Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Titik Terang Yang Menyakitkan


__ADS_3

Sampai di kamar, dua teman Sabda yang nanti mendapat giliran shift malam justru sibuk bermain PlayStation. Angga dan Tri adu keras dalam mengumpat tanpa peduli jika kamar sebelah sedang beristirahat.


Melihat keributan di dalam kamar, Sabda memutuskan menumpang di kamar samping untuk menenangkan diri. Selain itu, dia bermaksud menanyakan keberadaan Salma kepada Rendi. Siapa tahu, pria itu bisa dimintain bantuan.


Sabda : Ren, lihat Salma?


Hatinya tidak bisa tenang saat pesan yang dikirim tak sampai ke nomor wanita itu. Biasanya ada Aundy yang bisa dipakai sebagai alasan, tapi kali ini dia tidak mendapat celah untuk berhubungan dengan wanita itu.


Rendi : Ya sama suaminya lah, kenapa kangen? kangen kok sama istri orang!


"Berarti, Rendi tidak tahu kabar perceraian Salma?" gumam Sabda setelah membaca balasan dari Rendi. Jarak rumah mereka memang tidak terlalu dekat, tapi Rendi adalah tetangga desa kampung Salma. Harusnya dia sudah dengar, mengingat bibir emak-emak tu kecepatannya 50 Mbps.


Sabda : Dia udah cerai, kan? Masa enggak tahu sih?


Rendi : Serius? eh aku malah nggak tahu! Jadi janda dua kali dong!


Detik itu juga Sabda menyesal sudah bertanya pada Rendi, dia ikut tersinggung membaca balasan tersebut. Mengingat masih butuhnya informasi mengenai Salma, Sabda memutuskan untuk melakukan panggilan suara.


“Coba itu deh, Ren, kamu tanya pacarmu—dia kan ngajar di sekolah Ody!” perintah Sabda, saat ingat dengan kekasih Rendi.


“Lah emang kenapa? kok kamu nggak telepon dia langsung aja sih!”


“Kalau bisa, aku nggak bakal tanya kamu Ren! Jadi tuh tiga hari yang lalu Salma telepon dan minta izin mau liburan. Aku khawatir saat liburan terjadi sesuatu dengan mereka!”


“Lah, terus hubungannya sama pacar aku apa?!”

__ADS_1


"Tanya ke dia, ada jejak nggak di sekolah, siapa tahu Salma atau Aundy pernah cerita ke mereka kalau mau liburan!" tegas Sabda, emosi bicara dengan Rendi yang iq nya hanya terisi setengah. “Udahlah, Ren tanya aja apa susahnya sih? Nanti pas cuti aku traktir makan apapun yang kamu mau!”


“Iya, iya!” Rendi menjawab dengan suara lemah. Lalu memutus panggilan itu.


Rasa takut kehilangan hinggap di hati Sabda. Baru saja dia berencana ingin kembali memperjuangkan Salma. Tapi sudah dipukul kenyataan seperti ini. Dia takut Salma dan Aundy pergi dari hidupnya, selamanya. Berharap ombak besar tidak menggulung tubuh mereka berdua.


Sabda berusaha memantau berita online lewat ponselnya. Tidak ada berita viral mengenai penemuan mayat di pinggir pantai. Sedikit lega, meski belum sepenuhnya.


“Ke rumah tante Astrid, dia bilang banyak pantai indah di sana. Tapi, nanti kita harus tetap liburan ya, Yah!”


Ucapan Aundy tempo hari yang lalu terngiang di kepala. Sabda berusaha mengingat sosok wanita bernama Astrid dalam kehidupan Salma, tapi tak kunjung menemukan siapa sosok wanita itu.


Panggilan suara dari Rendi masuk ke nomor Sabda. Pria itu bergegas menerima panggilan tersebut. “Gimana, Ren? Dapat kabar apa?” tanyanya langsung.


“Salma sudah memindahkan sekolah Ody, saat kenaikan kelas kemarin!”


“Hm … mungkin pindah ke SD yang lebih bagus.” Rendi berusaha menenangkan Sabda.


“Salma selalu berbicara padaku jika itu menyangkut Ody. Tapi, kemarin sama sekali tidak. Kamu tahu, aku juga tidak bisa mengirimkan uang padanya, berulangkali aku mencoba gagal, Ren.”


"Kok bisa?! terus gimana?"


"Aku curiga dia sengaja ngelakuin ini."


“Masa iya Salma membawa kabur Aundy! mana mungkin? Tapi ya, enggak tahu juga sih kalau dia merasa ingin menjauh darimu, mengingat Salma kan tahunya kamu mau menikah sama Hani.”

__ADS_1


Sabda menghela napas kasar. "terus kalau Salma beneran kabur gimana, Ren?! coba deh kamu cari tahu lagi, siapa tahu ada tetanggamu yang mendengar info tentang Salma." Sabda kini tampak benar-benar bingung. Rambutnya sudah jadi korban kekesalannya pada Salma.


"Coba deh kamu hubungi Gina, dia kan pegawai bank siapa tahu bisa nyuri informasi tentang Salma."


"Sudah gila kamu! aku cerai, itu salah satu alasannya karena Gina. Masa iya sekarang aku mau masukin dia di kehidupanku lagi. Bisa-bisa rencanaku ngajak balikan Salma pupus sebelum berjuang."


"Kan, Salma juga nggak bakalan tahu! jangan jujur banget jadi cowok, Sabda!"


"Kalau begitu, gimana kalau kamu aja yang nanya ke dia! bisa kan? nanti aku kirim nomor rekening Salma yang lama, kamu tanyakan ke Gina, kenapa kok nggak bisa ditransfer uang." Sabda benar-benar buntu dan yang bisa dia lakukan adalah memberi perintah pada Rendi, mengingat pria itulah yang kini ada di sekitar Semarang.


"Aku bisa, sih! tapi nggak hari ini juga. Aku mau jemput kekasihku dulu."


Sabda tampak kecewa, tapi begitu lebih baik dari pada tidak mendapat informasi apapun dari Salma. Kini, Sabda hanya bisa menunggu kabar dari Rendi. Berharap pria itu bisa menemukan apapun informasi mengenai Salma. "Aku tunggu kabar darimu, Ren. Kalau bisa secepatnya." obrolan mereka berakhir. Tubuh Sabda semakin lemas mendengar titik terang yang teramat menyakitkan untuk dirinya.


"Kenapa harus pergi, sih Salma? Kenapa nggak nunggu aku atau setidaknya minta pendapat ku dulu? Aku pasti bantuin kamu, terus aku harus ngapain di sini," gumam Sabda, merasa hilang tujuan.


Setelah itu bibirnya tak henti merancau mengucapkan kalimat penghibur untuk dirinya sendiri. Berusaha meyakini jika Salma tidak akan ke mana-mana. Berusaha positif thinking, mungkin Salma sedang memindahkan sekolah Aundy yang lebih baik. Sama seperti apa yang dikatakan Rendi tadi. Tapi, meski bibirnya berkata seperti itu, tetap saja hati Sabda tak bisa tenang.


Rasa malas yang dialami Sabda pun berkepanjangan. Sabda sudah absen kerja selama tiga hari. Dan hari ini, Tri yang kerja satu shift dengan Sabda mengantarnya ke rumah sakit untuk memeriksakan diri ke dokter.


Teman sekamarnya khawatir, melihat sikap Sabda yang menunjukan seperti orang gangguan kejiwaan.


"Kamu kenapa sih, Da! enam tahun kita sekamar sepertinya baru kali ini aku melihatmu sakit begini."


"A—aku, aku kangen anakku, Mas." Sabda menjawab dengan tatapan kosong. "Aku bingung gimana bisa kembali menelpon putriku."

__ADS_1


Tri yang lebih tua dari Sabda hanya bisa mengusap pundak pria itu. "Sabar, ajuin cuti lebih awal saja. Selesain masalahmu dengan mantan istrimu! kalau kamu begini terus, bukan hanya perusahaan yang kecewa. Tapi orang tuamu, anakmu juga! maaf ya, nggak bisa ngasih kamu nasihat banyak, soalnya aku belum pernah berada di posisimu saat ini. Aku tahu ini berat, sholat sana, minta kekuatan sama Allah supaya bisa melewati masalah ini! aku sendiri sedih melihat Sabda yang biasa rajin kejar setoran tiba-tiba tak berdaya seperti ini. Kalau kamu malas, siapa yang aku pinjami uang nanti?!" Tri mengakhiri dengan tepukan keras di pundak Sabda, sebelum akhirnya mengambil obat yang sudah diresepkan dokter.


__ADS_2