Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Obrolan Dua Wanita


__ADS_3

“Ada hal penting yang ingin aku jelaskan sama kamu.”


Salma terlihat acuh dengan kalimat pembuka yang dilontarkan Regina. Siang ini, tepat pukul dua belas lewat sepuluh menit, Salma dan Regina sudah duduk di salah satu rumah makan Padang yang ada di sekitar Bank BCI.


Hidangan berminyak baru saja tersaji di atas meja. Tapi keduanya hanya memandangi saja, seakan dengan begitu gizi makanan sudah pindah ke dalam tubuh mereka berdua.


“Apa ini tentang masa lalumu dengan Sabda?” Salma merespon setelah kondisi sekitar cukup kondusif. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman dengan kondisi rumah makan yang terasa begitu penuh oleh pegawai kantoran. Tapi, apa daya Regina membawanya masuk ke tempat ini.


Regina mengangguk. “Ak—


“Aku rasa tidak perlu kamu menjelaskan padaku,” potong Salma membuat mulut Regina langsung terkatup. “Lagian apa yang akan kamu jelaskan, nggak bakal merubah apapun, kok,” sambungnya santai.


“Setidaknya, penilaianmu terhadap Sabda berubah!” Regina merespon, dengan sedikit menaikan nada bicaranya.


Salma menatap ekspresi Regina saat mengatakan itu, terlihat begitu serius ingin meluruskan kejadian malam itu. Padahal, asal dia tahu saja itu tidak akan ada manfaatnya.


“Aku mengakui sikapku sudah kelewatan! Tapi, kamu perlu tahu kalau aku sama sekali nggak berminat merebut Sabda dari kalian.”


Salma merasa, pembahasan ini buang-buang waktu dan tenaga. Apapun yang diterima oleh telinganya tak akan merubah alur kisah hidupnya.


Sesaat berlalu, suara keributan dari pengunjung berhasil mendominasi. Salma mengalihkan fokusnya dengan meneguk es teh yang sudah tersaji.


“Aku hamil.”


Salma kembali meletakan gelasnya, usai mendengar kalimat singkat yang disampaikan Regina. Dia menunggu kalimat penjelas berikutnya dari wanita itu. Dalam hatinya tidak rela jika Regina hamil anak dari Sabda. "Dengan Sabda?" tanya Salma, mulai tak sabaran.


"BUKAN!" Regina menjawab singkat. "Dengan suamiku, Raffasya."


Salma menghela napas lega. Tapi, bukankah berita kehamilan seharusnya menjadi kabar bahagia bagi pasangan yang baru menikah? Harusnya Regina bahagia, kan? tapi kenapa justru kencan dengan Sabda. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Salma. Meski penasaran, tapi dia ragu untuk sekedar bertanya. Memilih menunggu sampai Regina berhenti berbicara.

__ADS_1


“Aku hamil saat masih kuliah. Saat itu, aku shock berat! aku tidak menginginkan bayi ada di rahimku mengingat usiaku yang masih muda. Selain alasan itu masih banyak hal yang ingin kulakukan. Keputusanku adalah menghilangkan bayi itu. Tapi, Raffa tak mendukungku, membuat Hubunganku dengannya tidak baik, sampai aku menemukan teman cerita, yaitu Sabda.”


Obrolan terjeda, tampak Regina menarik napas dalam. Salma menyadari satu hal, menceritakan masalalu adalah hal berat bagi Regina.


“Sabda itu orang baik, dia setia mendengarkan ceritaku. Begitupun denganku yang setia mendengarkan ceritanya, tentang kamu, tentang ibunya, Sabda itu laki-laki tersabar yang pernah kutemui, bahkan memilih diam dan memendam semuanya sendirian. Ada kalanya Sabda menceritakan kelucuan Aundy padaku. Dan mendengar cerita Sabda yang menyenangkan seperti itu. Aku jadi ingin mempertahankan kehamilanku.”


Meski bosan, tapi Salma masih bersedia mendengarkan cerita Regina.


“Saat malam pertemuan kami diketahui olehmu. Aku memang sedang dalam kondisi kacau. Raffa memintaku untuk fokus dengan kehamilan, dan mengambil cuti dari kuliah, tapi beda dengan prinsipku yang ingin tetap lanjut. Malam itu, aku datang ke Sabda, berharap dia bisa memberiku solusi seperti sebelumnya, tapi Sabda justru marah-marah nggak jelas. Ternyata masalahnya denganmu semakin kacau.”


“Malam itu aku mengejarmu, berniat ingin menjelaskan. Tapi Sabda mencegah, dan akan menjelaskan saat nanti kalian berada di rumah. Malam itu juga, aku sadar. Sudah begitu jauh menganggu kehidupan pernikahan kalian. Rasa bersalahku semakin menjadi mendengar kabar perceraian kalian. Saat itu juga aku sama sekali tidak memiliki keberanian menemui ataupun menghubungi Sabda. Apalagi, setelah beredar berita dari anak-anak konflik utama perceraian kalian adalah aku.”


“Jadi, kamu ingin menjelaskan kalau hubungan kalian bukan perselingkuhan?” tanya Salma, setelah Regina mengakhiri ceritanya.


“Ya.”


“Pelukan di tempat umum. Saling menghibur. Ketemuan di belakang pasangan masing-masing, itu disebut apa? Kalau aku nggak datang malam itu, mungkin juga hubungan kalian akan berlanjut sampai di atas ranjang. Dan aku akan menjadi wanita bodoh selamanya karena ditipu oleh kalian! Ingat, Gina! setan itu nggak akan meminta kalian langsung untuk melakukan hubungan terlarang. Semuanya bertahap, dari chat, pelukan, ciu man dan terakhir se-ks. Asal kamu tahu, teman terbaik itu adalah pasangan kita, bukan pasangan wanita lain!”


“Aku maafin kamu kok, santai saja! tapi tetap, aku nggak akan lupa mengenai pelajaran pahit yang sudah kamu berikan. Terima kasih sudah menjelaskan semuanya padaku. Enggak usah dipikirkan lagi! Sekarang, aku dan Sabda sudah memiliki kehidupan masing-masing. Dan kamu bahagia.”


“Salma, Sabda masih mencintaimu.”


“Cinta?" Salma tertawa remeh. "Bagiku itu bukan hal utama. Karena rasa percayaku padanya sudah hilang.”


“Kenapa kamu keras kepala sekali, sih, Sal?”


“Maksudmu?” tubuh Salma condong ke arah Regina. “Apa Sabda yang memintamu mengatakan ini semua padaku.”


“Tidak! bukan itu maksudku, Sal! Aku sama sekali tidak menghubungi Sabda. Aku tahu kesalahanku di masa lalu dan sekarang aku ingin menebus kesalahanku dengan membuat kalian kembali.” Regina berbicara tegas.

__ADS_1


“Kalau begitu, kamu perlu tahu kalau cuti berikutnya Sabda akan menikah. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya saat ini. Jadi, jangan berharap usahamu itu berhasil, semuanya akan berakhir sia-sia.”


Regina tidak percaya begitu saja. Dia tahu kalau Sabda sangat mencintai Salma.


“Dan lagi—jangan merasa bersalah seperti itu. Pernikahan kami, memang nggak bisa berlanjut. Tapi bukan sepenuhnya kesalahanmu. Ada hal lain yang membuatku enggan kembali padanya.”


Regina cukup tahu akan hal itu, Sabda sudah menceritakan padanya perihal Bu Habibah yang tidak menyukai Salma. “Bisakah kamu memberi kesempatan pada Sabda?”


“Enggak bisa! Aku akan memberi kesempatan padanya, seandainya saja keluarganya menyukaiku. Harus berjuang keras kalau hubungan kami tidak direstui ibunya.” Salma menatap jam dinding. Lalu beranjak dari meja makan. “Aku pamit ya, masih ada yang harus kulakukan. Oya, dari pada kamu ngurusin hubunganku dengan Sabda. Lebih baik kamu urusin hubunganmu dengan Raffasya. Kamu beruntung memiliki mertua seperti Bu Rembulan.” Salma  melangkah keluar, meninggalkan Regina yang masih termangu menatap kepergiannya.


Bagi Salma tidak ada gunanya mengetahui sekarang. Dia benci luar dalam pria yang berkhianat padanya.


Setelah mengakhiri pertemuannya dengan Regina. Salma memutuskan untuk langsung pergi ke rumah sakit, memeriksakan kondisi rahimnya supaya tahu pengobatan apa yang akan dilakukan nanti.


Jam praktek dokter kandungan masih lama. Jadi, Salma menggunakan waktu luangnya untuk berkeliling ke kamar bayi. Dia melihat bayi-bayi itu dari luar jendela kaca. Sampai akhirnya, dering panggilan masuk membuat fokusnya teralihkan.


“Kapan kamu sampai di sini, Sal?”


“Urusanku di sini belum selesai. Berkas Ody aku kirimkan ke alamat email mu ya. Carikan sekolah dulu untuk Aundy.”


“Oke! Kalau begitu kapan selesainya? Minggu depan aku harus sudah pindah ke Malang! Suamiku sudah nggak sabar.”


“Tunggu surat ceraiku turun dulu!” Salma menjawab singkat.


“Kalau aku tinggal duluan gimana? Tapi, aku nggak percaya sama karyawanku di sini.”


“Ya sudah, terserah gimana enaknya saja. Tiga hari lagi putusan sidang. Insya Allah aku akan langsung ke sana.”


Helaan napas berat terdengar dari seberang panggilan.

__ADS_1


“Ya udah deh, aku tungguin kamu aja. Aku juga mau ketemu anakku.”


Salma terkekeh, temannya itu memang belum memiliki keturunan. Jadi, menganggap Aundy seperti anaknya sendiri. Meski belum pernah bertemu, tapi mereka pernah beberapa kali bicara melalui panggilan suara.


__ADS_2