, dia suami keduamu! Hargai dia, sebagai suami jika kamu tidak ingin kehilangan dia lagi!”


Salma menggeleng pelan, menolak tentang fakta yang diucapkan oleh bapaknya sendiri. “Jangan doain Salma seperti itu, Pak! Mas Sabda itu mencintai Salma. Kami saling cinta.” Salma berusaha melepas peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Setelah berhasilnya, kedua kakinya mulai turun dari ranjang bersiap untuk mengejar Sabda. Tapi seseorang lebih dulu menangkap tubuhnya.


Menyadari seseorang memeluk tubuhnya, Salma langsung mengibaskan sepasang tangan kekar itu. “Lepasin aku!” pekik Salma, tak suka melihat Endra memeluk tubuhnya.


“Salma! Ini Aku Endra, suami kamu!” Endra menahan langkah Salma yang ingin keluar dari ruang ICU.


"Kalian kenapa, sih?! Aku udah menjelaskan, SUAMIKU BUKAN KAMU! Aku istri sah dari Sabda Baghaskara. Suamiku cuma Sabda bukan KAMU! Jadi jangan berusaha menipuku!"


"Mas Sabdaaa ...." Salma berteriak, hendak kembali melanjutkan langkahnya. Namun, tubuhnya terhuyung, langkahnya belum sekuat itu untuk mengejar kepergian Sabda. “Jangan mendekat!” peringat Salma ketika melihat Endra hendak membantunya bangun.


“Bunda … bunda tidur saja! kan Ody masih di sini. Pasti ayah akan datang.” Aundy berusaha meredakan kericuhan yang dibuat Salma. Cristal bening mulai memenuhi pelupuk mata saat melihat sikap Salma saat ini. "Bunda ...."


Tapi rupanya, tidak semudah itu melunakkan sikap keras kepala Salma. “Pak, Bapak …” panggil Salma dengan sorot memohon. “Tolong, jangan biarkan mas Sabda pergi!” bujuknya, saat raganya mulai tak kuasa untuk berlari keluar.


Pak Arif masih bergeming. Dia menatap Salma yang kacau balau. Hatinya ikut hancur, dia tidak tega melihat darah segar keluar dari bekas jarum infus Salma. Ucapan dokter beberapa menit yang lalu berdengung jelas telinganya. “Endra, panggilkan Sabda!” perintah pak Arif, kemudian.


Layaknya sapi yang dicucuk hidungnya, pria itu begitu patuh dengan pak Arif. Endra lekas keluar mengejar Sabda.


Sebelum masuk ke ruang ICU tadi, mereka berdua sempat berpapasan di lorong rumah sakit Endra yakin, pasti Sabda belum jauh dari tempat keduanya bertemu.

__ADS_1


Dan beruntungnya Sabda belum begitu jauh dari posisinya tadi. “Masuklah!” seru Endra.


Sabda menghentikan langkahnya, dia berbalik menghadap Endra. Menatap aneh ke arah pria jangkung itu. “Apa maksudmu?”


“Masuk dan temui Salma. Beritahu padanya, kalau waktu cutimu sebentar lagi habis.” Endra melangkah lagi mendekati Sabda. “Bukankah kamu tadi menjelaskan jika Salma berada pada masa beberapa tahun yang lalu.” Endra menelan air liurnya. Rasanya sulit dipercaya ini terjadi pada Salma. “Dan ingat, hanya sampai dia mengingatku!”


“Kenapa kamu bisa semudah itu membiarkanku masuk dalam kehidupan kalian?” Sabda terkekeh, meski dia ingin, dia juga tidak bisa senekat ini merusak hubungan Salma.


Bagaimana jika Salma kembali mengingat semuanya. Apakah ini namanya hiburan untuknya? Yang kapanpun bisa berubah menjadi petaka untuk dirinya sendiri. Ah, sialan.


"Atau kamu sengaja menutupi kebusukan yang telah kamu lakukan?! makanya kamu dengan rela melepaskan Salma padaku?"


“Kebusukan apa maksudmu! aku hanya mengikuti saran Dokter Edi! meski sulit tapi kita harus melakukannya, demi kebaikan Salma. Aku tidak ingin ingatannya tentang aku justru rusak dan hilang semua.”


Sabda mendengkus kesal. Kenapa tidak jujur saja mengenai perselingkuhan itu. “Sebaiknya, kamu segera memutuskan untuk memilih Salma atau perempuan itu. Bukan hanya aku, tapi Aundy tahu semua tentang kamu yang men cium wanita lain di pesta pernikahan Ahmad!”


Sabda yang baru saja melangkah melewati bibir pintu berusaha tersenyum cerah ke arah Salma. Wanita itu menyambutnya dengan wajah suram, seakan ada sikapnya yang membuat Salma naik pitam.


“Kenapa langsung pergi?”


“Ak—aku harus ambil baju ganti dulu, Sal.” Sabda melirik ke arah pak Arif yang tadi sempat memintanya pergi.


“Jahat kamu!”


“Ayah, duduklah di sini. Bunda nggak mau ayah pergi!” Aundy menepuk ranjang kosong di samping Salma. "Bunda sampai nekat turun dan melepas alat-alat itu semua? apa tidak apa-apa? maaf ayah Ody tidak bisa jagain bunda!" kata Aundy penuh sesal.


"Nggak perlu merasa bersalah, Ody. Kamu udah jadi anak baik kok." Sabda tersenyum cerah, sepasang netranya tertuju pada pak Arif, seakan meminta izin kepada untuk naik ke atas ranjang.

__ADS_1


“Ayah apa infus Ody sudah boleh kulepas?” Aundy berusaha memecah kecanggungan.


“Gimana kalau kita lapor dulu ke suster?” tawar Sabda, setelah berdiri tegap di samping ranjang.


“Baiklah. Ody harus sabar lagi. Ayah duduklah di samping Bunda, aku akan memotret kalian berdua.” Aundy sudah mengarahkan camera ponselnya ke Salma.


Sabda pun langsung shock melihat Salma tiba-tiba memeluknya. Tubuhnya semakin kaku saat bibir Salma mendarat di pipinya, meninggalkan rasa dingin yang membuat Sabda menatap takut ke arah Endra yang baru saja datang.


Dan si gadis kecil yang baru berusia enam tahun itu begitu riang, dia mengambil gambar sebanyak-banyaknya.


“Kapan aku boleh pulang, Mas?” tanya Salma bersikap manja di depan Sabda.


“Kamu belum boleh pulang, Sal!” pak Arif menyahut.


“Tapi, Pak. Perut aku sudah tidak sakit.”


Jelas saja tidak sakit, kan yang terbentur kepalanya? pikir pak Arif, menatap awas ke arah Sabda. Seakan tidak rela melihat Salma masih memeluk mantan suaminya itu erat-erat.


“Kita tunggu izin dari dokter dulu!” paksa pak Arif.


“Pak, nanti biayanya bakalan besar.”


“Salma … kamu tidak perlu memikirkan itu.” Sabda menyela.


“Ow, iya kita kan sudah bikin BPJS.” Pandangan Salma berpindah ke pak Arif. “Pak, aku boleh bicara dengan Mas Sabda, sekalian ya Bapak bawa—bawa Ody keluar!” pinta Salma. “Salma sedang merindukan Mas Sabda, udah hampir dua bulan nggak ketemu.”


Pria itu menganggukan kepala, kemudian menuntun kursi roda yang ditempati Aundy. Membiarkan Salma dan Sabda berada di dalam ruangan itu. Tak lupa dia juga mengajak Endra keluar ruangan, melarang Endra masuk ke ruang ICU.

__ADS_1


Setelah memastikan mereka pergi Salma menjauhkan tangannya dari tubuh Sabda. Tiba-tiba saja, dia sedikit menjaga jarak, wajahnya berubah serius, dan sepasang netranya menatap lekat ke arah Sabda.


__ADS_2