
Tabalong, Kalimantan Selatan ....
Rotasi keseharian Sabda tak jauh-jauh dari rumah barak yang dipakai untuk mess karyawan, lokasi tambang, dan minimarket. Hanya itu-itu saja yang sering dikunjungi Sabda. Jangankan keluar untuk mencari kesenangan pribadi, Sabda memilih tidur ketimbang menikmati godaan di luar sana.
Sedangkan untuk pergaulan sendiri, mengingat Sabda sudah hampir delapan tahun menjadi penghuni mess D.5.1 tentu banyak sekali yang sudah mengenalnya. Kecuali mereka yang baru masuk mess itu alias karyawan baru pasti nggak akan tahu dengan sebutan Sabda Dozer.
Dozer sendiri adalah singkatan dari bulldozer, salah satu alat berat yang dibawa Sabda ketika bekerja. Para karyawan di sana biasa menambahi nama alat berat di belakang nama asli, supaya mudah untuk diingat.
Di barak D.5.1 diisi oleh empat pria tangguh. Mereka datang dari berbagai daerah, Agus dia asal dari kota Malang, Tri berasal dari Yogyakarta. Hanya Angga yang berasal satu daerah dengan Sabda. Bedanya Angga tinggal di wilayah Kaligawe, sedangkan Sabda berada di wilayah Banyumanik.
Kebersamaan mereka sudah terjalin cukup lama. Jauh dari sanak saudara membuat Sabda menganggap mereka seperti keluarga sendiri, bedanya mereka tidak sedarah. Saling membantu dan menguatkan. Bahkan, mereka sering kali mengatakan jika Sabda adalah bank berjalan. Bank pinjaman tanpa bunga dan tanggal jatuh tempo. Sabda tidak masalah selama setiap tanggal 28 uangnya selalu dikembalikan.
"Da! Sabda! itu dicari sama mbak-mbak laundry! katanya sem pak mu ikut kecuci!"
Sabda yang semula tengah merajut mimpi langsung membuka mata. Tubuhnya terhenyak, dia celingukan mencari sosok wanita yang dimaksud Angga. Satu larangan keras di hidup Sabda, pakaian da lamnya masuk ikut laundry. Lebih baik dikucek sendiri dari pada kena guna-guna.
"Ojo ngono lah! arep rabi aku!" (Jangan begitu! Aku mau nikah!") "Nanti mbak Rindunya baper!" kata Sabda membicarakan sosok gadis bernama Rindu yang menjadi pegawai laundry di mess tersebut.
Dari keempat pria itu, hanya Sabda yang berstatus duda di usia muda. Lainnya sudah memiliki keluarga dan memilih meninggalkan anak istrinya di Jawa. Jadi, ketika ada pegawai wanita selalu Sabda yang menjadi bulan-bulanan.
Sabda meraih ponselnya di atas meja.
"Bangun, Da! Udah jam tiga! tidur kaya orang mati aja kamu!" olok Angga.
"Semalam hujan nya bentar saja, Mas! nggak ada jam tambahan buat stand by. Lelah banget rasanya, mana kemarin waktu istirahat kurang, lagi." Sabda membalas seraya menatap pesan terakhir yang ia kirim ke nomor Salma.
Jadi liburan, Sal? Kalian ke mana, sih?
Sudah lewat dari 10 jam pesan itu dikirimkan olehnya. Tapi, kenapa tak sampai ke pemilik nomor? pesan itu hanya check list satu.
Sabda berusaha positif thinking mungkin di tempat liburan yang mereka kunjungi saat ini, sinyal 4G masih langka. Jadi, pesannya belum bisa sampai ke nomor Salma.
“Mas Sabda, ada namamu di papan! Sepertinya kamu harus nunda cuti nikahmu, deh!” seseorang yang baru saja masuk memberitahu Sabda.
“Training apa lagi? Kimper ku aja sampai full nama-nama alat berat.”
“Bukan. Tapi tes jadi mandor.”
Sabda terkekeh, sambil mengorek telinganya dengan kuku jari kelingking. “Bodo'lah, aku nggak minat jadi mandor!” respon Sabda, terdengar acuh.
“Makanya jangan rajin-rajin, biar nggak diangkat jadi mandor.” Agus yang sedang memoles sepatu safety di bibir pintu ikut menyahut.
“Aku rajin kan pengen dapat uang banyak. Biar bisa cepat pulang dan ka win lagi!” Sabda menyahut ringan.
__ADS_1
“Tahu nggak, cuma ada dua pilihan, tes jadi mandor atau mutasi, dan yang jelas kepulangan Mas Sabda terpaksa cancel. Jadi, sebaiknya kabari orang rumah biar nggak repot-repot beli janur kuning.”
Sabda terkekeh lagi, telinganya sudah tidak gatal lagi, dia beralih mengetikan pesan untuk Salma.
Sabda : Sal, nikah sama aku lagi ya! Demi Ody. Soal Ibu, biar aku yang urus—kamu tinggal bilang ya atau tidak aja. Biar gantian aku yang berjuang dapetin kamu.
Emo memohon Sabda kirim di akhir kalimat. Bibirnya tersungging, berharap Salma akan segara menjawab tawarannya.
“Ambillah, Da! Jadi mandor loh! Lumayan buat tambah-tambah beli brambang bawang di dapur ntar!”
“Enggak, males! Jadi mandor itu semakin banyak tanggung jawabnya. Belum nanti kamu musuhin aku. Bingung kan milih teman atau aturan perusahaan.”
“Berarti siap-siap saja mendapat panggilan mutasi.”
Notifikasi pesan mengalihkan perhatian Sabda. Dia pikir, itu pesan balasan dari Salma rupanya bukan.
Hani : Telepon aku, Mas!
Membaca perintah itu, Sabda tidak bisa membantah permintaan Hani. Dia lekas melakukan panggilan ke nomor Hani. Khawatir gadis itu sedang membutuhkan bantuan.
“Ada apa, Han?” tanya Sabda merasa panggilan itu sudah diangkat oleh Hani.
“Aku gangguin Mas Sabda ya, lagi istirahat?”
“Enggak. Aku sudah bangun kok. Kenapa?”
“Emang kamu mau nikah sama aku?!” tanya Sabda, ketus.
“Enggak! Mas Sabda jelek, pendek, item.”
“Item itu laki, ngerti nggak sih! Kalau masalah pendek tanya tu sama Ageng. Jangan salahkan aku!” Sabda membela diri, tak terima dengan cibiran Hani. Perasaan nggak item-item banget kulitnya. Tinggi juga 180 cm dikurangi dua centi.
“Canda kali, Mas! Jangan ngegas gitu.”
“Canda kok nggak lucu, body shaming tu namanya.”
“Iya, maaf, Mas Sabda. Terus gimana dong?” tanya Hani terdengar bingung.
“Kamu cari cara sendiri bisa enggak sih. Aku kan di sini. Otakku warnanya hitam semua kena tinta batubara.”
“Kenapa nggak mas Sabda aja yang pura-pura punya istri di sana gitu! Kan seru!”
“Gadis bodoh! Seru gimana maksudmu! Kita pikir ntar aja, pusing aku!” kata Sabda, terlalu malas membahas hubungannya dengan Hani di saat pikirannya sedang bertanya-tanya mengenai keberadaan Salma saat ini.
__ADS_1
Setelah berbincang sebentar dengan Hani, Sabda memutuskan panggilan itu secara sepihak. Sabda lekas beranjak dari ranjang, bersiap untuk bekerja sembari menunggu pesan balasan dari Salma.
Namun meski sudah tiga hari berlalu, Sabda masih dibuat kelimpungan oleh pesan untuk Salma yang tak kunjung tersampaikan, kekesalannya naik tingkat saat menyadari nomor Panji juga tidak active.
Sabda dilanda stress berat, sampai-sampai seorang Sabda Dozer yang tidak pernah absen di hari lemburnya. Tiba-tiba saja meliburkan diri. Siang hari yang seharusnya digunakan Sabda untuk bekerja dia justru berguling-guling di atas ranjang.
“Tumben kamu nggak masih, Da? SKL kan kamu hari ini?” tanya Angga yang kebetulan hari ini sedang masuk malam, jadi bersiap untuk tidur.
“Lagi sakit, jangan ditanyain dulu, Mas.” Sabda menjawab pelan.
Angga langsung terbahak. "Aku pikir kamu robot. Soalnya selama ini kerja nggak ada liburnya!"
“Mau kuantar ke rumah sakit? nyari surat sakti (surat izin dokter untuk istirahat)?”
“Enggaklah, percuma ke rumah sakit, enggak bakalan sembuh.”
“Lah, setidaknya kan bisa cuci mata. Lihat perawat-perawat bo hay!”
Sabda tersenyum smirk. Tak tertarik sama sekali melihat cewek bo hay. “Mas, kalau istrimu nggak balas pesan itu, biasanya kenapa?” tanya Sabda, berusaha mencari kemungkinan yang bisa saja terjadi.
“Ngambek, uang belanja habis, anak rewel, banyak lah. Transfer uang juga nanti bakal hubungi kita.”
Sabda membayangkan hubungannya dengan Salma di awal-awal pernikahan mereka dulu. Dia merasa ucapan teman sekamarnya itu sama persis dengan tingkah Salma. Sepertinya patut dicoba.
Jemari Sabda bergerak aktif menyentuh layar ponsel. Dia membuka pesan untuk mengirimkan pesan banking pada salah satu bank komersil.
Transaksi Gagal.
Sabda mengernyit melihat laporan yang kini diterima. Dia melihat saldo rekeningnya. Masih tersisa banyak uang di rekeningnya seharusnya uang itu bisa langsung terkirim.
Usaha yang sama kembali dilakukan oleh Sabda. Dia mengirimkan uang ke nomor rekening Salma, sebesar 3 juta rupiah. Tapi, laporan gagal kembali masuk.
“Kok, nggak bisa,” gumamnya seraya menilik sinyal ponselnya. Padahal sinyal juga bagus, tapi kenapa transaksinya tidak berhasil? Setelah berpikir lama Sabda memutuskan untuk pergi ke ATM Center yang ada di depan mess.
“Mas, motornya mau dipakai apa enggak?”
“Iya, tapi masih nanti.”
“Aku pinjam ya! nggak lama cuma ke ATM depan mess aja kok.”
Mendapat izin dari pemilik motor, Sabda pun langsung meraih jaketnya. Tanpa peduli jika saat ini dia hanya menggunakan celana kolor dengan tinggi potongan selutut.
Untuk keluar dari lingkungan mess, perlu menempuh jarak sekitar dua ratus meter. Mess itu begitu luas, kira-kira bisa menampung 1000 orang.
__ADS_1
Saat tiba di depan mesin ATM Sabda langsung melakukan transaksi ke nomor rekening Salma. Lagi-lagi dia hanya menemukan kekecewaan. Transaksi yang dia lakukan kembali gagal. “Kenapa sih ini?” gumamnya, sambil tak henti memikirkan kondisi Salma saat ini.
“Panji enggak bisa dihubungi, Salma juga. Enggak mungkin kan aku minta ibu buat menanyakan keberadaan Salma? Jadi perang dunia susulan nanti.” Sabda bergumam pelan, menatap layar mesin ATM. Menyadari tidak bisa melakukan apapun, Sabda memutuskan keluar dari ATM center. Dia menaiki motornya, segera kembali ke kamar. Bisa gawat kalau hari ini, dia ketahuan bolos kerja.