
Perlahan Endra bisa melihat secercah cahaya menembus korneanya. Rasanya, dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuka mata. Tapi, bulu-bulu matanya seakan terasa begitu lengket. "Sal-Ma!" meski sudah membuka mulutnya sekuat tenaga, tapi tetap saja panggilan itu tidak bisa didengar oleh sosok wanita yang kini berdiri di samping ranjang.
Cepatlah bangun, Mas Endra ....
Endra ingin berteriak mengeluh atas ketidakberdayaan yang kini menimpanya. Dia hanya bisa mendengar setiap kata yang diucapkan Salma.
Kalimat demi kalimat itu begitu dekat dengan telinganya. Endra merasa sudah lama merindukan warna suara ini.
Endra berusaha lagi, kali ini lebih keras, fokus untuk membuka mata. Hingga rasanya ingin meloncat saat kelopak matanya berhasil terbuka lebar. Sekilas kemudian Endra kembali memejamkan mata akibat sinar matahari siang yang begitu menyilaukan.
“Salma.” Endra memanggil Salma lagi, tapi saat matanya berhasil terbuka lebar. Bukan Salma yang menyambut penglihatannya. “Sal—ma.” kepalanya tolah-toleh mencari keberadaan wanita yang masih disangka istri sahnya.
“Mas, Mas Endra sudah bangun?” Arienta mendekati ranjang saat tahu Endra sudah sadarkan diri. “Syukurlah, Mas Endra udah sadar, aku khawatir sama kamu Mas!”
"Aku panggil dokter dulu untuk memeriksa kondisimu!" ucapnya seraya melangkah keluar dari kamar flamboyan.
“Sal—ma!” ulang Endra, saat tak kunjung menemukan Salma. Dia justru cemas, memikirkan kalau dirinya sudah berbeda alam dengan wanita itu. "Sal, kamu di mana? aku sudah bangun!"
Di tengah kebingungan yang kini melanda hati Endra, terdengar derap langkah kaki memasuki kamar. Seorang dokter diikuti beberapa perawat datang dan memeriksa kondisi pria itu.
“Selamat siang, Pak Endra. Tolong anggukan kepala kalau pak Endra mendengar suara saya!” pinta Sang Dokter yang hendak memastikan jika kondisi pendengaran Endra baik -baik saja.
"Apa anda mendengar saya bicara?" tanya sang dokter.
Endra mengangguk. Lalu disusul pertanyaan berikutnya dari pria bersnelli putih itu. Setiap pertanyaan yang dilemparkan kepada Endra, pria itu selalu menjawab dengan anggukan kepala. Hingga membuat dokter yang beberapa bulan ini merawatnya ikut merasa lega. "Syukurlah, kondisi anda bisa pulih seperti sedia kala," ujarnya.
__ADS_1
“Sal-ma?”
“Salma?" dokter itu mengerutkan kening seraya menatap kedatangan Arienta. "Ibu Salma sudah pulang. Dia hanya datang sebentar saja untuk melihat kondisi pak Endra.” pria itu menjelaskan.
"Kapan dia datang lagi, Dok? Apa dia sering mengunjungimu?"
Melihat gelegat dokter yang kebingungan Endra pun sudah bisa menebak jawaban dari pertanyaannya. "Jadi, aku hanya bermimpi?" gumamnya.
Arienta yang mendengar Endra menanyakan keberadaan Salma merasa tidak terima. “Aku di sini, Ndra!” Dia melangkah semakin dekat dengan ranjang. "Syukurlah kamu sudah sadar!" ucapnya.
“Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu! mohon hati-hati, jaga selalu kondisi pak Endra," pesan sang dokter sebelum meninggalkan kamar Flamboyan.
Arienta meraih tangan Endra, dia berusaha menggenggam erat tangan pria itu. "Aku di sini! kita bisa memulai semuanya lagi dari awal!"
Dengan sekuat tenaga, Endra berusaha untuk melepaskan diri dari cekalan Arienta. Seolah tidak Sudi terlibat kontak fisik dengan Arienta.
Pandangan Endra tampak kosong, dia seperti tak percaya dengan kalimat yang disampaikan Arienta saat ini. Kejadian terakhir di dalam mobil melintas di kepala.
Hampir semua Endra mengingatnya, dan rasanya dugaannya itu tidaklah salah. Dia yakin Arienta datang padanya dalam kondisi hamil, merayunya, mengingatkannya tentang kejadian sebelum mereka putus. Ya, mereka sempat putus karena Endra hendak menikah dengan Salma. Arienta marah dan mengambil keputusan menolak tawaran Endra yang ingin menjadikannya wanita simpanan. Tapi pada akhirnya, Arienta menyerah juga. Kembali menjalin hubungan dengan pria itu.
“Dia bukan anakku! Jangan menggunakan anakmu sebagai alasan lagi! aku sudah capek! Aku akan menjelaskan pada keluarga kalau anak itu bukan bagian dari Arwenda.” tenaga Endra belum pulih sepenuhnya, keringat tipis mulai menghiasi kening saat dia berusaha mengadakan kalimat panjang lebar itu. "Please, pergilah—biarkan aku hidup bahagia dengan Salma dan Aundy!" pinta Endra, sedikit memohon kepada Arienta.
Tangan Arienta meraih surat cerai yang baru saja diberikan Salma untuknya. “Ini!” Arienta sengaja membentangkan selembar kertas itu, mendekatkan nya ke wajah Endra. “Surat resmi! Akte perceraian kalian berdua! Kamu dan Salma sudah bercerai Ndra! di sidang terakhir, aku sengaja mengirim pengacara untuk dan mengurus akte kalian!”
Mata Endra membulat sempurna, ingin memastikan jika dirinya tidak salah membaca inti pokok dari surat itu. Dan rupanya Arienta tidak main-main, dia sudah bercerai dengan Salma.
__ADS_1
“Kamu yang ngelakuin ini padaku, kenapa, Rin?”
“Bukan sepenuhnya salahku, kan? aku hanya melanjutkan rencana kita yang tertunda. Setelah ini, kita berdua bisa hidup damai.”
“Apa membunuhku juga bagian dari rencanamu?” tanya Endra, saat teringat kejadian sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.
“Di mana ponselku? Di mana!” teriak Endra murka, dia tidak bisa langsung berlari dan mengambil ponselnya lantaran kakinya terasa kaku. “Berikan ponselku, Arin!” ucapnya serak.
“Ponselmu hancur saat kecelakaan, Ndra!”
Wajah Endra semakin kesal, dia menuntut Arienta untuk segera mengembalikan ponselnya. "Berikan ponselku, Rin!"
“Kamu hanya perlu menjadi suamiku dan ayah dari anakku! Apa kamu mengerti?! ikhlaskan apa yang sudah pergi. Karena selamanya, Salma enggak akan berhasil memilikimu!”
"Lagian, Salma juga sudah tahu kalau setiap kamu cuti kamu selalu mendatangiku. Dia juga tahu aku melahirkan anakmu! Percuma kamu menjelaskan karena dia sangat membenci pengkhianat." Arienta meraih ponselnya. Dengan penuh percaya diri, menunjukan foto-foto anak lelakinya pada Endra. "Bu Tantri sangat menyukai Keenan. Keenan Arwenda," ucapnya seakan memberitahu Endra siapa nama bayi mereka.
Wajah Endra merah padam, tangannya mere mas tepi ranjang demi meluapkan kemarahannya. "Dia bukan anakku! aku nggak mau lagi ditipu olehmu! Aku akan mengatakan semua kebusukanmu pada ibu!"
"Bu Tantri bilang, dia sangat mirip denganmu! bagaimana bisa kamu sebagai ayahnya menyangkal fakta itu, Ndra!"
"Enggak, Rin!" Endra menggeleng keras. "Dia bukan anakku, dan aku harus jelasin sama Salma! Aku harus meminta dia rujuk padaku! Aku akan mengatakan jika bayi itu bukan anakku!”
Arienta tertawa keras. "Tapi gimana dong! kita pernah tidur bareng satu ranjang, berbagi kehangatan, menyatukan setiap buliran keringat kita dan kamu masih ingatkan kalimat pujian yang kamu berikan untukku! menyerah saja, jadilah Endra seperti dulu yang selalu mencintaiku! Endra yang aku kenal."
Paham dengan kondisinya yang tidak bisa melakukan apapun. Endra memilih diam supaya tenaganya bisa segera pulih. Setelah pulih nanti, dia berencana menjelaskan semuanya kepada Salma, berharap Salma bisa percaya padanya sekali lagi.
__ADS_1
Harusnya, dulu aku tidak mencari tahu kabar tentang Arienta, dan berimbas hubunganku dengan Salma sekacau ini. Tapi apapun itu, terimalah usahaku untuk memperbaiki semuanya, Sal!