Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Uang Nafkah


__ADS_3

Sabda curiga, dengan senyum yang diberikan Salma, saat kakinya melangkah melewati pagar rumah. Baru saja dia pulang mengantar Aundy pergi sekolah, dan saat pulang disambut dengan senyum seperti itu. Tentu hatinya ikut bergetar, seolah dunia milik mereka berdua.


Sabda sendiri bingung, tidak paham dengan jalan pikirannya sendiri. Bayangkan saja, bisa-bisanya dia kembali tinggal satu atap dengan Salma. Ya, meski di rumah itu ada Endra. Tapi tetap saja, itu sudah melewati batas dari statusnya yang memang seorang mantan suami.


Bahkan dulu, di kala Salma ingat dengan status mereka. Sabda tidak pernah melangkah melebihi batas pintu masuk. Cuma sekali, dan itu pun karena Aundy terlelap.


“Ada apa?” Sabda melemparkan pertanyaan saat jarak mereka sudah dekat. Sangking terpesonanya dengan senyuman Salma, Sabda sampai tidak menyadari jika ada seorang pria yang duduk di teras rumah.


“Mas lupa ini tanggal berapa? Udah lewat dua hari!” Dua jemari lentik milik Salma, menempel di hidung Sabda.


“Maksudnya?” selidik Sabda yang tidak paham.


“Uang nafkah buat aku!” Salma berbisik di depan wajah Sabda.


“Salma, aku sudah mengirimnya sejak tanggal sepuluh,” sela Endra yang sedari tadi memperhatikan gerakan bibir Salma.


Perusahaan di tempat kerja Endra memberikan gaji karyawan setiap tanggal 10. Sedangkan di tempat Sabda tanggal 28 dan sekarang sudah tanggal 30. Salma pun menuntut kewajiban Sabda terhadap dirinya.


Sabda memberikan ponselnya. "Ambil saja!" kata Sabda.


“Seperti bulan lalu, kan?” tanya Salma, girang.


“Terserah, tapi sebelum itu—buatin aku teh dulu ya!” pinta Sabda seraya melirik ke arah Endra.


"Siap, Pak Suami!"


Memang benar, Salma masih bersikap selayaknya lima tahun yang lalu, manja, riang Sabda seakan terhipnotis dengan pesonanya. Melihat Salma sudah beranjak pergi, Sabda lekas mengambil duduk di samping Endra.


“Enak kan? Jarang-jarang suami sah mengizinkan mantan suaminya masuk ke kehidupan sampai sejauh ini.” Endra meledek Sabda, siap mengibarkan bendera perang.


Sedangkan Sabda, seakan tidak peduli, toh dia melakukan ini juga demi Salma. “Lusa aku sudah harus kembali. Sepertinya pengajuan cuti perpanjang ku tidak di acc. Jadi, selanjutnya aku serahkan Salma padamu. Kamu bisa berusaha sedikit saja, untuk memulihkan ingatannya.”


“Kamu salah! aku juga harus kembali tiga hari lagi. Aku sudah tidak bisa meninggalkan pekerjaanku terlalu lama lagi.” Endra membalas, bukan hanya Sabda yang memiliki kepentingan. Dia pun juga.

__ADS_1


“Kau harusnya paham! Atau setidaknya bawa Salma ke Kutai! Bisa kan?” ucap Sabda dengan penuh emosi.


Endra tersenyum masam. “Kamu nggak perlu mengatur hidupku!”


“Endra! kamu tinggal di luar juga, kan? astaga, sama-sama ngontrak, bukankah lebih baik pulang kerja ada yang menyambut, ada yang nungguin? Keluarga macam apa yang kamu impikan?! Bawa keluarga saja tidak mau!” protes Sabda.


“Tidak semudah yang kamu pikirkan.” Seringai tipis muncul di bibir Endra. “Aku akan berusaha membantu Salma, tapi selama dua hari, selebihnya biarkan tetap seperti ini dulu.”


Sabda semakin curiga, yakin pasti ada yang sengaja disembunyikan Endra dari Salma. Saat Sabda hendak kembali bertanya, terdengar suara langkah kaki mendekati mereka berdua, Sabda pun tak ingin memperpanjang lagi obrolannya dengan Endra.


“Mas, kenapa dia nggak pulang-pulang sih?” protes Salma melirik ke arah Endra.


“Di sini, kan rumah kalian!” Sabda menjawab, tegas.


“Mas Sabda!” Salma protes dengan jawaban Sabda.


“Iya udah nggak usah dibahas, biarkan dia di sini. Mana ponselku?” Sabda menengadahkan tangan. Tapi, justru dibalas dengan tatapan curiga oleh Salma.


Satu yang perlu diketahui, Sabda tidak pernah mengganti pin mobile banking miliknya. Jadi sudah sewajarnya Salma mengingat pin yang dulu dia gunakan. Dan selama mereka berpisah, Sabda jarang menggunakan gajinya. Pengeluarannya hanya untuk ibu, nafkah Aundy, serta kebutuhan pribadinya yang tidak seberapa, biaya makan dan mess juga sudah ditanggung dari perusahaan tempat dia bekerja. Jadi selama berpisah dengan Salma uang itu terkumpul hingga ratusan juta, mungkin cukup dibelikan rumah sederhana di daerah Kalimatan Selatan. Tapi untuk apa juga dia membeli rumah di sana. Toh, Salma-nya ada di sini.


“Iya, dong kan aku bekerja.” Sabda menjelaskan singkat.


“Mas Sabda nggak korupsi kan? atau terlibat pencucian uang?” Salma masih tidak percaya, gaji Sabda setelah dua bulan diangkat jadi pegawai tetap, naik dari 6 juta ke 7 juta. Dari mana uang sebanyak itu? Salma belum yakin kalau saat ini, tinggal di tahun 2017. Itu artinya, Sabda sudah bekerja di tambang selama 7 tahun lamanya.


“Enggak lah, uang itu halal, hasil keringatku sendiri, Salma.”


Salma mengembalikan ponselnya kepada Sabda. Salma cukup lega. Dia hanya khawatir Sabda terlibat kasus pencucian uang. “Terima kasih, ya, Mas!” Salma tersenyum riang. Senyum yang dirasa Endra sangat jarang ditunjukan padanya.


“Salma, besok aku harus balik kerja, nggak papa kan?”


Ya, lusa memang Sabda harus kembali ke Kalimatan Selatan. Tapi demi memenuhi permintaan Ibunya, dia terpaksa harus singgah dulu di rumah.


“Mas serius? kok cepat banget?"

__ADS_1


"Salma, ingatkan kalau aku kemarin cuma cuti emergency?"


Wajah Salma berubah muram. "Kalau begitu, cuti depan aku dan Ody ikut Mas kerja, kan?”


Seperti de Javu, Salma seperti pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya. Bahkan, hari itu Sabda menyanggupi permintaanya.


“Insya Allah, aku siapin dulu!” Apapun yang terjadi, Sabda berharap keadaan Salma akan berubah, setelah tiga bulan ke depan.


“Mas Sabda nggak beli oleh-oleh? Biasanya kan beli sesuatu untuk dibawa ke mess?”


“Nggak usah aja, males bawanya berat.”


“Kalau begitu aku bawain kue bawang aja ya! Mas Sabda kan paling suka kue bawang buatanku.” Salma sudah siap berlari. Tapi, buru-buru dicegah oleh Endra.


“Salma … tidak perlu! Kamu baru pulang dari rumah sakit, harus banyak istirahat.” Tentu saja Endra iri dengan sikap Salma seperti ini. Padahal dia tidak pernah dispesialkan oleh Salma. Atau dia saja yang selama ini tidak begitu peduli dengan Salma. Dia berupaya mengingat hari-harinya saat bersama Salma.


“Tuh, kan! sebaiknya kamu istirahat!”


Tiba-tiba saja, Salma menarik tangan Sabda. Menuntunnya membawa masuk ke dalam kamar. Salma pikir mereka suami istri yang sah. Jadi ingin menghabiskan waktu berdua, mumpung tidak ada gangguan dari Aundy.


Sudah dua hari mereka berada di rumah itu, tapi Salma tidak melihat Sabda menunjukan gai rah nya pada Salma. Dan itu membuat Salma tersakiti, seperti tidak diinginkan lagi.


“Mas! Kenapa enggak minta aku?” protes Salma ketika mereka sudah berada di dalam kamar.


“Minta apa?”


“Itu kaya laki-laki normal lainnya. Biasanya Mas Sabda langsung menyerang ku. Bahkan setelah aku habis lahiran juga masih gencar ngasih hukuman ke aku!?” Salma mengeluarkan isi hatinya. “Mas Sabda sudah ilang naf su ya sama aku? atau tubuhku sudah tidak menarik lagi, banyak lemak di mana-mana, iya?”


“Ma—


Entah setan mana yang merasuki akal sehat Sabda, pria itu dengan cepat melu mat bibir mantan istrinya. Bahkan tidak peduli jika di luar sana Endra tengah gelisah dengan kondisi kamar yang tertutup rapat.


Bagaimana bisa Salma berkata seperti itu. Dia hanya pura-pura tidak peduli saja saat bibir berisi milik Salma berusaha melambai memanggilnya. Dia hanya berusaha menahan untuk tidak menyentuh Salma. "Aku tahu, rahimmu masih butuh penyesuaian!" bisik Sabda, usai ciu man itu terlepas.

__ADS_1


__ADS_2