Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Ody Meminta Pergi


__ADS_3

Sabda : Sal, Ody pulang jam sepuluh lagi?


Tepat pukul sembilan pagi, Sabda mengirimkan pesan singkat ke nomor Salma. Akan tetapi, karena rasa kesalnya terhadap pria itu, Salma memilih mengabaikan pesan tersebut. Pikirannya, masih terpenuhi oleh penjelasan dokter yang mengatakan jika Aundy kemungkinan terserang typus.


Belum lagi, si Endra yang tidak bisa dihubungi. Pesan singkat yang mengabarkan jika Aundy terpaksa opname belum mendapat respon dari pria itu. Salma berusaha berpikir positif mungkin pria itu kelelahan usia angkut-angkut barang dari mess ke kontrakannya yang baru.


Sabda : Sal, aku yang jemput Ody.


Salma geram karena Sabda terus mengirimi pesan. Kali ini Salma membalas pesan Sabda.


Salma : Ody masuk rumah sakit.


Entah apa yang dipikirkan pria itu, Sabda langsung menghubunginya via panggilan suara. Dengan malas Salma mengangkat panggilan Sabda.


“Di rumah sakit mana?” pertanyaan Sabda langsung terdengar saat Salma menempelkannya di samping telinga.


“RSIA Medika.”


“Aku ke sana sekarang!” suara Sabda terdengar panik, pria itu sepertinya langsung mengantongi ponselnya. Entah sengaja atau apa, tapi Sabda lupa mematikan panggilan itu.


Beberapa menit berlalu, Salma bisa mendengar suara berisik dari seberang. Sepertinya, Sabda tengah mengenakan jaket karena selain itu dia juga mendengar suara langkah kaki.


“Mau ke mana, Le (Panggilan untuk anak laki-laki)”


“Jangan pergi jauh-jauh nanti malam kamu lamaran loh!”


Salma bisa mendengar pesan yang dilontarkan Bu Habibah.


“Enggak, nggak lama kok, Bu!”


“Sebelum ashar harus di rumah loh!”


Salma lantas mematikan sambungan teleponnya. Karena melihat gerakan tubuh Aundy yang berada di atas ranjang. Salma melangkah mendekati ranjang—bertanya pada putrinya. “Udah baikan, Sayang?”


Gadis itu terlihat bingung, matanya berusaha menatap ke sekeliling. “Ody di mana, Bun?”


“Di rumah sakit. Tadi subuh dianterin sama om Panji." Salma mengusap lengan Aundy. "Ody masih mual?”


Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan.


“Maafin bunda ya udah buat Ody jadi begini. Mungkin, kalau bunda enggak maksa Ody buat ikut ayah Sabda. Kejadiannya enggak bakalan seperti sekarang.”


“Ody jadi bolos sekolah ya Bunda?” tanya gadis itu dengan nada polos. Sepertinya, Aundy berusaha mengalihkan pembahasan mengenai siapa yang salah di sini. Karena dia sama sekali tidak menyalahkan Salma.


“Enggak papa, tadi bunda udah izin sama bu guru. Bilang kalau Ody sedang sakit.” Salma berusaha menenangkan Aundy. “Ody maem ya?! dikit-dikit aja, biar tubuhnya enggak lemas.”


Dering panggilan menyela obrolan mereka. Salma lega karena Endra menghubunginya.

__ADS_1


“Aundy sakit? Sakit apa, Yang?” Suara Endra terdengar panik, mungkin pria itu khawatir setelah membaca pesan darinya.


“Kecapekan, kata dokter gejala typus.”


“Astaga, Yang ... kok bisa sih? Eh, tapi maaf aku nggak bisa pulang, Yang. Kan baru saja cuti.”


“Biasa Mas anak kecil!" Salma melirik Aundy, padahal dalam hatinya berharap Endra akan mengajukan cuti emergency. "enggak papa, sudah ada Panji. Bapak juga siaga kok.”


“Nanti aku hubungi bunda buat liat keadaan Aundy.” Keluarga Endra memang baik, dia tidak pernah mencela Salma meski dulu dia berstatus janda. Bahkan, mereka terlihat tidak peduli meskipun setelah setahun pernikahan Salma belum menunjukan tanda-tanda hamil.


“Iya. Mas Endra masih off, kan?”


“Iya, off terakhir. Besok masuk pagi.”


“Aundy mana?” tanya pria itu.


"Ada, nih!" Salma mengangsurkan ponselnya mendekati ke Aundy. “Ayah Endra mau bicara.”


Aundy menerima ponsel itu. “Iya ayah, Aundy udah sembuh kok. Aundy mau makan banyak, supaya cepat pulang.”


“Anak pinter. Aundy mau dibawain apa sama Mbah Tantri?” tawar Endra.


“Enggak mau apa-apa.” Gadis itu menjawab lemah, sepertinya tubuh Aundy masih lemas.


“Ya, sudah ayah matiin dulu ya. Aundy cepat sembuh.”


“Berikan ponselnya ke bunda ya!” pesan Endra.


Kali ini Salma berbicara dengan Endra. Cukup lama, hingga ketika Sabda datang pun panggilan itu belum terputus. Salma justru menitipkan Aundy ke Sabda lalu keluar dari ruang perawatan yang kini ditempati Aundy.


“Ody … kok bisa sakit sih?” tanya Sabda yang kini sudah duduk di samping ranjang.


“Kata bunda, Ody cuma kecapean aja kok!” Aundy terus menjawab apa yang dipertanyakan Sabda. Gadis itu justru bersikap dingin pada ayah kandungnya sendiri.


“Ody, marah sama Ayah?” Sabda merasa dirinya diacuhkan, dia tidak terima.


“Enggak, kok. Kalau ayah mau nikah sama tante Hani juga enggak papa, ada ayah Endra di samping Ody!”


“Kenapa Ody bilang kaya gitu?” Sabda protes, nggak mungkin jika Aundy tidak ada yang mengajari bicara kasar seperti itu padanya.


“Yakan nggak papa orang mulut-mulutnya Ody kok.”


“Pasti Ody dengar sesuatu, kan? atau ada yang ngomong ke Ody aneh-aneh!”


“Enggak!” bantah Aundy sedikit lantang, emosi yang mendera seakan memberi kekuatan padanya. Aundy melengos, yang membuat Sabda semakin curiga.


“Ody lihat Ayah!” perintah pria itu, suaranya tegas yang justru membuat Aundy kekeh pada posisinya.

__ADS_1


“Enggak mau!”


“Ody! Ayah pergi loh!” ancam Sabda.


“Pergi saja! Ody enggak papa kok sama Bunda. Ayah urus saja keluarga ayah yang baru! Mulai hari ini Ody enggak berharap lagi bisa bertemu ayah dengan bebas.”


“Bunda Salma yang bilang begitu?” Sabda semakin kesal, dia menebak jika itu adalah ulang Salma.


Aundy diam, mulutnya terkunci rapat. Seakan khawatir ketahuan.


“Iya? Bunda Salma?”


“Bukan. Ayah pulang saja jangan temui Ody lagi. Katanya mau ngelupain Ody!. Enggak perlu kok nunggu adik dari tante Hani lahir. Sekarang juga ayah boleh pergi! Ody nggak bakal nemuin ayah!”


“Kamu dengar apa sih, siapa yang bilang kaya gitu ke kamu.” Sabda yang penasaran mendesak Aundy untuk bercerita padanya.


kini Aundy justru mengubah posisinya, sengaja membelakangi Sabda. Supaya pria itu tak melihat air mata kesedihan yang kini membasahi kelopak matanya.


“Ody! Ayah nggak suka ya kamu bilang begitu!” Sabda memaki. yang justru membuat tangis Aundy pecah. Gadis itu menangis begitu keras hingga memenuhi kamar cempaka.


“Kenapa, Mas?” Salma yang mendengar suara tangis Aundy langsung masuk ke ruangan. Dia terpaksa memutus panggilan Endra deni bisa melihat Aundy.


“Enggak papa.” pria itu beranjak dari kursi memutari ranjang supaya bisa melihat wajah Aundy.


“Ayah enggak bakalan ninggalin Ody. Ayah Sabda akan tetap jadi pria yang kamu kenal. Enggak ada yang berubah, setelah pernikahan ayah dengan tante Hani. Kamu akan tetap jadi anaknya ayah. Jadi Ody enggak perlu khawatir!”


“Bo—hong! Embah Bibah bilang. Pasti ayah akan secepatnya ngelupain Ody kalau udah punya adik baru!”


Dari sini Sabda paham jika apa yang diucapkan Aundy tadi, akibat ucapan ibunya yang tanpa filter. “Ayah janji, apapun yang terjadi, ayah akan selalu ada buat kamu.”


Sabda ikut naik ke ranjang, dia memeluk Aundy, berusaha menenangkan tangis gadis itu. Setelah cukup reda Sabda memaksa Aundy supaya makan. Dan beruntungnya, gadis itu mau asalkan disuapi olehnya.


Tepat setelah minum obat, Sabda menidurkan Aundy. Mereka berdua tidur seranjang. Sedangkan Salma duduk di kursi lain, menunggu mereka bangun.


Mendekati pukul tiga sore, Salma membangunkan Sabda yang masih terlelap. Dia tidak ingin kehadiran Sabda di sini justru membatalkan acara lamarannya. “Mas, pulanglah, biarkan aku yang jagain Ody!” kata Salma sambil berusaha membangunkan Sabda.


Sabda yang belum sadar sepenuhnya justru semakin erat memeluk tubuh Aundy.


“Mas!”


Pria itu berusaha membuka mata lalu menatap ke arah Salma. “Kamu udah makan siang?” tanya Sabda.


Salma menarik napas dalam, dia sampai melupakan jam makan siang. Karena jujur tadi dia sarapan melewati jam makan biasanya.


“Makanlah dulu!”


“Enggak itu bisa nanti.” Salma tidak ingin disalahkan lagi oleh mantan mertuanya. “Pulanglah, nanti dimarahi bu Bibah. Mas Sabda hari ini lamaran, kan?”

__ADS_1


__ADS_2