Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Berubah Pikiran


__ADS_3

Ekor mata Endra masih melirik tajam ke arah spion kecil yang ada di depannya. Memastikan jika Salma sudah membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.


Bibirnya tersenyum tipis mendapati pintu utama rumahnya sudah tertutup rapat. Pijakan kaki di pedal gas semakin dalam, Endra ingin segera tiba di Dieng menemui Arienta.


“Semoga kamu segera mengingatku, Sal! Biar kamu juga tidak perlu merasakan sakit hati untuk kedua kalinya.” Endra bergumam, seraya fokus ke arah jalan. "Sorry, kalau aku terpaksa bersikap kasar tadi!"


Sebagian orang berpendapat, kita akan menyadari perasaan kita usai ditinggalkan. Sepertinya, Endra tidak perlu merasakan hal itu, bahkan dia kesal saat melihat Salma bersikap acuh padanya. Dan justru peduli terhadap mantan suaminya itu. "Sialan, kamu nggak boleh balikan sama dia Salma!" gumamnya, lagi tak henti merancau mengucapkan sumpah serapah pada Sabda.


Sepanjang dua ratus meter mobil Endra meninggalkan rumah, setiap centi jarak yang ditempuh, pikirannya dipenuhi oleh bayangan kehidupan pernikahannya dengan Salma. Pesan-pesan manja dari Salma masih tersimpan rapi di room chat wa. Setiap malam Endra selalu membaca ulang. Endra seperti tak pernah merasa bosan melakukan hal itu, malahan menunggu pesan-pesan baru dari Salma.


Di saat bayangan kemesraannya dengan Salma melintas di kepala. Seorang wanita yang berjalan di trotoar menarik perhatian Endra. Kakinya langsung berpindah, menginjak dalam pedal rem, lalu memindahkan jalur mobilnya, menghampiri sosok wanita yang kini masih setia berjalan, menelusuri jalan.


“Arin!” serunya seraya membuka jendela kaca. “Mau ke mana?!” tanya Endra dengan sedikit berteriak.


Melihat wanita itu masih terus melangkah, Endra pun menepikan mobilnya, berniat menghampiri Arienta.


“Hei, kamu mau ke mana!” kali ini Endra sudah menghadang langkah Arienta. “Udah malam, Rin ayo pulang!”


Wanita itu benar-benar menghentikan langkahnya, siap menghadapi Endra. “Kapan kamu menyerahkan surat ini ke Salma?” Arienta tampak mengeluarkan surat kecil dari dalam tas. “Kapan, Ndra?!” Arienta menuntut kepastian dari suaminya.


“Kita masuk dulu ke mobil!” pinta Endra.


Arienta menggeleng tegas. “Enggak! Aku tahu kamu hanya ingin membawaku pulang dan menyembunyikan hubungan kita dari orang-orang!”


Endra melengos, seringai tipis muncul di bibirnya. "Kita pulang, Arin!"


"Ndra! aku mau ngasih surat ini ke Salma. Biar dia tahu kalau kita sudah menikah!"

__ADS_1


"Kita pulang dulu! Salma masih amnesia!"


"Kapan? kapan kamu akan menceraikannya?!" Arienta berteriak kencang, hingga mengundang fokus pengendara lain.


Endra berkacak pinggang. “Kalau aku tanya sama kamu, kapan kamu melahirkan bayi ini. KAMU JUGA ENGGAK BISA JAWAB, kan?” Kesabaran Endra setipis tisu, dia seperti tak terima mendengar teriakan yang dilakukan Arienta. Nalurinya langsung membandingkan sikap Arienta dengan Salma, jauh berbeda.


“Endra!” pekik wanita itu, lantang.


“Kamu merasa enggak sih aku itu sudah begitu baik sama kamu! Aku sudah ngasih kamu status meski hanya sebagai istri simpanan. Dan sekarang kamu memaksaku bercerai dengan istriku? Ingat, Rin aku nggak suka dikekang seperti ini! Apa yang aku mau, itu yang aku lakuin!”


“Owh, ya sudah! biar aku saja yang memberikan surat ini! Lagian di sini juga sudah ada tanda tanganmu! Besok kita berangkat, kan! dan mulai besok kamu nggak perlu lagi berhubungan sama dia!”


“Bisa enggak sih kita nunggu sampai dia mengingat semuanya!” bentak Endra seraya meraih tangan Arienta, memaksanya masuk ke dalam mobil. Endra menutup dengan keras pintu mobilnya.


“Endra!” seru Arienta, terlihat begitu murka saat melihat Endra justru memutari mobilnya, berjalan menuju pintu bagian samping. "Kita ke rumah Salma!" pintanya saat melihat Endra duduk di balik stir kemudi.


“Kalau begitu biarkan aku turun dan memberikan surat ini. Begitu surat ini sampai di tangan Salma, aku yakin kita berdua bisa hidup bahagia di Kalimantan! jangan sampai ada jejak Salma di pernikahan kita aku nggak mau.”


“Bahagia?” Endra berdecak. “Bahagia apa yang kamu maksud? Menutupi rahasiamu, sampai aku mati!” Endra yang mengemudikan mobilnya dengan cepat langsung membuat Arienta ketakutan.


“Kamu mencintaiku! Kamu sendiri yang selalu mendatangiku!” balas Arienta.


“Sepertinya enggak perlu sampai bayi itu lahir aku sudah tahu jawabannya!” kata Endra tanpa menatap Arienta. Endra sendiri ragu dengan kehamilan Arienta. “Kalau bukan karena kamu menangis-nangis di depan ibuku, aku nggak bakal menikahimu secepat hari itu!”


“Endra, apa maksudmu?!” bentak Arienta lantang.


“Dua hari yang lalu saat aku mengantarmu periksa ke dokter kandungan, kenapa dalam keterangan usianya delapan bulan? Kalau usianya delapan bulan. Bukankah saat kita bertemu hari itu, kamu sudah hamil?” Senyum Endra berubah menakutkan.

__ADS_1


“Atas dasar apa kamu menuduhku seperti itu!”


“Atas dasar apa kamu bilang?!”


“Apa yang kamu lakuin di hotel Athena. Aku pulang diam-diam sengaja mengikutimu ke sana. Tapi apa? yang aku dapatkan, kamu justru melayani laki-laki simpananmu yang juga sudah beristri! Kamu bilang sedang apa? Itu bayi aku atau bayi dia! Aku diam bukan berarti menerima, tapi aku menunggu sampai kamu mengatakan jujur padaku, Arin!”


Wajah Arienta mulai pias. Endra yang menyadari itu hanya terkekeh, merasa dirinya menjadi pria paling bodoh di muka bumi. Mungkin ini karma karena aku sudah bermain-main dengan ikatan pernikahan. pikirnya.


Endra merasakan perih bercampur menjadi satu dengan aliran darah. Meski mereka sudah menikah, tapi itu semua adalah tuntutan dari Bu Tantri yang mengira bayi itu adalah anak Endra. Awalnya Endra mengakui itu bayinya. Tapi semakin dekat dengan hari persalinan, perasaan yakin itu mendadak hilang.


“Jadi kamu enggak mau menceraikan Salma?”


“Enggak, aku berubah pikiran. Aku akan mencoba memperbaiki pernikahanku dengan Salma, dan memilih meninggalkanmu! Dia lebih baik darimu!”


Arienta tidak terima dengan ucapan Endra, dadanya bergemuruh menahan amarah. “Jadi kau memilih berpisah denganku?” Arienta berteriak marah, mempertegas apa yang tadi dikatakan Endra.


“Kamu sangat pintar, Arin!” jawab Endra.


Arienta semakin geram. Diam-diam mata arienta memperhatikan kondisi jalanan.


“Aku akan mengantarmu pulang, kita batalkan keberangkatanmu ke Kalimantan,” sambung Endra. “Aku akan menceraikanmu setelah bayi itu lahir.”


Ucapan Endra semakin memacu emosi Arienta. Dia mengambil ancang-ancang untuk mencelakai Endra. Hingga kesempatan itu datang, Arienta sedikit menggoyangkan stir kemudi ke arah kanan, sengaja menabrakkan badan mobil Endra dengan truck trailer yang sedang disalip oleh pria itu.


Kejadian itu begitu cepat, Endra tidak sempat menahan gerakan tangan Arienta yang berusaha mencelakainya. Dia pasrah saat badan mobilnya, berguling-guling di jalanan beraspal.


“ … Bagaimanapun, dulu kita pernah memiliki ikatan. Bohong kalau aku tidak menyukaimu, Mas!”

__ADS_1


Salma?


__ADS_2